Syarat Cek Fisik Bantuan Tanpa BPKB Motor

Syarat Cek Fisik Bantuan Tanpa BPKB Motor

Bagaimana cara cek fisik bantuan di samsat ? Bagaimana syarat cek fisik bantuan tanpa BPKB motor itu? Biayanya berapa? begitulah beberapa pertanyaan bagi para perantau yang motornya mau habis pajak lima tahunan.

Setiap kendaraan bermotor pasti diwajibkan untuk membayar pajak sebagai pemasukan negara. Ada dua macam atau jenis pembayaran pajak yaitu pajak setiap satu tahun sekali dan pajak setiap lima tahunan. Nah, pada artikel kali ini kita membahas yang pajak lima tahunan khusus para perantau.

Sebenarnya pengurusan dan pembayaran pajak lima tahunan sangatlah mudah, mungkin sekitar 2 jam selesailah. Akan tetapi menjadi sedikit repot bila kita merantau di provinsi luar daerah motor berasal. Misalnya motor plat AB (Jogja) dibawa merantau ke Kota Bima (plat EA), plat motor AD (klaten) dibawa ke Bali (DK), plat surabaya (L) dibawa ke Semarang (H), plat motor kota Mataram (DR) dibawa merantau ke Jakarta (B), plat motor Jakarta (B) dibawa merantau ke Jogjakarta (AB) begitu seterusnya.

Baca juga: Macam-macam norma

Banyak sekali dari teman-teman yang merantau ke provinsi lain sedangkan plat motor merupakan plat daerah asalnya. Nah, persoalannya pada pajak lima tahunan ini harus ada cek fisik kendaraan. Sehingga muncul dalam benak apakah motor harus di bawa ke kantor samsat sesuai asal plat?. Ternyata sepeda motor tidak harus di bawa kembali ke daerah asal mula motor tersebut. Kita cukup pergi ke kantor samsat terdekat di tempatmu saat ini untuk meminta cek fisik bantuan.

Syarat Cek Fisik Bantuan Tanpa BPKB Motor

Syarat Cek Fisik Bantuan Tanpa BPKB Motor atau Cek Fisik Kendaraan Luar Daerah

  1. Mula-mula cuci dulu motormu sampai bersih, jangan sampai motormu kelihatan kotor saat cek fisik. Nanti kamu akan malu dilihat orang hehehe. Yang jelas motor yang terlihat bersih akan menimbulkan persepsi bahwa motor tersebut dirawat dengan baik alias layak guna.
  2. Berpakaianlah rapi dan sopan.
  3. Cek terlebih dahulu di rumah perlengkapan motormu seperti kaca spion, fungsi lampu, fungsi klakson, kondisi ban, warna kendaraan (harus sesuai BPKB), fungsi rem dll. Pastikan semuanya baik!.
  4. Datangilah kantor samsat terdekat, langsung bawa motormu di tempat cek fisik kendaraan (gak usah taruh di tempat parkir).
  5. Mintalah petugas dan bilang “Tolong bantu cek fisik bantuan untuk kendaraan luar daerah”.
  6. Oleh petugas akan diminta STNK asli motor lalu disuruh antri, maka kita harus menyiapkannya.
  7. Setelah tiba di nomor antrian, petugas akan mengecek nomor mesin dan kerangka motor (posisinya setiap jenis motor berbeda).
  8. Setelah pengecekan selesai, kita akan diberikan STNK motor dan kertas laporan hasil cek fisik kendaraan bermotor bantuan yang telah dilegalisir (cap stempel kepolisian) dan tanda tangan petugas terkait. Adapun kertasnya bewarna putih kekuning-kuningan.
  9. Biasanya petugas akan menjelaskan kepada kita bahwa “STNK motor dan Kertas laporan hasil cek kendaraan inilah yang harus dikirim untuk diurus di daerah asal kendaraan bermotor”.
  10. Biaya cek fisik kendaraan luar daerah ini 100% GRATIS. Jika yang mengecek kendaraan adalah petugas samsat, maka kita tidak perlu memberi uang tambahan. Akan tetapi beberapa samsat di daerah lain bisa juga pihak ketiga yang gak ada hubungannya dengan kantor samsat yang melakukan pengecekan, jika begitu kasih saja uang Rp 5.000 (gak usah banyak-banyak).

Jadi kesimpulannya yaitu syarat cek fisik kendaraan luar daerah atau syarat cek fisik bantuan tanpa BPKB motor bisa dilakukan dan biayanya gratis alias tidak dipungut biaya.

Nilai dan Norma Sosial dalam Proses Sosialisasi

1.    Lembaga-Lembaga Sosialisasi

Proses sosialisasi sebetulnya berawal dari dalam keluarga. Bagi anak-anak yang masih kecil, situasi dunia adalah keluarganya sendiri. Persepsi mereka mengenai dirinya, dunia, dan masyarakat di sekelilingnya secara langsung dipengaruhi oleh sikap serta keyakinan keluarga mereka. Keluarga mengajarkan nilai-nilai yang kemudian dimiliki oleh individu dan berbagai norma yang mesti dilakukan oleh seseorang.

Orang tua kaum buruh akan memberikan nilai tinggi terhadap kepatuhan, disiplin, kebersihan, rasa hormat, dan keselarasan dengan patokan perilaku tradisional. Sedangkan keluarga golongan menengah mendorong anaknya untuk bersikap inovatif serta diarahkan agar berjiwa pemimpin. Semua itu dimaksudkan agar kamu dapat berperilaku tepat sesuai dengan harapan masyarakat. Pembelajaran oleh ayah dan ibumu tersebut menjadi bukti bahwa keluarga merupakan salah satu lembaga sosialisasi.

Sosialisasi dalam keluarga tidak hanya dilakukan oleh ayah dan ibu saja. Anggota keluarga lainnya dapat berperan aktif pula sehingga nilai dan norma sosial tidak hanya diperoleh seorang anak dari kedua orang tua saja. Bruce J. Cohen (1992) mengungkapkan bahwa keluarga merupakan salah satu lembaga sosialisasi bagi individu.

Baca juga: Fungsi norma

Nilai sosial dan norma sosial juga dipelajari individu dari lembaga pendidikan tempat dia belajar. Sekolah menjadi salah satu agen sosialisasi bagi individu karena belajar di sekolah merupakan tuntutan kemajuan masyarakat, dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Pada masyarakat tradisional, fungsi pendidikan diemban oleh keluarga. Namun pada masyarakat modern, fungsi pendidikan dijalankan oleh sekolah. Begitu pentingnya sekolah sebagai media sosialisasi sehingga profesi penting dalam masyarakat seperti dokter, insinyur, atau ahli hukum ditentukan oleh berhasil tidaknya seseorang menjalani pendidikan di sekolah.

Selain kedua lembaga sosialisasi tersebut, teman sepermainan ternyata berperan besar dalam sosialisasi. Yang dimaksud dengan teman sepermainan adalah teman-teman yang sebaya dan berinteraksi secara intensif denganmu.

Walaupun teman sepermainan bertujuan utama untuk rekreasi, namun mereka berpengaruh besar terhadap perkembangan pribadimu. Di kelompok ini individu tanpa sadar belajar berbagai hal yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Individu bebas berinteraksi tanpa pengawasan langsung dari orang tua, guru, atau orang lain. Nah, sering remaja seusiamu mengenal hal-hal buruk dari teman sepermainan pula. Misalnya, mengonsumsi narkoba atau melakukan kehidupan seks bebas.

Sosialisasi juga berlangsung melalui media massa. Media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, tabloid, film, dan lain-lain menyajikan model peran yang dapat ditiru oleh individu untuk membangun jati dirinya. Perilaku masyarakat pun dapat berubah karena tayangan media massa. Dengan demikian, media massa dapat memperkuat ataupun merusak norma-norma melalui penyajian informasi yang seolah-olah mewakili gambaran masyarakat yang benar.

2.    Ketidaksepadanan Pesan Lembaga Sosialisasi

Jika ada teman yang membolos sekolah, apakah yang terlintas di benakmu? Sebagian besar kalian menganggap tindakan membolos sekolah merupakan perbuatan yang tidak baik. Ini tidak sesuai dengan pesan yang diberikan orang tua tatkala kita berpamitan mau berangkat sekolah. Coba kalian ingat pesan beliau. Tentu tidak ada ayah dan ibu yang menyarankan anaknya untuk membolos. Meninggalkan pelajaran tanpa izin juga tidak sesuai dengan peraturan sekolah. Perhatikan tata tertib sekolah lebih rinci. Kalian pasti tidak akan menemukan aturan yang membenarkan tindakan bolos sekolah.

Sering siswa mendapatkan ide untuk meninggalkanbpelajaran tanpa izin dari pergaulannya dengan teman. Berkumpul dengan teman sepermainan memang mengasyikkan. Banyak hal yang dapat diungkapkan dan dilakukan bersama teman sepermainan. Ini disebabkan karena adanya hubungan yang akrab di antara anggotanya. Dalam hubungan yang akrab itulah sering muncul ide untuk melakukan tindakan yang tidak lazim, bahkan melanggar nilai dan norma sosial. Membolos sekolah contohnya. Bersama teman sepermainan, mereka meninggalkan pelajaran tanpa izin.

Keluarga, sekolah, dan teman sepermainan merupakan lembaga-lembaga sosialisasi. Namun, berpijak pada fenomena bolos sekolah, kalian mengetahui adanya ketidaksamaan pesan yang disampaikan suatu lembaga sosialisasi dengan lembaga sosialisasi yang berbeda. Sesuatu yang diajarkan keluarga dan sekolah ternyata berbeda dengan yang diajarkan teman sepermainan. Hal semacam itu dapat pula ditemukan ketika membanding-bandingkan pesan dari lembaga-lembaga sosialisasi yang lain. Kelakuan yang dilarang keluarga maupun sekolah, seperti merokok, mabuk-mabukan, pelanggaran susila, atau penyalahgunaan narkoba bisa saja dipelajari individu dari lembaga sosialisasi lain seperti media massa.

Individu yang mendapat pesan berbeda atau bahkan bertentangan cenderung mengalami konflik pribadi. Lahirnya konflik pribadi itu disebabkan karena dia merasa diombang-ambingkan oleh lembaga sosialisasi yang berlainan sehingga tidak mempunyai pedoman sikap yang mantap. Misalnya, sekolah berusaha mendorong siswa untuk menaati aturan sekolah, mengukir prestasi, dan berlaku jujur. Akan tetapi, ada teman sepermainan yang mendorong siswa untuk berbuat curang saat ujian atau memalsukan tanda tangan teman pada daftar hadir. Siswa tersebut akan sulit bersikap secara tepat. Ketika dia bertindak seperti yang dipelajari dari keluarga dan sekolah, dia mungkin akan dikucilkan teman sepermainan. Namun, ketika dia bertindak seperti yang dipahamkan oleh teman-teman sepermainan, dia akan dikecam oleh keluarga dan sekolah.

Konflik pribadi pun akan terjadi manakala seseorang tengah menjalani sosialisasi untuk menjalankan peran baru, namun aturan-aturan baru yang disosialisasikan berbeda dengan aturan yang sudah pernah dipahami. Misalnya, seseorang bertugas sebagai petugas pemeriksa pajak. Selama belajar di kampus, orang tersebut aktif di organisasi keagamaan sehingga dia berhasil menumbuhkan sikap antikorupsi. Dia berjanji kepada diri sendiri untuk tidak melakukan korupsi selama bekerja nanti. Akan tetapi setelah memasuki dunia kerja,dia menemui lingkungan kerja yang lekat dengan budaya korupsi. Kadang kala justru tawaran korupsi dibuka oleh perusahaan-perusahaan yang memanipulasi datanya agar dapat membayar pajak lebih murah. Sebagian rekan yang lain merasa bahwa tindakan korupsi adalah hal lumrah. Bahkan itu dianggap sebagai bagian dari pekerjaan yang dilakoni. Tawaran itu pun akhirnya datang kepada orang yang antikorupsi. Dia mengalami konflik pribadi yang menghadapkannya pada dua pilihan. Apabila mempertahankan sikapnya yang antikorupsi, dia akan disingkirkan dari lingkungan kantor. Kondisi ini akan mendatangkan kesulitan baginya dalam menyelesaikan tugas. Kariernya pun terhambat. Sedangkan jika dia berkompromi dengan teman-teman yang lain, diaharus mengubah nilai dan norma antikorupsi yang sudah tertanam di jiwanya.

Sejumlah ahli menggolongkan sosialisasi ke dalam dua kelompok, yaitu sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatif. Sosialisasi represif menekankan pada kepatuhan individu terhadap nilai dan norma sosial yang berlaku. Untuk mendapatkan kepatuhan setiap orang, maka hukuman yang membuat jera dianggap sebagai jalan keluarnya. Agar tidak dijatuhi hukuman, warga kemudian bersikap sesuai aturan.

Berbeda halnya dengan sosialisasi partisipatif. Di sini warga diharapkan mematuhi nilai dan norma sosial karena dia memahami arti penting kedua hal tersebut. Dengan demikian, kepatuhan warga dibangun bukan di atas rasa takut terhadap hukuman, melainkan dibangun di atas kesadaran akan keutamaan nilai dan norma sosial tersebut. Sosialisasi partisipatif berusaha membangun kesadaran setiap individu.

Ketika kita membandingkan kedua sosialisasi itu, kita dapat menemukan bahwa sosialisasi partisipatif lebih unggul daripada sosialisasi represif. Sosialisasi represif hanya melahirkan kepatuhan semu warga masyarakat terhadap aturan yang berlaku. Bahkan tidak jarang sosialisasi represif juga membawa penyesalan panjang.

[color-box]Sri Sukardi, Joko dan Rohman, Arif. 2009. Sosiologi Kelas X untuk SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.[/color-box]

Definisi Norma dan Macam-Macam Norma Beserta Contohnya

Mungkin sebagian dari kita masih bingung terkait definisi norma dan macam-macam norma beserta contohnya mengingat masyarakat di bumi sangat beraneka ragam sehingga memunculkan pemahaman yang berbeda.

Untuk itu di halaman ini kita akan membahas tentang beberapa hal yang menjadi pertanyaan publik.

  1. Pengertian atau definisi norma menurut para ahli
  2. Macam-macam norma beserta contohnya
  3. Fungsi norma dalam masyarakat
  4. Manfaat norma
  5. Tujuan norma

Oke, di halaman artikel berjudul Definisi Norma dan Macam-Macam Norma Beserta Contohnya ini, kita akan membahasnya satu-persatu.

Definisi Norma dan Macam-Macam Norma Beserta Contohnya

1. Pengertian atau definisi norma menurut ahli

Menurut Soerjono Soekanto (1989), norma sosial merupakan aturan yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat dimana setiap individunya harus mentaatinya dan bagi pelanggarnya akan dikenakan sanksi. Nah, sanksi ini dapat berupa pengucilan, hukuman fisik, teguran, peringatan, denda bahkan pengusiran.

Wida widianti dalam bukunya Sosiologi 1 halaman 25 menjelaskan bahwa norma sosial merupakan bentuk kongkrit dari sebuah sistem nilai sosial yang ada dan berlaku di masyarakat. Terkait hubungan nilai sosial dan norma sosial akan kita bahas di halaman lainnya.

Definisi Norma dan Macam-Macam Norma Beserta Contohnya
Gambar Ilustrasi. Dalam kehidupan sosial kita harus memahami macam-macam norma dimana kita tinggal (Foto: Siswapedia.com)

2. Macam-macam norma beserta contohnya

a. Macam-macam norma menurut daya ikatnya

Norma yang berlaku di masyarakat memiliki daya ikat yang berbeda-beda. Ada yang ikatannya kuat namun adapula yang ikatannya lemah.

Norma yang ikatannya kuat biasanya mengatur sesuatu yang sangat penting dalam nilai sosial masyarakat. Dan sanksinya pun akan lebih tegas dan keras sehingga dapat membuat masyarakat takut untuk melanggar. Sedangkan norma yang ikatannya lemah biasanya mengatur sesuatu yang masih bisa ditolerir sehingga sanksinya pun lebih ringan.

Menurut daya ikatnya, norma dapat dibagi menjadi empat yaitu cara, kebiasaan, tata kelakuan dan adat istiadat.

1. Norma Cara atau usage

Norma cara merupakan bentuk perbuatan seseorang. Masyarakat yang melakukan penyimpangan cara ini tidak akan mendapatkan hukuman yang berat. Biasanya hanya berupa teguran dan peringatan.

Misalnya kamu mengakses situs siswapedia ini menggunakan smartphone dan paketan data temanmu, maka kamu hanya akan mendapatkan teguran saja “Menghabiskan pulsa orang !!” hehehe.

Atau contoh lainnya, saat kamu menandai halaman buku di perpustakaan dengan cara melipat halaman tersebut pasti cara kamu ini akan ditegur karena dapat merusak buku yang kamu baca.

2. Norma Kebiasaan atau folkways

Kebiasaan merupakan perilaku yang diulang-ulang sekaligus bisa diterima dan diakui oleh masyarakat. Nah, ikatan norma kebiasaan di masyarakat ini lebih kuat daripada norma cara.

Contoh norma kebiasaan, misalnya menghormati orang yang usianya lebih tua, tidak boleh menyela pembicaraan dsb.

3. Norma Tata kelakuan atau mores

Nah, kebiasaan-kebiasaan yang bisa diterima masyarakat ini, menurut Mac Iver dan Page yang dikutip oleh Soerjono Soekanto (1989) lalu dikutip dalam buku Sosiologi oleh Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman dijelaskan bahwa (norma kebiasaan ini) akan meningkat menjadi norma tata kelakuan.

Norma tata kelakuan akan mengikat dan memantau perilaku masyarakat baik hal ini disadari ataupun tidak sehingga masyarakat akan dipaksa mengikuti tata kelakuan ini.

Tata kelakuan ini sangat penting lho! mengapa dikatakan penting? setidaknya ada tiga manfaat yaitu:

  • Tata kelakuan akan memberi batasan perilaku individu di masyarakat. Coba bayangkan jika perilaku masyarakatnya bebas (liberal) begitu, maka akan terjadi semena-mena, semau gue dan sifat individualistis.
  • Tata kelakuan dapat digunakan sebagai identifikasi individu di masyarakat. Setidaknya dengan adanya tata kelakuan ini kita memiliki tolak ukur untuk menilai perilaku seseorang itu sopan atau tidak, baik atau buruk dsb.
  • Tata kelakuan yang berlaku bagi semua anggota masyarakat akan membuat suatu ikatan yang membuat solidaritas semakin kuat.

4. Norma Adat istiadat atau custom

Di kota Bima, NTB ada acara adat yang bernama Mbolo. Acara ini merupakan acara pengumpulan donasi untuk anggota masyarakat yang hendak menyelenggarakan hajatan. Misalnya pernikahan, sunatan, doa orang meninggal dsb.

Besar nominal donasi yang dikumpulkan bisa berbeda-beda tiap desanya tergantung kesepakatan rapat kampung. Setiap nama pendonasi akan dicatat oleh keluarga yang berhajat beserta nominal donasi yang diberikan.

Bagi anggota masyarakat yang enggan ikut acara Mbolo nanti akan mudah ditandai karena dicatat sehingga stigma buruk bisa saja menimpa (misalnya stigma pelit, tidak punya jiwa sosial dsb) dan bisa saja dikucilkan dari kehidupan masyarakat.

b. Macam-macam norma menurut kajian sosiologi

Penjelasan macam-macam norma menurut kajian sosiologi serta fungsi, manfaat dan tujuan norma akan kita bahas di halaman selanjutnya.

Nah, bila ada pertanyaan seputar Definisi Norma dan Macam-Macam Norma Beserta Contohnya bisa Anda tuliskan di bawah ini.

Daftar Pustaka
Sri Sukardi, Joko dan Rohman, Arif. 2009. Sosiologi Kelas X untuk SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Wida, Widianti. 2009. Sosiologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Nilai Sosial : Pengertian, Fungsi, Sumber, Ciri Dan Macam-Macam Beserta Contohnya

Nilai sosial selalu ada di kehidupan masyarakat

Pembahasan kita kali ini yaitu tentang Nilai Sosial : Pengertian, Fungsi, Sumber, Ciri Dan Macam-Macam Beserta Contohnya yang dibahas secara lengkap.

1. Pengertian Nilai Sosial

Nilai dapat dipahami dalam dua pengertian: nilai sebagai kata benda (noun) dan nilai sebagai kata kerja (verb). Koentjaraningrat (1981) mengartikan nilai sosial sebagai konsepsikonsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat penting dalam hidup.

Sementara itu, Charles F. Andrian (1992) mendefinisikan nilai sosial sebagai konsep-konsep umum mengenai sesuatu yang ingin dicapai, serta memberikan petunjuk mengenai tindakan-tindakan yang harus diambil.

Nilai sosial selalu ada di kehidupan masyarakat (Foto: www.siswapedia.com)

Secara sederhana, nilai sosial dapat diartikan sebagai sesuatu yang baik, diinginkan, diharapkan, dan dianggap penting oleh masyarakat. Hal-hal tersebut menjadi acuan warga masyarakat dalam bertindak. Jadi, nilai sosial mengarahkan tindakan manusia.

Artikel terkait: Syarat cek fisik bantuan tanpa BKPB motor

Misalnya, bila orang menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam bergaul dengan sesama, maka ia akan berusaha berlaku jujur. Atau, tengoklah para pahlawan tanpa tanda jasa. Gaji dan tingkat kesejahteraan mereka sebagai seorang guru di negeri ini rendah.

Namun guru-guru masih dengan sabar dan ikhlas mendidik siswa setiap hari. Hal ini tidak akan terjadi bila beliau tidak mendasarkan tindakannya kepada nilai pengabdian yang diyakininya. Nilai tersebut terus menyalakan pelita semangat guru untuk tetap bertahan menjadi seorang pendidik.

Menurut C. Kluckhohn seperti dikutip oleh M. Munandar Soelaeman (1987), semua nilai pada dasarnya mengenai lima masalah pokok, yaitu:

a. Nilai mengenai hakikat hidup manusia

Hakikat hidup menurut setiap kebudayaan dapat berbeda-beda. Karena itu ada yang berusaha memadamkan hidup. Sedangkan ada kebudayaan lain yang menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik. Mereka berusaha mengisi hidupnya.

b. Nilai mengenai hakikat karya manusia

Ada kebudayaan yang meyakini bahwa manusia berkarya sebagai tujuan hidupnya. Ada pula kebudayaan yang menilai karya dapat memberikan kedudukan atau kehormatan.

c. Nilai mengenai hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu

Ada kebudayaan yang mementingkan orientasi masa lampau, ada pula kebudayaan yang berorientasi pada masa kini atau masa yang akan datang.

d. Nilai mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitar

Sebagian kebudayaan menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin. Menurut kebudayaan yang lain, manusia harus bersikap harmonis dengan alam. Namun, ada juga kebudayaan yang memaksa manusia untuk menyerah kepada alam.

e. Nilai mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya

Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia lain yang sejajar. Ada pula yang mementingkan hubungan dengan para pemimpin masyarakat.

Sementara itu, Notonagoro seperti dikutip oleh Koentjaraningrat (1975) membagi nilai menjadi tiga sebagai berikut.

a. Nilai material, meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.

b. Nilai vital, meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas.

c. Nilai kerohanian, meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia seperti:

1) nilai kebenaran, yakni yang bersumber pada akal manusia (cipta);

2) nilai keindahan, yakni yang bersumber pada perasaan (estetika);

3) nilai moral, yakni bersumber pada unsur kehendak (karsa); dan

4) nilai keagamaan (religiusitas), yakni nilai yang bersumber pada wahyu dari Tuhan.

2. Tolok Ukur Nilai Sosial

Hal lain yang harus digaris bawahi adalah bahwa masyarakat bukanlah satu kesatuan utuh yang hanya memiliki acuan nilai sosial yang sama. Antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain memiliki nilai sosial yang khas.

Satu dengan yang lain tidak ada yang sama persis. Misalnya, semua orang berkeyakinan bahwa orang tua harus dihormati. Wujud penghormatan kepada orang tua antara lain berpamitan dan minta izin saat kalian akan berangkat sekolah.

Nah, cara berpamitan pun ternyata beraneka ragam. Ada keluarga yang mengajari cara berpamitan dengan mencium tangan orang tua. Sedangkan pada keluarga lain, anak cukup bilang, ”Bu, saya berangkat sekolah,” sambil berlari keluar.

Jadi, nilai sosial hanya berlaku untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Ia berbeda dengan nilai sosial yang berlaku dalam kelompok masyarakat lain. Bahkan, dalam satu kelompok masyarakat pun, mungkin terdapat perbedaan nilai sosial.

Hal ini terjadi seiring dengan perkembangan zaman. Sesuatu yang dahulu dianggap baik, luhur, dan mulia, sekarang mungkin akan dianggap jelek. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, tolok ukur nilai sosial tidak statis tetapi senantiasa mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakat.

Tolok ukur nilai sosial ditentukan dari kemanfaatan nilai itu bagi masyarakat. Bila masyarakat masih menganggap suatu nilai itu baik, maka nilai sosial itu akan tetap dipertahankan.

Sebagai contoh, saat ini perempuan bekerja di luar rumah sudah tidak dianggap sebagai sesuatu yang jelek dan menyalahi kodrat. Salah satu alasannya karena desakan ekonomi keluarga sehingga banyak perempuan bekerja di luar rumah.

Artikel terkait: Definisi norma dan macam-macam norma beserta contohnya

Peran perempuan tidak hanya sebatas menjadi ibu rumah tangga. Dia bisa menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Oleh karena pandangan masyarakat mulai berubah, nilai sosial pun berubah. Dalam hal ini, perempuan yang hanya berperan di rumah dipandang sudah tidak lagi fungsional.

3. Ciri-Ciri Nilai Sosial

Segala sesuatu memiliki penanda yang khas. Dengan memerhatikan penanda tersebut, kita dapat membedakan sesuatu dengan yang lain. Begitu pula nilai sosial. Ciri-ciri nilai sosial sebagai berikut.

a. Merupakan hasil interaksi sosial antaranggota masyarakat.

b. Bisa dipertukarkan kepada individu atau kelompok lain.

c. Terbentuk melalui proses belajar.

d. Bervariasi antarmasyarakat yang berbeda.

e. Bisa berbeda pengaruhnya terhadap setiap individu dalam masyarakat.

f. Bisa berpengaruh positif atau negatif terhadap pengembangan pribadi seseorang.

g. Berisi anggapan-anggapan dari berbagai objek di dalam masyarakat.

4. Sumber Nilai Sosial

Keadilan diyakini oleh masyarakat Indonesia sebagai suatu hal yang penting. Pentingnya keadilan dalam kehidupan sosial disebabkan karena keadilan mencerminkan pengakuan atas kesamaan harkat dan martabat seluruh warga negara.

Barangsiapa melanggar aturan, dia akan dihukum setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan. Ketentuan itu juga berlaku bagi para petinggi negara.

Ketika keadilan ditegakkan, semestinya tidak ada petinggi negara yang bisa memelintir hukum untuk kepentingan sendiri. Mereka yang dipercaya rakyat untuk mengelola negara harus bertindak sesuai dengan aturan.

Para petinggi negara semestinya berjuang agar kesejahteraan rakyat meningkat. Bukan malah menyengsarakan rakyat. Harapan warga masyarakat itu menegaskan pentingnya keadilan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keadilan hanyalah salah satu contoh nilai sosial yang diyakini masyarakat. Tentu saja terdapat banyak sekali nilai sosial yang dijadikan pedoman berinteraksi antarwarga, diantaranya adalah

a. Tuhan

Sebagian besar nilai sosial yang dimiliki masyarakat bersumber dari Tuhan. Nilai sosial ini disampaikan melalui ajaran-ajaran agama. Nilai-nilai sosial dari Tuhan memberikan pedoman cara bersikap dan bertindak bagi manusia.

Contohnya, nilai tentang hidup sederhana, kejujuran, berbuat baik kepada sesame makhluk, dan keberanian membela kebenaran. Para ahli menyebut nilai yang bersumber dari Tuhan sebagai nilai Theonom.

b. Masyarakat

Ada juga nilai sosial yang berasal dari kesepakatan sejumlah anggota masyarkat. Nilai sosial yang berasal dari hasil kesepakatan banyak orang ini disebut nilai heteronom.

Contohnya, Pancasila berisi ajaran nilai yang harus dipedomani oleh seluruh warga negara dan para penyelenggara negara di Indonesia. Pancasila merupakan rumusan hasil kesepakatan para pendiri negara.

c. Individu

Selain Tuhan dan masyarakat, nilai sosial juga bisa bersumber dari rumusan seseorang. Orang itu merumuskan suatu nilai, kemudian nilai tersebut dipakai masyarakat sebagai acuan bersikap dan bertindak.

Perumusan nilai tersebut biasanya dilakukan oleh individu yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan warga masyarakat yang lain.

Artikel terkait: Nilai dan norma sosial dalam proses sosialisasi

Nilai sosial yang berasal dari individu disebut nilai otonom. Contoh nilai otonom adalah konsep trias politica yang dirumuskan oleh J.J. Rousseau.

Konsep trias politica mengajarkan perlunya pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif dalam penyelenggaraan negara. Sekarang, konsep trias politica menjadi bagian penting dari demokrasi yang diterapkan di sebagian besar negara di dunia.

5. Peran Nilai Sosial

Nilai sosial menjadi petunjuk arah bersikap dan bertindak. Lihat saja tindakan siswa yang urung menyontek karena memegang teguh nilai kejujuran.

Dia meyakini kejujuran mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia sehingga bertekad untuk berlaku jujur dalam hidupnya. Inilah peran pertama nilai sosial.

Hal ini berkaitan erat dengan pemahaman bahwa nilai juga menjadi pemandu serta pengontrol sikap dan tindakan manusia. Individu akan membandingkan sikap dan tindakannya dengan nilai tersebut.

Artikel terkait: Macam-macam normas sosial beserta contohnya

Dari sini individu dapat menentukan bahwa tindakannya itu benar atau salah. Dengan nilai, kalian dapat menentukan bahwa menyontek tidak sesuai dengan nilai kejujuran yang diyakininya.

Nilai juga dapat memotivasi manusia. Hal itu dapat dilihat pada kehidupan guru di lingkungan masyarakat. Sebagian besar guru menempatkan diri sebagai pribadi yang mesti memberikan teladan bagi orange-rang di sekitarnya.

Karena pemahaman tersebut, sang guru berusaha menjaga tindakan-tindakan agar sesuai dengan harapan masyarakat. Dia tidak segan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Begitu juga yang dilakukan oleh masyarakat Bali.

Artikel terkait: Macam-macam norma, fungsi, manfaat, tujuan dan contoh norma

Di sana, sering dijumpai para wanita Bali yang bekerja di proyek pembangunan gedung, atau pekerjaan-pekerjaan yang identik dilakukan kaum pria. Ini bukan sesuatu yang tabu bagi masyarakat Bali, karena mereka meyakini bahwa kerja merupakan yajna (upacara) sehingga setiap orang harus bekerja sesuai dengan darmanya.

Keyakinan tersebut mendorong para wanita Bali untuk melakukan pekerjaan apa pun, walau di tempat lain pekerjaan itu tidak lazim dilakukan para wanita.

Bila ada pertanyan terkait Nilai Sosial : Pengertian, Fungsi, Sumber, Ciri Dan Macam-Macam Beserta Contohnya di atas bisa ditulis di bawah ini.

Daftar Pustaka:

Sri Sukardi, Joko dan Rohman, Arif. 2009. Sosiologi Kelas X untuk SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Macam-Macam Norma, Fungsi, Manfaat, Tujuan dan Contoh Norma

Bagan Macam-Macam Norma, Fungsi, Manfaat, Tujuan dan Contoh Norma

Setelah sebelumnya kita membahas tentang definisi norma, maka pada halaman lanjutannya ini kita akan membahas tentang macam-macam norma, fungsi, manfaat, tujuan dan contoh norma yang kita tulis secara ringan.

Kami berharap dengan tulisan berjudul macam-macam norma, fungsi, manfaat, tujuan dan contoh norma ini, bisa memberikan wawasan dan bekal pemahaman bagi pembaca saat bergaul di masyarakat.

b. Macam-macam norma menurut kajian sosiologi

Macam-macam norma menurut kajian sosiologi ada 5 macam yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, norma kebiasaan dan norma hukum.

Bagan Macam-Macam Norma, Fungsi, Manfaat, Tujuan dan Contoh Norma

1) Norma agama dan contohnya

Norma agama merupakan norma yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa yang disampaikan oleh utusannya (Rosul) dalam bentuk kitab suci. Contoh norma agama antara lain dalam agama Islam ada puasa ramadhan, sholat wajib 5 waktu, haji, zakat dsb.

Nah, orang yang melanggar norma agama tersebut akan mendapatkan dosa. Adapun hukumannya itu merupakan hak prerogatif Tuhan –apakah akan dihukum di dunia atau di akhirat? atau malah diampuni-.

2) Norma kesusilaan dan contohnya

Norma kesusilaan merupakan norma yang asalnya dari hati nurani manusia itu sendiri. Dengan kebersihan hati yang dimiliki, seorang manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Contoh norma kesusilaan misalnya anak harus berbakti kepada orang tua, murid harus berbakti kepada guru, seorang karyawan harus bekerja secara profesional, tidak boleh berhubungan seks bebas diluar nikah, sesama manusia harus saling membantu dalam kebaikan dsb.

Bila kita cermati, sebenarnya norma kesusilaan itu sejalan dengan norma agama. Namun karena norma kesusilaan berasal dari penilaian hati seseorang dimana hati seseorang itu sendiri bisa saja kotor (karena penyakit hati misal sombong, riya, iri, dengki dll), maka dapat membuat seseorang akan sulit membedakan antara yang baik dan yang buruk. Untuk itulah disini diperlukan norma agama.

Adapun orang yang melanggar norma kesusilaan tersebut biasanya akan dikucilkan dari kehidupan masyarakat dan mendapatkan stigma yang buruk (misalnya: dianggap sebagai manusia yang gak punya perasaan, gak punya hati dsb).

3) Norma kesopanan dan contohnya

Norma kesopanan merupakan norma yang berasal dari penilaian wajar terhadap perilaku (tingkah laku) oleh masyarakat. Nah, norma kesopanan ini tidak harus sama disetiap daerah, tetapi bisa jadi ada yang berbeda.

Contoh norma kesopanan, misalnya dalam budaya jawa saat mengetuk pintu untuk bertamu hanya boleh 3 kali ketukan sebanyak 3 kali, tapi di daerah lain bisa jadi tidak ada norma kesopanan yang seperti ini.

Contoh lainnya lagi yang sekiranya sopan menurut masyarakat umum, misalnya ketika masuk rumah harus mengucapkan salam, makan menggunakan tangan kanan, saat mengunyah makanan tidak boleh berbunyi, tidak boleh menanyakan hal privasi secara mendetail, sekolah harus menggunakan pakaian berkerah dsb.

Bagi yang melanggar norma ini akan mendapatkan kritikan, celaan dan dianggap tidak sopan.

4) Norma kebiasaan dan contohnya

Norma kebiasaan merupakan norma yang berasal dari perbuatan diulang-ulang yang bisa diterima oleh masyarakat. Misalnya: jika kita pulang dari berpergian jauh harus bawa oleh-oleh, panitia seminar memberikan cendera mata kepada pembicara dsb.

Perbuatan yang diulang-ulang dalam norma kebiasaan ini bisa diadopsi dari norma agama, kesusilaan dan kesopanan.

Contohnya, dalam norma agama Islam ada ajaran untuk membaca Al qur’an, dzikir, doa dan shodaqoh yang pahalanya diberikan ke orang yang sudah meninggal. Nah, kegiatan tersebut kemudian oleh masyarakat dilakukan berulang-ulang ketika ada orang meninggal dan ini bisa diterima baik sehingga menjadi suatu kebiasaan dalam masyarakat. Acara ini dinamakan sebagai acara Tahlilan.

5) Norma hukum dan contohnya

Norma hukum merupakan norma yang dibuat oleh lembaga resmi pemerintahan untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Norma ini bersifat sangat mengikat bagi setiap warga negara.

Contoh norma hukum, ketika berkendara di jalan raya setiap pengemudi wajib mengenakan helm standar dan melengkapi surat-surat berkendara (SIM, STNK). Bagi pelanggar norma hukum dapat dikenakan denda, penjara bahkan hukuman mati.

3. Fungsi dan manfaat norma dalam masyarakat

  • Menciptakan kehidupan yang aman dan tenteram
  • Menciptakan keadilan sosial
  • Menciptakan kehidupan yang teratur, tertib dan damai
  • Membantu tercapainya cita-cita bersama
  • Dapat menjadi dasar untuk memberikan penghargaan bagi yang berjasa dan sanksi bagi yang melanggar
  • Menciptakan kehidupan yang selaras
  • Melindungi hak anggota masyarakat
  • Menjadikan manusia yang manusiawi
  • Menciptakan kerukunan hidup

4. Tujuan norma

Tujuan norma yakni sebagai arahan, pedoman, penuntun manusia dalam hubungannya sebagai 1) makhluk Tuhan dengan Tuhan, 2) sesama makhluk ciptaan Tuhan dan 3) sekaligus sebagai warga negara yang baik.

Nah, bila ada pertanyaan terkait macam-macam norma, fungsi, manfaat, tujuan dan contoh norma bisa ditulis di bawah ini.

Baca juga: hubungan nilai sosial dan norma sosial

Daftar Pustaka
Sri Sukardi, Joko dan Rohman, Arif. 2009. Sosiologi Kelas X untuk SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Wida, Widianti. 2009. Sosiologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.