Fungsi Uterus atau Rahim Pada Sistem Reproduksi Wanita

Fungsi Uterus atau Rahim Pada Sistem Reproduksi Wanita

Fungsi Uterus atau Rahim Pada Sistem Reproduksi Wanita – Makhluk hidup memiliki berbagai ciri-ciri salah satunya adalah dapat melakukan perbanyakan diri atau melakukan reproduksi. Ternyata sebagian besar wanita masih banyak yang belum mengetahui apa saja alat reproduksi yang ada pada wanita selain vagina.

Uterus atau rahim juga merupakan salah satu organ dalam reproduksi wanita. Dalam pembahasan kali ini akan membahas fungsi uterus.

Uterus sendiri merupakan salah satu saluran reproduksi wanita selain oviduk dan vagina. Reproduksi sendiri merupakan kemampuan yang dimiliki makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan.

Pada manusia proses menghasilkan keturunan diawali dengan peristiwa fertilisasi yang nantinya uterus atau yang sering dikenal dengan istilah rahim memiliki peran dan fungsi yang sangat penting.

Fungsi Uterus atau Rahim Pada Sistem Reproduksi Wanita

Fungsi Uterus atau Rahim Pada Sistem Reproduksi Wanita

1. Sebagai Saluran Gamet (Spermatozoa)

Pada saat pembuahan atau ejakulasi, spermatozoa berjalan ke atas melalui servik melalui uterus menuju tuba falopi atau oviduk. Umumnya pembuahan serta kehamilan terjadi segmen distal tuba falopi pada dekat ovarium. Sehingga fungsi lain dari uterus merupakan tempat saluran gamet (spermatozoa).

2. Menahan Ovum yang Dibuahi

Apabila tidak terjadi pembuahan, maka sel telur (ovum) akan keluar. Tetapi apabila sel telur (ovum) telah dibuahi oleh sperma maka ovum yang telah dibuahi tadi perlu ditahan supaya dapat tumbuh dan berkembang menjadi janin. Dengan bantuan saluran tuba uterine ovum yang telah dibuahi diantarkan menuju uterus.

3. Tempat Implantasi

Fungsi selanjutnya dari uterus yaitu sebagai tempat implantasi yang terjadi pada saat awal terjadinya kehamilan. Implantasi sendiri merupakan keadaan ovum yang telah dibuahi, lalu jaringan yang berada di sekitar sel telur mengalami kerusakan pembuluh darah, sehingga darah akan keluar dan terdapat bercak darah. Ini bukanlah haid, akan tetapi tanda awal kehamilan.

Artikel terkait: Sistem reproduksi laki-laki

4. Tempat Janin untuk Tumbuh dan Berkembang

Saat telah terjadinya pembuahan antara sperma dan ovum. Dan ovum yang telah dibuahi tentu akan membutuhkan tempat untuk janin dapat tumbuh dan berkembang. Ini merupakan fungsi uterus yang paling utama. Janin akan tumbuh dan berkembang pada wanita apabila uterus mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.

Dinding uterus sebagai tempat untuk berkembang dan tumbuhnya janin memiliki tiga lapisan yaitu perimetrium yang merupakan lapisan terluar yang disebut juga selaput dinding rahim, myometrium yang merupakan lapisan tengah yang sangat tebal dan kaya akan jaringan jaringan otot, dan endometrium yang merupakan lapisan paling dalam yang terdiri atas banyak lendir dan pembuluh darah.

5. Tempat Berlindung serta Memberi Nutrisi untuk Janin

Fungsi uterus atau rahim selain sebagai tempat tumbuh dan berkembang juga memiliki fungsi lain yaitu untuk tempat berlindung dan juga memberikan nutrisi untuk janin. Lamanya janin di dalam uterus atau rahim akan berlangsung selama janin mencapai masa maturisasi yaitu keadaan ketika janin telah mengalami pematangan dan pertumbuhan.

Baca juga: Gametogenesis: Pembentukan Sel Kelamin Spermatogenesis dan Oogenesis

6. Mendorong Janin dan Plasenta Keluar

Janin dan juga plasenta akan keluar pada saat terjadinya proses persalinan. Uterus akan mendorong janin dan plasenta sehingga mudah untuk keluar. Pada beberapa perempuan yang melahirkan ada yang mengalami kesulitan untuk mengeluarkan plasenta dan ada yang mudah.

7. Mengendalikan Pendarahan

Apabila uterus mengalami pendarahan maka otot-otot uterus akan berkontraksi untuk mengendalikan pendarahan. Pendarah yang terjadi pada uterus terjadi pada saat menstruasi dan awal kehamilan atau implantasi. Hormon yang memengaruhi kontraksi pada uterus yaitu hormon ADH (Anti-diuretik hormon).

Pendarahan yang terjadi saat menstruasi dan implantasi yaitu pada banyaknya darah yang dikeluarkan dan waktu keluarnya darah. Darah yang keluar karena implantasi lebih sedikit dibanding dengan darah menstruasi.

Daftar Pustaka
Amirin, Siti et all. (2016). Biologi. Cilacap: MGMP.
Pujianto, Sri. (2014). Menjelajah Dunia Biologi. Surakarta: Tiga Serangkai.
Suharsono, dan Popo Mustofa K. (2017). Biologi Umum. Tasikmalaya: Universitas Siliwangi.

Gametogenesis: Pembentukan Sel Kelamin Spermatogenesis dan Oogenesis

Diagram proses spermatogenesis

Gametogenesis: Pembentukan Sel Kelamin Spermatogenesis dan Oogenesis – Setelah mempelajari tentang alat reproduksi manusia, maka pada halaman ini kita akan mempelajari tentang gametogenesis. Mungkin diantara kita masih ada yang belum tahu -apa itu gametogenesis?-.

Gametogenesis merupakan pembentukan sel kelamin sperma dan sel telur yang dilakukan oleh induknya masing-masing. Pada pembentukan sperma dinamakan sebagai spermatogenesis sedangkan pembentukan sel telur dinamakan oogenesis.

Nah, agar lebih mudah untuk memahaminya, maka pada artikel berjudul Gametogenesis: Pembentukan Sel Kelamin Spermatogenesis dan Oogenesis ini, pembahasannya kita jadikan menjadi dua yakni Spermatogenesis dan Oogenesis.

A. Spermatogenesis

Seorang laki-laki normal, bila telah menginjak usia dewasa akan mampu mengasilkan sel kelamin yang dinamakan sperma yang dibentuk di dalam testis yang lebih tepatnya dibentuk oleh tubulus seminiferus.

Artikel: Alat reproduksi wanita

Adapun proses pembentukan sperma itu sendiri dinamakan sebagai spermatogenesis. Nah, sel induk sperma memiliki jumlah kromosom sebanyak 23 pasang, sel-sel ini dinamakan sebagai spermatogonia.

Tubulus seminiferus mampu menghasilkan sperma baru setiap harinya sekitar 100 juta spermatozoa. Adapun jumlah normal produksinya sekitar 35 sampai 200 juta. Nah, bila seorang laki-laki hanya mampu meproduksi sperma di bawah 20 juta, maka orang tersebut dapat dimasukan dalam kategori kurang subur.

Pada seorang laki-laki, masa subur akan terjadi setiap hari namun menginjak usia di atas 50 tahun, keseburannya akan semakin berkurang. Di atas usia 90 tahun, pada umumnya laki-laki sudah tidak subur lagi.

Pengurangan usia kesuburan bagi laki-laki bukan hanya disebabkan oleh bertambahnya usia saja melainkan bisa disebabkan oleh penyakit, gaya hidup tak sehat atau korban kecelakaan.

Selain itu terlalu sering mengeluarkan sperma juga dapat menyebabkan berkurangnya tingkat kesuburan. Hal ini dikarenakan sperma belum cukup matang sehingga dalam keadaan yang seperti ini, belum bisa membuahi sel telur.

Artikel terkait: Alat reproduksi laki-laki

Berbeda dengan hal itu, jika sperma yang telah matang tidak dikeluarkan, maka sperma tersebut akan mati yang kemudian akan diserap kembali oleh tubuh.

Lalu, bagaimana dengan proses pembentukan sperma?

Proses pembentukan sperma dimulai dari pembelahan mitosis sel-sel spermatogonia yang kemudian seiring bertambahnya waktu akan berkembang menjadi spermatosit primer yang bersifat diploid dan memiliki 23 pasang kromosom. Bisa kita lihat gambar di bawah ini.

Diagram proses spermatogenesis
Gambar. Diagram proses spermatogenesis (Sumber: Sumber: Intisari Biologi, Hipokrates, 2003)

Pada gambar di atas diterangkan bahwa pada proses pembelahan meiosis I, spermatosit primer yang bersifat diploid akan menghasilkan spermatosid sekunder yang bersifat haploid.

Kemudian pada proses meiosis II, spermatosid sekunder akan menghasilkan empat spermatid yang bersifat haploid. Spermatid merupakan sel bundar dengan sejumlah besar protoplasma.

Nah, pada keadaan ini, maka akan terjadi pertumbuhan dan perkembangan atau diferensiasi yang sangat rumit sehingga terbentuk spermatozoa atau sel-sel sperma. Nukleus kemudian akan berubah menjadi kepala sperma sedangkan sejumlah besar sitoplasma akan dibuang.

Artikel terkait: Fungsi uterus atau rahim pada sistem reproduksi wanita

Spermatogenesis akan terjadi di semua bagian tubulus seminiferus dimana di setiap satu bagian dari tubulus, berbagai tahapan tersebut akan berlangsung secara berurutan. Kita bisa melihat pada gambar di bawah ini.

Proses spermatogenesis yang terjadi di testis
Gambar. Proses spermatogenesis yang terjadi di testis (Sumber: Biology: The Unity and Diversity of Life, 1995)

Gambar di atas menjelaskan bahwa semakin berdekatan dengan bagian tubulus, maka kecenderungan sel akan berada dalam keadaan yang lebih muda.

Nah, pada manusia pembentukan spermatogonium menjadi sperma matang membutuhkan waktu sekitar 16 hari.

Apa proses spermatogenesis dipengaruhi oleh peran suatu hormon tertentu?

Iya, ada empat hormon yang mempengaruhi proses spermatogenesis ini yakni hormon gonadotropin, Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing hormone (LH) dan testosteron.

1. Hormon Gonadotropin memiliki fungsi untuk merangsang kelenjar hipofisa bagian depan (anterior) agar mengeluarkan hormon FSH dan LH. Hormon ini dihasilkan oleh hipotalamus.

2. FSH (Follicle Stimulating Hormone) memiliki fungsi untuk mempengaruhi serta merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel sertoli untuk dapat menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang berperan memacu pembentukan sperma. Hormon ini dihasilkan oleh hipofisa anterior.

3. LH (Luteinizing Hormone) memiliki fungsi untuk merangsang sel-sel interstitial atau sel leydig agar mensekresi hormon testosteron (androgen).

4. Hormon Testosteron memiliki fungsi untuk merangsang perkembangan organ seks primer pada saat masih embrio, membantu perkembangan otot, berperan dalam peremajaan pembuluh darah, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan mendorong proses spermatogenesis.

Pada manusia normal, kadar hormon testoteron sekitar 350-400 nanograms/dl. Hormon ini dihasilkan oleh testis.

B. Oogenesis

Oogenesis merupakan proses pembentukan sel telur di dalam ovarium. Sel telur berasal dari sel induk telur yang dinamakan oogonium. Oogenium memiliki 23 pasang kromosom yang bersifat diploid.

Pada ovarium yang ada di dalam tubuh embrio (fetus) terdapat sekitar 600.000 buah sel induk telur. Nah, pada saat umur fetus (embrio) lima bulan, oogonium akan memperbanyak diri secara mitosis kemudian membentuk kurang lebih sekitar 7 juta oosit primer.

Dalam produksinya, sel telur memiliki perbedaan dengan sel sperma dimana pada laki-laki, sperma dapat diproduksi setiap hari sedangkan sel telur pada wanita hanya diproduksi secara terbatas.

Pada saat lahir, dua ovarium dapat mengandung 2 juta oosit primer namun pada usia tujuh tahun, jumlah sel telur pada wanita bisa menyusut hingga menjadi 300.000 sel telur, jumlah ini akan berkurang seiring bertambahnya waktu. Sel telur selama masa reproduksi akan dilepas hanya sekitar 400–500 buah saja (Starr and Taggart, 1995: 780 yang dikutip oleh Fictor Ferdinand, hal. 189).

Bila kita hitung, sel telur akan mengalami ovulasi disetiap bulannya, yakni sejak seorang wanita telah matang atau dewasa dan mengalami menstruasi pertama sehingga masa suburnya bisa selama sekitar 33-41 tahun. Dengan demikian, maka jika ada seorang wanita mengalami kematangan pada usia 10 tahun, maka masa subur wanita tersebut bisa sampai usia 43 hingga 60-an tahun.

Nah, perlu diingat juga bahwa setiap orang bisa memiliki usia masa subur yang berbeda, hal ini bisa dipengaruhi oleh beberapa sebab seperti gaya hidup, faktor gen, obesitas atau adanya penyakit.

Saat embrio berumur enam bulan, oosit primer telah dibentuk dan ini berarti telah mencapai tahap profase I. Nah, pada masa ini, oosit akan mengalami masa penantian hingga seorang wanita tiba masa subur.

Jumlah oosit primer akan semakin berkurang sampai lahir dan jumlah kromosomnya tetap (sama dengan jumlah sel induknya) yakni 23 pasang kromosom. Kita bisa melihat gambar di bawah ini.

Proses oogenesis pada wanita
Gambar. Proses oogenesis pada wanita (Sumber: stemcellthailand.org)

Pada saat seorang wanita mengalami masa pubertas (baligh), kelenjar hipofisis akan mampu menghasilkan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan oosit primer akan melakukan proses pembelahan meiosis I yang menghasilkan dua sel dengan ukuran yang tidak sama.

Adapun sel yang berukuran besar dinamakan oosit sekunder dan yang berukuran kecil dinamakan badan polar pertama. Hormon FSH dihasilkan oleh kelenjar hipofisis di dasar otak.

Hormon ini berfungsi mengatur pertumbuhan sel telur, menghasilkan hormon estrogen dan mempengaruhi sel-sel folikel yang berfungsi memberikan nutrien pada sel telur. Badan polar/kutub I kemudian akan menghasilkan 1 badan polar lagi.

Bila terjadi penetrasi sperma, maka proses selanjutnya yaitu oosit sekunder akan mengalami pembelahan lagi secara meiosis II membentuk ootid dan badan polar II. Nah, ootid inilah yang akan berkembang menjadi ovum. Namun bila tidak terjadi penetrasi sperma, maka oosit sekunder akan mati.

Bagaimana dengan ketiga badan polar tersebut?

Ketiga badan polar (badan polar I sebanyak 2 buah dan badan polar II sebanyak 1 buah) tidak berfungsi dan akan terjadi degenerasi.

Daftar Pustaka

Ferdinand, Fictor P dan Moekti Ariebowo.2009.Praktis Belajar Biologi 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Visindo Media Persada.
Sri, Lestari Endang.2009.Biologi 2 Makhluk Hidup Dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas XI. Solo: CV Putra Nugraha.
Rachmawati, Faidah dkk.2009.Biologi Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA. Jakarta: CV Ricardo.

Alat Reproduksi Wanita

Siklus menstruasi. Siklus ini dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron.

B. Alat reproduksi wanita

Melanjutkan pembahasan pada halaman sebelumnya yaitu tentang alat reproduksi laki-laki, maka di halaman ini kita akan mempelajari tentang alat reproduksi wanita yang meliputi organ reproduksi dalam-luar dan proses terjadinya menstruasi.

1. Organ reproduksi wanita

Agar lebih mudah memahami tentang organ reproduksi wanita, bisa kita lihat pada gambar di samping ini. Disini kita bisa menggolongkan organ reproduksi wanita menjadi dua macam yaitu organ reproduksi luar dan organ reproduksi dalam.

a. Organ reproduksi luar

Organ reproduksi terluar wanita adalah vulva yaitu berupa celah yang langsung terhubung dengan saluran kemih dan vagina. Di daerah vulva ini ada bagian yang tersusun atas jaringan lemak yang dinamakan sebagai Mons pubis atau mons veneris. Nah, di bagian bawah mons pubis ini terdapat bagian yang dinamakan labium mayor atau bibir besar yang berupa sepasang lipatan. Lebih dalam lagi juga terdapat sepasang lipatan yang dinamakan labium minor atau bibir kecil. Apa fungsi dari lipatan-lipatan tersebut?, fungsinya yaitu untuk melindungi organ di bagian yang lebih dalam lagi yaitu vagina.

Organ reproduksi luar pada wanita
Gambar. Organ reproduksi luar pada wanita (Sumber: Kamus Visual, 2003)

Di bagian atas bibir terdapat organ erektil bagi wanita yang dinamakan sebagai klitoris atau klentit, dimana banyak terdapat pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa.

b. Organ reproduksi dalam

Organ reproduksi dalam bagi wanita antara lain ovarium, uterus dan vagina.

1) Ovarium

Ovarium merupakan organ penghasil sel telur yang teletak di daerah pinggang, memiliki bentuk lonjong dengan dimensi panjang sekitar 2-2,5 cm, lebar 1-1,5 cm dan tebal 0,5-1,5 cm serta mampu menahan berat hingga 15 gram. Ovarium wanita berjumlah sepasang yakni disebelah kanan dan kiri.

Sel telur seorang wanita berkembang di sebuah kantung khusus yang dinamakan folikel de Graaf atau biasa disebut sebagai folikel. Sebelum seorang wanita berada dalam usia matang, sel telur yang terbungkus folikel akan terlihat seolah-olah mati namun seiring bertambahnya usia seorang wanita tersebut (usia matang), maka fungsionalitas dan ukuran sel telur semakin besar. Hal ini disebabkan karena adanya rangsangan dari hormon FSH (Folicle Stimulating Hormon) dan LH (Luteinizing Hormone) yang berasal dari kelenjar hipofisis di pusat saraf otak. Nah, pada saat begini, seorang wanita masuk dalam tahap masa subur.

Selain sel telur, folikel juga akan bertambah semakin besar dan mampu menghasilkan hormon estrogen dan progesteron yang nantinya hormon tersebut akan memberikan rangsangan agar produksi hormon FSH dan LH menjadi terhenti. Selain itu, hormon estrogen dan progesteron juga dapat mempengaruhi sifat-sifat pada wanita untuk menjadi seorang wanita dewasa.

Sel telur seorang wanita akan terus mengalami pertumbuhan hingga akhirnya kantung folikel pecah sehingga sel telur keluar dari ovarium. Adapun proses keluarnya sel telur ini dari ovarium dinamakan sebagai ovulasi. Proses ovulasi pada seorang wanita bisa berkisar 28 hari atau 1 bulan sekali. Sel telur yang sudah keluar ini kemudian akan masuk ke dalam oviduk (tuba falopi) melalui infundibulum yakni bagian yang berbentuk seperti jari-jari. Nah, disini sel telur akan dihanyutkan ke dalam suatu cairan khusus. Sel telur ini baru bisa dibuahi setelah sekitar waktu 24 jam yakni saat dalam perjalanan menuju rahim.

Lalu bagaimana dengan kantung folikel setelah ditinggalkan oleh sel telur?

Selepas sel telur keluar dari folikel, maka keadaan folikel menjadi kosong dimana seiring berjalannya waktu, kemudian akan berubah menjadi korpus luteum atau badan kuning. Pembentukan korpus luteum mendapat pengaruh oleh hormon LH (Luteinizing Hormone). Sedangkan pembentukan korpus luteum sendiri akan memacu terbentuknya hormon lain yakni hormon estrogen dan progesteron. Untuk lebih jelasnya bisa di lihat gambar di bawah ini.

Stadium pertumbuhan folikel pada ovarium
Gambar. Stadium pertumbuhan folikel pada ovarium (Sumber: Diagnostik Fisik, 1995)

2) Saluran tuba fallopii atau oviduk

Saluran tuba fallopii merupakan saluran yang menghubungkan antara ovarium dengan uterus atau rahim. Saluran ini berjumlah sepasang, kanan dan kiri. Pada bagian pangkalnya (seperti corong) dinamakan sebagai tuba infundibulum yang dilengkapi dengan serabut halus/sillia yang dinamakan fimbriae.

Fimbriae memiliki peran dalam menangkap sel telur yang telah masak yang lepas dari ovarium. Adapun tuba fallopii ini memiliki fungsi untuk menggerakkan ovum ke arah rahim dengan gerak peristaltik dan dengan bantuan silia (seperti bulu halus).

Untuk lebih jelasnya bisa di lihat gambar di bawah ini.

Organ reproduksi dalam pada wanita
Gambar. Organ reproduksi dalam pada wanita (Sumber: Biology: The Unity and Diversity of Life, 1995)

3) Uterus atau rahim

Rahim wanita memiliki ukuran dimensi panjang sekitar 7 cm dan lebar sekitar 4–5 cm. Dengan ukuran ini, rahim mampu menampung bayi dengan panjang 45 cm dan berat mencapai 4 kg. Bagian bawah dari uterus atau rahim dinamakan serviks (leher rahim). Janin manusia akan menempel pada organ ini (rahim) dengan ditopang oleh plasenta yang menyediakan kebutuhan si janin selama berada di dalam rahim. Plasenta akan menyediakan kebutuhan oksigen dan nutrisi makanan bagi janin yang diambil dari ibunya. Nah, itulah makanya bila seorang ibu lagi hamil, ia dituntut agar selalu makan makanan yang bernutrisi.

Rahim tersusun dari otot polos dan lapisan endometrium (dinding rahim) yang tersusun dari epitel dan menghasilkan banyak lendir serta pembuluh darah. Pada saat terjadi ovulasi, maka lapisan endometrium akan menebal namun ketika pada masa menstruasi, maka lapisan endometrium akan meluruh.

4) Vagina

Vagina merupakan organ tempat terjadinya proses kopulasi yakni pertemuannya dua alat kelamin (laki-laki dengan wanita). Selain itu, vagina juga merupakan saluran keluarnya si bayi dari rahim untuk proses persalinan atau melahirkan. Adapun bagian akhir dari vagina akan bertemu dengan organ Vulva.

Vagina memiliki tiga bagian yakni selaput lendir (membran mukosa), jaringan otot dan jaringan ikat.

a) Selaput lendir merupakan bagian terluar dari vagina yang mampu mengeluarkan lendir apabila mendapatkan rangsangan seksual. Adapun lebdir tersebut dihasilkan oleh kelenjar bartholin.

b) Jaringan otot dan jaringan ikat pada vagina berfungsi untuk mengatur lebar vagina dan rahim terutama pada saat terjadi proses persalinan.

2. Proses Terjadinya Menstruasi

Ketika sel telur tidak dibuahi, maka akan terjadi proses pembuangan ke luar tubuh. Pembuangan ini juga bersamaan dengan pembuangan sisa-sisa peluruhan (terkelupasnya) dinding rahim atau yang disebut dengan endometrium yang sempat menebal (dinding rahim) akibat pengaruh hormon progesteron. Pada bagian ini kaya akan pembuluh darah sehingga ketika dikeluarkan, maka akan ada bercak-bercak darah. Nah, inilah yang dinamakan sebagai menstruasi.

Jadi, apa yang dimaksud dengan menstruasi?

Menstruasi adalah peristiwa pembuangan sel telur yang tidak dibuahi, selaput lendir dan sisa peluruhan dinding rahim ke luar tubuh. Nah, untuk lebih jelasnya bisa kita lihat gambar siklus menstruasi di bawah ini.

Siklus menstruasi. Siklus ini dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron.
Gambar. Siklus menstruasi. Siklus ini
dipengaruhi oleh hormon
estrogen dan progesteron.

[color-box]Ferdinand, Fictor P dan Moekti Ariebowo.2009.Praktis Belajar Biologi 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Visindo Media Persada.
Sri, Lestari Endang.2009.Biologi 2 Makhluk Hidup Dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas XI. Solo: CV Putra Nugraha.
Rachmawati, Faidah dkk.2009.Biologi Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA. Jakarta: CV Ricardo. [/color-box]

Alat Reproduksi Laki-Laki

Sel Leydig memproduksi testosteron yang mengatur spermatogenis.

Alat Reproduksi Manusia – Sebagai makhluk hidup, manusia melakukan proses reproduksi atau perkembangbiakan secara seksual yang melibatkan dua jenis individu yang berbeda yaitu laki-laki dan wanita.

Setiap satu individu ini akan menyumbangkan satu sel reproduktif (sel kelamin) khusus yang dinamakan gamet. Gamet pada laki-laki dinamakan sebagai sperma sedangkan pada wanita dinamakan sebagai sel telur atau ovum.

Pembahasan terkait sel kelamin akan kita bahas pada halaman tersendiri dengan judul Gametogenesis: Pembentukan Sel Kelamin Spermatogenesis dan Oogenesis.

Untuk tujuan apa reproduksi dilakukan?

Proses reproduksi dilakukan oleh makhluk hidup dengan tujuan untuk mempertahankan jenisnya atau keturunannya. Hal ini sangatlah penting karena setiap makhluk hidup pasti akan mengalami kematian dan bila tidak ada regenerasi, maka makhluk hidup akan mengalami kepunahan dimasa depan.

Seperti apa alat reproduksi laki-laki dan wanita itu?

Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, maka pada halaman ini kita akan memperlajari tentang alat reproduksi manusia yang meliputi alat reproduksi laki-laki dan alat reproduksi wanita dimana keduanya memiliki bagian-bagian yang terdapat di luar bagian tubuh dan terdapat di dalam tubuh.

Alat reproduksi laki-laki
Gambar. Alat reproduksi laki-laki (Sumber: Kamus Visual, 2003)

A. Alat reproduksi laki-laki

Untuk memahami alat reproduksi laki-laki bisa dilihat gambar di samping ini. Nah, disini terlihat bahwa alat reproduksi laki-laki ada yang terdapat di dalam tubuh dan adapula yang terdapat di luar tubuh.

a. Organ reproduksi luar

Organ reproduksi luar terdiri dari penis dan skrotum.

1) Penis

Penis merupakan saluran seperti pipa yang berfungsi sebagai alat persetubuhan atau kopulasi. Organ ini memiliki tiga rongga yang terbentuk dari jaringan spons, satu rongga berada di atas dan dua diantaranya terdapat di bagian bawah.

Rongga pada bagian atas tersusun dari jaringan spons korpus kavernosa sedangkan rongga pada bagian bawah tersusun dari jaringan spons korpus spongiosum. Selain itu di dalam penis terdapat pula sebuah saluran yang berfungsi sebagai pipa penyalur sperma saat laki-laki mengalami ejakulasi yang dinamakan saluran uretra.

Ketika laki-laki mendapatkan sebuah rangsangan seksual, maka detak jantung akan meningkat dan darah akan banyak masuk ke saluran penis bagian dalam sehingga menyebabkan kondisi penis bagian dalam akan menegang keras atau yang dinamakan sebagai ereksi.

Hal ini terjadi karena pada penis bagian dalam tersusun atas jaringan erektil dimana terdapat banyak rongga dengan pembuluh darah yang banyak pula. Nah, pada bagian ini juga terdapat banyak saraf perasa.

2) Skrotum

Istilah skrotum banyak disebut juga sebagai kantong pelir dimana di dalamnya terdapat salah satu alat reproduksi dalam yang disebut testis. Kantong skrotum memiliki lapisan kulit yang terlipat-lipat agar dapat memperluas daerah penguapan.

Selain itu, pada kulit kantong skrotum juga banyak terdapat kelenjar keringat dimana berfungsi untuk menjaga suhu di dalam skrotum. Nah, untuk mendinginkan suhu dalam skrotum yang terlalu tinggi (bila hal ini terjadi), maka akan dilakukan pendinginan melalui proses penguapan air keringat serta mengendornya skrotum.

Seorang laki-laki akan memiliki dua skrotum yakni skrotum kiri dan skrotum kanan dimana keduanya terdapat dua otot yang memiliki fungsi saling mendukung yakni otot dartos dan kremaster.

a) Otot dartos

Otot dartos berfungsi mengendalikan skrotum agar dapat mengerut dan mengendor. Otot ini terdapat diantara skrotum kiri dan kanan. Pengerutan dan pengendoran dilakukan untuk menunjang fungsi testis serta sebagai upaya mempertahankan suhu di dalam testis.

Pada saat suhu lingkungan panas, maka otot ini akan membuat skrotum mengendor sedangakan pada saat dingin, otot ini akan mengerutkan skrotum.

b) Otot kremaster

Otot kremaster merupakan penerusan dari otot lurik yang berada di dinding perut. Otot ini berfungsi membantu mengatur suhu di dalam skrotum agar proses pembentukan sperma di dalam testis tidak terganggu. Proses pembentukan sperma akan berjalan baik bila di dalam testis memiliki suhu lebih rendah sekitar 3oC lebih rendah dari suhu tubuh.

b. Organ reproduksi dalam

Organ reproduksi dalam terdiri dari testis, saluran reproduksi, kalenjar kelamin dan uretra.

1) Testis

Testis merupakan organ reproduksi yang terdapat di dalam skrotum dimana merupakan tempat pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormon kelamin (testosteron).

Sel-sel yang menghasilkan sperma dinamakan tubulus seminiferus yang memiliki ukuran hampir sama dengan serabut benang sutera yang paling halus. Adapun hormon kelamin (testosteron) dihasilkan oleh sel-sel Leydig (sel interstitial) yang terletak di antara celah-celah tubulus seminiferus. Hormon testosteron dapat mempengaruhi perkembangan kelamin sekunder pada seorang laki-laki.

Perkembangan kelamin sekunder membuat seorang laki-laki memiliki sifat kejantanan seperti kulit kasar, suara membesar, tumbuh kumis dan sebagainya. Selain itu, di dalam testis terdapat pula sel-sel dengan ukuran besar yang memiliki fungsi menyediakan makanan bagi spermatozoa. Adapun sel ini disebut sebagai sel sertoli.

Sel Leydig memproduksi testosteron yang mengatur spermatogenis.
Gambar. Sel Leydig memproduksi
testosteron yang mengatur
spermatogenis (Sumber: Biology: The Unity and Diversity of Life 1995)

Testis memiliki bentuk seperti bulat telur dengan panjang sekitar 3 cm, garis tengah yang bisa mencapai 1,75 cm dengan beratnya sekitar 15 gram. Di dalamnya terdapat sekitar 1000 selang kecil yang rata-ratanya bisa mencapai panjang hingga 45 cm.

2) Saluran reproduksi

Epididimis merupakan saluran dengan panjang bisa mencapai 7 meter yang menghubungkan antara testis dengan vas deferens. Di tempat ini, sperma akan ditampung dalam beberapa saat (sekitar 2 minggu) hingga usia dewasa atau usia matang.

Bila telah matang, sperma akan diangkut melalui vas deferens yaitu suatu saluran untuk mengangkut sperma ke vesikula seminalis atau kantung sperma. Vas deferens mampu menghasilkan sekret atau cairan dari beberapa kelenjar kelamin.

Kalenjar kelamin dilengkapi dengan tiga kelenjar yang mampu mengeluarkan cairan pembentuk semen. Kalenjar tersebut yakni:

a) Kalenjar prostat memiliki ukuran besar daripada kalenjar lainnya. Adapun cairan yang dihasilkan akan bersifat encer seperti susu, mengandung kolestrol, fosfolipid, garam dan bersifat alkalis sehingga mampu menyeimbangkan tingkat keasaman residu urin di uretra dan keasaman di dalam vagina. Cairan ini nantinya akan langsung bermuara ke uretra melewati beberapa saluran kecil.

b) Kalenjar bulbouretral atau kelenjar Cowper menghasilkan cairan yang bersifat basa dan kental, dimana cairan ini dapat dialirkan langsung ke uretra. Cairan ini bisa keluar sebelum cairan sperma dan semen keluar dari penis. Seorang laki-laki dpaat memiliki sepasang kalenjar Cowper yang berukuran kecil. Selain itu cairan ini berfungsi melicinkan (lubrikasi) dalam pergerakan sel sperma.

c) Kalenjar seminalis (kantong semen) pada laki-laki berjumlah sepasang yang letaknya berada di bawah-belakang kantong kemih. Kalenjar ini memiliki anatomi berlekuk-lekuk dimana mampu menghasilkan cairan sebanyak 60% dari jumlah total semen yang dibutuhkan.

Pada saluran ini kemudian sperma akan bercampur dengan cairan/sekret yang dihasilkan oleh ketiga kalenjar di atas sehingga menghasilkan air mani atau semen.

Cairan atau sekret memiliki beberapa fungsi yakni menyediakan zat gizi untuk spermatozoa seperti karbohidrat dalam bentuk fraktosa, vitamin dan asam amino.

Selain itu cairan ini juga memiliki fungsi menetralkan asam yang terdapat di vagina wanita dan dapat pula merangsang pergerakan dinding rahim karena mengandung lendir pelumas dan zat yang dinamakan prostaglandin.

3) Duktus ejakulatoris

Setelah melalui vas deferens, sperma kemudian akan melewati saluran pemancaran yang dinamakan sebagai Duktus ejakulatoris. Setelah itu sperma akan dipancarkan keluar dari dalam penis melalui saluran uretra. Peristiwa ini dinamakan sebagai ejakulasi.

Artikel selanjutnya: Alat Reproduksi Wanita

Daftar Pustaka

Ferdinand, Fictor P dan Moekti Ariebowo.2009.Praktis Belajar Biologi 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Visindo Media Persada.
Sri, Lestari Endang.2009.Biologi 2 Makhluk Hidup Dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas XI. Solo: CV Putra Nugraha.
Rachmawati, Faidah dkk.2009.Biologi Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA. Jakarta: CV Ricardo.