Permasalahan pendidikan

permasalahan pendidikan di Indonesia
Permasalahan pendidikan di Indonesia beserta contohnya

Permasalahan pendidikan didefinisikan sebagai segala macam bentuk masalah yang terdapat didalam pelaksanaan kegiatan di dunia pendidikan.

Masalah-masalah ini secara umum muncul diberbagai bentuk pendidikan, baik dipendidikan formal (pendidikan resmi di sekolah), non formal (pendidikan yang dikelola diluar sistem sekolah resmi) dan informal (pendidikan yang diperoleh dari pengalaman hidup).

Akan tetapi, pada halaman ini kita batasi hanya akan membahas beberapa contoh masalah pendidikan formal saja yang terjadi di Indonesia.

Contoh Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Ada beberapa poin masalah pendidikan yakni terkait tenaga pengajar, infrastruktur, kurikulum dan pelanggaran etik.

A. Masalah tenaga pengajar (guru)

Pada tenaga pengajar terdapat beberapa persoalan diantaranya:

1. Gaji guru yang terbilang masih rendah

Di Indonesia, guru yang mendapatkan gaji tinggi (setidaknya sesuai dengan UMR di daerah masing-masing) merupakan guru yang telah lolos sebagai pegawai negeri. Padahal, selain guru dengan status pegawai negeri adapula guru honorer.

Nah, guru honorer inilah yang digaji masih jauh dari kata layak. Di beberapa daerah, seorang guru honorer hanya diberi upah Rp 300.000 – Rp500.000/bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali.

2. Adanya ketimpangan jumlah dan kualitas guru

Masalah pendidikan selanjutnya yaitu adanya ketimpangan jumlah dan kualitas pengajar yang ada di kota dengan yang ada di pelosok.

Guru-guru berkualitas banyak tersebar di wilayah perkotaan namun di daerah pelosok seorang guru bisa saja harus mengajar beberapa kelas bahkan beberapa mata pelajaran sekaligus akibat dari kekurangan jumlah pengajar.

Problem ini bukan tanpa sebab. Faktor fasilitas pendukung, segala kemudahan yang ditawarkan dan infrastruktur yang jauh lebih baik di perkotaan membuat banyak pengajar lebih memilih untuk mengabdi dan tinggal di perkotaan daripada di pelosok.

3. Pendidik tidak punya kemampuan menggali potensi siswa

Setiap anak punya potensi masing-masing. Ada yang berbakat dibidang seni, perhitungan matematik, olah raga atau yang lainnya dimana diperlukan peran seorang pendidik untuk menggali, mencari tahu dan mengarahkan potensi anak sesuai bakat dan minatnya masing-masing.

Permasalahannya, tidak semua pendidik bisa melakukan peran ini. Banyak pendidik justru memaksakan kehendaknya tanpa melihat bakat, potensi dan minat anak.

B. Masalah infrastruktur

Masalah infrastruktur sangat mempengaruhi berjalannya kegiatan pendidikan, baik infrastruktur utama dan infrastruktur pendukung yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas siswa itu sendiri.

Infrastruktur utama ini meliputi kelayakan bangunan sekolah, kelengkapan alat peraga, adanya perpustakaan, kualitas meja kursi siswa, sanitasi yang buruk dan kurang nyamannya lingkungan sekolah.

Sedangkan infrastruktur pendukung lainnya seperti listrik, sinyal seluler, kualitas jalan menuju sekolah dan tidak adanya angkutan transportasi yang memadai menjadi persoalan yang harus dibenahi oleh pemerintah.

C. Masalah Kurikulum

Ada beberapa persoalan terkait kurikulum di sekolah diantaranya:

1. Kurikulum yang ada diterapkan kepada semua siswa tanpa melihat apakah kurikulum tersebut sesuai dengan bakat dan minat siswa.

Misalnya seorang siswa yang berbakat sebagai atlit sepakbola dibebani dengan pelajaran matematika sebagai syarat kelulusan, padahal pelajaran ini tidak begitu penting untuk menumbuhkembangkan bakat siswa tersebut sebagai atlit.

2. Kebijakan sering bergonta ganti seiring dengan pergantian pejabat terkait, sehingga proses pembelajaran menjadi tidak efektif, misalnya penerapan kurikulum yang lama belum beradaptasi dengan baik tapi sudah dibebani dengan kurikulum model baru.

3. Kurikulum yang disusun tidak mampu menjawab kebutuhan dunia kerja serta tidak bisa beradaptasi dengan perkembangan global.

4. Kurikulum terlalu banyak teori daripada keterampilan praktis sehingga menghambat perkembangan kreativitas dan keterampilan yang relevan.

Hal ini tak jarang membuat para siswa menjadi tidak mengerti terkait pengaplikasian ilmu yang telah dipelajari bahkan ada yang bingung terkait manfaat ilmu tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena kurangnya pengembangan kreativitas dan keterampilan, maka lulusan yang dihasilkan menjadi orang yang kurang kreatif, hanya pintar sebagai pencari kerja dan bukan sebagai pembuat lapangan pekerjaan.

5. Pendidikan yang baik itu harus mampu menghasilkan lulusan yang punya karakter baik. Itu artinya selain pintar, terampil dan kreatif namun juga berakhlak mulia dan berbudi luhur.

Untuk mewujudkan hal ini, maka hendaknya sebuah kurikulum itu harus mencakup penguasaan materi yang menekankan kecerdasan akal dan batiniyah secara seimbang.

Persoalannya, kurikulum selama ini lebih dominan ditujukan penguasaan materi yang menekankan kecerdasan akal daripada kecerdasan batiniyah atau spiritualitas sehingga tidak heran bila terjadi degradasi moral dan akhlak yang buruk pada peserta didik.

D. Perilaku tidak etis

Ada beberapa perilaku yang tidak etis sehingga memperparah permasalahan di dunia pendidikan.

1. Adanya pungutan liar yang dilakukan oleh pihak sekolah sehingga membebani orang tua murid.

2. Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak perlu namun sengaja digelar guna memperoleh bagi hasil keuntungan dari pihak ketiga.

3. Oknum pengajar berdagang makanan, buku LKS dan sebagainya di kelas sehingga siswa terpaksa harus membeli karena adanya desakan.

4. Oknum pengajar membuka les privat di rumahnya dimana siswa yang ikut les pasti mendapatkan kisi-kisi soal ulangan yang lebih akurat daripada siswa yang tidak ikut les. Hal ini membuat nilai siswa yang ikut les mendapatkan nilai yang lebih tinggi.

5. Penyalahgunaan pengggunaan dana bantuan operasional sekolah.

6. Markup anggaran pengadaan dan pembangunan sekolah yang dilakukan oleh oknum terkait.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *