Hukum Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw

       
Kaligrafi tulisan Nabi Muhammad saw

Gambar. Kaligrafi tulisan Nabi Muhammad saw (Sumber: ddhongkong.org)

Hukum peringatan maulid Nabi Muhammad saw itu boleh dilaksanakan asal dirayakan dengan cara yang baik dan tidak melanggar ajaran agama. Misalnya dirayakan dengan cara menyantuni anak yatim, bershalawat, dzikir bersama, menggelar pengajian dan sebagainya. Namun tidak boleh dirayakan dengan cara tidak baik, misalnya merayakannya dengan pesta minuman keras dan sebagainya, tentu saja ini jelas hukumnya menjadi haram.

Umat Islam dalam merayakan maulid Nabi Muhammad saw didasari oleh rasa cinta kepada sang nabi. Dalam Al Qur’an dijelaskan:

“Katakanlah: jika bapak-bapak kamu , anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS At-Taubah :24).

Selain itu, Rasulullah saw juga bersabda:

لا یؤمن أحدكم حتى أكون أحب إلیھ من والده وولده والناس أجمعین

“Tidak beriman seseorang kamu sehingga adalah saya lebih dicintai nya dari orang tua nya dan anak nya dan semua manusia”. (HR Bukhari dan Muslim).

Pernah suatu ketika Beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku dan hari dimana aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). Dari hadist ini bisa diketahui bahwa ada nilai tambah di hari dimana rasulullah dilahirkan. Oleh karenanya beberapa umat Islam ada juga yang merayakan maulid Nabi dengan cara berpuasa.

Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..”, maka Rasul saw menjawab: “silahkan.., maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya berbunyi “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu, maka terbitlah cahaya di bumi hingga terang benderang dan langit bercahaya dengan cahayamu dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417). Nah, darisinilah beberapa umat Islam ada juga yang dalam merayakan maulid Nabi Muhammad saw menggunakan syair-syair.

Pada zaman pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193), tata cara dalam menggelar acara Maulid Nabi mengalami perubahan. Perubahan ini dimaksudkan agar kaum muslimin mencintai Allah dan Rasulullah saw melebihi dirinya dan keluarganya sehingga munculah semangat juang dalam perang salib. Tata cara perayaan maulid nabi di Indonesia juga memiliki teknis yang berbeda-beda namun pada umumnya meliputi dzikir bersama, sholawatan dan pengajian. Ada juga yang disisipi dengan kegiatan lainnya seperti rapat kampung, pembacaan laporan takmir masjid dan sebagainya.

Hukum Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw menurut Ahli Hadist:

Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah berpendapat:

“Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Al kubra Juz 9 hal.300) dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman-teman dan saudara-saudara, menjamu dengan makanan makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan.”

Imam Assuyuthiy juga telah mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Gurunya imam Nawawi) berpendapat:

“Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.”

Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah menjelaskan:

Berkata, ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.

Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah menjelaskan:

Dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata, ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah berpendapat dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata, ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah

Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.

loading...

Tim Siswapedia

Siswapedia.com merupakan situs yang dibuat untuk menyediakan informasi pendidikan dan pengetahuan umum berbahasa Indonesia.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *