Insomnia (Tipe, Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya)

  • Whatsapp
Insomnia (Tipe, Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya)
Gambar Iustrasi. Insomnia (Tipe, Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya)

Insomnia (Tipe, Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya) – Insomnia adalah masalah yang mungkin sering kita dengar. Atau bahkan sering kita alami? Insomnia sendiri merupakan suatu gangguan tidur di mana seseorang kesusahan untuk tertidur. Bisa juga diartikan bahwa penderitanya mengalami waktu tidur yang tidak cukup. Akibatnya, seseorang akan merasa terganggu dan tidak fit beraktivitas keesokan harinya.

Insomnia ini menjadi gangguan tidur yang tentunya akan terjadi secara berturut-turut, bisa dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Kemudian, gangguan tidur ini akan menyebabkan kesulitan dalam melakukan aktivitas hari-hari. Namun selebihnya, kita bisa memeriksakan diri apabila mengalami gejala gangguan tidur yang mengganggu agar mendapatkan diagnosis yang tepat.

Macam-Macam Tipe insomnia

Insomnia sendiri ternyata dibagi menjadi 2 tipe, lho. Masing-masing didasarkan pada durasi tidur, bagaimana insomnia ini memengaruhi tidur, dan faktor lain.

Insomnia akut

Insomnia akut merupakan insomnia jangka pendek yang berlangsung mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Insomnia akut ini biasanya terjadi karena suatu kejadian atau perubahan gaya hidup yang bikin stres. Misalnya saja ada orang terdekat yang meninggal, putus cinta, pindah ke tempat kerja yang baru, dan lain sebagainya.

Insomnia kronis

Sementara itu, insomnia kronis merupakan kejadian insomnia yang setidaknya terjadi minimal 3 kali seminggu dalam kurun waktu sebulan. Ya, insomnia kronis ini durasinya lebih lama. Bisa saja insomnia kronis ini terjadi tanpa sebab (insomnia primer), bisa juga karena bawaan dari suatu penyakit yang menyebabkan gangguan tidur (insomnia sekunder). Tentunya, insomnia kronis ini sangat mengganggu. Mengalami gangguan tidur dalam jangka waktu lama pastinya bisa membuat kita stres, bukan?

Gejala insomnia

Apa kamu tahu sebenarnya bisa dikatakan insomnia itu gimana sih? Tentu ada gejala atau tanda-tandanya. Nah, jika kita mengalami tanda atau gejala di bawah ini, bisa jadi kita mengalami insomnia.

  1. Bangun terlalu cepat (padahal tidur belum cukup)
  2. Tidur tidak berkualitas sehingga bangun-bangun tidak terasa segar
  3. Kesusahan untuk terlelap
  4. Pusing
  5. Gangguan suasana hati
  6. Mudah marah
  7. Susah berkonsentrasi saat beraktivitas.

Penyebab dan faktor risiko insomnia

Apabila mengalami gejala seperti di atas, mungkin saja kita mengalami insomnia. Meski sebaiknya jangan lakukan diagnosis sendiri, ya.

Lalu sebenarnya apa sih yang menyebabkan insomnia? Hal-hal di bawah ini juga perlu kita ketahui nih supaya bisa dicegah dan juga bisa mengetahui lebih dalam tentang insomnia. Tidak hanya penyebab, tetapi juga faktor risiko yang bisa jadi menjadi pemicu insomnia. Selain itu, penyebab maupun faktor risiko dari insomnia kronis dan insomnia akut pun berbeda lho.

Penyebab dan faktor risiko insomnia akut

  1. Perubahan lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan untuk tidur (contoh: berisik, lampu terlalu terang, tiba-tiba harus lembur kerja beberapa hari, dan lain-lain)
  2. Posisi tidur kurang nyaman sehingga sulit terlelap
  3. Jet lag
  4. Pengobatan tertentu
  5. Stres tetapi bukan yang berkepanjangan

Penyebab dan faktor risiko insomnia kronis

  1. Gangguan mental seperti kecemasan dan depresi
  2. Penyakit kronis bawaan, seperti diabetes, Parkinson, central sleep apnea, sesak napas, luka, dan lain sebagainya
  3. Pengaruh treatment pengobatan stimulan seperti alkohol, kafein, anti-depressants, obat kemoterapi, dan lain sebagainya
  4. Sedentary lifestyle (gaya hidup yang kurang aktivitas fisik)
  5. Perubahan pola aktivitas dalam jangka waktu panjang seperti perubahan jam tidur dan bangun, lingkungan yang tidak mendukung untuk istirahat, kebiasaan tidur siang, dan lain-lain.

Risiko insomnia bagi kesehatan

Insomnia merupakan gangguan tidur. Padahal tidur atau istirahat adalah kebutuhan kita setiap hari. Tidur yang cukup dan berkualitas tentu sangatlah berpengaruh untuk kesehatan kita. Nah, jika mengalami insomnia dalam jangka waktu panjang, bisa-bisa kita mengalami masalah kesehatan seperti berikut ini.

  1. Meningkatkan risiko penyakit kronis seperti stroke, asma, tekanan darah tinggi, obesitas, inflamasi (pembengkakan), penyakit jantung, dan lain sebagainya
  2. Meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, frustasi, dan lain-lain
  3. Meningkatkan risiko kecelakaan saat beraktivitas karena kewaspadaan menurun
  4. Meningkatkan risiko gangguan ingatan atau memori
  5. Menurunkan harapan hidup

Menurut penelitian, waktu tidur yang kurang bisa meningkatkan risiko kematian sebanyak 12%. Padahal durasi tidur normal setiap hari untuk orang dewasa adalah 7 – 8 jam.

Cara mengatasi insomnia

Jika insomnia sudah terjadi, tentu kita ingin mengatasinya ‘kan supaya memiliki jam tidur yang kembali normal dan berkualitas.  Selain itu, badan kita pasti akan terasa lebih fresh sehingga tetap bugar beraktivitas.

Mengatasi insomnia bisa berupa pengobatan medis (tentunya dilakukan oleh ahli) dan bisa berupa perubahan gaya hidup. Berikut ini adalah beberapa cara mengatasi insomnia:

a. Mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat

Gaya hidup memang sangat berpengaruh dalam mengatasi insomnia. Perubahan gaya hidup bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti:

  • Di malam hari, sebaiknya jangan menunda istirahat ketika merasa mengantuk
  • Gunakan tempat tidur hanya untuk beristirahat dan tidak untuk beraktivitas lainnya seperti nonton TV, bekerja, dan lain-lain
  • Cobalah untuk tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari
  • Lebih mengelola stres agar tidak berlebihan dan mengganggu tidur
  • Kurangi / berhenti merokok, sebab nikotin merupakan stimulan yang memicu insomnia
  • Menghindari minum kafein 6 jam sebelum tidur

Ada penelitian yang mengemukakan bahwa 400 mg kafein yang dikonsumsi pada waktu 6 jam sebelum tidur bisa mengganggu tidur lho. 400 mg kafein tersebut rata-rata setara dengan 2 – 3 gelas kopi.

  • Jangan minum terlalu banyak saat akan tidur agar tidak beberapa kali ke kamar mandi, sehingga tidur jadi terganggu
  • Olahraga atau beraktivitas fisik 20 – 30 menit perhari, bisa dimulai dari yang ringan kok
  • Hindari makan terlalu larut malam karena bisa memberatkan saluran pencernaan dan memicu insomnia

Jenis makanan juga bisa memengaruhi insomnia lho. Supaya mudah tertidur, kita harus makan secara seimbang. Kemudian di malam hari, sebaiknya hindari konsumsi makanan dengan banyak lemak jenuh yang bisa memberatkan saluran pencernaan.

b. Mencoba mandi air hangat di malam hari sebelum tidur.

c. Terapi perilaku

Tidak hanya dari perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat, terapi perilaku juga bisa digunakan sebagai cara mengatasi insomnia. Perawatan yang ditujukan pada perilaku atau kebiasaan ini akan mengajarkan bagaimana lingkungan kita lebih kondusif dan memungkinkan untuk tidur dengan baik.

Terapi ini biasanya dilakukan apabila kondisi insomnia yang kita alami disebabkan oleh stres, trauma, atau kondisi psikologis lain. Tentunya, terapi ini harus dilakukan oleh ahli seperti psikolog, psikiater, atau penyedia layanan kesehatan terlatih.

d. Pengobatan

Apabila mengatasi insomnia dengan perubahan gaya hidup dan terapi perilaku tidak berjalan efektif, maka bisa menggunakan pengobatan seperti pil tidur atau lain sebagainya.

Namun tentu saja hal ini harus sesuai anjuran dokter. Apalagi pil atau obat tidur cenderung bisa membuat kecanduan. Selain itu, obat tidur juga tidak bisa sembarangan dikonsumsi apabila kita memiliki kondisi tertentu seperti mengidap suatu penyakit atau hal lainnya.

Jadi, kalau kita mengalami gejala insomnia, mending coba dulu lakukan perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Menerapkan gaya hidup sehat pastinya tidak hanya bermanfaat dalam mengatasi insomnia, tetapi juga sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Baru deh jika insomnia terasa mengganggu dan sangat sulit diatasi, segera hubungi ahlinya, ya!

Nah, bila ada yang ingin ditanyakan terkait Insomnia (Tipe, Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya) ini bisa ditulid di kotak komentar.

Referensi:

Insomnia. Diakses dari https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/insomnia pada 20 Mei 2020.

Thorpy MJ. (2011). Classification of sleep disorders. Principles and Practice of Sleep Medicine (Fifth Edition). DOI:
10.1016/B978-1-4160-6645-3.00060-8.

Treating insomnia. Diakses dari https://www.healthline.com/health/insomnia-treatments pada 20 Mei 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *