Perkembangbiakan Virus atau Replikasi Virus

Pada halaman ini kita akan membahas tentang perkembangbiakan virus atau replika virus. Virus memiliki cara berkembang yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya, oleh karena itu ada yang bilang bahwa virus bukanlah termasuk makhluk hidup. Ia tidak bisa hidup mandiri dan akan menggantungkan sel lain untuk menjadi sel inang agar bisa mereplika dirinya sendiri. Virus akan masuk kedalam sebuah sel inang yang kemudian mereplikasi asam nukleat dan mensintesis protein selubungnya. Setelah proses replika berakhir, virus akan keluar dari sel inang dan akibat proses replika yang dilakukan oleh virus ini, maka sel inang akan mengalami kerusakan. Kita menyebut virus yang sudah keluar dari sel inang ini dengan sebutan virion.

Bagi virus, protein merupakan materi genetik dasar yang menunjukan kehidupan. Para ilmuwan mengerti tentang virus dengan cara meneliti jenis virus Faga. Virus faga merupakan virus yang cukup dikenal daripada virus-virus yang lain. Dari mempelajari virus ini, para peneliti bisa mengetahui bahwa beberapa virus ber-DNA untai ganda dapat bereproduksi dengan menggunakan dua mekanisme alternatif yaitu siklus litik dan siklus lisogenik.

Replikasi virus secara litik

Gambar. Replikasi virus secara litik (Sumber: Pelczar,M.J. dan Chan,1986)

A. Siklus Litik

Siklus lisis merupakan siklus reproduksi atau replikasi genom virus yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel inang. Nah, virus yang hanya dapat bereplikasi melalui siklus lisis ini dinamakan virus virulen.

Siklus litik terjadi melalui 5 tahap yakni: absorpsi, injeksi, sintesis (pembentukan), perakitan dan litik. Pada tahap absorpsi dan injeksi, virus akan menempelkan ekornya pada sel inang yang mengandung protein yang cocok dengan protein milik virus. Setelah menempel, virus akan mengeluarkan enzim lisozim yang dapat menghancurkan atau membuat lubang pada sel inang.

Pada tahap injeksi, virus akan menyuntikan DNA kedalam sel inang. Proses ini meliputi penambatan lempeng ujung, kontraksi sarung dan penusukan pasak berongga ke dalam sel bakteri. Lalu asam nukleat akan masuk ke dalam sel. Adapun selubung proteinnya tetap akan berada di luar sel inang, bila sudah kosong selubung ini akan terlepas.

Pada tahap sintesis, virus akan mengambil kontrol segala aktivitas metabolisme sel inang setelah penyuntikan asam nukleat. Kemudian virus akan menghancurkan DNA sel inang kemudian menggantinya dengan DNA milik virus hingga akhirnya virus dapat mengendalikan semua kehidupan sel inang. Bila sel inang ini merupakan sel dari sebuah bakteri, maka bisa dikatakan bahwa virus telah mengkontrol aktivitas bakteri tersebut. Peristiwa ini akan terus berlanjut dimana DNA virus akan mereplika dirinya sendiri dalam jumlah yang sangat besar hingga membentuk kapsid virus.

Setelah itu akan tiba tahap perakitan dimana kapsid virus yang masih terpisah-pisah antara kepala (berisi DNA virus), ekor dan serabut ekor akan mengalami proses perakitan menjadi kapsid yang utuh. Proses ini dapat menghasilkan 200 virus.

Tahap terakhir yaitu tahap litik dimana dinding sel inang yang oleh enzim lisozim dibuat menjadi lunak sehingga virus-virus baru dapat bebas yang kemudian tiap virus akan mencari sel inang yang baru lagi, begitu seterusnya. Waktu pemecahan sel inang ini bervariasi tergantung jenis virus, jenis sel inang atau keadaan lingkungan.

B. Siklus Lisogenik

Siklus lisogenik terkadang digunakan oleh virus lamda meskipun virus lamda juga bisa melakukan siklus litik. Pada siklus ini, tahap absorpsi dan injeksi sama dengan siklus litik hanya saja tahapan selanjutnya ada sedikit perbedaan.

Replikasi virus secara lisogenik

Gambar. Replikasi virus secara lisogenik (Sumber: Pelczar,M.J. dan Chan, 1986)

Setelah tahap absorpsi dan injeksi, tahap pada siklus ini adalah tahap penggabungan. Pada tahap penggabungan, DNA virus masuk ke dalam tubuh bakteri dan terjadinya penggabungan antara DNA bakteri dan DNA virus. Proses ini terjadi ketika DNA yang berbentuk kalung tak berujung pangkal terputus dan DNA virus menyisip di antara DNA bakteri yang terputus tadi. Kemudian, terbentuklah rangkaian DNA yang utuh yang telah terinfeksi atau tersisipi DNA virus.

Pada tahap pembelahan, DNA virus telah tersambung dengan DNA bakteri. DNA virus tidak dapat bergerak atau disebut sebagai profag. Oleh karena tidak dapat bergerak, maka disetiap pembelahan sel inang akan disertai pembelahan profag juga sehingga jumlah sel inang pada bakteri bisa sama dengan jumlah profag.

Pada tahap sintesis, profag dalam kondisi lingkungan tertetu dapat menjadi bergerak sehingga bisa meninggalkan sel inang. Namun sebelumnya, virus akan merusak DNA sel inang terlebih dahulu yang kemudian menggantinya dengan DNA milik virus sehingga menjadikan sel inang sebagai kapsid untuk memproduksi virus-virus yang baru.

Tahap perakitan merupakan tahap dimana terjadi perakitan kapsid-kapsid virus yang kemudian menjadi virus yang utuh. Segangkan tahap terakhir adalah tahap litik dimana dinding sel akan pecah dan virus akan keluar menyebar. Dan virus siap untuk menyerang sel bakteri lainnya.

Anshori, Mochammad dan Djoko Martono.2009.Biologi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)-Madrasah Aliyah (MA) Kelas X.Bandung:Penerbit Acarya Media Utama.
Pelczar, M.J., and Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Sulistyorini, Ari.2009.Biologi 1 : Untuk Sekolah menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X.Jakarta:PT. Balai Pustaka.

Tim Siswapedia

"Kami mendukung pendidikan gratis di Indonesia"

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan