Arsip Kategori: Sosiologi

Pada bab ini Anda akan mempelajari tentang Sosiologi. Dengan mempelajari materi ini, diharapkan Anda dapat mengetahui dan memahami segala hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan masyarakat.

Faktor Pendorong Perubahan Sosial

Faktor pendorong perubahan sosial - Ada beberapa faktor pendorong perubahan sosial yang tentunya dapat mempengaruhi kehidupan sosial itu sendiri. Dalam pemikirannya, Margono Slamet menjelaskan bahwa faktor-faktor pendorong sosial meliputi empat hal, yakni:

1. Adanya rasa ketidakpuasan kepada situasi yang ada saat ini sehingga seseorang memiliki keinginan untuk mendapatkan situasi yang lain.

2. Adanya pengetahuan tentang sesuatu yang ada saat ini dengan sesuatu yang seharusnya bisa ada. Seorang manusia cenderung mengharapkan situasi dan kondisi yang ideal namun dalam kenyataannya, tidak semua bisa tercapai. Hal ini, tentu akan mendorong manusia untuk berusaha yang lebih sehingga terciptalah sebuah perubahan.

3. Adanya tekanan dari luar dapat membuat perubahan pada jiwa seseorang sehingga dapat merubah keinginan seseorang untuk melakukan perubahan sosial.

4. Adanya kebutuhan dari dalam untuk mencapai efisiensi dan peningkatan kualitas hidup.

Selain empat hal di atas, faktor pendorong perubahan sosial juga dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

a. Kontak dengan budaya masyarakat lain

Adanya proses penyebaran kebudayaan suatu daerah ke daerah yang lain (difusi) yang kemudian diikuti dengan adanya kontak kebudayaan satu dengan yang lainnya. Kontak kebudayaan ini dapat memodifikasi kebudayaan yang telah ada atau membuat sesuatu kebudayaan yang baru. Hal ini menyebabkan keaneragaman budaya semakin melimpah.

b. Sistem pendidikan yang maju

Sistem pendidikan misalnya jenjang pendidikan SD, SMP, SMA dan Perkuliahan dapat membuat seseorang untuk bisa menerima sesuatu yang baru. Selain itu, seseorang juga bisa lebih selektif untuk menerima kebudayaan yang sesuai dengan dirinya sendiri. Melalui pengetahuan ini seseorang dapat terdorong untuk melakukan suatu perubahan guna meraih impian dan tujuan hidupnya.

c. Sikap untuk menghargai karya orang lain

Sikap untuk menghargai karya orang lain dapat membuat seseorang selalu memiliki semangat dan enovasi untuk menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda dari karya orang lain. Sikap seperti ini harus dikembangkan di dalam masyarakat dan harus mendapatkan apresiasi yang layak misalnya hadiah pengembangan, nobel dan sebaginya.

d. Toleransi

Sikap toleransi merupakan sikap untuk menghargai pendapat dan keyakinan orang lain. Sikap ini harus kita kembangkan di kehidupan sosial masyarakat dalam rangka menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis. Sesuatu yang baru jangan kita langsung vonis sebagai sesuatu yang salah melainkan harus saling dihormati dan dipahami bersama sehingga kebudayaan yang baru akan senantiasa dapat tercipta.

e. Sistem stratifikasi sosial terbuka

Sistem terbuka memungkinkan seseorang untuk bergerak maju sesuai kemauan dan kemampuan dirinya sendiri. Adanya kesempatan untuk menaiki sistem stratifikasi yang lebih tinggi membuat seseorang terpacu untuk melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

f. Penduduk yang heterogen

Masyarakat yang heterogen dapat dengan mudah terpicu dengan suatu pertentangan-pertentangan sehingga seringkali suatu yang baru akan muncul ketika sebuah upaya penanganan dilakukan. Pertentangan yang terjadi dengan disertai sesuatu yang baru tentu akan membuat sebuah perubahan sosial masyarakat.

g. Orientasi ke masa depan

Memiliki orientasi ke masa depan dapat membuat suatu masyarakat terpicu untuk membuat sesuatu perubahan yang baru. Misalnya karena pentingkan kebutuhan transportasi, maka dikembangkanlah alat transportasi yang baru dan lebih modern. Alat-alat transportasi modern tersebut diharapkan dapat mempermudah manusia dalam memenuhi kehidupannya.

h. Disorganisasi Keluarga

Faktor pendorong perubahan sosial yang terakhir yakni adanya disorganisasi keluarga. Kehidupan keluarga yang penuh konflik dan percekcokan dapat menyebabkan kurangnya keharmonisan. Pada umumnya, anak merupakan korban yang paling banyak terkena dampaknya sehingga sering kali kita temui anak yang berada dalam situasi dan kondisi yang seperti ini akan melakukan pelarian di luar rumah sehingga bisa terjerumus ke pergaulan yang negatif.

Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 3 untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Baca Juga Yang Ini

Menyusun Rancangan Penelitian Sosial

Menyusun Rancangan Penelitian Sosial - Dalam pelaksanaan sebuah penelitian haruslah kita awali terlebih dahulu dengan menyusun rencana penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan menyusun rancangan penelitian dalam bentuk proposal. Rencana penelitian akan memberikan gambaran dan memudahkan seorang peneliti untuk mengetahui apa saja yang harus dia lakukan dan dia sediakan sebelum penelitian dilaksanakan. Yang harus dipersiapkan untuk membuat rencana penelitian antara lain menentukan permasalahan yang akan diteliti, menentukan tujuan penelitian dan pemilihan metode penelitian.

a. menentukan permasalahan yang akan diteliti

Menentukan permasalahan yang akan diteliti merupakan hal yang pertama kali harus dilakukan oleh seorang peneliti, baik itu peneliti profesional maupun pemula. Seorang peneliti profesional pada umumnya akan melakukan penelitian terhadap permasalahan-permasalahan yang bersifat unik, langka dan penting sedangkan untuk peneliti pemula disarankan untuk memilih penelitian yang membahas hal-hal yang bersifat umum dan sederhana.

Sebelum melakukan penelitian hendaknya menyusun rancangan penelitian sosial terlebih dahulu

Gambar. Sebelum melakukan penelitian hendaknya menyusun rancangan penelitian sosial terlebih dahulu (Ilustrasi: Siswa Team)

Dalan pendekatan faktual sebuah masalah penelitian harus nyata, jelas, secara teknis dapat dilakukan serta dapat diamati. Hal ini dikarenakan objek penelitian ilmiah harus berada di dunia kasat mata sehingga dapat dilakukan pengamatan menggunakan indera manusia.

Lalu, mengapa dalam kehidupan sosial selalu muncul berbagai macam masalah?

Dalam kehidupan nyata, sebuah permasalah akan timbul dikarenakan adanya kesenjangan yang besar antara kenyataan yang terjadi dengan keinginan atau harapan yang harus terjadi. Misalnya ketika muncul permasalahan kemiskinan yang disebabkan masih banyaknya masyarakat yang kesulitan mencari kehidupan yang layak, ini merupakan fakta atau kenyataan yang sedang terjadi. Kenyataan ini jauh dari apa yang dicita-citakan atau diharapkan (Atik Catur Budiati, Hal.88).

Dalam menentukan permasalahan penelitian, seorang peneliti akan mengumpulkan seluruh permasalahan-permasalahan yang telah teridentifikasi namun kemudian hanya akan mengambil beberapa permasalahan yang akan difokuskannya dalam penelitian. Ini sangatlah penting, penelitian yang tidak fokus membahas suatu masalah pada akhirnya akan menghasilkan kesimpulan yang mengambang dan kurang jelas. Identifikasi masalah yang telah diseleksi inilah yang nantinya kita tulis dalam menyusun rancangan penelitian sosial.

b. menentukan tujuan penelitian

Tujuan penelitian sosial merupakan pokok utama dalam suatu fenomena sosial sekaligus menjadi pokok utama untuk menjawab maksud dan tujuan yang ingin diraih dalam suatu penelitian. Tujuan penelitian sosial pada umunya antara lain bersifat eksploratoris, deskriptif serta eksperimental.

  1. Eksploratoris berati bahwa penelitian yang dilakukan berusaha untuk menngungkap sesuatu yang belum dikenal atau hanya sedikit dikenal atau masalah-masalah yang belum pernah diselidiki secara mendalam dan mendetail.
  2. Deskriptif berarti bahwa penelitian yang dilakukan bertujuan guna mencari sebuah deskripsi atau gambaran yang lebih jelas tentang situasi-situasi sosial.
  3. Eksperimental berarti bahwa penelitian yang dilakukan bertujuan guna mengadakan percobaan atau eksperimen untuk menguji sebuah hipotesis.

c. menentukan dan memilih metode penelitian sosial

Sebelum menyusun rancangan penelitian, hal yang tak kalah penting harus direncanakan adalah menentukan dan memilih metode penelitian. Mengapa?, karena penentuan metode yang tepat untuk diterapkan dalam sebuah penelitian nanti akan berdampak atau mempengaruhi hasil penelitian itu sendiri. Metode yang digunakan haruslah dibuat sesuai langkah-langkah ilmiah yang benar agar hasil penelitian yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula.

Apa yang harus dilakukan setelah rencana penelitian dibuat?

Setelah rencana penelitian yang dibuat dapat dipastikan telah lengkap dan siap untuk diterapkan kemudian seorang peneliti harus melakukan kegiatan berikutnya, yakni menyusun rancangan penelitian sosial atau desain penelitian yang sering disebut juga dengan istilah proposal penelitian. Rancangan penelitian atau desain penelitian yang matang akan menjadikan penelitian berjalan dengan lancar dan mampu meminimalisir segala kesalahan sehingga kebenaran hasil penelitian bisa lebih dapat dipercaya.

Apa yang harus dipersiapkan dalam menyusun rancangan penelitian sosial?

Dalan menyusun rancangan penelitian sosial, pada umumnya hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain:

a. judul penelitian,
b. latar belakang masalah penelitian,
c. rumusan permasalahan penelitian,
d. tujuan dan manfaat penelitian,
e. tinjauan pustaka,
f. hipotesis,
g. definisi operasional,
h. batasan konsep,
i. metodologi penelitian,
j. sistematika penulisan dan
k. daftar pustaka.

Nah, kesemuanya hal di atas harus ada di dalam rancangan penelitian sosial yang kemudian kita susun ke dalam sebuah proposal penelitian. Proposal penelitian merupakan seluruh pokok-pokok perencanaan penelitian yang tertuang dalam suatu kesatuan naskah secara ringkas, jelas dan lengkap atau utuh. Pembahasan lebih lanjut terkait menyusun rancangan penelitian sosial bisa dilihat pada artikel yang berjudul unsur-unsur dalam rancangan penelitian sosial.

Apa saja yang harus dipenuhi dalam menyusun rancangan penelitian sosial?

Dalam menyusun rancangan penelitian sosial yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Sistematis, yang berarti bahwa unsur-unsur yang ada dalam rancangan penelitian harus tersusun dalam urutan yang logis,

b. Konsisten, yang berarti bahwa terdapat kesesuaian di antara unsur-unsur dalam rancangan penelitian,

c. Operasional, yang berarti bahwa dapat menjelaskan bagaimana penelitian itu dilakukan.

Apa manfaat yang dapat diambil ketika kita menyusun rancangan penelitian sosial?

Menurut S. Nasution manfaat yang dapat diambil ketika kita menyusun rancangan penelitian sosial adalah sebagai berikut:

a. memberikan suatu pegangan yang lebih jelas kepada peneliti dalam melakukan penelitian,

b. menentukan batasan-batasan penelitian yang nantinya bertalian dengan tujuan penelitian,

c. memberikan gambaran yang jelas kepada peneliti tentang apa yang harus ia lakukan, misalnya gambaran tentang macam-macam kesulitan dan permasalahan yang nantinya akan muncul saat melakukan penelitian sehingga diharapkan seorang peneliti sudah dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi.

Keberhasilan penelitian banyak bergantung pada kualitas rancangan penelitian. Sedangkan kualitas rancangan bergantung pada kemampuan sebuah rancangan itu sendiri dalam memberi petunjuk serta pegangan disetiap langkah pelaksanaan penelitian. Semakin jelas langkah-langkah apa yang harus dilakukan, maka semakin baik pula rancangan yang telah dibuat. Jadi, sebuah rancangan penelitian yang baik hendaknya dapat menjadi pegangan yang terpercaya disetiap langkah penelitian sampai ke hal-hal yang bersifat spesifik.

Catur Budaiti, Atik.2009. Sosiologi Kontekstual. Solo: Cv. Mediatama.
Dwi Laning, Viba. 2009. Sosiologi: untuk SMA/MA kelas XII. Jakarta: PT. Cempaka Putih.
Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 3 untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Interaksi Sosial Dalam Sosiologi

Interaksi Sosial Dalam Sosiologi - Manusia merupakan makhluk sosial artinya bahwa dalam menjalani hidup ini, seorang manusia membutuhkan hubungan dengan orang lain. Coba bayangkan jika kita hidup di dunia ini hanya sebatang kara, mau masak harus membuat kompornya sendiri, membuat bahan masakannya sendiri dan belum lagi harus memasaknya sendiri. Serba sulit bukan? bahkan ketika sakit, kita juga membutuhkan orang lain untuk merawat atau ketika kita meninggal, maka pasti membutuhkan bantuan orang lain untuk menguburkannya. Nah, hubungan antar manusia ini dinamakan sebagai interaksi sosial.

Gambar. Interaksi sosial dalam masyarakat dapat menciptakan hubungan yang erat sebagai persaudaraan (Sumber: Siswa Team)

Gambar. Interaksi sosial dalam masyarakat dapat menciptakan hubungan yang erat sebagai persaudaraan (Sumber: Siswa Team)

Dalam menjalin hubungan dengan orang lain (berinteraksi sosial) diperlukan suatu tindakan sosial. Contoh tindakan sosial yang paling ringan misalnya ketika kita membutuhkan sesuatu kepada orang lain, maka kita harus mengutarakannya, baik itu dalam bentuk ucapan ataupun tindakan. Contoh yang lainnya, misalnya senyum kepada orang lain, menyumbang, membantu orang lain dan sebagainya. Kalau kita hanya diam saja (tidak melakukan tindakan sosial), maka suatu interaksi akan sulit terjadi. Dan bila suatu interaksi itu tidak terjalin dengan baik, akibatnya seseorang akan sulit mendapatkan sebuah hubungan yang baik dalam kehidupan.

Nah, sekarang sudah mengerti bukan? bahwa Interaksi sosial sangat penting dan hanya akan terjadi apabila satu individu melakukan suatu tindakan sosial sehingga dapat menimbulkan reaksi bagi individu-individu lain. Untuk itu, di halaman ini kita akan mempelajari tentang bentuk-bentuk interaksi sosial dalam sosiologi yang akan kita bagi dalam beberapa sub pembahasan penting diantaranya pengertian interaksi sosial, syarat terjadinya interaksi sosial dan faktor yang mempengaruhi interaksi sosial.

A. Pengertian Interaksi Sosial

Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Contoh interaksi sosial antara lain trasaksi jual-beli, menyapa orang lain, kerja bakti dan sebagainya.

Dalam berinteraksi sosial, Drs. Haryanto berpendapat bahwa ada dua tingkatan hubungan, yakni:

1. Tingkat hubungan yang dalam merupakan interaksi yang terjadi secara terus-menerus dimana kedua belah pihak memiliki ujuan tertentu. Misalnya: hubungan antara anak dengan orang tua.

2. Tingkat hubungan yang dangkal merupakan hubungan yang terjadi hanya sesaat serta tidak berkesinambungan. Misalnya: kondektur dengan penumpang bus.

B. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Interaksi sosial dapat terjadi apabila memenuhi beberapa syarat. Menurut Gillin yang dikutip oleh Soerjono Soekanto (1989), syarat terjadinya interaksi sosial yaitu adanya suatu kontak sosial dan komunikasi. Nah, kontak sosial dan komunikasi ini merupakan perwujudan dari sebuah tindakan sosial.

1. Kontak Sosial (sosial contact)

Kontak dapat diartikan sebagai saling menyentuh namun dalam sosiologi, kontak dapat terjadi tidak harus saling menyentuh misalnya berkirim surat, menelpon, ngobrol via email atau situs jejaring sosial dan sebagainya. Kontak sosial dapat dibedakan berdasarkan bentuknya, cara dan sifatnya.

a. Kontak sosial berdasarkan bentuknya

Berdasarkan bentuknya, kontak sosial dapat dibedakan menjadi tiga macam yakni:

  • Kontak antara individu dengan individu, misalnya pembicaraan antara anak dan ibu, transaksi penjual dengan pembeli dll.
  • Kontak antara individu dengan kelompok, misalnya seorang narasumber dengan audien, guru dengan murid dll.
  • Kontak antara kelompok dengan kelompok, misalnya sepak bola, basket, futsal dll.

b. Kontak sosial berdasarkan cara

Berdasarkan caranya, kontak sosial dapat dibedakan menjadi dua macam yakni:

  • Kontak langsung (primer), misalnya berjabat tangan, berpelukan dll.
  • Kontak tidak langsung (sekunder), misalnya siaran televisi, koran, majalah, ngobrol via online dll.

c. Kontak sosial berdasarkan sifatnya

Berdasarkan sifatnya, kontak sosial dapat dibedakan menjadi dua macam yakni:

  • Kontak positf, misalnya kerjasama perdagangan, pembelajaran di sekolah dll.
  • Kontak negatif, misalnya merampok, membunuh, berkelahi dll.

2. Komunikasi

Komunikasi merupakan kegiatan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Orang yang menyampaikan pesan dinamakan sebagai komunikator sedangkan orang yang menerima pesan dinamakan sebagai komunikan. Nah, sebuah komunikasi baru dapat terjadi apabila telah terjadi kontak terlebih dahulu. Misalnya apabila kita ingin menyampaikan informasi melalui telepon, maka koneksinya harus tersambung dahulu, tidak mungkin ketika teleponnya gak nyambung atau mati kemudian Anda memaksakan diri dengan ngomong sendiri. Ini akan menjadi perbuatan yang sangat percuma karena komunikasi tidak terjalin semestinya. Begitu juga sebaliknya, sebuah kontak juga harus ada komunikasinya supaya interaksi sosial dapat terjadi.

Komunikasi dapat dibagi menjadi dua macam yaitu komunikasi verbal dan nonverbal.

a) Komunikasi lisan (verbal) yakni komunikasi yang menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Misalnya: berbicara melalui telepon dll.

b) Komunikasi isyarat (nonverbal) yakni komunikasi yang menggunakan bahasa isyarat seperti gerak-gerik tertentu atau sikap tertentu. Misalnya: melambaikan tangan isyarat menyapa atau meminta tolong, menggelengkan kepala isyarat tidak mau dll.

Sebuah komunikasi dapat terjadi apabila memenuhi syarat antara lain pengirim, penerima, pesan dan umpan balik. Komunikasi juga tidak selamanya berdampak positif, adakalanya komunikasi bisa berdampak negatif terutama bila terjadi kesalahpahaman antara si pengirim dengan si penerima pesan terkait pesan yang dikirimkan.

C. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Menurut Karp dan Yoels seperti yang dikutip oleh Kamanto Sunarto (2000) bahwa agar dapat tercipta sebuah interaksi yang baik, maka seseorang perlu mengetahui orang yang akan diajaknya dalam berinteraksi. Beberapa hal yang perlu diketahui antara lain usia, jenis kelamin, penampilan fisik dan percakapan. Nah, keempat hal tersebut dapat kita cari tahu dan dipahami terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menjalin komunikasi agar tidak terjadi kesalapahaman yang dapat berujung menjadi interaksi yang tidak sehat atau negatif. Misalnya: ada perbedaan ketika kita menyapa orang lain yang lebih muda dengan orang lain yang lebih tua atau sebaya.

Apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi interaksi sosial dalam sosiologi?

Soerjono Soekanto menuturkan bahwa faktor yang memengaruhi interaksi sosial ada enam macam, yakni imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, motivasi dan empati.

1. Imitasi merupakan proses belajar dengan cara meniru orang lain. Imitasi dapat memiliki efek positif maupun negatif. Efek positif terjadi apabila sesuatu yang ditiru merupakan hal yang baik berdasarkan hukum dan etika yang berlaku sedangkan akan dapat berefek buruk apabila yang ditiru merupakan hal yang melanggar hukum dan etika. Misalnya: seorang wanita berpakaian ketat sebagai bentuk mengikuti fashion gaya Eropa, seorang pelajar menindik kuping biar dikira anak gaul dan sebagainya.

2. Sugesti merupakan pemberian pengaruh terhadap orang lain agar orang lain tersebut mengikuti pandangan kita. Pemberian sugesti pada umumnya dapat dilakukan dengan sangat mudah oleh seorang yang memiliki wibawa, karisma dan intelektual yang tinggi. Namun sugesti dapat pula dilakukan oleh seseorang yang hanya menguasai ilmu komunikasi dengan baik. Contoh penggunaan sugesti pada umumnya dilakukan oleh motivator, ahli hepnotis dan media periklanan seperti banner, baliho, iklan televisi dan sebaginya. Sugesti dapat berupa perilaku, pendapat, saran dan pertanyaan.

3. Identifikasi seringkali dilakukan oleh seorang individu dengan idolanya. Orang yang memiliki imitasi dan sugesti yang kuat terkait sang idola, dengan sendirinya akan melakukan identifikasi. Dalam proses identifikasi, seseorang bukan hanya meniru tingkah laku, gaya hidup sang idola namun sudah menjadi serupa dengan sang idola.

4. Simpati merupakan sebuah tindakan yang muncul sebagai akibat adanya rasa perihatin terhadap keadaan orang lain. Misalnya ketika melihat tetangga yang terkena musibah, masyarakat berbondong-bondong menjenguknya dan menolongnya.

5. Motivasi merupakan dorongan atau rangsangan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain sehingga orang yang diberi motivasi menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional serta penuh rasa tanggung jawab. Misalnya penghargaan bagi siswa yang berprestasi dapat memberikan sebuah motivasi tersendiri bagi siswa tersebut.

6. Empati merupakanproses kejiwaan seorang individu untuk larut dalam perasaan orang lain baik dalam keadaan suka maupun duka. Misalnya: kita akan ikut sedih jika saudara kita mengalami musibah.

Ruswanto. 2009. Sosiologi. Solo: CV. Mefi Caraka.
Sri Sukardi, Joko dan Rohman, Arif. 2009. Sosiologi Kelas X untuk SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Sudarmi, Sri dan W. Indriyanto. 2009. Sosiologi 1. Solo: CV. Usaha Makmur.
Widianti, Wida. 2009. Sosiologi 1. Bandung: CV. Habsa Jaya Bandung.

Baca Juga Yang Ini

Metode Penelitian dalam Sosiologi

Metode Penelitian dalam Sosiologi

1. Metode Penelitian Kuantitatif

Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang dalam menganalisis datanya mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka. Gejala yang diteliti diukur dengan skala, indeks, tabel, atau formula-formula tertentu yang cenderung menggunakan uji statistik. Menurut Creswell dalam Asmadi Alsa (2007), penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang bekerja dengan angka, yang datanya berwujud bilangan, yang dianalisis menggunakan statistik. Fungsinya untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya spesifik. Selain itu juga untuk melakukan prediksi bahwa suatu variabel tertentu memengaruhi variabel yang lain.

Masalah penting dalam penelitian kuantitatif adalah kemampuan untuk melakukan generalisasi hasil penelitian, yaitu seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasi pada populasi. Hal ini karena secara tipikal penelitian kuantitatif selalu dikaitkan dengan proses yang dinamakan induksi enumeratif. Induksi enumeratif adalah menarik kesimpulan berdasarkan angka dan melakukan abstraksi berdasarkan generalisasi.

Menurut Asmadi Alsa, langkah-langkah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif beserta spesifikasinya adalah sebagai berikut.

a. Mengidentifikasi Masalah Penelitian

Dalam hal ini, penelitian kuantitatif perlu menguraikan kecenderungan atau menjelaskan keterkaitan antara variabel dan pengembangannya. Penjelasan ini menunjukkan bahwa peneliti tertarik dalam menentukan apakah satu atau lebih variabel yang mungkin memengaruhi variabel lain.

b. Melakukan Tinjauan Kepustakaan

Melakukan tinjauan terhadap kepustakaan dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya permasalahan penelitian itu untuk diteliti dan untuk mengidentifikasi arah penelitian. Mengidentifikasi arah penelitian berarti peneliti melakukan telaah pustaka dan mengidentifikasi variabel-variabel kunci yang layak dan berhubungan, serta memiliki kecenderungan potensial yang perlu diuji dalam penelitian. Di samping itu, kegiatan tinjauan kepustakaan ini juga dimaksudkan untuk mengarahkan tujuan dan pertanyaan atau hipotesis penelitian.

c. Menetapkan Tujuan Penelitian

Pernyataan tentang tujuan, pertanyaan-pertanyaan penelitian, dan hipotesis dalam penelitian kuantitatif harus sempit dan spesifik. Hal ini dikarenakan peneliti harus mengisolasi variabel-variabel yang diteliti.

d. Mengumpulkan Data

Dalam penelitian kuantitatif, pengumpulan data didasarkan pada instrumen yang sudah ditetapkan sebelum penelitian. Instrumen yang dimaksud adalah daftar pertanyaan terstruktur (kuesioner).

e. Menganalisis dan Menginterpretasi Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah analisis statistik yang meliputi uraian kecenderungan, perbandingan kelompok yang berbeda, atau hubungan antarvariabel. Selain itu kita juga melakukan interpretasi terhadap data yang telah terkumpul. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui perbandingan antara hasil penelitian dengan yang diprediksikan sebelum penelitian. Jadi interpretasi ini merupakan penjelasan mengenai hasil penelitian, apakah mendukung atau tidak mendukung prediksi yang diharapkan sebelumnya.

Pendekatan dalam metode ini biasanya sangat bergantung pada hipotesis dan variabel, sehingga metode pendekatannya berbeda dengan kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam metode penelitian kuantitatif adalah pendekatan populasi dan pendekatan sampel.

a. Pendekatan Populasi

Populasi adalah kumpulan seluruh anggota dalam kelompok tertentu yang memiliki jumlah yang besar karena melibatkan seluruh anggota kelompok. Sebagai suatu populasi, kelompok subjek ini harus memiliki ciri-ciri dan karakteristik bersama yang membedakan dari kelompok subjek yang lain. Ciri yang dimaksud tidak terbatas hanya sebagai ciri lokasi, akan tetapi dapat terdiri dari karakteristik-karakteristik individu.

Studi populasi seringkali tidak memungkinkan dilakukan untuk jangka panjang apabila karakteristik subjek dan variabel penelitiannya menyangkut aspek perkembangan. Namun apabila populasi yang hendak diteliti harus dipelajari seluruhnya, maka sangat mungkin akan memakan waktu yang lama guna mengambil data, membutuhkan tenaga peneliti dan tenaga lapangan yang banyak sekali, serta akan menghabiskan dana yang sangat besar.

Suatu penelitian tidak dapat dilakukan terhadap seluruh populasi karena apabila hal itu dilakukan, maka akan dapat merusak populasi itu sendiri. Oleh karena itu, batasan dan karakteristik populasi harus jelas dan tegas sehingga kesimpulan penelitian dan target generalisasinya juga jelas. Begitu pentingnya pembatasan karakteristik populasi ini mengakibatkan pemilihan sampel dan pengambilan data belum dapat dilakukan sebelum batasan populasi tersebut diperoleh dengan benar.

b. Pendekatan Sampel

Sampel adalah wakil dari populasi yang diteliti atau dapat dikatakan sebagai bagian dari populasi. Karena merupakan bagian dari populasi, maka harus memiliki ciri seperti yang dimiliki oleh populasinya. Apakah suatu sampel merupakan representasi yang baik bagi populasinya sangat tergantung pada sejauhmana karakteristik sampel itu sama dengan karakteristik populasinya. Karena analisis penelitian didasarkan pada data sampel, sedangkan kesimpulannya nanti akan diterapkan pada populasi, maka sangat penting untuk memperoleh sampel yang representatif bagi populasinya. Untuk itulah perlu pemahaman mengenai teknik-teknik pengambilan sampel yang tepat. Proses mengambil atau menentukan sampel disebut dengan sampling.

Secara garis besar kita mengenal dua macam teknik pengambilan sampel (sampling), yaitu probability sampling dan nonprobability sampling.

1) Probability Sampling

Probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memberi kemungkinan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih. Jenis ini dibagi atas simple random sampling dan stratified random sampling.

a) Simple Random Sampling (Sampel Acak Sederhana)

Pengambilan sampel dengan cara acak sederhana memberikan kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu atau unit dalam keseluruhan populasi. Pengambilan sampel secara acak sederhana ini dilakukan dengan cara undian, tabel, atau menggunakan komputer sebagai media pengacaknya.

Ciri utama sampel acak sederhana ini adalah bahwa setiap unsur dari keseluruhan populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Selain itu kesempatan harus independen, artinya kesempatan bagi suatu unsur untuk dipilih tidak memengaruhi kesempatan unsur-unsur lain untuk dipilih. Pengambilan sampel dengan cara ini hanya dapat dilakukan pada populasi yang homogen. Apabila populasinya tidak homogen, maka tidak akan diperoleh sampel yang representatif. Selain menghendaki homogenitas, cara ini juga hanya praktis apabila digunakan pada populasi yang tidak terlalu besar.

b) Stratified Random Sampling (Sampel Acak Berstrata)

Pengambilan sampel berstrata dilakukan pada suatu populasi yang terbagi atas beberapa strata atau subkelompok dan dari masing-masing subkelompok itu diambil sampel-sampel terpisah. Pengambilan sampel berstrata dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu dengan cara proporsional dan cara tidak proporsional.

(1) Proportional Stratified Sampling (Sampel Berstrata Proporsional)

Pada prosedur pengambilan sampel ini, banyaknya subjek dalam setiap subkelompok harus diketahui perbandingannya lebih dahulu. Kemudian ditentukan persentase besarnya sampel dari keseluruhan populasi. Persentase atau proporsi ini lalu diterapkan dalam pengambilan sampel bagi setiap subkelompok atau stratanya. Untuk lebih jelasnya lihatlah ilustrasi tabel berikut.

Tabel Distribusi Subjek dalam Strata Populasi

Berdasarkan tabel di atas, dari populasi yang berjumlah 1520 subjek ditetapkan untuk diambil 20% sebagai sampel. Dengan mengambil secara random atau acak sebesar 20% subjek dari setiap strata sebagai sampel, maka distribusi subjek sampel dapat kita lihat pada tabel berikut.

Dengan demikian, berdasarkan tabel di atas kita dapat menentukan bahwa besarnya sampel yang diambil adalah 304 dari 1520 populasi.

(2) Disproportional Stratified Random Sampling (Sampel Acak Berstrata Disproporsional)

Prosedur ini biasanya dilakukan karena alasan statistik yang kadang-kadang analisisnya meminta jumlah subjek yang sama dari masing-masing subkelompok. Kadangkala, pengambilan sampel dengan model ini dapat mengakibatkan terlalu sedikit jumlah sampel dalam satu atau beberapa strata. Padahal kita ketahui bahwa semakin besar jumlah sampel dalam masing-masing strata, maka kesalahan pengambilan sampel (sampling error) akan semakin kecil.

Dalam cara ini, penentuan sampel dilakukan tidak dengan mengambil proporsi yang sama bagi setiap subkelompok atau strata, akan tetapi dimaksudkan untuk mencapai jumlah tertentu dari masing-masing strata. Untuk lebih jelasnya kita lihat ilustrasi tabel berikut.

Tabel Penentuan Sampel

Dengan melihat tabel di atas, kita dapat menentukan bahwa besarnya sampel yang diambil untuk dijadikan sebagai subjek dalam penelitian adalah 32 orang dari 98 populasi.

c) Cluster Random Sampling (Sampel Acak Klaster)

Pengambilan sampel dengan cara ini adalah dengan melakukan randomisasi terhadap kelompok, bukan terhadap subjek secara individual. Sebagai contoh, pada suatu tempat kos siswa yang terdiri dari 30 kamar, siswa yang menghuni masing-masing kamar tersebut adalah 3 orang. Dengan cara klaster, pengambilan sampel tidak dilakukan randomisasi terhadap 90 orang siswa secara individual, melainkan lewat randomisasi terhadap kamar sebagai klaster. Misalnya dipilih 20 kamar dari 30 kamar yang ada dan menjadikan seluruh penghuni kamar terpilih sebagai sampel, sehingga kita memiliki 20 x 3 = 60 orang siswa sebagai subjek.

2) Nonprobability Sampling

Nonprobability sampling adalah suatu cara pengambilan sampel, di mana besarnya peluang anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel tidak diketahui. Tentu saja akibat dari kondisi ini kita tidak mungkin dapat menghitung besarnya kesalahan dalam estimasi terhadap karakteristik populasi. Yang termasuk nonprobability sampling di antaranya adalah quota sampling dan purposive sampling.

a) Quota Sampling

Quota sampling adalah metode memilih sampel yang mempunyai ciri-ciri tertentu dalam jumlah atau kuota yang diinginkan. Misalnya sejumlah siswa kelas XII yang pernah menjadi pengurus OSIS di sekolahnya, atau sejumlah siswa kelas XII yang pernah mengikuti seminar tentang penelitian.Hasilnya berupa kesan-kesan umum yang masih kasar yang tidak dapat dipandang sebagai generalisasi umum. Dalam sampel dengan sengaja kita memasukkan orang-orang yang mempunyai ciri-ciri yang kita inginkan.

b) Purposive Sampling

Purposive sampling ini dilakukan dengan mengambil orang-orang yang terpilih betul oleh peneliti menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki oleh subjek itu. Sampel yang dipilih adalah sampel yang dapat relevan dengan rancangan penelitian. Peneliti berusaha agar dalam sampel itu terdapat wakil-wakil dari segala lapisan populasi. Dengan demikian harus diusahakan agar sampel itu memiliki ciri-ciri yang esensial dari populasi, sehingga dapat dianggap representatif.

Misalnya untuk menilai mutu kegiatan OSIS di Sekolah Menengah Atas, peneliti harus menentukan sampel yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, guru-guru yang menjabat sebagai pembina OSIS, pengurus OSIS, pengurus Komite Sekolah, dan sebagian siswa.

c) Snowball Sampling

Dalam snowball sampling ini kita memulai dari kelompok kecil yang nanti diminta untuk menunjuk orang lain dalam kelompok tersebut. Kemudian orang lain tersebut diminta pula untuk menunjukkan kawan masing-masing pula, begitu seterusnya sehingga kelompok itu senantiasa bertambah besar. Sampling ini dipilih apabila kita ingin menyelidiki hubungan antarmanusia dalam kelompok yang baik, atau menyelidiki cara-cara informasi tersebar di kalangan tertentu. Misalnya bagaimana orang menanamkan modal, membeli rumah di perumahan, dan lain sebagainya.

2. Metode Penelitian Kualitatif

Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang diperoleh dengan cara verbal. Pada dasarnya ada tiga unsur utama dalam penelitian kualitatif, yaitu sebagai berikut.

  1. Data, bisa berasal dari bermacam-macam sumber, biasanya dari wawancara dan pengamatan.
  2. Prosedur analisis dan interpretasi yang digunakan untuk mendapatkan temuan atau teori. Prosedur ini mencakup teknik-teknik untuk memahami data atau biasa disebut dengan coding (penandaan).
  3. Laporan tertulis dan lisan. Laporan ini dapat dikemukakan dalam jurnal ilmiah atau konferensi. Bentuknya bisa beragam, tergantung pada khalayak dan aspek-aspek temuan atau teori yang disajikannya.

Untuk melakukan penelitian kualitatif, ada beberapa langkah yang harus kamu lakukan. Menurut Asmadi Alsa, langkahlangkah tersebut adalah sebagai berikut.

a. Mengidentifikasi Masalah Penelitian

Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang menekankan pada deskripsi dan eksplanasi, penelitian kualitatif melakukan penelitian dengan cara yang eksploratif dan berusaha memahami fenomena sentralnya. Eksplorasi di sini maksudnya bahwa peneliti hanya mengetahui sedikit tentang fenomena yang akan diteliti, sehingga peneliti harus belajar lebih banyak tentang fenomena tersebut dari subjek yang diteliti.

b. Melakukan Tinjauan Kepustakaan

Dalam penelitian kualitatif, kepustakaan lebih dimaksudkan sebagai dasar untuk melakukan justifikasi (pentingnya masalah itu diteliti) atas permasalahan penelitian dan tidak mengarahkan pertanyaan penelitian. Ini berarti bahwa kepentingan tinjauan kepustakaan merupakan keperluan yang sekunder, sedangkan yang utama adalah pandangan dan pengalaman dari subjek.

c. Menetapkan Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini, tujuan penelitian lebih banyak diarahkan untuk aspek keterbukaan (open-ended), karena dimaksudkan untuk memperoleh pandangan subjek tentang masalah yang diajukan dalam penelitian. Maksud peneliti adalah memberikan kesempatan kepada subjek untuk berbicara secara terbuka mengenai pengalaman mereka.

d. Mengumpulkan Data

Ketika melakukan penelitian kualitatif, seorang peneliti dapat mengembangkan satu fokus saat mengumpulkan data, ia tidak menggunakan pendekatan dalam penelitiannya dengan pertanyaan-pertanyaan khusus untuk menjawab atau menguji hipotesis. Peneliti kualitatif cenderung mengumpulkan datanya melalui kontak terus-menerus dengan informan (subjek) dalam pergaulan sehari-hari.

Metode pengumpulan data yang mewakili karakteristik penelitian kualitatif ini adalah observasi berpartisipasi dan pertanyaan mendalam (in-depth interview). Prosedur yang digunakan secara runtut menurut Bogdan dan Biklen seperti dikutip dalam Asmadi Alsa (2007) adalah sebagai berikut.

1) Mengumpulkan data berupa kata-kata (verbal);

2) Menganalisis kata-kata tersebut dengan cara pendeskripsian peristiwa-peristiwa dan memperoleh atau menetapkan tema;

3) Mengajukan pertanyaan umum dan luas;

4) Tidak membuat prediksi terhadap subjek yang diamati, tetapi menyandarkan diri pada peneliti untuk membentuk apa yang mereka laporkan;

5) Tetap dapat dilihat dan ada dalam laporan tertulis.

e. Menganalisis Data

Dalam penelitian kualitatif, karena datanya terdiri dari teks dan gambar, maka ada perbedaan pendekatan analisisnya. Ada beberapa pendekatan dalam metode kualitatif ini, di antaranya adalah pendekatan fenomenologis, interaksi simbolis, historis, komparatif, gabungan antara komparatif dan historis, studi kasus, dan studi kepustakaan.

1) Pendekatan Fenomenologis

Sebuah pendekatan yang berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu disebut dengan pendekatan fenomenologis. Pendekatan ini memberi tekanan pada verstehen, yaitu pengertian interpretatif terhadap pengamatan manusia. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang ditelitinya. Oleh karena itu, dalam fenomenologi peneliti berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian rupa, sehingga mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan olehnya di sekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.

2) Pendekatan Interaksi Simbolis

Pendekatan ini berasumsi bahwa pengalaman manusia dipengaruhi oleh penafsiran. Objek, orang, situasi, dan peristiwa tidak memiliki pengertiannya sendiri, sebaliknya pengertian itu diberikan untuk mereka. Melalui interaksi seseorang membentuk pengertian. Orang dalam situasi tertentu sering mengembangkan definisi karena mereka secara teratur berhubungan dan mengalami pengalaman bersama, masalah, dan latar belakang, tetapi kesepakatan tidak merupakan keharusan. Di pihak lain sebagian memegang definisi bersama untuk menunjuk pada kebenaran, suatu pengertian yang senantiasa dapat disepakati. Hal itu dapat dipengaruhi oleh orang yang melihat sesuatu dari sisi lain. Pendekatan ini tidak menolak kenyataan bahwa konsep teoretik tersebut mungkin bermanfaat. Namun, hal itu hanya relevan untuk memahami perilaku sepanjang hal itu memasuki atau berpengaruh terhadap proses pendefinisian.

3) Pendekatan Historis

Pendekatan historis merupakan suatu pendekatan yang analisis datanya didasarkan pada peristiwa-peristiwa masa lampau untuk mengetahui kejadian saat ini. Pendekatan ini menurut suatu peristiwa pada suatu waktu, kemudian dieksplanasi (dikupas) untuk memahami kejadian-kejadian yang ada pada saat itu guna menerapkan pada kejadian saat ini.

4) Pendekatan Komparatif

Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan dengan cara membandingkan antara kondisi masyarakat di suatu tempat dengan kondisi masyarakat yang ada di tempat yang lain. Dengan mendasarkan pada konsep yang sama, pendekatan ini mencoba menafsirkan kejadian berbeda antarmasyarakat untuk dicari perbedaannya.

5) Pendekatan Gabungan antara Komparatif dan Historis

Dapat dikatakan bahwa pendekatan gabungan merupakan suatu pendekatan yang berusaha untuk membandingkan pola kehidupan masyarakat pada kurun masa tertentu dengan masyarakat masa sekarang. Penafsiran atas perbedaan inilah yang akan menjadi orientasi pendekatan gabungan.

6) Pendekatan Studi Kasus

Pendekatan studi kasus memusatkan perhatian pada fenomena-fenomena sosial yang nyata dalam masyarakat, di mana yang ditelaah adalah keadaan masyarakat dilihat dari persoalan atau kasus tertentu, baik dalam suatu lembaga, kelompok, maupun secara individu. Contohnya gerakan buruh memprotes undang-undang ketenagakerjaan, gerakan mahasiswa memprotes kenaikan harga BBM, dan lain-lain. Atau dengan kata lain pendekatan ini berusaha mendalami secara sungguh-sungguh dari salah satu gejala yang nyata yang terdapat dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu.

7) Pendekatan Studi Kepustakaan

Pendekatan ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan macam-macam materi yang ada dalam batasan kepustakaan. Misalnya dapat berupa buku-buku, majalah-majalah, surat kabar, internet, rekaman audio-visual, dokumen, jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.

Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 3 untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Baca Juga Yang Ini

Menentukan Subjek Penelitian

Menentukan Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki data mengenai variabel-variabel atau permasalahan- permasalahan yang diteliti. Pada dasarnya subjek penelitian adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian. Oleh karena itu, subjek penelitian ini harus sesuai dengan permasalahan yang kita angkat dalam penelitian. Dalam penelitian kuantitatif seperti yang telah disinggung di mana subjek penelitian diambil dengan menggunakan system sampling, sehingga semakin banyak sampel, maka akan semakin memperkecil jumlah kesalahan dalam pengumpulan data. Sedangkan dalam penelitian kualitatif, jumlah sampel atau subjek yang diteliti tidak begitu berpengaruh, yang jelas dalam penelitian kualitatif subjek yang diambil benar-benar fokus pada permasalahan yang kita angkat dan kita mencoba untuk ‘mengorek’ keterangan darinya sedalam-dalamnya dan sedetail-detailnya.

Penentuan subjek penelitian dalam penelitian kualitatif dilakukan saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. Caranya yaitu peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan.

Guba dan Lincoln mengemukakan bahwa penentuan subjek dalam penelitian kualitatif sangat berbeda dengan penelitian kuantitatif. Penentuan subjek dalam penelitian ini tidak didasarkan pada perhitungan statistik. Subjek dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum, bukan untuk digeneralisasikan.

Beberapan kriteria yang harus dipenuhi seseorang atau sekelompok orang untuk menjadi subjek dalam penelitian kualitatif menurut Sanapiah Faisal adalah sebagai berikut.

  1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu bukan sekedar mengetahui, tetapi juga menghayatinya.
  2. Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti.
  3. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil ‘kemasannya’ sendiri.
  4. Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi.
  5. Mereka yang pada mulanya tergolong ‘cukup asing’ dengan peneliti, sehingga akan lebih memacu semangat untuk dijadikan narasumber.

Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 3 untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Baca Juga Yang Ini