Mempelajari Sejarah Hipotesis Avogadro

Mempelajari Sejarah Hipotesis Avogadro

Mempelajari Sejarah Hipotesis Avogadro – Semua hal mengenai perubahan kimia dipelajari dalam ilmu kimia, dimana di dalamnya kita mengenal rumus-rumus senyawa hingga persamaan reaksi kimia.

Untuk memudahkan dalam menuliskan senyawa mapun persamaan reaksinya, maka kita perlu mematuhi hukum-hukum dasar kimia. Hukum-hukum dasar ini meliputi hukum Dalton atau Hukum Kelipatan Perbandingan, hukum Perbandingan Volume, hukum Kekekalan Massa, hukum Perbandingan Tetap, dan Hipotesis Avogadro.

Keempat hukum dasar kimia telah dibahas secara lengkap pada pembahasan sebelumnya. Kali ini, pembahasan akan terfokus pada hipotesis Avogadro, meliputi sejarah, bunyi hipotesis, hingga contoh penerapannya dalam kimia.

Mempelajari Sejarah Hipotesis Avogadro

Sejarah Hipotesis Avogadro

Atom, yang disebut sebagai bagian terkecil dari sebuah benda, menjadi bahasan yang ramai dibicarakan. Oleh karena itu, banyak ilmuwan mencoba mencari tahu bagaimana sebenarnya atom tersebut, seperti massa dan kecepatannya. Namun pada awal abad ke 19, tidak banyak ilmuwan yang bisa menghitung massa ini.

Kemudian seorang ilmuwan kimia bernama Amedeo Avogadro, di tahun 1811 berani mengajukan sebuah hipotesis yang kini dikenal sebagai hipotesis Avogadro. Ilmuwan jenius dari Italian ini mengungkapkan bahwa bagian terkecil dari sebuah benda tidak hanya berupa atom tunggal atau monoatomik, namun juga bisa berupa diatomik hingga molekul.

Sebuah pertanyaan muncul, mengapa perbandingan volume pada gas-gas di dalam reaksi tertentu adalah berupa bilangan bulat? Dalton tidak bisa mengungkapkannya karena saat itu ia memiliki anggapan bahwa partikel suatu unsur selalu mempunyai atom yang tunggal. Kemudia Avogadro menjelaskan hal ini melalui hipotesisnya.

Kemudian di abad 20, seorang ilmuwan berhasil menentukan massa suatu atom dengan metode dan proses yang sangat hati-hati. Dari percobaannya tersebut, maka diperoleh suatu kesimpulan bahwa hipotesis avogadro merupakan hipotesis yang sangat akurat dalam menunjukkan molekul dengan beratnya.

Mempelajari Hipotesis Avogadro

Apa bunyi hukum atau hipotesis Avogadro yang sangat terkenal ini? Amedeo Avogadro telah menyatakan dalam hipotesisnya bahwa, “pada temperatur serta tekanan yang sama, seluruh gas yang memiliki volume sama akan mengandung jumlah molekul yang sama pula.” Selain itu Avogadro juga menyatakan bahwa partikel unsur tidak hanya terdiri dari satu atom tetapi bisa dua atau lebih, baik atom yang sama mapun berbeda (molekul).

Berdasarkan konsep dari Avogadro inilah, sekarang didapatkan bahwa gas-gas kecuali gas mulia dianggap sebagai molekul yang terdiri dari dua atom (diatomik). Oleh karena itu, penulisan rumus kimia untuk beberapa gas tersebut yaitu seperti H2 untuk gas hidrogen, O2 untuk gas oksigen, N2 untuk gas nitrogen, dan seterusnya.

Contoh Hipotesis Avogadro dalam Kimia

Untuk lebih memudahkan dalam mempelajari dan memahami hipotesis Avogadro, berikut ini akan dijelaskan beberapa contoh penerapannya dalam ilmu kimia. Berdasarkan hipotesis yang telah dijabarkan di atas, maka kita dapat memahami bahwa :

1 molekul hidrogen + ½ molekul oksigen → 1 molekul air

Persamaan tersebut juga dapat ditulis sebagai :        

(2 molekul hidrogen) + (1 molekul oksigen) →  (2 molekul hidrogen+1 molekul oksigen)

Contoh penerapannya lainnya yaitu, apabila terdapat 1 liter gas nitrogen pada suhu maupun tekanan yang sama, akan tepat habis bereaksi dengan 3 liter has hidrogen. Kemudian terbentuklah 2 liter gas amonia. Dari sini kita dapat menentukan rumus molekul amonia tersebut.

Cara penyelesainnya adalah dengan menggunakan teori bahwa gas hidrogen maupun nitrogen merupakan molekul diatomik. Sehingga kita dapat menulis persamaan reaksinya seperti berikut:

N2(g) + 3H2(g) → 3NxHy

Dengan menggunakan cara menyetarakan reaksi, maka didapatkan nilai x = 1 dan y = 3. Sehingga rumus molekul amonia adalah NH3.

Daftar Pustaka:

Brown, Theodore L. et al. 2015. Chemistry: The Central Science (13th edition). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Silberberg, Martin S. & Amateis, Patricia. 2015. Chemistry: The Molecular Nature of Matter and Change (7th edition). New York: McGraw-Hill Education

Sumber gambar: situs sciencehistory yang diterbitkan dalam artikel berjudul Amedeo Avogadro (diakses tanggal 5 Mei 2019).

Hukum Kelipatan Perbandingan oleh Dalton

Bunyi Hukum Kelipatan Perbandingan oleh Dalton

Hukum Kelipatan Perbandingan oleh Dalton – Dalam kimia, kita mengenal bahwa senyawa kimia dibentuk dari unsur-unsur tertentu yang berikatan. Sejumlah unsur tertentu yang bergabung akan mengahasilkan senyawa tertentu pula. Namun ternyara ada keteraturan yang terjadi. Hal ini telah diteliti dan dikemukakan pertama kali oleh Joh Dalton, seorang ahli di bidang kimia yang berasal dari Inggris (1766 – 1844).

Hukum kelipatan perbandingan ini menjadi hukum dasar dalam materi stoikiometri. Banyak buku menyebutnya sebagai Hukum Dalton karena ditemukan pertama kali oleh John Dalton. Di tahun 1803 ia menemukannya melalui suatu percobaan sederhana. Hukum Dalton menjadi hukum yang sangat penting untuk memahami bagaimana suatu senyawa terbentuk.

Baca juga: Hukum Avogadro

Setelah Dalton menemukan hukum Kelipatan Perbandingan, ia mulai meneliti tentang atom. Penelitian ini meliputi apakah atom dapat dipecah-pecah lagi. Penelitian tentang atom ini juga didasari oleh hukum-hukum sebelumnya. Dalah pembahasan kali ini akan lebih ditekankan pada penjelasan mengenai bagaimana hukum Kelipatan Perbandingan dapat ditemukan, aplikasinya, dan pengecualian.

Pengamatan dan Penelitian John Dalton

John Dalton melakukan pengamatan terhadap sejumlah senyawa dan akhir ia menemukan keteraturan yang unik. Keteraturan ini terjadi pada perbandingan massa yang dimiliki unsur-unsur yang ada di dalam senyawa. Untuk membuktikan hipotesisnya ini, kemudian John Dalton melakukan serangkan penelitian.

Pertama-tama ia mencoba mereaksikan Nitrogen dengan massa oksigen. Dalam hal ini massa nitrogen diubah-ubah. Sedangkan massa oksigen dibuat tetap atau sama. Kemudian dari hasil percobaannya tersebut akhirnya Dalton mendapatkan hasil yaitu sebagai berikut.

Setelah dibandingkan, Dalton mendapatkan bahwa perbandingan massa diantara keduanya adalah berupa bilangan bulat. Hasil perhitungan didapatkan perbandingan sebesar 2 : 1 untuk massa senyawa NO dan senyawa NO2.

Baca juga: Hukum-hukum dasar dalam ilmu kimia

Bunyi Hukum Kelipatan Perbandingan Oleh Dalton

Setelah mengetahui hasil percobaan tersebut, maka Dalton membuat kesimpulan berupa sebuah hukum kimia. Hukum ini disebut dengan Hukum Perbandingan tetap yang banyak digunakan hingga sekarang. Bunyi hukum tersebut adalah sebagai berikut.

Apabila terdapat 2 unsur berbeda yang bergabung membentuk suatu senyawa lebih dari satu macam, jika massa salah satu unsur dibuat sama atau tepat dan unsur lainnya dibuat berbeda-beda, maka perbandingan massa antar unsur tersebut adalah bilangan bulat dan juga sederhana.

Bunyi Hukum Kelipatan Perbandingan oleh Dalton

Pembatasan Penggunaan Hukum Kelipatan Perbandingan

Dalam suatu ilmu, kita mengenal berbagai macam hukum atau teori. Berbagai teori dan hukum ini mendasari penemuan teori lainnya dan digunakan dalam penentuan-penentuan untuk menjawab hipotesis. Misalnya dalam suatu penelitian anda membutuhkan suatu dasar yang mampu mendukung hipotesis di dalamnya.

Hukum Kelipatan Perbandingan kita kenal sebagai salah satu hukum dasar yang digunakan dalam materi stoikiometri. Hukum ini memang sangat penting bahkan membuka wawasan akan bagaimana suatu senyawa dapat terbentuk dan bagaimana penyusunnya. Namun hukum ini mengalami pengecualian dalam kondisi tertentu.

Beberapa pengecualian yang bisa terjadi misalnya untuk senyawa-senyawa polimer. Senyawa polimer adalah senyawa yang memiliki rantai sangat panjang bahkan tidak terhingga. Selain itu senyawa non stoikiometrik dan oligomer juga tidak bisa menggunakan hukum Dalton ini.

Hukum Dalton digaris bawahi pada pernyataan bahwa perbandingan massa antar unsur yang menyusun suatu senyawa adalah bilangan bulat dan sederhana. Misalnya untuk senyawa CO2 (karbon dioksida) dan CO (karbon monoksida) yang mengikuti kaidah hukum Kelipatan Perbandingan.

Nah, bila ada pertanyaan terkait Hukum Kelipatan Perbandingan oleh Dalton bisa di tulis dikotak komentar.

Sumber :
Brady, James E. 1990. General Chemistry, (Principles & Structures). New York: John Wiley and Sons.
Chang, R. 2005. Chemistry. 8th ed. New York: Mc-Graw Hill.
Keenan, Charles E. et. al, – Pudjaatmaka. 1999. Ilmu Kimia Universitas (terjemahan). Jakarta: Erlangga.

Hukum Avogadro

hukum avogadro

Di dalam teori ilmu kimia, kita mengenal hukum Avogadro atau yang juga dikenal dengan hipotesis Avogadro. Prinsip hukum ini didapat dari sebuah percobaan yang menggunakan gas dan berhubungan dengan volume gas tersebut.

Penemunya bernama Avogadro, memiliki gagasan bahwa partikel suatu unsur tidak semuanya bersifat tunggal atau monoatomik, namun bisa diatomin ataupoliatomik.

Hukum Avogadro ini merupakan salah satu hukum dasar yang penting dalam kimia. Di dalamnya membahas tentang perbandingan volume antar gas-gas yang nilainya sama dengan perbandingan molekul yang ada di dalam reaksi. Atau dengan arti lain, perbandingan volume ini sebanding dengan koefisien reaksi yang menyertainya.

Sejarah dan Penemuan Hukum Avogadro

Dahulu di tahun 1811, seorang ahli di bidang kimia yang berasal dari Italia bernama Amadeo Avogadro mengemukakan sebuah gagasan penting yang berhubungan dengan perbandingan volume gas. Gagasannya ini hingga sekarang digunakan dalam banyak perhitungan kimia.

Sebelumnya telah di dapatkan sebuah teori bahwa perbandingan volume gas-gas yang ada di suatu reaksi adalah bilangan bulat dan sederhana. Namun Gay Lussac, Dalton, dan ilmuwan lain tidak dapat menjelaskannya. Sedangkan Gay Lussac sendiri adalah penemu dari teori tersebut. Dalton gagal karena teorinya bahwa semua partikel suatu unsur selalu bersifat monoatomik atau tunggal.

Baca juga: Hukum Perbandingan Volume oleh Gay Lussac

Kemudian Avogadro menjelaskan penyebab mengapa hal ini bisa terjadi, tepatnya di tahun 1811 tersebut. Ia mengungkapkan bahwa partikel suatu unsur tidak semuanya bersifat monoatomik (tunggal). Namun menurutnya, partikel unsur bisa berupa diatomik (berupa 2 atom), maupun poliatomik (lebih dari 2 atom).

Kemudian di sekitar abad ke 19 hingga 20, ahli fisika tidak banyak mengetahui massa molekul dan atom. Namun kemudian lahirlah sebuah teori hasil percobaan Millikan tentang elektron. Percobaannya yang menentukan muatan elektron ini kemudian menjadi landasan bahwa teori avogadro tersebut benar-benar kuat dan akurat.

Penjelasan mengenai Hukum Avogadro

Berdasarkan apa yang telah ditemukan oleh Avogadro, kemudian terbentuklah suatu hukum. Hukum tersebut berbunyi sebagai berikut.

“apabila terdapat dua sampel gas ideal yang memiliki volume, suhu, dan tekanan yang sama, maka sampel tersebut mengandung molekul dengan jumlah yang sama pula”

Untuk memahami teori ini, perhatikan contoh berikut. Apabila terdapat hidrogen dan nitrogen yang mempunyai volume yang sama, keduanya pasti memiliki molekul dengan jumlah yang sama. Namun dengan catatan, kedua gas tersebut berada pada keadaan suhu juga tekanan yang sama pula. Dalam hal ini Avogadro menyebut partikel adalah molekul.

hukum avogadro

Secara matematika, hukum atau hipotesis Avogadro ini dapat dinyatakan dengan rumus :

V / n = k

V untuk Volume gas, n untuk jumlah zat gas, dan k adalah tetapan atau konstanta. Ketetapan atau konstata dalam hukum Avogadro merupakan konstanta gas ideal yang mempunyai nilai yang sama bagi semua gas. Kondisi ideal yaitu apabila suatu gas berada pada keadaan STP. Rumus konstanta yaitu sebagai berikut.

Dari rumus tersebut terdapat simbol P untuk tekanan suatu gas, sedangkan T untuk temperatur yang dinyatakan dalam satuan Kelvin.

Baca juga: Hukum Kekekalan Massa Oleh Antonie L. Lavoisier

Bilangan Avogadro dan Konsep Mol

Di dalam hukum ini kita juga mengenal dengan adanya bilangan Avogadro. Ahli kimia dari Italia ini mengemukakan bahwa dalam 1 mol atom ada kurang lebih 6,02 x 1023 partikel. Bilangan ini lalu disebut dengan Bilangan Avogadro yang sangat berguna bagi perhitungan kimia. Bilangan Avogadro juga berlaku pada atom, senyawa, molekul, dan seterusnya.

Coba perhatikanlah hubungan bilangan avogadro dan Mol di bawah ini

1 mol unsur (misalnya: Na) terdapat 6,0225 x 1023 atom

1 mol senyawa (misalnya: H2O) terdapat 6,0225 x 1023 molekul

1 mol ion (misalnya: Cl) terdapat 6,0225 x 102323 ion

dimana

mol unsur = gram/massa atom

mol senyawa= gram/massa rumus

Sumber :
Brady, James E. 1990. General Chemistry, (Principles & Structures). New York: John Wiley and Sons.
Chang, R. 2005. Chemistry. 8th ed. New York: Mc-Graw Hill.
Keenan, Charles E. et. al, – Pudjaatmaka. 1999. Ilmu Kimia Universitas (terjemahan). Jakarta: Erlangga.

Hukum Perbandingan Volume oleh Gay Lussac

Hukum Perbandingan Volume oleh Gay Lussac

Hukum Perbandingan Volume oleh Gay Lussac – Dalam berbagai ilmu kita membutuhkan teori-teori dan hukum yang menjelaskan bagaimana sebuah ilmu bisa diterima. Salah satu contoh yaitu ilmu kimia. Ada beberapa macam hukum yang digunakan dalam kimia di mana hukum ini menjadi sumber lahirnya teori lain. Beberapa hukum kimia tersebut meliputi hukum perbandingan tetap, kelipatan perbandingan, kekekalan massa, dan perbandingan volume.

Dalam pembahasan kali ini akan lebih detal menjelaskan tentang hukup perbandingan volume yang ditemukan oleh ilmuwan bernama Gay Lussac. Hukum ini disebut juga dengan Hukum Gay Lussac, sesuai nama penemunya. Bagaimana sejarah Gay Lussac, penemuan, dan aplikasi Hukum Perbandingan Volume? Berikut penjelasan selengkapnya.

Baca juga: Hukum Kekekalan Massa

Sejarah Joseph Louis Gay Lussac

Seorang ahli di bidang kimia dan fisika bernama Joseph Louis Gay Lussac ini telah berjasa dalam bidang kimia. Ia telah menemukan suatu teori yang mendasari perkembangan teori kimia yang lain yaitu Hukum Perbandingan Volume. Selain itu ia juga dikenal sebagai ilmuan yang berkaitan dengan gas.

Gay Lussac dilahirkan di Vienne tepatnya tanggal 6 Desember 1778. Di tahun 1802, Gay Lussac pertama kali mencetuskan sebuah hukum kimia yang merupakan hasil dari percobaannya. Dalam rumusannya, ia mengatakan bahwa massa dan volume suatu gas yang dipertahan agar tetap konstan akan berpengaruh pada tekanan gas.

Tekanan gas ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur. Hukum ini pun dikenal dengan P = k T (P untuk tekanan, k untuk tetapan gas, dan T untuk suhu dalam satuan Kelvin). Rumus ini juga bisa dipahami sebagai P/T = k. Kemudian dari rumus tersebut kita mengenal bahwa tekanan akan berbanding lurus dengan suhu.

Baca juga : Hukum-hukum dasar dalam ilmu kimia

Hukum ini bisa benar karena temperatur atau suhu diukur dari rerata suatu energi kinetik dari zat. Energi kinetik tersebut akan meningkat apabila partikel-partikel bertumbukkan dengan pergerakan yang cepat. Hal ini akan berpengaruh pada peningkatan tekanan.

Penemuan Hukum Perbandingan Volume

Untuk dapat merumuskan sebuah teori atau hukum di ilmu pengetahuan seperti kimia, maka diperlukan serangkaian penelitian yang mampu menjelaskan teori tersebut nantinya. Gay Lussac tidak menemukannya dalam satu kali penelitian namun berbagai reaksi telah ia coba.

Ia menemukan bahwa untuk setiap satu satuan volume suatu gas hidrogen ternyata bereaksi dengan 1 satuan volume gas Cl2 atau gas klorin. Reksi ini akan menghasilkan 2 satuan volume gas HCl (hidrogen klorida). Sehingga perbandingan volume yang didapatkan yaitu 1:1:2 untuk volume gas hidrogen, klorin, dan hidrogen klorida secara berturut-turut.

Oleh karena itu, Gay Lussac akhirnya berhasil merumuskan sebuah hukum kimia yaitu sebagai berikut.

“volume beberapa gas yang bereaksi dan volume gas hasil reaksi tersebut apabila diukur di suhu dan tekanan yang sama, maka akan berbanding menghasilkan bilangan bulat dan sederhana.”

Hukum ini kemudian menjadi sebuah landasan yang penting bagi stoikiometri gas modern. Selain itu Hukum Gay Lussac menjadi dasar lahirnya hukum Avogadro yang juga membahas tentang suhu dan tekanan pada suatu molekul.

Aplikasi Hukum Perbandingan Volume Oleh Gay Lussac

Untuk lebih memahami hukum perbandingan volume, simak contoh penggunaannya di bawah ini.

Apabila anda mereaksikan 2 satuan volume gas hidrogen dengan 1 satuan gas oksigen, maka reaksi ini akan menghasilkan 1 satuan volume uap air (H2O). dari hasil ini maka akan diperoleh sebuah perbandingan gas hidrogen, oksigen, dan uap air yaitu 2:1:2 yang merupakan bilangan bulat dan sederhana.

Hukum Perbandingan Volume oleh Gay Lussac
Hukum Perbandingan Volume oleh Gay Lussac

Sumber :
Brady, James E. 1990. General Chemistry, (Principles & Structures). New York: John Wiley and Sons.
Chang, R. 2005. Chemistry. 8th ed. New York: Mc-Graw Hill.
Keenan, Charles E. et. al, – Pudjaatmaka. 1999. Ilmu Kimia Universitas (terjemahan). Jakarta: Erlangga.

Hukum Perbandingan Tetap oleh Joseph Proust

Hukum Perbandingan Tetap oleh Joseph Proust – Dalam ilmu kimia, kita mengenal beberapa teori dan hukum yang mampu menjelaskan suatu reksi kimia. Hukum tersebut lahir dari hasil penelitian para ilmuwan sheingga mendukung perkembangan ilmu kimia. Setidaknya terdapat empat hukum dasar kimia yang perlu anda ketahui yaitu Hukum Kekekalan Massa, Hukum Perbandingan Tetap, Hukum Kelipatan Perbandingan, dan Hukum Perbandingan Volume.

Dalam pembahasan kali ini, akan dijelaskan mengenai apa itu Hukum Perbandingan Tetap. Hukum kimia ini pertama kali dicetuskan oleh Ahli Kimia yang berasal dari Negara Prancis bernama Joseph Louis Proust. Secara ringkas, hukum Perbandingan Tetap membahas tentang suatu sifat senyawa tertentu. temuannya adalah perbandingan massa yang tetap pada unsur penyusun senyawa.

Baca juga: Hukum Kekekalan Massa Oleh Antonie L. Lavoisier

Sejarah Lahirnya Hukum Perbandingan Tetap

Sesuai dengan namanya, Hukum Perbandingan Tetap atau Hukum Proust ditemukan dan dikemukakan pertama kali oleh Joseph Louis Proust. Serangkaian penelitian telah dilakukan tepatnya mulai tahun 1797 hingga 1804. Konsep mengenai Hukum Perbandingan Tetap ini membuka jalan bagi dunia kimia untuk berkembang lebih pesat. Pada saat itu belum ada konsep tentang penyusun senyawa seperti H2O.

Kemudian pada tahun 1803, ilmuwan bernama John Dalton menggunakan Hukum Proust sebagai dasar dalam pengembangan teorinya. Teori Dalton saat itu tentang atom. Sehingga lahirlah teori-teori baru yang hingga kini masih digunakan dalam kimia.

Aplikasi Hukum Perbandingan Tetap oleh Joseph Proust

hukum Perbandingan tetap atau juga dikenal dengan istilah Hukum Proust. Hukum ini menjelaskan bahwa setiap senyawa kimia tersusun dari unsur-unsur yang memiliki perbandingan massa sama dan tepat. Untuk lebih memahaminya, perhatikan contoh penerapannya berikut ini.

Jika terdapat suatu sampel senyawa kimia, maka komposisi masing-masing unsur penyusunnya adalah sama. Sebagai contoh, air (H2O) adalah senyawa yang tersusun dari 8/9 massa oksigen serta 1/9 massa hidrogen. Sehingga dapat ditulis sebagai 8:1.

Perhatikanlah tabel massa air yang dibentuk oleh hidrogen dan oksigen berikut ini

Perbandingan ini tetap meskipun air dibuat atau dibentuk dari berbagai macam cara yang berbeda. Meskipun air dalam keadaan cair (liquid) atau gas, maka perbandingan akan tetap diperoleh sama. Jika hasil perbandingan berbeda maka tentu senyawa tersebut bukan air. misalnya, Hidrogen peroksida yang tersusun oleh hidrogen dan oksigen juga. Namun memiliki perbandingan 1:16.

“Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah tetap” (Hukum Perbandingan Tetap).

Adanya Hukum Proust atau Hukum perbandingan tetap ini memudahkan peneliti maupun ahli kimia dalam pengukuran. Salah satunya yaitu dalam pengukuran massa unsur yang dibutuhkan untuk membuat suatu senyawa. Hukum ini juga memudahkan kita untuk mengetahui berapa massa suatu unsur yang ada di dalam suatu senyawa.

Penyimpangan Hukum Perbandingan Tetap oleh Joseph Proust

Hukum Perbandingan tetap banyak digunakan dalam penentuan massa suatu unsur penyusun senyawa. Banyak ilmu dasar-dasar kimia modern yang membutuhkan teori ini. Namun ternyata ada beberapa pengecualian atau penyimpangan yang menyebabkan hukum ini tidak berlaku pada beberapa senyawa. Senyawa-senyawa yang tidak memenuhi hukum Proust disebut sebagaI senyawa non stoikiometris.

Pada senyawa non stoikiometris, massa masing-masing unsur penyusunnya memiliki perbandingan yang berbeda, pun pada berbagai sampel. Sebagai contoh yaitu senyawa oksida besi wustite. Senyawa ini di alam memiliki perbandingan massa antara 0,83 sampai 0,95 atom besi terhadap setiap atom oksigen.

Tidak hanya itu, untuk senyawa dengan koposisi isotop yang tidak sama, maka hukum ini juga tidak bisa digunakan untuk menentukannya. Perbedaan komposisi isotop suatu senyawa dapat terjadi dan digunakan dalam berbagai keperluan. Salah satu contohnya adalah penanggalan secara proses kimia. Polimer juga tidak bisa menggunakan hukum proust karena polimer memiliki rantai yang sangat panjang.

Contoh Soal Hukum Perbandingan Tetap oleh Joseph Proust

Misalnya, untuk pembentukan amonia diperlukan unsur nitrogen dan hidrogen dengan perbandingan massanya 14:3. Jika yang direaksikan yaitu 28 gram nitrogen dengan 9 gram hidrogen. Berapa massa amonia yang terbentuk serta berapa gram sisanya?

Nah, untuk menjawab alangkah baiknya kita buatkan tabelnya menjadi seperti di bawah ini.

Kemudian kita isi seperti pada tabel bewarna hijau di atas

Contoh Hukum perbandingan tetap oleh Joseph Proust

Nah, mudah bukan?? bila ada pertanyaan seputar hukum perbandingan tetap, bisa di tulis di bawah ini.

Daftar Pustaka
Chang, R. 2005. Chemistry. 8th ed. New York: Mc-Graw Hill.
Keenan, Charles E. et. al, – Pudjaatmaka. 1999. Ilmu Kimia Universitas (terjemahan). Jakarta: Erlangga.