Arsip Kategori: Ekonomi

Pada bab ini Anda akan mempelajari tentang ekonomi. Dengan mempelajari materi ini, diharapkan Anda dapat mengetahui keadaan dan perkembangan ekonomi baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Pengertian Pendapatan Nasional

Gambar. industri rumah tangga dapat mempengaruhi pendapatan nasional (Sumber: www.aktual.co)

Pengertian Pendapatan Nasional - Sebelum kita membahas tentang pendapatan nasional, cobalah kita lihat kegiatan perekonomian keluarga kita masing-masing. Misalnya seorang ayah, ibu atau seorang kakak yang bekerja setiap hari hanya untuk menukarkan tenaga, jasa atau karya yang mereka miliki dengan sebuah imbalan, misalnya uang, jasa atau barang lainnya. Nah, imbalan inilah yang kemudian kita sebut sebagai pendapatan keluarga. Seringkali besarnya pendapatan keluarga ini selalu dijadikan sebagai tolak ukur untuk menunjukan makmur tidaknya sebuah keluarga. Meskipun, cara ini tidak sepenuhnya akurat karena setiap keluarga pasti memiliki kebutuhan yang berbeda-beda namun cara ini cukup representatif dan lazim digunakan.

Bila setiap individu atau keluarga saja mempunyai pendapatan, lalu bagaimana dengan negara?

Tentu saja negara juga mempunyai pendapatan, istilah yang sering kita gunakan adalah pendapatan nasional. Sama halnya dengan pendapatan keluarga, pendapatan nasional juga digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran negara tersebut dari waktu ke waktu. Selain itu, pendapatan nasional juga digunakan sebagai pembanding tingkatan ekonomi yang dicapai sebuah negara dengan negara lainnya.

Pendapatan nasional menggambarkan tingkat produksi barang dan jasa suatu negara selama jangka waktu tertentu, misalnya menggambarkan dalam jangka satu tahun. Selain itu pendapatan negara juga dapat kita gunakan sebagai acuan dalam kegiatan ekonomi lainnya, misalnya untuk melihat pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, struktur perekonomian negara, corak kegiatan ekonomi dan sebagainya.

Lalu apa yang dimaksud dengan pendapatan nasional?

Pendapatan memiliki arti sebagai hasil kerja atau hasil usaha. Kalau dilihat dari segi ekonomi, pendapatan diartikan sebagai sesuatu yang diterima seseorang sebagai hasil kerja atau usaha serta imbalan atas penyediaan faktor-faktor produksi yang dapat berupa gaji, sewa, bunga ataupun laba. Nah, dengan demikian kita dapat mengambil definisi bahwa pendapatan nasional adalah pendapatan yang diterima oleh golongan-golongan masyarakat sebagai bentuk balas jasa sehubungan dengan produksi barang-barang dan jasa tersebut. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan nasional antara lain tersedianya faktor produksi, keterampilan dan keahlian yang dimiliki oleh tenaga kerja, kemajuan teknologi produksi yang digunakan dan stabilitas nasional.

Untuk mengetahui besarnya pendapatan nasional, pemerintah berusaha menghimpun semua informasi terkait kegiatan ekonomi yang terjadi di dalam wilayahnya yang diaplikasikan kedalam suatu sistem penghitungan pendapatan nasional yang dinamakan national income accounting system atau sistem penghitungan pendapatan nasional. Sistem ini, pada hakekatnya digunakan untuk menghimpun tiga data utama yakni

a. Nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh negara,

b. Nilai berbagai jenis pengeluaran akibat menjalankan suatu produksi,

c. Jumlah pendapatan yang diterima,

Nah, untuk menentukan nilai-nilai di atas, maka diciptakanlah sebuah metode pendekatan antara lain metode pendekatan produksi, metode pendekatan pengeluaran dan metode pendekatan pendapatan.

1. Metode Pendekatan Produksi (Produk Domestik Bruto/Gross Domestic Product)

Coba hitung berapa banyak barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen di daerahmu selama 1 tahun? tidak usah memperhatikan -apakah perusahaan tersebut milik asing atau milik pribumi-, semuanya yang ada di daerahmu dimasukan dalam perhitunganmu. Jika sudah dapat hasil perhitungannya, nah, hasil perhitungan Anda itulah yang dinamakan sebagai Pendapatan Domestik Bruto (PDB) daerah Anda.

Lalu bagaimana dengan orang asli daerahmu namun membangun pabrik di daerah lain, apa masuk dalam perhitungan?

Produsen yang seperti ini tidak dimasukan dalam perhitungan karena pabriknya berada di daerah lain.

Jadi, apa yang dimaksud dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) suatu negara?

Pendapatan Domestik Bruto (PDB) adalah jumlah seluruh produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam satu tahun tanpa memperdulikan apakah si produsen adalah orang asing atau pribumi. Ada sembilan lapangan usaha yang masuk dalam perhitungan Product Domestic Bruto (PDB), antara lain pertanian, pertambangan dan penggalian, industri, listrik, jasa perusahaan, gas, air bersih, bangunan atau konstruksi, hotel, perdagangan, restoran, pengangkutan, keuangan, komunikasi, persewaan dan jasa-jasa lainnya, misalkan jasa konsultan, pengacara dan sebagainya.

Nah, cara menghitungnya yaitu hasil produksi dari setiap lapangan usaha tersebut dijumlahkan dalam satu tahun kemudian dikalikan berdasarkan harga satuan masing-masing, maka rumusnya yakni:

PDB = (Jumlah barang1 x Harga Barang1) + (Jumlah barang2 x Harga Barang2)+ … (Jumlah barangn x Harga Barangn)

Keterangan:
PDB merupakan singkatan dari Pendapatan Domestik Bruto dan n merupakan barang ke-1,2,3 dan seterusnya.

2. Metode Pendekatan Pengeluaran (Produk Nasional Bruto/PNB)

Jika kita menghitung semua hasil produksi mulai dari rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan masyarakat pribumi yang berada di luar negeri dalam jangka satu tahun, maka hasil perhitungan itulah yang dinamakan sebagai Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP).

Konsep perhitungan pendapatan nasional dengan metode PDB dan PNB memiliki kemiripan. Perbedaannya terletak pada penentuan kriterianya saja. Pada PDB kriteria perhitungan hasil produksinya berdasarkan konsep keruangan dimana yang dihitung adalah semua hasil produksi yang ada di dalam suatu wilayah, tidak peduli apakah itu statusnya milik warga negara asing atau pribumi. Sedangkan pada PNB kriteria perhitungan hasil produksinya berdasarkan status kewarganegaraan sehingga meskipun warga pribumi mendirikan pabrik di luar negeri, maka tetap masuk dalam perhitungan. Demikian sebaliknya, meskipun produksi warga negara asing berada di dalam wilayah, tetap tidak dihitung.

Komponen-komponen yang masuk dalam perhitungan menurut metode ini antara lain nilai konsumsi oleh rumah tangga (k), investasi oleh perusahaan (i), pengeluaran pemerintah (P) dan nilai eksport dikurangi nilai import (X-I). Rumusnya adalah sebagai berikut.

PNB = k + i + P + (X-I)

Jika PNB dibagi dengan jumlah penduduk, maka kita akan mendapatkan hasil pendapatan perkapita.

3. Metode Pendekatan Pendapatan (Pendapatan Nasional atau PN)

Masih ingat pembahasan kita tentang Faktor-Faktor Produksi? Bila Anda lupa, bisa dilihat kembali di Daftar Isi Ekonomi. Oke, kita jelaskan ulang secara singkat bahwa faktor-faktor produksi merupakan semua hal yang digunakan dalam sebuah proses produksi misalnya tenaga kerja, mesin, bahan baku, infrastruktur dan sebagainya. Di metode ini, yang dihitung dalam waktu 1 tahun adalah faktor-faktor produksi industri rumah tangga, misalnya restoran yang dikelola oleh keluarga. Sehingga tidak semua faktor-faktor produksi diperhitungkan. Adapun yang dihitung antara lain pendapatan para pekerja (gaji dan upah), pendapatan dari usaha perorangan, pendapatan dari sewa, bunga netto dan keuntungan perusahaan. Adapun rumus metode ini adalah sebagai berikut.

PN = Sewa + Upah + Bunga + Laba

Indriayu, Mintasih.2009. Ekonomi : Untuk SMA/MA Kelas X.Solo: CV Teguh Karya.
Nur Mulyani, Sri dkk.2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X.Jakarta: Cakra Media.
Supriyanto.2009.Ekonomi 1 : Untuk SMA dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Circular Flow Diagram

Perilaku ekonomi yang dilakukan di suatu negara dapat dilihat pada circular flow diagram di bawah ini.

1. Kegiatan Ekonomi Dua Sektor

Kegiatan ekonomi dua sektor merupakan kegiatan ekonomi yang melibatkan dua pelaku ekonomi yaitu rumah tangga dan perusahaan.

a. Corak Kegiatan Ekonomi Subsistem

Dalam kegiatan ekonomi subsistem ditandai bahwa penerima pendapatan usaha merupakan pelaku rumah tangga, mereka tidak ada tabungan dan tidak ada penanaman modal usaha. Ini masih sangat sederhana. Nah, masyarakat yang melakukan kegiatan ekonomi yang seperti ini dapat digambarkan dalam diagram seperti di bawah ini.

Bagan kegiatan ekonomi dua sektor
Gambar. Bagan kegiatan ekonomi dua sektor (Sumber: Sri Mulyani Hal. 59)

Pada kegiatan ekonomi model ini, biasanya dilakukan dengan cara barter. Andaikata dalam sebuah proses produksi, penggunaan seluruh faktor produksi digunakan secara maksimal, maka tetap saja pengeluaran rumah tangga akan sama besar dengan nilai barang atau jasa hasil produksi.

b. Corak Perekonomian Modern

Dalam perekonomian modern, setiap pendapatan dari hasil usaha akan tercatat rapi dan ditabung. Pendapatan yang telah disisihkan akan digunakan untuk investasi atau sebagai modal usaha. Misalnya untuk membeli perlengkapan produksi, perluasan lahan produksi dll.

Bagan corak perekonomian modern
Gambar. Bagan corak perekonomian modern (Sumber: Sri Mulyani Hal. 60)

2. Kegiatan Ekonomi Tiga Sektor

Dalam kegiatan ekonomi tiga sektor, pelaku ekonomi bukan hanya rumah tangga dan perusahaan saja melainkan ada pihak ketiga yaitu pemerintah yang ikut serta dalam kegiatan ekonomi.

Bagan ekonomi tiga sektor
Gambar. Bagan ekonomi tiga sektor (Sumber: Sri Mulyani Hal.61)

3. Kegiatan Ekonomi Empat Sektor

Kegiatan ekonomi empat sektor dikenal dengan kegiatan ekonomi terbuka yaitu kegiatan ekonomi yang dilakukan bukan hanya di dalam negeri saja tetapi melibatkan juga pelaku ekonomi dari luar negeri.

Bagan ekonomi empat sektor
Gambar. Bagan ekonomi empat sektor (Sumber: Sri Mulyani Hal. 61)

Nur Mulyani, Sri dkk.2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X.Jakarta: Cakra Media.

Hukum Hasil Lebih yang Semakin Menurun (The Law of Diminishing Return)

Hukum Hasil Lebih yang Semakin Menurun (The Law of Diminishing Return)

Pernahkah Anda melihat berita di radio atau televisi tentang kejadian pemecatan karyawan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan?, mengapa ini harus dilakukan oleh perusahaan?. Ini dilakukan oleh sebuah perusahaan tentunya setelah mengalami perhitungan yang sangat matang dan bukan tanpa sebab.

Sebuah perusahaan pasti menginginkan hasil produksi (output) yang selalu meningkat karena selain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebuah perusahaan pastinya ingin memperoleh keuntungan atau laba yang lebih besar. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan atau menambah jumlah faktor-faktor produksi (input). Jika ini dilakukan secara terus menerus, maka hasil produksi akan meningkat sampai ke titik jenuh hingga akhirnya jika penambahan input tetap dilakukan, maka outputnya justru akan menurun. Disinilah hukum hasil lebih akan berlaku dalam kegiatan ekonomi.

Perusahaan akan menambah jumlah karyawan agar waktu proses produksi menjadi lebih cepat sehingga hasil produksi (output) dapat meningkat. Namun jika penambahan karyawan terus dilakukan, maka akan terjadi ketidakseimbangan dimana pada suatu titik, hasil produksinya akan menurun. Bila diteruskan, perusahaan justru akan merugi.

Penelitian David Ricardo

Seorang ahli ekonomi asal Inggris, David Ricardo, menemukan suatu kaidah dalam ekonomi yaitu hukum hasil lebih yang berkurang (the law of diminishing return). Menurutnya, jika kita menambah salah satu input dengan jumlah yang sama sedangkan input yang lainnya dibiarkan tetap, maka akan terjadi peningkatan pada output produksi hingga pada titik tertentu justru akan mengalami penurunan.

Hasil penelitian tersebut bisa dijelaskan pada tabel di bawah ini.

Tabel. Hasil Lebih Pada Sebidang Tanah

Dari tabel di atas bisa diketahui bahwa jumlah output akan selalu bertambah seiring ditambahnya jumlah karyawan namun hasil lebihnya tidak selalu sebanding. Hingga akhirnya pada suatu titik jenuh, outputnya justru akan berkurang. Nilai hasil lebih yang tertinggi ada pada saat perusahaan memiliki jumlah karyawan sebanyak 5 orang. Sedangkan total produk tertinggi dapat dicapai pada saat jumlah karyawan sebanyak 8 orang.

Kurva Hasil Lebih Pada Sebidang Tanah
Kurva Hasil Lebih Pada Sebidang Tanah

Berlakunya The Law of Diminishing Return

Dalam bukunya Sri Mulyani hal. 58, Dijelaskan bahwa setelah diadakan penelitian oleh pakar-pakar ekonomi lainnya ternyata hukum ini berlaku juga pada perusahaan yang kemampuan faktor produksinya terbatas.

Berlakunya the law of diminishing return diperlukan beberapa asumsi.

a. Salah satu faktor produksi (misalnya, tanah pada pertanian atau mesin pada industri) harus tetap sehingga perbandingannya saja yang berubah.

b. Teknik produksi yang diterapkan dalam proses produksi tetap. Jika tingkat teknik produksi yang diterapkan lebih canggih berarti dapat mempertinggi produktivitas setiap tenaga kerja, hukum tersebut tidak berlaku.

c. Daya kerja (produktivitas) faktor produksi yang diubah harus sebanding (sama). Seandainya faktor produksi yang diubah adalah jumlah tenaga kerja maka tingkat pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja tersebut harus sama terhadap pekerjaan yang dimaksud.

Indriayu, Mintasih.2009. Ekonomi : Untuk SMA/MA Kelas X.Solo: CV Teguh Karya.
Nur Mulyani, Sri dkk.2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X.Jakarta: Cakra Media.

Fungsi Produksi dan Perilaku Produksi Pro Rakyat

Fungsi Produksi dan Perilaku Produksi Pro Rakyat - Setelah sebelumnya kita telah membahas tentang pola perilaku konsumen dalam kegiatan ekonomi, nah di halaman ini kita akan membahas tentang pola perilaku produsen dalam kegiatan ekonomi.

A. Fungsi Produksi

Pada halaman sebelumnya kita juga telah mempelajari tentang Faktor Produksi. Lalu apa kaitannya dengan fungsi produksi?. Nah, di dalam produksi, kita mengenal sebuah istilah atau yang disebut sebagai input seperti bahan baku, karyawan, mesin dan infrastruktur.

Input ini dalam pembahasan yang sebelumnya kita namakan sebagai faktor produksi (Baca juga: Pengertian, Tujuan, Proses dan Faktor Produksi). Sedangkan output dari produksi merupakan keluaran barang atau jasa hasil produksi itu sendiri. Lalu apa yang dinamakan sebagai fungsi produksi?, fungsi produksi merupakan hubungan fungsional yang terdapat antara input (sebab) dan output (akibat).

Gambar. Skema fungsi produksi

Fungsi produksi menunjukan bahwa jumlah output atau hasil produksi tergantung dengan jumlah input atau faktor produksi. Jadi disini bisa dikatakan bahwa faktor produksi merupakan variabel bebas sedangkan hasil produksi merupakan variabel terikat. Sehingga dalam matematika, fungsi dapat ditulis secara matematis sebagai berikut.

q = f (R, L, C, T)

Keterangan:

q = quantity (jumlah barang yang dihasilkan)
f = function (simbol persamaan)
L = labour (tenaga kerja)
R = resources (kekayaan alam)
C = capital (modal)
T = technology (teknologi)

Misalnya:
Sebuah perusahaan industri di Yogyakarta memiliki tingkat produksi tertentu dari faktor-faktor industri sebagai berikut.

R = 2a+1
L = 4b+3
C = 6c+3
T = 3d+2

Dari masing-masing faktor industri diketahui bahwa a=11, b=23, c=33 dan d=17. Berapa tingkat produksi yang bisa dihasilkan oleh perusahaan tersebut?

Jawab:
q = f (R, L, C, T)
q = (2a+1)+(4b+3)+(6c+3)+(3d+2)
q = 2a+4b+6c+3d+9
q = (2.11)+(4.23)+(6.33)+(3.17)+9
q = 22+92+198+51+9
q = 372

B. Perilaku Produksi Pro Rakyat (Mengutamakan Kepentingan Masyarakat)

Sebuah perusahaan melakukan produksi barang dan jasa bertujuan untuk mencari keuntungan atau laba secara maksimal. Namun hendaknya, tujuan ini tidak untuk mencari keuntungan semata melainkan ada timbal-balik positif dengan lingkungan, baik itu lingkungan negara ataupun masyarakat. Peran positif untuk lingkungan, misalnya limbahnya tidak boleh sampai mencemari atau merusak lingkungan. Pengabdian untuk negara, misalnya membayar pajak, turut membangun fasilitas umum dan sebagainya. Sedangkan peran positif untuk masyarakat hendaknya turut serta menciptakan lowongan pekerjaan dan kegiatan sosial yang bermanfaat.

Nah, untuk menciptakan perilaku produksi yang mengutamakan kepentingan masyarakat, maka hendaknya perusahaan selaku produsen haruslah menanamkan nilai-nilai antara lain memberi keuntungan bagi keuntungan bagi stakeholders, memberikan sumbangan sosial, menumbuhkan perasaan saling percaya, mematuhi peraturan dan mencintai lingkungan.

Setelah membahas tentang fungsi produksi dan perilaku produksi pro rakyat ini, kita selanjutnya akan membahas tentang Hukum Hasil Lebih yang Semakin Menurun (The Law of Diminishing Return).

Indriayu, Mintasih.2009. Ekonomi : Untuk SMA/MA Kelas X.Solo: CV Teguh Karya.
Nur Mulyani, Sri dkk.2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X.Jakarta: Cakra Media.
Supriyanto dan Ali Muhson.2009. Ekonomi untuk SMA dan MA kelas X. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Pengertian, Tujuan, Proses dan Faktor Produksi

Proses produksi roti
Gambar. Proses produksi roti (Sumber: Solopos.com)

Pengertian, Tujuan, Proses dan Faktor Produksi

A. Pengertian Produksi

Produksi adalah semua kegiatan untuk menciptakan atau menambah nilai guna suatu barang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Misalnya sebuah kayu dapat diolah menjadi meja dan kursi atau tepung terigu, gula, telor dan air dapat diolah menjadi roti. Nah, maka disini harus melalui suatu proses pengolahan yang dinamakan produksi.

B. Tujuan Produksi

Ada beberapa tujuan dalam produksi, antara lain

  • Untuk memperbanyak barang dan jasa,
  • Untuk meningkatkan kualitas barang dan jasa. Misalnya pabrik AC meproduksi AC untuk bus sehingga kualitas bus menjadi meningkat,
  • Untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Misalnya produksi baju, celana, lampu dll,
  • Sebagai pengganti barang yang telah rusak atau habis masa pakainya. Misalnya lampu yang telah mati digantikan dengan lampu yang baru,
  • Untuk memenuhi kebutuhan sebuah industri. Misalnya pabrik tepung terigu memenuhi kebutuhan pabrik roti,
  • Untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional,
  • Untuk meningkatkan kemakmuran dan keuntungan.

C. Proses Produksi

Dalam memperoduksi barang pasti akan mengalami sebuah proses, nah proses ini dinamakan sebagai proses produksi. Proses produksi memiliki beberapa tahapan sehingga mampu menghasilkan produk barang dan jasa.

a. Produk barang

Barang dapat dibagi menjadi dua macam yakni barang konsumsi dan barang modal.

  1. Barang konsumsi merupakan barang yang langsung dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Misalnya alat tulis, beras, sabun dll.
  2. Barang modal merupakan barang yang berguna untuk menghasilkan barang lainnya. Barang modal tidak bisa dimanfaatkan langsung melainkan harus diolah lagi. Misalnya bahan mentah, mesin produksi dll. Nah, barang modal dapat dibagi menjadi dua macam yaitu barang modal tahan lama dan barang modal tidak tahan lama.
  • Barang modal tahan lama merupakan barang modal yang tidak akan habis dalam satu kali produksi. Misalnya mesin, gedung, kendaraan yang menunjang proses produksi dll.
  • Barang modal tidak tahan lama merupakan barang modal yang habis dipakai dalam sekali proses produksi. Misalnya bahan baku , bahan bakar dll.

b. Produk jasa

Produksi jasa juga dapat dibagi menjadi dua macam yaitu produksi jasa yang bisa langsung dinikmati dan yang tidak langsung bisa dinikmati.

  1. Produksi jasa yang bisa langsung dinikmati, misalnya: jasa pelayanan, pengobatan, pendidikan dll.
  2. Produksi jasa yang tidak bisa langsung dinikmati, misalnya: pencipta lagu, pengarang buku, jasa asuransi dll.

Produksi jasa berdasarkan pelakunya dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu.

  1. Jasa pribadi merupakan jasa yang diselenggarakan oleh perorangan. Misalnya sopir, dokter dll.
  2. Jasa kolektif merupakan jasa yang diselenggarakan oleh negara/masyarakat. Misalnya rumah sakit, area parkir, sekolah dll.

D. Faktor Produksi

Faktor produksi adalah sesuatu yang digunakan untuk menghasilkan atau menambah nilai guna barang dan jasa. Faktor produksi bisa berupa manusia, alat atau barang. Nah, faktor produksi ini dapat meliputi empat macam yakni:

a. Faktor produksi alam

Faktor produksi alam merupakan semua yang ada di alam yang dapat dipakai dalam suatu proses produksi. Misalnya barang tambang, pohon, sinar matahari, udara, tanah dll.

b. Faktor produksi tenaga kerja

Dalam proses produksi harus terdapat manusia dalam hal ini adalah tenaga kerja yang melakukan pengolahan. Adapun tenaga kerja dibedakan menjadi tenaga kerja terdidik, terampil dan kasar.

  1. Tenaga kerja terdidik. Misalnya dokter, guru, teknisi, programer dll.
  2. Tenaga kerja terampil. Misalnya penjahit, mortir, sopir dll.
  3. Tenaga kerja kasar. Misalnya tukang cuci, tukang kebun, tukang serabutan dll.

c. Faktor produksi modal

Modal sangatlah penting dalam membantu kelancaran sebuah proses produksi. Misalnya modal yang berupa uang dibutuhkan oleh produsen untuk membeli peralatan peroduksi, penyediaan tempat dan surat ijin produksi dll.

d. Faktor produksi kewirausahaan

Faktor kewirausahaan merupakan faktor yang tidak bisa dinilai, ditimbang ataupun diraba namun hanya bisa diketahui dengan cara melihat hasil produksinya. Seseorang yang baik dalam berwirausaha akan mampu mengoptimalkan bahan yang ada serta mengkoordinir semua faktor produksi secara efisien dan eketif untuk mengahasilkan barang dan jasa dalam jumlah yang banyak dan berkualitas. Maka dalam hal ini dibutuhkan managerial yang baik, kemampuan teknik yang mumpuni serta mampu mengorganisasikan perusahaan (memimpin perusahaan).

Indriayu, Mintasih.2009. Ekonomi : Untuk SMA/MA Kelas X.Solo: CV Teguh Karya.
Nur Mulyani, Sri dkk.2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X.Jakarta: Cakra Media.