Malnutrisi Energi Protein Beserta Contoh dan Gejalanya

  • Whatsapp
Contoh Malnutrisi energi protein c. Marasmus dan kwashiorkor
Contoh Malnutrisi energi protein c. Marasmus dan kwashiorkor

Malnutrisi Energi Protein – Pasti tahu ‘kan kalau tubuh memerlukan makan sebagai energi kita dalam beraktivitas sehari-hari. Nah, kebutuhan energi kita dari makanan tentunya bisa berbeda-beda tiap orang. Jika makanan yang kita asup jumlahnya sesuai dengan energi yang kita keluarkan, maka tubuh kita akan ideal karena asupan dan keluaran energi berjalan dengan seimbang.

Namun jika nggak seimbang seperti kelebihan asupan dibanding jumlah energi yang dibutuhkan, maka tubuh bisa kegemukan karena energi dalam makanan akan disimpan di tubuh. Sementara kalau asupan makanan kita lebih sedikit dari kebutuhan, tubuh kita akan cenderung kurus. Kalau hal ini terjadi terus-menerus, maka tubuh akan berisiko mengalami malnutrisi lho.

Malnutrisi

Tahu nggak sih apa itu malnutrisi? Malnutrisi adalah suatu kondisi di mana asupan makan seseorang nggak bisa seimbang dengan kebutuhan gizi tubuh untuk kondisi sehat yang optimal. Nggak hanya kekurangan gizi yang memicu malnutrisi. Kelebihan gizi (kegemukan, obesitas) pun bisa disebut malnutrisi.

Nah, kalau malnutrisi ini dikarenakan seseorang kurang asupan gizi, maka disebut undernutrition. Sementara kelebihan gizi akan disebut sebagai overnutrition. Nah, yang akan dibahas dalam artikel ini secara lebih spesifik adalah tentang malnutrisi yang berupa undernutrition alias kekurangan gizi.

Tentunya kekurangan gizi bukanlah kondisi yang sehat karena bisa menyebabkan risiko-risiko seperti gangguan kesehatan, kelelahan, sulitnya pemulihan suatu penyakit, berisiko mengalami infeksi, dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Malnutrisi energi protein

Salah satu tipe malnutrisi adalah malnutrisi energi protein, atau bisa disebut juga kurang energi protein (KEP). Hal ini bisa terjadi jika kita nggak mengonsumsi energi dan protein secara cukup untuk kebutuhan fungsi tubuh.

Nah, penyebabnya sendiri bisa beragam. Antara lain karena persediaan makanan yang nggak memadai (kelaparan), atau bisa juga karena penyakit tertentu yang menyebabkan tubuh kesulitan makan sehingga kebutuhan gizi nggak tercukupi.

Gejala malnutrisi energi protein

Umumnya, KEP terjadi pada anak-anak. Meskipun nggak jarang juga kok terjadi pada orang dewasa. Namun secara umum, gejala KEP adalah sebagai berikut.

  1. Mudah kelelahan
  2. Mudah kedinginan / suhu tubuh rendah
  3. Diare
  4. Nafsu makan berkurang
  5. Cenderung apatis
  6. Mudah marah
  7. Lemas
  8. Napas melambat
  9. Mengalami kesemutan pada tangan dan kaki, bahkan bisa kesemutan
  10. Kulit kering
  11. Rambut mudah rontok
  12. Mengalami memar.

Tipe malnutrisi energi protein

Malnutrisi energi protein yang sering terjadi terdapat 3 jenis lho, yaitu marasmus, kwashiorkor, dan gabungan antara keduanya. Meski sama-sama kondisi KEP, ketiga jenis malnutrisi tersebut memiliki beberapa perbedaan lho.

a. Marasmus

Marasmus adalah kondisi KEP yang disebabkan karena kekurangan asupan energi dan protein dalam waktu yang lama. Nggak hanya itu, pada orang yang mengalami marasmus, asupan lemak dan zat gizi penting lainnya pun nggak tercukupi. Akibatnya, tubuh jadi kehilangan massa lemak dan jaringan otot sehingga terlihat sangat kurus.

Baca juga: Penyebab badan kurus

Biasanya marasmus ini terjadi pada balita dan anak-anak yang memiliki gizi buruk. Kelaparan dan dehidrasi bisa menjadi salah satu penyebabnya. Kondisi ini pun lama-lama bisa mengancam nyawa jika nggak ditangani dengan segera. Supaya tahu lebih detail, marasmus ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.

Ciri-ciri marasmus:

  • Sangat kurus hingga tulang-tulang tampak menonjol
  • Dehidrasi
  • Mengalami diare kronis
  • Perut tampak sangat menyusut hingga tulang rusuk terlihat
  • Stunting (pendek)
  • Kulit kering
  • Rambut rapuh
  • Terlihat lebih tua dibanding anak-anak seusianya
  • Kondisi kognitif terhambat
  • Lemas dan kurang bertenaga
  • Infeksi saluran pernapasan.

b. Kwashiorkor

Setelah mengetahui tentang marasmus, maka selanjutnya akan kita bahas mengenai malnutrisi energi protein dengan jenis kwashiorkor. Kwashiorkor ini merupakan kondisi malnutrisi di mana seseorang mengalami kekurangan asupan protein dalam waktu yang lama.

Sama halnya dengan marasmus, kondisi ini juga biasanya dialami oleh anak-anak. Kalau di Indonesia sih sering juga disebut dengan busung lapar. Karena kekurangan protein, seseorang nggak hanya akan terlihat kurus.

Namun juga terdapat tanda-tanda klinis seperti mengalami pembengkakan di beberapa bagian kulit akibat penumpukan cairan tubuh (edema). Nah, secara lebih lengkap kwashiorkor memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

Ciri-ciri kwashiorkor:

  • Rambut kering, tipis, rapuh, dan kemerahan seperti rambut jagung
  • Edema (pembengkakan pada kulit akibat penumpukan cairan)
  • Perut membesar
  • Terdapat ruam pada kulit
  • Mudah marah
  • Mudah kelelahan dan mengantuk
  • Mengalami gangguan pertumbuhan
  • Terjadi infeksi karena kekebalan tubuh melemah
  • Kuku rapuh
  • Massa otot mengalami penurunan
  • Diare
  • Berat badan nggak bertambah.

Berdasarkan ulasan di atas, terdapat beberapa perbedaan yang terlihat antara malnutrisi energi protein atau KEP pada marasmus dan kwashiorkor.

Kalau penderita marasmus mengalami penurunan berat badan, yang mengalami kwashiorkor cenderung sulit mengalami kenaikan berat badan. Kemudian kalau pada marasmus terjadi dehidrasi, pada kwashiorkor malah terjadi penumpukan cairan sehingga menyebabkan pembengkakan beberapa bagian tubuh.

Baca juga: Cara menaikkan berat badan menjadi ideal

Selanjutnya, pada marasmus, bagian perut akan tampak cekung sehingga tulang rusuk terlihat. Namun pada kwashiorkor, bagian perut malah membesar akibat penumpukan cairan tubuh tadi.

c. Marasmus-kwashiorkor

Tipe malnutrisi energi protein atau kurang energi protein (KEP) juga ada yang merupakan gabungan marasmus-kwashiorkor. Pada tipe ini, gejala atau ciri-cirinya bisa muncul bersamaan.

Penyebab dan faktor risiko malnutrisi energi protein (KEP)

Sebenarnya kenapa sih seseorang bisa mengalami marasmus atau kwashiorkor dan gabungan keduanya? Pada dasarnya, malnutrisi terjadi karena kekurangan asupan atau karena terjadinya infeksi.

Simpel saja, karena kebutuhan zat gizi makro (karbohidrat, protein, dan lemak) nggak mencukupi kebutuhan tubuh, berarti dari segi asupan saja kurang. Atau seseorang terkena penyakit infeksi yang menyebakan asupan gizi nggak bisa terserap dengan baik oleh tubuh, akibatnya, tubuh pun jadi kekurangan gizi.

Namun, penyebab-penyebab tersebut bisa ada karena faktor risiko. Misalnya saja dari segi akses pangan, pendapatan orang tua, dan lain sebagainya. Secara lebih lengkap, penyebab dan faktor risiko malnutrisi energi protein adalah sebagai berikut.

a. Pola makan yang buruk

Malnutrisi bisa disebabkan oleh pola makan yang buruk lho. Misalnya saja pola makan yang sangat sedikit dan menyebabkan kurangnya asupan sehingga kebutuhan gizi pun nggak terpenuhi secara optimal. Nggak hanya dari segi polanya, jenis makanan yang kurang beragam pun sangat berpengaruh.

Pola makan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi pencernaan yang sehat, persediaan bahan makanan yang cukup, dan adanya nafsu makan. Kebanyang ‘kan, orang yang mengalami gangguan makan pasti nggak memiliki nafsu makan yang baik.

b. Kesehatan mental

Jika seseorang memiliki mental yang sehat, pasti konsumsi makannya juga akan lebih baik. Sebagai contoh, orang yang stres atau mengalami tekanan bisa saja akan makan dengan sedikit karena nggak selera makan, bahkan justru ada yang makan dengan berlebihan. Termasuk pada orang yang mengalami eating disorder, asupan gizinya pasti akan terpengaruh.

c. Masalah pada sistem pencernaan

Jika seseorang bisa makan dengan baik tetapi tubuhnya nggak memiliki kemampuan untuk mencerna dan menyerap zat gizi dengan baik juga percuma lho. Gangguan pencernaan ini contohnya adalah sulitnya menelan makanan, rasa mual, atau bisa juga gangguan pada usus yang berfungsi melakukan penyerapan zat gizi.

d. Nggak mengasup ASI dengan baik

Untuk anak-anak, bayi, dan balita, asupan ASI sangat berpengaruh pada tumbuh kembang serta kecukupan gizi lho. Anak yang diberikan ASI eksklusif sejak lahir akan jarang mengalami malnutrisi dibanding yang nggak diberikan ASI.

Nah, ASI ini sebaiknya diberikan mulai anak lahir hingga usia 2 tahun. Untuk usia 0 – 6 bulan, cukup berikan ASI saja atau disebut ASI eksklusif. Sementara usia 6 – 24 bulan, anak bisa diberikan ASI beserta makanan pendamping (MP-ASI).

e. Akses pada sumber pangan yang susah

Kita patut bersyukur jika tinggal di daerah yang akses pangannya mudah. Mau beli bahan makanan saja nggak perlu kesulitan karena semuanya tersedia. Namun, jika seseorang tinggal di daerah yang susah untuk mengakses makanan, sangat berisiko mengalami malnutrisi lho.

Misalnya saja, untuk membeli bahan makanan sehat harus menyeberang sungai atau lautan. Akibatnya, makanan yang akan dikonsumsi pun seadanya. Bisa saja makanan seadanya tersebut nggak mencukupi kebutuhan gizi, sehingga lama-kelamaan seseorang bisa malnutrisi.

f. Kemiskinan / kondisi ekonomi rendah

Bisa jadi juga malnutrisi terjadi karena kemiskinan. Sebuah keluarga dengan kondisi ekonomi rendah pastinya kemampuan untuk membeli makanannya terbatas. Akibatnya, keluarga tersebut bisa mengalami kelaparan yang berujung malnutrisi energi protein.

Baca juga: Posisi duduk yang benar

g. Rendahnya pengetahuan tentang gizi

Sebagai contoh, orang tua yang kurang mendapatkan edukasi tentang gizi, pengetahuannya pasti akan rendah. Hal ini sangat berpengaruh bagi pola asuhnya kepada anak-anaknya. Rendahnya pengetahuan gizi tentunya berkaitan dengan terjadinya malnutrisi, ‘kan?

h. Pengobatan tertentu

Sejenis pengobatan juga bisa kok membuat zat gizi yang diasup nggak terserap tubuh dengan baik. Jika terjadi dalam jangka waktu lama, seseorang bisa mengalami malnutrisi.

i. Penyakit tertentu

Kondisi kesehatan juga sangat memengaruhi terjadinya malnutrisi energi protein lho. Contohnya, pada orang sakit, kebutuhan gizi pastinya lebih banyak karena selain untuk mencukupi kebutuhan tubuh, juga digunakan untuk pemulihan dari penyakit tersebut. Padahal biasanya orang sakit nafsu makannya cenderung rendah, bukan? Lama-lama, kondisi ini bisa menyebabkan malnutrisi.

Itulah beberapa ulasan mengenai malnutrisi energi protein kali ini. Hanya berawal dari makanan saja, masalahnya bisa jadi kompleks, ‘kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *