Pengertian dan Rumus Satuan Mol

Pengertian dan Rumus Satuan Mol

Pengertian dan Rumus Satuan Mol – Untuk memudahkan dalam mengukur dan mengetahui jumlah benda, kita memerlukan satuan, misalnya 1 lusin untuk 12 barang, 1 kodi untuk 20 barang, dan sebagainya.

Namun untuk benda yang relatif kecil dan tidak bisa dihitung satu per satu, kita tidak lagi menggunakan satuan lusin, kodi, maupun rim. Misalnya untuk beras, maka kita menggunakan kg atau gram.

Sama halnya dengan atom, ukurannya yang sangat kecil tentu tidak mudah jika dihitung satu per satu. Dibutuhkan sebuah satuan yang dapat menunjukkan dengan tepat jumlah atom tersebut, baik di dalam reaksi maupun dalam keadaan tertentu.

Melalui berbagai eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan kimia terdahulu, didapatkan sebuah satuan bernama mol. Satuan ini memudahkan peneliti terutama ketika akan mereaksikan suatu senyawa kimia.

Pengertian dan Rumus Satuan Mol

Sejarah, Pengertian, dan Hubungannya dengan Jumlah Partikel

Mol adalah sebuah satuan yang didapat secara matematis, melibatkan beberapa satuan lainnya seperti massa molekul relatif, dan massa atom rata-rata. Satu mol didefinisikan sebagai jumlah partikel yang terkandung dalam suatu zat tertentu dimana jumlahnya sama dengan banyaknya atom yang terdapat di dalam 12,00 gram atom C-12.

C-12 adalah isotop karbon yang memiliki berat atom standar definitif sebesar 12. Oleh karena itu massa isotop karbon ini memiliki berat tepat 12 gram. Penggunaan karbon sebagai dasar penentuan karena karbon merupakan unsur yang paling sering dan mudah ditemukan di alam.

Sebuah percobaan pernah dilakukan oleh ilmuwan bernama Joseph Loschmidt yang kemudian dibenarkan oleh Amedeo Avogadro. Dari percobaan tersebut ternyata didapatkan bahwa bayaknya atom karbon dalam 12,00 gram C-12 yaitu 6,02 x 1023 atom atau partikel.

Kemudian bilangan ini dijadikan sebagai tetapan Avogadro atau disebut juga dengan bilangan avogadro dengan lambang L. Lambang tersebut diambil dari nama penemu Loschmidt.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat ditulis:

1 mol = 6,02 x 1023 partikel

Persamaan di atas dapat dipahami sebagai jumlah partikel atau molekul setiap satu mol zat.

Hubungan Mol dengan Massa

Sebelum membahas tentang hubungan mol dengan massa, perlu diketahui terlebih dahulu istilah massa molar. Massa molar menjelaskan hubungan antara jumlah partikel suatu zat dengan massanya. Standar mol yang telah dibahas di atas menjadi dasar perhitungan massa molar dengan massa atom relatif. Rumusnya dapat ditulis sebagai berikut.

 

Massa 1 mol A  = jumlah 1 mol atom A x massa rata-rata 1 atom A (persamaan 2)

                                = 6,02 x 1023 x massa rata-ata 1 atom A

Kemudian didapatkan persamaan :

Sedangkan massa 1 atom C-12 dapat ditentukan dengan cara berikut :

12 gram atom C-12 = 6,02 x 1023 atom karbon,

kemudian persamaan 3 dan 4 dimasukkan ke persamaan 2, sehingga dapat diperoleh:

dengan begitu di dapatkan massa 1 mol A = (Ar A) gram, satuan massa molar yaitu gram/mol.

Hubungan mol dengan massa dapat dijelaskan melalui persamaan berikut ini:

Atau

n adalah jumlah mol zat, a adalah massa zat dalam gram, dan M adalah massa molar dalam gram/mol.

Hubungan dengan Volume

Di dalam kimia, kita mengenal volume molar. Volume molar didefinisikan sebagai volume 1 mol suatu zat yang diukur pada suhu dan tekanan tertentu. Apabila pengukuran ini dilakukan di suhu 0o dan pada tekanan 1 atm, maka disebut sebagai volume molar standar.

Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut ini.

Keterangan:

V adalah volume gas pada suhu 0o dan pada tekanan 1 atm,

n adalah jumlah mol gas.

22,4 L/mol di dapatkan melalui pengukurangan volume molar standar gas hidrogen (STP).

Daftar Pustaka :

 Brown, Theodore L. et al. 2015. Chemistry: The Central Science (13th edition). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Silberberg, Martin S. & Amateis, Patricia. 2015. Chemistry: The Molecular Nature of Matter and Change (7th edition). New York: McGraw-Hill Education

Mempelajari Sejarah Hipotesis Avogadro

Mempelajari Sejarah Hipotesis Avogadro

Mempelajari Sejarah Hipotesis Avogadro – Semua hal mengenai perubahan kimia dipelajari dalam ilmu kimia, dimana di dalamnya kita mengenal rumus-rumus senyawa hingga persamaan reaksi kimia.

Untuk memudahkan dalam menuliskan senyawa mapun persamaan reaksinya, maka kita perlu mematuhi hukum-hukum dasar kimia. Hukum-hukum dasar ini meliputi hukum Dalton atau Hukum Kelipatan Perbandingan, hukum Perbandingan Volume, hukum Kekekalan Massa, hukum Perbandingan Tetap, dan Hipotesis Avogadro.

Keempat hukum dasar kimia telah dibahas secara lengkap pada pembahasan sebelumnya. Kali ini, pembahasan akan terfokus pada hipotesis Avogadro, meliputi sejarah, bunyi hipotesis, hingga contoh penerapannya dalam kimia.

Mempelajari Sejarah Hipotesis Avogadro

Sejarah Hipotesis Avogadro

Atom, yang disebut sebagai bagian terkecil dari sebuah benda, menjadi bahasan yang ramai dibicarakan. Oleh karena itu, banyak ilmuwan mencoba mencari tahu bagaimana sebenarnya atom tersebut, seperti massa dan kecepatannya. Namun pada awal abad ke 19, tidak banyak ilmuwan yang bisa menghitung massa ini.

Kemudian seorang ilmuwan kimia bernama Amedeo Avogadro, di tahun 1811 berani mengajukan sebuah hipotesis yang kini dikenal sebagai hipotesis Avogadro. Ilmuwan jenius dari Italian ini mengungkapkan bahwa bagian terkecil dari sebuah benda tidak hanya berupa atom tunggal atau monoatomik, namun juga bisa berupa diatomik hingga molekul.

Sebuah pertanyaan muncul, mengapa perbandingan volume pada gas-gas di dalam reaksi tertentu adalah berupa bilangan bulat? Dalton tidak bisa mengungkapkannya karena saat itu ia memiliki anggapan bahwa partikel suatu unsur selalu mempunyai atom yang tunggal. Kemudia Avogadro menjelaskan hal ini melalui hipotesisnya.

Kemudian di abad 20, seorang ilmuwan berhasil menentukan massa suatu atom dengan metode dan proses yang sangat hati-hati. Dari percobaannya tersebut, maka diperoleh suatu kesimpulan bahwa hipotesis avogadro merupakan hipotesis yang sangat akurat dalam menunjukkan molekul dengan beratnya.

Mempelajari Hipotesis Avogadro

Apa bunyi hukum atau hipotesis Avogadro yang sangat terkenal ini? Amedeo Avogadro telah menyatakan dalam hipotesisnya bahwa, “pada temperatur serta tekanan yang sama, seluruh gas yang memiliki volume sama akan mengandung jumlah molekul yang sama pula.” Selain itu Avogadro juga menyatakan bahwa partikel unsur tidak hanya terdiri dari satu atom tetapi bisa dua atau lebih, baik atom yang sama mapun berbeda (molekul).

Berdasarkan konsep dari Avogadro inilah, sekarang didapatkan bahwa gas-gas kecuali gas mulia dianggap sebagai molekul yang terdiri dari dua atom (diatomik). Oleh karena itu, penulisan rumus kimia untuk beberapa gas tersebut yaitu seperti H2 untuk gas hidrogen, O2 untuk gas oksigen, N2 untuk gas nitrogen, dan seterusnya.

Contoh Hipotesis Avogadro dalam Kimia

Untuk lebih memudahkan dalam mempelajari dan memahami hipotesis Avogadro, berikut ini akan dijelaskan beberapa contoh penerapannya dalam ilmu kimia. Berdasarkan hipotesis yang telah dijabarkan di atas, maka kita dapat memahami bahwa :

1 molekul hidrogen + ½ molekul oksigen → 1 molekul air

Persamaan tersebut juga dapat ditulis sebagai :        

(2 molekul hidrogen) + (1 molekul oksigen) →  (2 molekul hidrogen+1 molekul oksigen)

Contoh penerapannya lainnya yaitu, apabila terdapat 1 liter gas nitrogen pada suhu maupun tekanan yang sama, akan tepat habis bereaksi dengan 3 liter has hidrogen. Kemudian terbentuklah 2 liter gas amonia. Dari sini kita dapat menentukan rumus molekul amonia tersebut.

Cara penyelesainnya adalah dengan menggunakan teori bahwa gas hidrogen maupun nitrogen merupakan molekul diatomik. Sehingga kita dapat menulis persamaan reaksinya seperti berikut:

N2(g) + 3H2(g) → 3NxHy

Dengan menggunakan cara menyetarakan reaksi, maka didapatkan nilai x = 1 dan y = 3. Sehingga rumus molekul amonia adalah NH3.

Daftar Pustaka:

Brown, Theodore L. et al. 2015. Chemistry: The Central Science (13th edition). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Silberberg, Martin S. & Amateis, Patricia. 2015. Chemistry: The Molecular Nature of Matter and Change (7th edition). New York: McGraw-Hill Education

Sumber gambar: situs sciencehistory yang diterbitkan dalam artikel berjudul Amedeo Avogadro (diakses tanggal 5 Mei 2019).

Penulisan Persamaan Reaksi Kimia

Penulisan Persamaan Reaksi Kimia

Penulisan Persamaan Reaksi Kimia – Di dalam ilmu kimia, fokus pembahasan terletak pada materi dan perubahannya, sehingga kita mengenal istilah perubahan kimia maupun reaksi kimia.

Reaksi-reaksi kimia tersebut disimbolkan dengan adanya persamaan reaksi kimia. Penulisan persamaan kimia pertama kali diciptakan oleh Jean Beguin pada tahun 1615.

Membahas tentang persamaan kimia, tentunya kita harus memahami beberapa istilah penting yaitu reaktan dan produk. Reaktan, yang disebut juga dengan pereaksi, adalah sejumlah senyawa yang mengalami perubahan. Sedangkan produk adalah senyawa yang dihasilkan dari perubahan atau reksi kimia.

Penulisan Persamaan Reaksi Kimia

Terdapat beberapa aturan dalam menuliskan persamaan reaksi. Salah satunya yaitu penulisan reaktan dan produk. Pada persamaan reaksi, reaktan ditulis disebelah kanan sedangkan produk ditulis disebelah kiri.

Baca juga: tata nama senyawa anorganik

Di antara kedua reaktan dan produk terdapat tanda panah yang menunjukkan perubahan kimia. Adapun tanda panah tersebut terdapat beberapa macam, yaitu sebagai berikut.

Penulisan Persamaan Reaksi Kimia

Setiap senyawa yang mengalami perubahan tentu memiliki wujud zat, baik itu berupa gas, padat atau solid, liquid, maupun laurtan di dalam air atau aqueous. Wujud zat ditulis berupa singkatan yang terletak di sebalah kiri masing-masing senyawa dengan tambahan tanda kurung tutup dan italic (huruf miring).

Padat ditulis sebagai (s), cair ditulis sebagai (l), gas ditulis sebagai (g), dan larutan di dalam air ditulis sebagai (aq). Berikut contoh penulisannya di dalam persamaan reaksi kimia.

C (s) + O2(g)   →   CO2(g)

Beberapa persamaan reaksi menuliskan koefisien senyawa. Koefisien ini ditulis disebelah kiri senyawa yang menunjukkan jumlah zat yang terlibat dalam reaksi kimia. Koefisien adalah angka yang didapat menggunaan perhitungan kimia atau stoikiometri.

Contoh penulisannya adalah sebagai berikut.

CaCO3(s) + 2HCl (aq) → CaCl2(aq) + H2O(l) + CO2(g)

Terkadang kita juga menemukan persamaan reaksi yang memiliki konstanta atau maupun suatu besaran, misalnya perubahan entalpi atau ΔH. Konstanta maupun besaran ini ditulis di sebelah kanan setelah penulisan senyawa produk. Contoh penulisannya adalah sebagai berikut.

N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g) ΔH = -92.4 kJ/mol

Cara Menulis Persamaan Kimia

Bagaimana cara menulis persamaan reaksi kimia? Anda bisa mengikuti langkah langkah di bawah ini:

  1. Jika kita mereaksikan senyawa dan hendak menulisnya ke dalam persamaan, pertama-tama tulislah nama senyawa-senyawa yang terlibat maupun senyawa yang dihasilkan dalam bentuk kata-kata
  2. Kemudian ubah nama senyawa tersebut ke dalam bentuk rumus kimianya. Misalnya, Asam klorida menjadi HCl, Kalium hidroksida menjadi KOH, dan seterusnya. Tentukan apakah reaksi kimia tersebut merupakan reaksi satu arah, dua arah, atau reaksi kesetimbangan.
  3. Tulislah wujud zat masing-masing senyawa dalam bentuk singkatan seperti yang telah dibahas sebelumnya.
  4. Kemudian setarakan persamaan reaksi kimia yang telah anda tulis yaitu dengan menambahkan koefisien masing-masing senyawa. Untuk senyawa yang koefisiennya 1, maka tidak perlu ditulis.

Baca juga: Tata nama senyawa organik

Menyetarakan Penulisan Persamaan Reaksi Kimia

Suatu persamaan reaksi kimia seringkali ditulis tidak setara. Maksud dari tidak setara adalah jumlah suatu unsur di sisi kanan dengan dengan kiri tidak sama. Contoh:

Mg(s) + HCl(aq)   → MgCl2(aq) + H2(g)

Perhatikan jumlah hidrogen di ruas kanan dan kiri, keduanya memiliki jumlah yang berbeda. begitu juga dengan jumlah kllorin. Penyetaraan reaksi dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut ini.

  • Pastikan penulisan rumus senyawa kimia benar. Perhatikan pula jumlah setiap unsur antara ruas kanan dengan ruas kiri. Jika ada yang berbeda, maka harus dilakukan penyetaraan reaksi.
  • Perhatikan jumlah unsur logam atau unsur utama di dalam reaksi (biasanya berupa kation). Dalam contoh di atas, Mg adalah unsur yang diuatamakan terlebih dahulu. Jika jumlahnya berbeda maka tambahkan koefisien dengan nilai yang sesuai.
  • Setelah itu perhatikan anion-anion senyawa. Pada reaksi di atas, mari kita lihat anion Cl. Di ruas kanan terdapat 2 unsur Cl namun di ruas kiri hanya terdapat 1 unsur Cl. Maka, kita harus menulis koefisien 2 diruas kiri.

Mg(s) + 2HCl(aq)  → MgCl2(aq) + H2(g)

  • Kemudian setarakan unsur lainnya sehingga menjadi persamaan reaksi yang benar. Pada reaksi tersebut, unsur H di kedua ruas sudah setara, maka tidak perlu menambahkan koefisien lagi.

Mg(s) + 2HCl(aq) →  MgCl2(aq) + H2(g)

Sumber :

Brown, Theodore L. et al. 2015. Chemistry: The Central Science (13th edition). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Silberberg, Martin S. & Amateis, Patricia. 2015. Chemistry: The Molecular Nature of Matter and Change (7th edition). New York: McGraw-Hill Education

Tata Nama Senyawa Organik

Tatanama senyawa anorganik 1

Tata Nama Senyawa Organik – Tata Nama Senyawa berguna untuk mendeskripsikan suatu senyawa berdasarkan gugus fungsi dan rantainya.

Penentuan tata nama bertujuan untuk menghindari adanya ambiguitas dalam senyawa, khususnya senyawa organik, dimana kita tahu bahwa senyawa organik memiliki banyak turunan dari setiap macam gugus fungsinya.

Pada umumnya, penamaan senyawa organik ditentukan pertama kali dengan melihat gugus fungi yang menjadi prioritas utama. Selanjutnya melihat rantai dan cabang dari senyawa tersebut.

Artikel terkait: Tata nama senyawa anorganik

Penamaan senyawa organik menggunakan awalan, sisipan, maupun akhiran, misalnya 1,2-dimetilpentana. Berikut ini akan dijelaskan tata nama senyawa organik berdasarkan gugus fungsi masing-masing.

Tatanama Senyawa Alkana, Alkena, dan Alkuna

Senyawa alkana, alkena, dan alkuna dibedakan berdasarkan jenis ikatan rangkap pada unsur karbon yang satu dengan unsur karbon yang lainnya. Senyawa alkana tidak memiliki ikatan rangkap, senyawa alkena memiliki ikatan rangkap 2 dan bukan ikatan rangkap, sedangkan alkuna memiliki ikatan rangkap tiga dan bukan ikatan rangkap.

Artikel terkait: Hukum-hukum dasar ilmu kimia

Penamaan senyawa alkana dilakukan dengan cara melihat rantai utama senyawa dan memberi nomor pada setiap atom C. Pemberian nomor berdasarkan gugus fungsi, letak ikatan rangkap, dan letak rantai cabang terdekat.

Tatanama senyawa anorganik 1

Untuk rantai cabang, akhiran –ana diganti dengan –il, misalnya untuk rantai –CH3 maka ditulis metil. Penambahan awalan di- dan tri- diberikan jika rantai cabang berjumlah dua dan tiga secara berturut-turut dan sama susunan atomnya. Untuk senyawa alkena, akhiran –ana hanya perlu diganti dengan –ena. Begitu juga dengan senyawa alkuna.

Untuk senyawa alkana siklik, penamaan menggunakan awalan “siklo-“, misalnya untuk senyawa C6H12 maka namanya menjadi sikloheksana.

Tatanama Senyawa Alkohol

Senyawa alkohol atau R-OH, dimana –OH adalah gugus fungsinya, memiliki akhiran berupa “-ol”. Penamaan IUPAC alkohol menggunakan angka untuk mendeskripsikan letak atau posisi gugus –OH di dalam senyawa, misalnya CH3CH2CH2CH2OH menjadi 1-butanol.

Adapun penggunaan –diol, –triol, dst mendeskripsikan jumlah gugus –OH. Namun perlu diperhatikan letak –OH dalam satu atom C karena hal ini mengindikasikan gugus fungsi asam karboksilat yaitu –COOH.

Tatanama Senyawa Aldehida

Untuk senyawa Aldehida atau R-CHO, penamaan senyawa menggunakan akhiran “–al”.Contoh senyawa HCHO ditulis menjadi metanal atau formaldehida.

Tatanama Senyawa Ester

Ester atau dikenal dengan rumus R-COO-R’, dimana R dan C dari gugus fungsi adalah rantai utama sedangkan R’ adalah rantai cabang yang ditulis pertama kali dalam tata nama senyawanya. Rantai utama ditulis dengan akhiran –oat. Sebagai contoh CH3CH(CH3)OOCH2CH2CH3 maka ditulis 2-propil propanoat.

Tatanama Senyawa Keton

Tatanama senyawa keton atau R-CO-R didasarkan pada letak gugus –CO- pada rantai senyawa alkohol. Misalnya CH3CH2COCH2CH3, maka penamaannya ditulis sebagai 3-Pentanon.

Tatanama Senyawa Asam Karboksilat

Senyawa organik asam karboksilat memiliki gugus fungsi yang paling panjang yaitu –COOH. Tata nama senyawa asam karboksilat menggunakan awalan “asam” dengan akhiran –oat. Misalnya asam butanoat, asam pentanoat, dan sebagainya.

Tatanama Senyawa Eter

Senyawa eter memiliki rumus R-O-R dimana –O—mengikat dua atom C. penentuan tatanama dimulai dari melihat rantai R yang lebih panjang. Rantai R yang lebih panjang disebut dengan rantai utama, maka penamaannya berada di akhir dengan menggunakan akhiran –ana. Sedangkan rantai R yang lebih pendek menggunakan akhiran –oksi. Contoh untuk senyawa CH3CH2OCH3 maka ditulis metoksietana.

Daftar Pustaka:
Bibliography of IUPAC Recommendations on Organic Nomenclature.

Tata Nama Senyawa Anorganik

Tata Nama Senyawa Anorganik – Di dalam ilmu kimia terdapat banyak senyawa anorganik baik yang terjadi secara alami, maupun dibuat di laboraturium.

Sebagian definisi menyatakan bahwa senyawa anorganik adalah senyawa yang tidak mengandung unsur karbon. Namun beberapa senyawa karbida seperti CaC2 yang mana merupakan sneyawa anorganik memiliki unsur penyusun berupa karbon.

Untuk menghindari kesalahan dalam penentuan senyawa dan untuk membedakan satu senyawa dengan yang lainnya dibutuhkan sistem penamaan yang baku. Dalam hal ini, senyawa anorganik dibagi menjadi tujuh macam yaitu senyawa biner ionik, biner kovalen, poliatomik, hidrat, asam, basa, dan senyawa garam.

Penamaan Senyawa Ion

Senyawa ionik adalah senyawa yang tersusun dari unsur-unsur yang membentuk ikatan ionik. Oleh karena itu sebelum menentukan nama senyawa ini, kita terlebih dahulu harus mengetahui kation dan anion senyawa tersebut.

Sebagai contoh senyawa NaBr. Unsur Na sebagai kation sedangkan unsur Br sebagai anion. Unsur kaion ditulis sebagaimana namanya, sedangkan anion ditulis setelahnya dengan akhiran “-ida”. Maka nama senyawa NaCl dapat ditulis sebagai Natrium klorida.

Untuk senyawa yang memiliki kation berupa logam, perlu penambahan angka romawi yang menunjukkan muatan logam tersebut. Contoh senyawa FeCl2 yang ditulis Besi (II) klorida.

Contoh lainnya dapat dilihat dalam tabel berikut.

Beberapa logam memiliki lebih dari satu macam ion. Fenomena ini terjadi pada logam transisi, misalnya logam besi (Fe) yang memiliki ion Fe2+ dan Fe3+ sehingga anion yang terikat bisa lebih dari satu, tergantung pada bilangan oksidasinya. Misalnya FeCl2 dan FeCl3 yang secara berturut-turut ditulis sebagai Besi(II) klorida dan Besi (III) klorida.

Penamaan Senyawa Kovalen

Senyawa kovalen terbentuk dari unsur-unsur non logam seperti senyawa CO, H2O, NO2, dan seterusnya. Tata nama senyawa kovalen ditentukan berdasarkan jumlah masing-masing unsur penyusun. Kemudian jumlah unsur ditulis menggunakan bahasa Romawi.

Bahasa Romawi untuk penamaan tata nama senyawa anorganik

Tata nama senyawa kovalen mengikuti kaidah berikut: jumlah unsur pertama ditulis terlebih dahulu kemudian nama unsur pertama, setelah itu diikuti jumlah unsur kedua beserta namanya. Contoh:

CO = Karbon monoksida
CO2 = Karbon dioksida
P2O3 = Difosfor trioksida
P2O5 = Difosfor pentaoksida
PCl3 = Fosfor triklorida
PCl5 = Fosfor pentaklorida

Penamaan Senyawa Poliatomik

Senyawa poliatomik adalah senyawa yang tersusun dari banyak atom (lebih dari dua macam atom). Kebanyakan senyawa poliatomik memliliki ikatan kovalen dan ionik.

Baca juga: Konfigurasi elektron

Untuk senyawa poliatomik yang anionnya mengandung oksigen yang lebih sedikit daripada senyawa lainnya yang memiliki unsur penyusun sama maka anion ditulis dengan awalan hipo- dengan akhiran –it.

Sedangkan untuk anion yang mengikat oksigen paling banyak, maka anion ditulis dengan menggunakan awalan per- dengan akhiran –at.

Contoh penamaan senyawa poliatomik :

NaClO ditulis Natrium hipoklorit
NaClO2 ditulis Natrium klorit
NaClO3 ditulis Natrium klorat
NaClO4 ditulis Natrium perklorat

Penamaan Senyawa Hidrat

Senyawa hidrat umumnya ditemukan dalam bentuk kristal dimana molekul mengikat air dalam jumlah tertentu. Penamaan senyawa hidrat harus menambahkan kata “hidrat” dan jumlah molekul air yang diikat oleh molekul utama.

Artikel terkait: Tata Nama Senyawa Organik

Contoh penamaan senyawa hidrat:

CuSO4.5H2O ditulis Tembaga (II) sulfat pentahidrat
CoCl2.6H2O ditulis Kobalt (II) klorida heksahidrat
FeBr2.4H2O ditulis Besi (I) bromida tetrahidrat

Penamaan Senyawa Asam

Penamaan senyawa asam hilihat berdasarkan anion yang terikat pada kation H+. Urutan penulisannya yaitu ‘asam’ lalu nama anion yang terikat. Berikut contohnya.

HCl ditulis Asam klorida
HCN ditulis Asam sianida
H2SO4 ditulis Asam sulfat
HNO3 ditulis Asam nitrat
CH3COOH ditulis Asam asetat
HI ditulis Asam Iodida

Artikel terkait: Hukum-hukum dasar ilmu kimia

Penamaan Senyawa Basa

Senyawa basa adalah suatu senyawa yang bersifat kaustik, terdiri dari kation dan anion yang terikat membentuk ikatan ion. Penamaan senyawa basa adalah dengan menulis nama kation kemudian diikuti kata hidroksida yang berarti anion yang berupa OH.

Contoh penamaan senyawa basa:
NaOH ditulis : Natrium hidroksida
Ca(OH)2 ditulis : Kalsium hidroksida
Mg(OH)2 ditulis : Magnesium hidroksida

Penamaan Senyawa Garam

Senyawa garam adalah suatu senyawa yang terbentuk dari senyawa yang bersifat asam dengan senyawa yang bersifat basa. Penamaannya yaitu dengan menuliskan nama kation diikuti nama anion. Jika kation berupa logam, maka perlu ditambahi angka romawi yang menunjukkan muatan kation.

Contoh :
NaNO2 ditulis Natrium nitrit
Fe2(SO4)3 ditulis Besi(III) sulfat
Cu2O ditulis Tembaga(I) oksida

Sumber :
International Union of Pure and Applied Chemistry (2005)