Mengolah Kemampuan Dalam Mengomunikasikan Bahasa

       

Bagaimana cara mengolah kemampuan dalam mengomunikasikan bahasa dalam ilmu jurnalistik?

Tugas seorang penyiar adalah menyampaikan suatu informasi dan berkomunikasi dengan pendengar melalui kemampuan berbicara (announcing skill) yang dimilikinya. Tanpa dapat berbahasa yang baik, seorang penyiar tidak akan menjadi seorang penyiar profesional.

Kemampuan berbahasa dapat dipelajari dengan selaku membaca untuk menambah kosakata yang dimiliki. Seorang penyiar tidak akan pernah berhenti di tengah jalan dalam menyampaikan suatu informasi kepada pendengar.

Tidak harus seorang penyiar sih, biasanya dalam organisasi sosial, pekerjaan yang erat kaitannya dengan kemampuan dalam mengomunikasikan bahasa dapat kita jumpai pada devisi marketing, divisi humas, divisi acara dsb.

Dalam menyampaikan informasi kepada pendengar, seorang penyiar akan memadukan objek bahasa dengan improvisasi secara refleks (spontan) yang akan membentuk nuansa alami (tidak dibuat-buat). Ini akan menjadi sebuah daya pulau yang luar biasa untuk menarik pendengar.

Gambar. Belajar mengolah kemampuan dalam mengomunikasikan bahasa saat perayaan lomba 17 Agustusan (Foto: KPPN Ngrukem)

Bertutur luwes akan terwakili oleh gaya individu karena tema (materi) yang sederhana sekalipun akan menjadi lebuh menarik setelah diolah dengan kemampuan berbahasa dan air pesonality yang baik dari seorang penyiar. Baca juga: macam-macam pekerjaan dalam dunia jurnalistik .

Penyiar adalah sebuah produk yang juga mempunyai brand image (nama), slogan, dan kemasan yang akan memancarkan aroma, dan warna suara yang kekhasan dari dirinya.

Dengan tampilan alami, pendengar akan merasa seperti menemukan teman yang hadir untuk menamani dan menghiburnya.

Melatih Gaya Bahasa yang Bagus Saat Diucap

Seorang news achor harus benar-benar melatih kemampuan berbahasannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk melatih kemampuan berbahasa yaitu dengan cara menonton film.

Kemudian perhatikan dialognya, laku tirukan secara spontan. Lakukanlah juga dengan membaca komik, cerpen, maupun novel. Ucapkanlah dialog yang tertulis pada novel, maupun cerpen beserta suasananya.

Apakah itu sedih, senang, menangis, bergumam, atau suasana yang ceria harus kalian ikuti. Hal ini dimaksudkan untuk mengasah kemampuan announcing.

Demam Mic

Adapun yang dilakukan seorang penyiar dalam menjalankan tugasnya harus lepas, cuek, dan tanpa beban dalam meng-ekspresikan dirinya dari udara (air personality). Sering karena berbagai faktor psikologis, emosi, latar belakang, dan masalah-masalah lainya. Terjadi kasus demam mic.

Seorang penyiar merasa gugup, canggung, dan tidak percaya diri. Hal ini akan mengganggu jalanya kegiatan pembacaan berita, atau program siaran lainya.

Beberapa penyebab seorang mengalami demam mic beberapa diantaranya sebagai berikut.

Pertama, terlambat datang ke studio, atau terburu-buru sehingga tidak ada waktu untuk bersiap-siap. Kedua, merasa takut atau tidak percaya diri. Ketiga, ditegur atau diingatkan sebelum atau di waktu siaran. Keempat, studio tempat berlangsungnya siaran tidak kondusif.

Dan masih banyak yang lain lagi kendala-kendala yang ditemui. Untuk mengantisipasi berbagai kendala tersebut.
Pertama, pertama-tama sebelum membuka program siaran pikiran harus fokus kepada program siaran itu sendiri. Pikiran tidak boleh kemana-mana. Hilangkan segala masalah yang ada di rumah.

Kedua, relaksasikanlah diri kalian dengan menyanyi, teriak-teriak untuk melepas beban yang menghimpit pada pikiran. Bila perlu minum, merokok, atau mencari udara yang segar bisa jadi solusinya. Lemaskan anggota badan dari ketegangan.

Ketiga, pupukan rasa percaya dalam hati. Berilah juga motivasi diri sendiri, bahwa kita yakin bisa memberikan program siaran terbaik. Dengan begitu potensi siaran terkena blooper (selip lidah) sangat kecil sekali.

Keempat, anggaplah pendengar yang sedang mendengar siaran kalian itu sejajar. Mereka bukan siapa-siapa jadi jangan minder walaupun kalian misalnya pada acara talk show sedang mewawancarai tokoh besar.

Kelima, jangan ragu untuk menunjukkan aksen logat kalian sendiri. Dalam siaran program-program santai seperti talk show. Penggunaan aksen sendiri bisa mengurangi kemungkinan mengalami demam mic. Pembawa acara akan jauh lebih percaya diri dalam mengomunikasikan bahasanya.

Nah, mulai saat jika kita ingin menjadi penyiar atau reporter handal harus belajar cara mengolah kemampuan dalam mengkomunikasikan bahasa agar tidak gugup dan mati kutu saat berada di panggung atau saat melakukan siaran

loading...

Lutfi Aminuddin

Lutfi Aminuddin merupakan kolumnis dibeberapa media lokal dan nasional. Tulisan Lutfi bisa dijumpai pada Harian Pemalang, Geotime, Hipmee, Pressiwa, Solopos, dan masih banyak yang lainya lagi. Lutfi telah mengeluarkan buku berjudul Negeri Bahagia Skandinavia tahun 2017 yang diterbitkan oleh penerbit Asrifa. Lutfi mengenyan Studi S1 nya di IAIN Purwokerto dengan Jurusan Ilmu Komunikasi Penyiaran Islam. Ia juga mengambil S1 di IAIN Surakarta pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *