Penerapan Sosiologi dalam Keluarga

Penerapan Sosiologi dalam Keluarga

Di dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah keluarganya, yang bisa terdiri atas orangtuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua, serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan inilah si anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari. Melalui lingkungan ini juga si anak mengalami proses sosialisasi awal. Orangtua, saudara, ataupun kerabat terdekat lazimnya mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak supaya anak memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya terhadap nilai-nilai dan norma.

Pada saat ini, orangtua, saudara, ataupun kerabat (secara sadar atau setengah sadar) melakukan sosialisasi yang biasa diterapkan melalui kasih sayang. Atas dasar kasih sayang itu, anak didik untuk mengenal nilai-nilai tertentu, seperti nilai ketertiban dan ketenteraman, nilai kebendaan dan keakhlakan, nilai kelestarian dan kebaruan, dan seterusnya.

Pada nilai ketertiban dan keten teraman ditanamkan perilaku disiplin dan perilaku bebas yang senantiasa harus diserasikan. Misalnya, si anak yang lapar boleh makan dan minum sampai kenyang, tetapi pada waktu-waktu tertentu; anak boleh bermain sepuas-puasnya, tetapi dia harus berhenti bermain apabila waktu makan telah tiba.

Menerapkan nilai kebendaan dan nilai keakhlakan serta penyerasian pada anak, misalnya, dapat ditanamkan dengan jalan membelikan mainan yang diinginkannya, tetapi mainan itu harus dipelihara baik-baik agar tidak cepat rusak. Kalau mainan itu dirusaknya, orangtua harus dapat menahan diri untuk membelikannya segera mainan yang baru. Melalui cara-cara itu pula, nilai kelestarian dan kebaruan dapat ditanamkan melalui perilaku teladan yang sederhana. Contoh lainnya, si anak dibelikan makanan kesukaannya, tetapi dia harus berbagi dengan teman-teman atau saudaranya.

Apabila usia anak meningkat remaja, penanaman nilai-nilai tersebut harus tetap dipertahankan. Akan tetapi, hal tersebut diterapkan dengan cara-cara yang lain sesuai dengan pertumbuhan jiwa remaja tersebut. Apabila caranya tidak disesuaikan, yang terjadi bukan penerapan nilai, malah sebaliknya merupakan pemaksaan terhadap kebebasannya yang akan memunculkan penolakan-penolakan. Seorang anak remaja pada umumnya tidak mau diperlakukan seperti anak kecil oleh orangtuanya karena hal itu akan menjadi olokan dan cemoohan teman-temannya. Akibatnya, perkembangan jiwa anak akan terhambat, bahkan bisa menjadi minder dan tidak mau bergaul lagi.

Secara fisik dan psikis, usia remaja merupakan masa-masa di mana tingkat pertumbuhan sedang mengalami puncak prosesnya. Untuk bisa mengikuti perkembangan remaja agar bisa berlangsung dengan baik, perlu ada pengawasan dari pihak keluarga. Dalam hal ini, peran orang tua sebagai pengarah dan pembentuk perkembangan kepribadian remaja dituntut member perhatian secara intensif.

Di dalam sebuah keluarga, yang cenderung terjadi adalah pengawasan dan perhatian yang kurang terhadap sikap dan perilaku seorang anaknya yang menjelang remaja. Hal ini menyebabkan perkembangan jiwa yang masih labil sehingga rentan terhadap perbuatan dan pengaruh dari luar yang cenderung bertentangan dengan nilai dan norma. Misalnya, kenakalan remaja seperti penyalahgunaan obat-obatan, minuman beralkohol, dan narkotika.

Memang, kebanyakan orangtua kadang-kadang lebih mementingkan disiplin atau keterikatan daripada kebebasan, sedangkan remaja lebih menyukai kebebasan daripada kedisiplinan. Namun, manusia memerlukan keduanya dalam keadaan yang serasi. Manusia yang terlalu disiplin hanya akan menjadi “robot” yang mati daya kreativitasnya. Adapun manusia yang terlalu bebas akan menjadi makhluk lain (yang bukan manusia).

Keberhasilan anak dalam proses sosialisasi ini dapat dilihat dari motivasi dan keberhasilan studinya. Tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi anak justru ditunjang oleh keserasian-keserasian tersebut. Kalau pada anak, orangtualah yang harus menanamkan agar si anakberpengetahuan. Adapun pada remaja, orangtua harus memberikan pengertian melalui cara-cara yang dewasa.

Anak atau remaja yang diharuskan belajar terus-menerus atau dibebani dengan kewajiban mengikuti pelajaran tambahan (les) atau keterampilan tertentu akan mengakibatkan kebosanan sehingga pekerjaan tersebut dianggapnya sebagai kegiatan rutin belaka. Dia tidak sempat mengenyam kebebasan berpikir, oleh karena selalu terbebani dengan keterikatan, yang disebabkan orangtua senantiasa memegang peranan yang menentukan di dalam mengambil keputusan-keputusan. Anak atau remaja tersebut hanya dilatih untuk berpikir semata-mata, tanpa mendidiknya untuk senantiasa menyerasikan pikiran dengan perasaan.

Membiarkan anak atau remaja untuk bersikap dan berperilaku semaunya juga tidak benar. Mereka memerlukan tuntunan orangtua, saudara-saudara, dan kerabat dekatnya, tetapi tuntunan itu tidak diperolehnya. Lingkungan yang berpola pikiran demikian juga tidak menghasilkan pengaruh yang menunjang tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi karena dilepas begitu saja. Kritik para remaja menurut Soerjono Soekanto biasanya tertuju pada hal-hal sebagai berikut.

  • Orangtua terlalu konservatif atau terlalu liberal.
  • Orangtua hanya memberikan nasihat, tanpa memberikan contoh yang mendukung nasihat tersebut.
  • Orangtua terlalu mementingkan pekerjaan di kantor, organisasi, dan lain sebagainya.
  • Orangtua mengutamakan pemenuhan kebutuhan material belaka.
  • Orangtua lazimnya mau “menangnya” sendiri (artinya, tidak mau menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar remaja yang mungkin berbeda).

Suasana keluarga yang positif bagi tumbuhnya motivasi dan keberhasilan pengembangan kepribadian, baik dalam studi maupun aspek kehidupan lainnya, adalah keadaan yang menyebabkan anak atau remaja merasa dirinya aman atau damai apabila berada di tengah keluarga. Suasana tersebut biasanya terganggu apabila terjadi hal-hal berikut.

  • Tidak ada saling pengertian atau pemahaman mengenai dasar-dasar kehidupan bersama.
  • Terjadinya konflik mengenai otonomi; di satu pihak orangtua ingin agar anaknya disiplin, namun di dalam kenyataan mereka justru mengekangnya.
  • Terjadinya konflik nilai-nilai yang tidak diserasikan.
  • Pengendalian dan pengawasan orangtua yang berlebihan.
  • Tidak adanya rasa kebersamaan dalam keluarga.
  • Terjadinya masalah dalam hubungan antara ayah dan ibu, sebagai suami dan isteri, dan konflik yang tidak mungkin lagi diatasi.
  • Jumlah anak yang banyak dan tidak disertai atau didukung oleh fasilitas yang memadai.
  • Campur tangan pihak luar (baik kerabat maupun tetangga).
  • Status sosial ekonomi yang di bawah standar.
  • Pekerjaan orangtua (misalnya, kedudukan istri lebih tinggi daripada suami, sehingga penghasilannya juga lebih besar. Hal ini tidak mustahil akan mengakibatkan suami merasa rendah diri dan melampiaskan ke arah yang negatif).
  • Aspirasi orangtua yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
  • Konsepsi mengenai peranan keluarga serta anggota keluarga yang meleset dari kenyataan yang ada.
  • Timbulnya favoritisme di kalangan anggota keluarga.
  • Persaingan yang sangat tajam antara anak-anak sehingga menimbulkan pertikaian.

Walaupun demikian, keberhasilan anak atau remaja dalam pergaulan maupun masa depannya tidak sepenuhnya bergantung pada peranan orangtua dalam keluarga. Ini berarti seorang anak tidak boleh terlalu menyalahkan orangtua; dia juga harus mengerti dan memahami keadaan, kedudukan, dan permasalahan orang- tuanya, bahwa apa yang diberikan orangtuanya adalah yang terbaik dan tidak mungkin mencelakakan dirinya.

Daftar Pustaka
Waluya, Bagja. 2009. Sosiologi 1 Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *