Atom Karbon dan Senyawa Karbon

Atom Karbon dan Senyawa Karbon

Atom Karbon dan Senyawa Karbon – Karbon adalah suatu unsur yang paling banyak ditemukan di muka bumi. Bahkan unsur tersebut dapat membentuk berbagai senyawa yang berbeda.

Di dalam kerak bumi, unsur karbon ditemukan dalam keadaan bebas maupun dalam bentuk senyawanya, khususnya berupa mineral karbonat. Unsur karbon juga dapat ditemukan di dalam tubuh makhluk hidup yang kemudian disebut senyawa karbon organik.

Selain itu, karbon juga dapat ditemukan dalam bentuk senyawa anrganik. Sebagai contoh, gas karbon dioksida yang merupakan gas yang tidak beracun. Gas karbon dioksida salah satunya dihasilkan dari hasil pembakaran dan pernafasan.

Allotrop Karbon

Karbon memiliki tiga allotrop (bentuk-bentuk yang berbeda dan berasal dari satu unsur yang sama). Ketiga allotrop atom karbon adalah grafit, intan, dan karbon amorf.

Grafit berwarna hitam dan mudah rapuh yang dibuat melalui arang. Kegunaan grafit adalah sebagai elektroda untuk baterai maupun elektrolisis. Sedangkan arang adalah contoh karbon yang stabil yang seringkali digunakan sebagai bahan bakar.

Atom Karbon dan Senyawa Karbon

Intan merupakan bentuk lain dari karbon, meski warnanya sama-sama kehitaman namun memiliki struktur yang berbeda dengan grafit. Intan banyak digunakan sebagai perhiasan maupun sebagai pemotong di bidang industri karena sifatnya yang keras. Karbon amorf dapat ditemukan pada kokas, bubuk karbon, arang tulang, maupun arang kayu.

Karbon banyak ditemukan di batu bara, salah satu hasil tambang yang digunakan sebagai bahan bakar. Melalui proses destilasi kering, batu bara tersebut bisa dimurnikan hingga menjadi kokas. Kokas biasanya digunakan sebagai reduktor pada pengolahan berbagai macam logam.

Kekhasan Atom Karbon yang Tidak Dimiliki Unsur Lain

Atom karbon memiliki beberapa sifat khas yang dikenal dalam ilmu kimia. Beberapa sifat khas dari atom karbon adalah sebagai berikut.

1. Dari tabel periodik unsur kita dapat mengetahui bahwa atom karbon dengan lambang C memiliki nomor atom dan jumlah elektron sebanyak 6. Itu artinya atom karbon mempunyai elektron valensi sebanyak 4. Keempat elektron valensi tersebut dapat membentuk pasangan elektron bersama dengan atom-atom yang lainnya. Ikatan ini disebut dengan ikatan kovalen.

2. Keempat elektron valensi atom karbon dapat membentuk rantai tersendiri. Sehingga akan dihasilkan banyak sekali kemungkinan terbentuknya senyawa-senyawa yang berbeda. Kemungkinan ini didasarkan pada jenis ikatan, jumlah ikatan, serta posisi atom karbon tersebut di dalam rantai karbon.

3. Karbon juga dapat membentuk rantai lurus, bercabang, maupun siklik.

4. Selain itu karbon dapat membentuk ikatan kovalen melalui ikatan tunggal dan ikatan rangkap.

Senyawa-senyawa Karbon

Karena unsur karbon memiliki kemampuan untuk membentuk berbagai senyawa yang berbeda. Untuk memudahkan pembelajaran ilmu kimia khususnya mengenai senyawa karbon, senyawa-senyawa tersebut dikelompokkan berdasarkan gugus fungsi yang terikat pada karbon. Pada umumnya, senyawa ini disebut juga sebagai senyawa hidrokarbon.

Artikel terkait: Tata nama senyawa organik

Adapun pengelompokkan senyawa karbon yaitu alkana, alkena, alkuna, eter, ester, asam karboksilat, alkohol, keton, aldehid, dan haloalkana. Alkana, alkena, dan alkuna adalah senyawa karbon yang dibedakan berdasarkan jenis ikatan (ikatan rangkap dan ikatan tunggal).

Senyawa akohol memiliki gugus hidroksil yaitu –OH. Sedangkan senyawa haloalkana mengikat atom halogen seperti F, Cl, Br, dan I. Kemudian untuk senyawa eter, karbon mengikat oksigen sehingga disebut dengan gugus alkoksi.

Selain itu, senyawa keton mengikat gugus karbonil begitu juga dengan aldehid. Perbedaannya adalah, pada keton, oksigen di apit oleh dua atau lebih karbon.

Sedangkan pada aldehid, gugus karbonil berada di ujung dari rantai karbon. Asam karboksilat memiliki gugus fungsi –COOH sedangkan ester memiliki gugus fungsi –COO-

Bila ada pertanyaan terkait artikel atom karbon dan senyawa karbon di atas, bisa ditulis di bawah ini.

Sumber :

Brady, J.E. (1999). Kimia Universitas: Asas dan Struktur jilid 1, Edisi ke 5. Terjemahan Sukmariah Maun, Karnianti Anas dan Tilda S. Sally. Binarupa Aksara: Jakarta.

Tata Nama Senyawa Organik

Tatanama senyawa anorganik 1

Tata Nama Senyawa Organik – Tata Nama Senyawa berguna untuk mendeskripsikan suatu senyawa berdasarkan gugus fungsi dan rantainya.

Penentuan tata nama bertujuan untuk menghindari adanya ambiguitas dalam senyawa, khususnya senyawa organik, dimana kita tahu bahwa senyawa organik memiliki banyak turunan dari setiap macam gugus fungsinya.

Pada umumnya, penamaan senyawa organik ditentukan pertama kali dengan melihat gugus fungi yang menjadi prioritas utama. Selanjutnya melihat rantai dan cabang dari senyawa tersebut.

Artikel terkait: Tata nama senyawa anorganik

Penamaan senyawa organik menggunakan awalan, sisipan, maupun akhiran, misalnya 1,2-dimetilpentana. Berikut ini akan dijelaskan tata nama senyawa organik berdasarkan gugus fungsi masing-masing.

Tatanama Senyawa Alkana, Alkena, dan Alkuna

Senyawa alkana, alkena, dan alkuna dibedakan berdasarkan jenis ikatan rangkap pada unsur karbon yang satu dengan unsur karbon yang lainnya. Senyawa alkana tidak memiliki ikatan rangkap, senyawa alkena memiliki ikatan rangkap 2 dan bukan ikatan rangkap, sedangkan alkuna memiliki ikatan rangkap tiga dan bukan ikatan rangkap.

Artikel terkait: Hukum-hukum dasar ilmu kimia

Penamaan senyawa alkana dilakukan dengan cara melihat rantai utama senyawa dan memberi nomor pada setiap atom C. Pemberian nomor berdasarkan gugus fungsi, letak ikatan rangkap, dan letak rantai cabang terdekat.

Tatanama senyawa anorganik 1

Untuk rantai cabang, akhiran –ana diganti dengan –il, misalnya untuk rantai –CH3 maka ditulis metil. Penambahan awalan di- dan tri- diberikan jika rantai cabang berjumlah dua dan tiga secara berturut-turut dan sama susunan atomnya. Untuk senyawa alkena, akhiran –ana hanya perlu diganti dengan –ena. Begitu juga dengan senyawa alkuna.

Untuk senyawa alkana siklik, penamaan menggunakan awalan “siklo-“, misalnya untuk senyawa C6H12 maka namanya menjadi sikloheksana.

Tatanama Senyawa Alkohol

Senyawa alkohol atau R-OH, dimana –OH adalah gugus fungsinya, memiliki akhiran berupa “-ol”. Penamaan IUPAC alkohol menggunakan angka untuk mendeskripsikan letak atau posisi gugus –OH di dalam senyawa, misalnya CH3CH2CH2CH2OH menjadi 1-butanol.

Adapun penggunaan –diol, –triol, dst mendeskripsikan jumlah gugus –OH. Namun perlu diperhatikan letak –OH dalam satu atom C karena hal ini mengindikasikan gugus fungsi asam karboksilat yaitu –COOH.

Tatanama Senyawa Aldehida

Untuk senyawa Aldehida atau R-CHO, penamaan senyawa menggunakan akhiran “–al”.Contoh senyawa HCHO ditulis menjadi metanal atau formaldehida.

Tatanama Senyawa Ester

Ester atau dikenal dengan rumus R-COO-R’, dimana R dan C dari gugus fungsi adalah rantai utama sedangkan R’ adalah rantai cabang yang ditulis pertama kali dalam tata nama senyawanya. Rantai utama ditulis dengan akhiran –oat. Sebagai contoh CH3CH(CH3)OOCH2CH2CH3 maka ditulis 2-propil propanoat.

Tatanama Senyawa Keton

Tatanama senyawa keton atau R-CO-R didasarkan pada letak gugus –CO- pada rantai senyawa alkohol. Misalnya CH3CH2COCH2CH3, maka penamaannya ditulis sebagai 3-Pentanon.

Tatanama Senyawa Asam Karboksilat

Senyawa organik asam karboksilat memiliki gugus fungsi yang paling panjang yaitu –COOH. Tata nama senyawa asam karboksilat menggunakan awalan “asam” dengan akhiran –oat. Misalnya asam butanoat, asam pentanoat, dan sebagainya.

Tatanama Senyawa Eter

Senyawa eter memiliki rumus R-O-R dimana –O—mengikat dua atom C. penentuan tatanama dimulai dari melihat rantai R yang lebih panjang. Rantai R yang lebih panjang disebut dengan rantai utama, maka penamaannya berada di akhir dengan menggunakan akhiran –ana. Sedangkan rantai R yang lebih pendek menggunakan akhiran –oksi. Contoh untuk senyawa CH3CH2OCH3 maka ditulis metoksietana.

Daftar Pustaka:
Bibliography of IUPAC Recommendations on Organic Nomenclature.