Teori Tempat Sentral dan Teori Losch

Tiga asas tempat sentral menurut Christaller

Teori Tempat Sentral dan Teori Losch – Pada halaman sebelumnya kita telah mempelajari tentang beberapa teori pusat perkembangan. Akan tetapi pada halaman tersebut ada dua teori yang belum kita bahas yakni Teori Tempat Sentral dan Teori Losch. Untuk itu di halaman ini kita akan membahas kedua teori tersebut.

A. Teori Tempat Sentral

Walter Christaller (1933) merupakan seorang ahli geografi berkebangsaan Jerman yang pertama kali mengemukakan teori ini. Teori ini mengemukakan bahwa tempat sentral atau lokasi pusat kegiatan harus terletak di suatu wilayah yang memungkinkan adanya peran maksimal dari penduduknya, baik yang menjadi konsumen ataupun yang jadi pelayan.

Dalam teori tempat sentral ini diperkenalkan dua istilah yaitu jangkauan (range) dan ambang (treshold). Range atau jangkauan merupakan jarak yang perlu ditempuh manusia untuk mendapatkan barang kebutuhannya pada suatu waktu tertentu saja. Sedangkan treshold atau ambang merupakan jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan keseimbangan suplai barang. Coba perhatikan gambar di bawah ini.

Tempat sentral memiliki batas-batas pengaruh
Gambar. Tempat sentral memiliki batas-batas pengaruh (Dokumen Siswapedia)

Tempat sentral dapat berupa pusat kota, pusat kegiatan, pusat pemerintahan, pusat ekonomi dan sebagainya. Nah, tempat sentral ini dapat memberi pengaruh wilayah di sekitarnya dimana dapat kita bagi menjadi tiga zona yaitu zona keuntungan besar, zona keuntungan menurun dan zona kerugian.

a. Zona keuntungan besar merupakan zona dimana penduduknya dapat memberikan kontribusi secara maksimal, kalau dalam kegiatan ekonomi berarti penduduknya sangat berpotensi sebagai pembeli, tapi kalau dalam kegiatan pemerintahan berarti penduduknya berpotensi untuk mendapatkan pelayanan secara maksimal.

b. Zona keuntungan menurun merupakan zona dimana penduduknya sudah mulai tidak memberikan kontribusi yang maksimal. Para penduduk sudah mulai mencari tempat sentral lainnya.

c. Zona kerugian merupakan zona dimana penduduknya sudah sepenuhnya tidak memberikan kontribusi lagi. Para penduduk lebih tertarik untuk menuju tempat sentral lainnya.

Selain memahami zona-zona yang ada di sekitar tempat sentral, kita juga harus memahami tentang “resiko kerugian” agar ketika ingin membuat toko, pelayanan atau perkantoran bisa mendapatkan peran maksimal dari penduduk di sekitarnya. Apa itu? misalnya begini, ada dua toko yaitu toko makanan dan toko mobil. Toko makanan itu akan banyak dicari orang karena pada dasarnya manusia membutuhkan makanan sehingga pembangunan tokonya bisa dimana saja dan tidak memerlukan terlalu banyak penduduk (nilai ambangnya kecil). Makanya kita akan melihat banyak toko-toko makanan tersebar dimana-mana bahkan mencapai pelosok desa sehingga mengakibatkan konsumen tidak perlu pergi jauh-jauh untuk mendapatkan barang kebutuhannya (range-nya kecil).

Lain halnya pada toko mobil. Mobil sendiri merupakan barang yang jarang dicari orang karena termasuk kebutuhan mewah atau tersier. Nah, agar jualannya laku, maka pembangunan toko mobil harus dilakukan di tempat sentral (misalnya: pusat kota) yang jumlah penduduknya besar/padat (nilai ambangnya besar). Itulah makanya, bila kita ingin membeli mobil, maka perlu menempuh jarak untuk menuju ke tempat sentral (range-nya besar).

Kesimpulan apa yang kita dapatkan dari contoh di atas?. Bahwa barang dan jasa yang memiliki range dan nilai ambang yang besar memiliki resiko kerugian yang besar, ini dinamakan sebagai threshold tinggi. Sedangkan barang dan jasa yang memiliki range dan nilai ambang yang kecil memiliki resiko kerugian yang kecil pula, ini dinamakan sebagai threshold rendah.

Dalam keadaan nyata, keadaan ekonomi penduduk tidaklah sama atau homogen (ada yang kaya, miskin, sedang dll) dan kondisi wilayahnya atau geografisnya tidaklah merata karena ada gunung, lembah, kondisi jalan yang buruk dan sebagainya. Namun agar mudah dalam mempelajarinya, keadaan ini dibuat menjadi ideal yang berupa wilayah datar yang luas dengan kondisi ekonomi penduduknya yang sama.

Walter Christaller menggambarkan tempat sentral berupa titik simpul dari suatu bentuk heksagonal atau segienam. Nah, wilayah heksagonal tersebut merupakan wilayah yang dapat terlayani oleh tempat sentral (sebelumnya kita menggambarkannya dalam bentuk lingkaran). Selain itu tempat sentral dibagi menjadi tiga tingkatan atau hirarki yaitu hirariki 3, hirarki 4 dan hirarki 7.

a. Hirarki 3 merupakan pusat pelayanan berupa pasar yang selalu menyediakan barang atau jasa bagi daerah sekitarnya, sering dinamakan sebagai kasus pasar optimal. Nah, wilayah ini selain mempengaruhi wilayahnya sendiri juga dapat mempengaruhi sepertiga bagian dari masing-masing wilayah tetangganya (Eko Titis Prasongko, hal 108).

b. Hirarki K = 4, yaitu wilayah ini dan daerah sekitarnya yang terpengaruh dapat memberikan kemungkinan jalur lalu lintas yang paling efisien. Nah, tempat sentral ini disebut pula situasi lalu lintas yang optimum. Situasi lalu-lintas yang optimum ini memiliki pengaruh setengah bagian di masing-masing wilayah tetangganya (Eko Titis Prasongko, hal 108).

c. Hirarki K = 7, yaitu wilayah ini selain mempengaruhi wilayahnya sendiri, juga mempengaruhi seluruh bagian (satu bagian) masing-masing wilayah tetangganya. Wilayah ini disebut juga situasi administratif yang optimum. Situasi administratif yang dimaksud dapat berupa kota pusat pemerintahan. Pengaruh tempat yang sentral dapat diukur berdasarkan hirarki tertentu, dan bergantung pada luasan heksagonal yang dilingkupinya (Eko Titis Prasongko, hal 108). Nah, kita bisa melihat ilustrasinya di bawah ini.

Tiga asas tempat sentral menurut Christaller
Gambar. Tiga asas tempat sentral menurut Christaller (Eko Titis Prasongko)

B. Teori Losch

Teori Losch merupakan teori yang dikemukakan oleh Losch, seorang ahli ekonomi berkebangsaan Jerman. Teori ini merupakan penyempurnaan dari teori tempat sentral. Disini kita juga mengenal dua istilah ambang dan jangkauan. Ia menjelaskan bentuk atau pola seperti di bawah ini.

Perbedaan pokok masing-masing prinsip optimal
Gambar. Perbedaan pokok masing-masing prinsip optimal (Sumber: Danang Endarto)

Gambar di atas mencerminkan progresi wilayah pasaran (wilayah disekitar tempat pusat) untuk berbagai barang dan jasa dengan ambang yang semakin meningkat. Disini telihat lebih kompleks dimana wilayah pasaran-pasaran yang berbentuk heksagonal saling bertumpukan. Kita bisa membayangkan bila wilayah itu membesar, maka yang akan lebih cepat berkembang adalah wilayah yang penduduknya padat dengan wilayah yang luas. Selain itu Losch juga mengenalkan jalur transportasi yang dinamakan sebagai bentang lahan ekonomi. Jalur transportasi juga memiliki peran dalam memajukan atau mengembangkan suatu wilayah (Baca juga: Pengertian Wilayah).

[color-box]Anjayani, Eni.2009. Geografi untuk Kelas XII SMA/MA. Klaten: PT.Cempaka Putih.
Endarto, Danang.2009.Geografi 3 untuk SMA/MA Kelas XII.Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Titis Prasongko, Eko.2009. Geografi 3 : Untuk Siswa Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas XII. Bandung: CV Acarya Media Utama.[/color-box]

Teori Pusat Pertumbuhan

Sebelum membahas teori pusat pertumbuhan alangkah baiknya kita memulainya dengan mengetahui apa pengertian pusat pertumbuhan itu sendiri. Nah, pusat pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu wilayah atau kawasan yang perkembangannya atau pertumbuhannya sangat pesat terutama disektor ekonomi dan ilmu pengetahuan.

Oleh karena perkembangannya sangat pesat, wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan biasanya digunakan sebagai pusat administrasi suatu pemerintahan. Bahkan lebih dari itu, wilayah ini juga sering digunakan sebagai pusat penmbangunan bagi daerah-daerah di sekitarnya. Mengapa? karena diharapkan kemajuan dari wilayah tersebut dapat menular ke daerah di sekitarnya. Dengan kata lain, menularkan dampak positif kepada daerah lainnya.

Dalam bukunya, Eni Anjayani menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mendukung munculnya pusat pertumbuhan antara lain sumber daya alam, sumber daya manusia, kondisi lokasi dan fasilitas penunjang yang ada.

a. Sumber daya alam dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di sekitarnya. Misalnya dapat membuka lowongan pekerjaan bagi masyarakat, tumbuhnya usaha mikro penunjang seperti kos-kosan, warung makan dan sebagainya. Selain itu, adanya sumber daya alam dapat memberikan pemasukan bagi pemerintah daerah.

b. Sumber daya manusia merupakan faktor penting yang dapat menunjang adanya suatu pusat pertumbuhan. Bagaimana tidak? manusia merupakan pelaku yang menentukan serta mengembangkan suatu wilayah sehingga dapat menjadi daerah yang maju.

c. Kondisi lokasi dapat menentukan apakah suatu wilayah dapat menjadi pusat pertumbuhan atau tidak. Wilayah yang strategis menawarkan kemudahan dalam hal transportasi dan pendistribusian barang sehingga wilayah yang demikian akan lebih mudah menjadi pusat pertumbuhan.

d. Fasilitas merupakan faktor penting yang dapat membantu percepatan pertumbuhan suatu wilayah. Fasilitas disini antara lain jaringan listri, telepon, internet, air bersih, gedung administrasi, jalan raya, terminal, pelabuhan, bandara dan sebagainya.

Nah, pembentukan wilayah pusat pertumbuhan bisa terjadi secara alami maupun sudah terencana. Dalam prakteknya, pembentukan wilayah ini mengacu pada teori pusat pertumbuhan. Apasajakah itu? antara lain teori polarisasi ekononomi, teori kutub pertumbuhan (Growth Poles Theory), teori pusat pertumbuhan, teori sektoral, teori tempat sentral dan teori Losch.

a. Teori polarisasi ekonomi

Gunar Myrdal merupakan pencetus teori ini. Ia berpendapat bahwa daerah yang memiliki pusat pertumbuhan akan sangat menarik bagi para pemodal, tenaga kerja, tenaga terampil dan barang-barang dagangan sehingga dalam waktu yang lama akan memunculkan dua dampak yaitu postif dan negatif. Dampak positifnya antara lain membuka lowongan pekerjaan, menaiknya upah buruh, masuknya investasi dan sebagainya. Sedangkan dampak negatifnya yaitu adanya ketimpangan wilayah di sekitarnya sehingga memunculkan kriminalitas, kesenjangan sosial, kerusakan alam dan sebagainya. Nah, daerah yang mendapatkan dampak negatif ini merupakan daerah-daerah pinggiran.

b. Teori kutub pertumbuhan

Perroux (1950) yang merupakan seorang ahli ekonomi dari Prancis merupakan pencetus teori ini. Ia berpendapat bahwa pembangunan tidak terjadi secara serentak di semua wilayah akan tetapi berasal dari kutub-kutub pertumbuhan. Kutub-kutub pertumbuhan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang dinamis. Misalnya adanya universitas dapat membuat adanya hubungan usaha-usaha ekonomi yang dinamis disekitarnya (kekuatan sentripetal) seperti tempat kos, rental foto copy, servise komputer, toko peralatan menulis dan sebagainya. Akan tetapi selain itu, ada juga usaha-usaha yang baru namun tidak ada hubungannya secara langsung dengan adanya universitas (kekuatan sentrifugal), misalnya warung makan, toko-toko kebutuhan sehari-hari, laundry dan lain-lain.

c. Teori pusat pertumbuhan

Teori ini dikemukakan oleh Boudeville yang merupakan seorang ahli ekonomi dari Prancis. Ia berpendapat bahwa pusat pertumbuhan merupakan kumpulan dari semua fenomena geografis yang ada di permukaan bumi. Suatu wilayah yang memiliki industri yang memiliki pengaruh yang besar terhadap kegiatan lainnya dapat dikatakan sebagai pusat pertumbuhan.

d. Teori sektoral

Teori ini dikemukakan oleh Holmer Hoyt. Sedikitnya kita telah membahas teori ini pada artikel berjudul Struktur Ruang Kota.

Nah, dari teori pusat pertumbuhan di atas, kita jadi memahami bahwa untuk merencanakan suatu wilayah pusat pertumbuhan dilakukan bukan tanpa ilmu (asal-asalan) melainkan ada teori yang digunakan sebagai pertimbangan utamanya. Untuk teori tempat sentral dan teori Losch akan kita bahas pada halaman selanjutnya.

[color-box]Anjayani, Eni.2009. Geografi untuk Kelas XII SMA/MA. Klaten: PT.Cempaka Putih.
Endarto, Danang.2009.Geografi 3 untuk SMA/MA Kelas XII.Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Titis Prasongko, Eko.2009. Geografi 3 : Untuk Siswa Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas XII. Bandung: CV Acarya Media Utama.[/color-box]

Pembagian Wilayah Indonesia

Pembagian wilayah Indonesia berdasarkan waktu

Pembagian Wilayah Indonesia – Setiap wilayah memiliki ciri khas tersendiri yang mampu membuatnya menjadi berbeda dengan wilayah lain. Seperti halnya yang telah kita bahas pada halaman “pengertian wilayah dan jenis-jenis wilayah“, bahwa ciri khas inilah yang nantinya kita gunakan sehingga kita bisa membedakan wilayah geografi.

Pembagian wilayah Indonesia berdasarkan waktu
Gambar. Peta pembagian wilayah Indonesia berdasarkan waktu (Sumber: saripedia.wordpress.com

Nah, sebagai contohnya disini pembagian wilayah di Indonesia kita bagi berdasarkan waktu, bentuk dasar lautnya, geologi serta keadaan fauna dan floranya.

1. Pembagian Wilayah Indonesia Berdasarkan Waktu

Berdasarkan waktunya, wilayah Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga wilayah yaitu indonesia bagian barat, tengah dan timur. Hal ini disebabkan karena wilayah timur hingga barat memiliki selisih waktu sekitar 3 jam.

a. Daerah Waktu Indonesia Barat (WIB) didasarkan pada meredian pangkal 105°BT yang meliputi daerah Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Jawa. Daerah ini memiliki selisih waktu 7 jam dengan daerah Greenwich di Inggris.

b. Daerah Waktu Indonesia Tengah (WITA) didasarkan pada meredian pangkal 120°BT yang meliputi daerah Bali, NTB, NTT, Kalimantan timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi. Daerah ini waktunya lebih cepat 1 jam dari daerah WIB dan selisih 8 jam dengan daerah Greenwich di Inggris.

c. Daerah Waktu Indonesia Timur (WIT) didasarkan pada meredian pangkal 135°BT yang meliputi daerah kepulauan Maluku dan Papua. Daerah ini lebih cepat 2 jam daripada dari daerah WIB dan selisih 9 jam dengan daerah Greenwich di Inggris.

2. Pembagian Wilayah Indonesia Berdasarkan Bentuk Dasar Laut

Berdasarkan bentuk dasar lautnya, wilayah Indonesia dapat kita bagi menjadi tiga wilayah yakni:

a. Paparan Sunda dulunya merupakan bagian dari daerah Asia Tenggara yang pada akhirnya sebagian daratannya tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Daratan yang tidak tenggelam akhirnya menjadi Pulau Sumatra, Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya.

b. Paparan Sahul dulunya berupa daratan yang menyatukan Pulau Papua dengan Benua Australia namun telah tenggelam ketika permukaan air laut naik.

c. Dasar Laut Peralihan merupakan daerah yang bukan merupakan bagian dari paparan sunda dan paparan sahul. Daerah ini memiliki cekungan-cekungan dalam yang terdapat di daerah laut Sulawesi, Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.

3. Pembagian Wilayah Indonesia Berdasarkan Rangkaian Pegunungan

Danang Endarto (2009) dalam bukunya halaman 126 menjelaskan bahwa berdasarkan rangkaian pegunungan, wilayah Indonesia dapat kita bagi menjadi dua macam wilayah, yakni.

a. Pegunungan Sirkum Mediterania merupakan rangkaian atau rentetan pegunungan panjang di sekitar laut tengah yaitu Afrika Utara, Alpen, Spanyol, Alpenina dan Semenanjung Balkan yang kemudian membujur ke pegunungan Himalaya lalu masuk ke negara Asia Tenggara seperti Myanmar, Malaysia dan Indonesia.

Ada dua jalur masuknya rentetan pegunungan ini yaitu:

1) Busur dalam melalui pegunungan Bukit Barisan di Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Alor, Wetar dan berakhir di Kepulauan Banda (bersifat vulkanis).

2) Busur luar melalui pulaupulau di sebelah barat Pulau Sumatra (Pulau Simeuleu, Pulau Nias, Kepulauan Mentawai, Pulau Enggano), menyeberang ke pegunungan bawah laut di sebelah selatan Pulau Jawa, Sumba, Timor, Kepulauan Babar, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Kei, Pulau-pulau Gorom, Seram, Ambon, dan berakhir di pulau Buru (bersifat nonvulkanis).

b. Pegunungan Sirkum Pasifik merupakan rangkaian pegunungan yang dimulai dari Pegunungan Los Andes di Amerika Selatan lalu menuju pegunungan di Amerika Tengah dan Rocky Mountain di Amerika Utara. Darisini kemudian bersambung ke Kepulauan Aleuten, Jepang, Filipina lalu masuk ke wilayah Indonesia melalui tiga jalur, yakni Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi dan Kepulauan di Halmahera berlanjut ke “wilayah yang seperti kepala burung” Papua kemudian berlanjut membentuk tulang punggung pegunungan di Papua lalu masuk ke benua Australia dan berakhir di Selandia Baru.

4. Pembagian Wilayah Indonesia Berdasarkan Fauna dan Flora

Nah, untuk pembagian wilayah berdasarkan fauna dan flora, kita bahas lebih lengkap di artikel berjudul Persebaran Fauna di Indonesia dan Persebaran Flora di Indonesia.

[color-box]Anjayani, Eni.2009. Geografi untuk Kelas XII SMA/MA. Klaten: PT.Cempaka Putih.
Endarto, Danang.2009.Geografi 3 untuk SMA/MA Kelas XII.Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Titis Prasongko, Eko.2009. Geografi 3 : Untuk Siswa Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas XII. Bandung: CV Acarya Media Utama.[/color-box]

Pengertian Wilayah dan Jenis-Jenis Wilayah

Wilayah hutan cemara memiliki ciri-ciri khusus sehingga bisa dibedakan dengan daerah lain

Pengertian Wilayah dan Jenis-Jenis Wilayah

Dalam ilmu geografi, memahami pengertian wilayah dan jenis-jenis wilayah sangatlah penting karena ilmu geografi sendiri merupakan ilmu yang mendasarkan diri pada analisis interelasi keruangan antar gejala geografi pada suatu region atau wilayah. Untuk itu di Siswapedia sendiri, pembahasan terkait wilayah juga dimasukan dalam bab tersendiri yaitu Bab 17 Wilayah dan Perwilayahan.

Wilayah hutan cemara memiliki ciri-ciri khusus sehingga bisa dibedakan dengan daerah lain
Gambar. Wilayah hutan cemara memiliki ciri-ciri khusus sehingga bisa dibedakan dengan daerah lain (Foto: Siswa Team)

Di halaman ini pembahasan akan meliputi dua pokok yaitu pengertian wilayah menurut beberapa ahli dan jenis-jenis wilayah.

A. Pengertian Wilayah

Berikut pengertian wilayah menurut beberapa ahli:

1. Menurut R. E. Dickinson, wilayah adalah sesuatu yang kondisisi fisiknya homogen.

2. Menurut Taylor, wilayah adalah bagian dari permukaan bumi yang berbeda dan ditunjukkan oleh sifat-sifat yang berbeda dan ditunjukkan oleh sifat-sifat yang berbeda dari lainnya.

3. Menurut A. J. Hertson, wilayah adalah komplek tanah, udara, air, hewan, tumbuhan dan manusia dengan hubungan khusus sebagai kebersamaan yang kelangsungannya mempunyai karakter khusus dari permukaan bumi.

4. Menurut Fannemar, wilayah adalah area yang digolongkan melalui kenampakan permukaan yang sama dan dikontraskan dengan area sekitarnya.

Selain pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas. Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 47 Tahun 1997 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional juga mendefinisikan wilayah. Wilayah didefinisikan sebagai ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/aspek fungsional.

Meski terlihat berbeda-beda dalam mendefinisikan wilayah namun kita bisa menyimpulkan (dari keterangan di atas) bahwa wilayah merupakan daerah yang memiliki ciri-ciri tertentu sehingga dapat dibedakan dengan daerah-daerah sekitarnya. Kita bisa ambil contoh misalnya wilayah hutan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan wilayah pertanian, wilayah perkotaan memiliki ciri yang berbedaan dengan wilayah pedesaan dan sebagainya.

B. Jenis-Jenis Wilayah

Wilayah atau perwilayahan, dalam ilmu geografi terkadang disebut dengan istilah lain yaitu geografi regional. Dalam bukunya, Eko Titis Prasongko menjelaskan bahwa kita dapat membedakan wilayah geografi berdasarkan unsur-unsur fisik, misalnya, wilayah geologi (geological region), wilayah jenis tanah (soil region), wilayah iklim (climatic region), dan wilayah vegetasi (vegetation region).

Selain itu, kita juga dapat membedakan wilayah berdasarkan unsur sosial budaya manusia seperti wilayah bahasa (linguistic region), wilayah ekonomi (economic region), wilayah sejarah (historical region) dan wilayah politik (political region) seperti halnya batas negara-negara di dunia.

Jika berbicara tentang jenis-jenis wilayah menurut para ahli, kita akan menemukan pembagian yang berbeda-beda. Akan tetapi, semuanya tidak terlepas dari unsur fisik dan sosial budaya seperti yang telah kita jelaskan di atas.

1. Berdasarkan kekhasannya, wilayah dapat dibedakan menjadi dua jenis.

a. Wilayah yang didasarkan atas konsep homogenitas disebut juga wilayah formal atau homogeneous atau uniform region, misalnya: wilayah bentuk ekonomi dan wilayah bentuk lahan.

b. Wilayah yang didasarkan atas konsep heterogenitas disebut juga wilayah fungsional atau nodal region atau organic region, contohnya: kota metropolitan.

2. Dalam geografi dikenal tiga kriteria pewilayahan dengan ciri-ciri sebagai berikut.

a. Pewilayahan berciri tunggal atau single topic region yakni penetapan region atau wilayah yang didasarkan pada salah satu aspek geografi. Contoh: tekanan udara bisa kita gunakan untuk membedakan antara wilayah dataran rendah dan wilayah dataran tinggi.

b. Pewilayahan berciri majemuk atau multi topic region yakni penetapan wilayah yang didasarkan pada beberapa faktor geografi. contohnya yaitu penetapan wilayah berdasarkan kondisi iklim di daerah tersebut. Nah dalam penetapan iklim pasti akan kita gunakan beberapa faktor geografi seperti angin, intensitas cahaya, suhu, curah hujan dan sebagainya.

c. Pewilayahan berciri keseluruhan atau total region yakni penetapan wilayah yang didasarkan pada banyak faktor menyangkut lingkungan alam, lingkungan manusia maupun lingkungan biotik. Kita ambil contoh, misalnya dalam penetapan wilayah hutan pinus, hutan cemara, hutan jati dan sebagainya.

[color-box]Anjayani, Eni.2009. Geografi untuk Kelas XII SMA/MA. Klaten: PT.Cempaka Putih.
Endarto, Danang.2009.Geografi 3 untuk SMA/MA Kelas XII.Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Titis Prasongko, Eko.2009. Geografi 3 : Untuk Siswa Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas XII. Bandung: CV Acarya Media Utama.[/color-box]