Jagat Raya (The Universe)

Alam semesta atau jagat raya (The Universe) – Bila kita melihat langit yang cerah di malam hari, maka akan nampak bintang-bintang yang bersinar dengan bermacam-macam warna. Jumlahnya bisa ratusan hingga ribuan, tapi apakah jumlahnya hanya segitu? atau di luar angkasa sana hanya ada bintang-bintang saja?, ini sungguh pertanyaan yang menarik.

Di alam semesta atau jagat raya (The Universe) jumlah bintang bukan lagi dalam skala ratusan atau ribuan melainkan mencapai ratusan juta bahkan jumlahnya bisa sampai tak terhitung (karena sangat banyak sehingga kita sulit untuk menghitungnya secara pasti). Dilain sisi kemampuan indra mata pada manusia yang terbatas serta adanya serapan cahaya oleh atmosfer bumi dan materi antar bintang (Baca: Absorbsi Cahaya Oleh Atmosfer Bumi dan Absorbsi Cahaya Oleh Materi Antar Bintang) membuat kita semakin sulit untuk melihat objek luar angkasa. Lalu apa solusinya untuk mengatasi keterbatasan ini?.

Solusi yang bisa dilakukan oleh ilmuwan saat ini adalah meniadakan faktor absorbsi (penyerapan) cahaya oleh atmosfer bumi yaitu dengan cara membangun satelit luar angkasa yang mengorbit di luar atmosfer bumi dan mengirimkan robot ke planet terdekat. Dengan bantuan sensor-sensor yang terpasang di satelit dan robot setidaknya itu bisa menggantikan fungsi manusia saat melakukan pengamatan dan pengambilan sampel terkait objek luar angkasa.

Nah, sebagai tahap awal untuk memahami tentang jagat raya (the universe) ini, maka di halaman ini kita akan membahas tentang pengertian jagat raya dan teori yang menjelaskan tentang teori terbentuknya jagat raya.

A. Pengertian Jagat Raya (the universe)

Alam semesta atau jagat raya merupakan ruang yang batasnya masih belum diketahui secara pasti dimana di dalamnya terdapat bermacam-macam materi, radiasi dan energi. Materi seperti bintang, planet, satelit, galaksi, asteroid, meteor dan nebula hanyalah bagian kecil dari materi yang ada di alam semesta yang diketahui oleh manusia. Selebihnya, secara mendalam manusia belum bisa mengetahuinya sehingga ini masih menjadi bagian misteri alam semesta hingga saat ini.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa bumi ini merupakan planet yang berukuran sangat kecil di alam semesta dimana bumi selalu melakukan revolusi atau gerak mengitari matahari sebagai pusat tata surya. Sedangkan matahari sendiri merupakan salah satu dari dua ratusan miliar bintang yang ada di galaksi bima sakti. Sedangkan galaksi bima sakti itu ternyata hanyalah salah satu dari ratusan miliar galaksi yang ada di alam semesta. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa membaca artikel berjudul “Pemahaman Posisi Bumi di Alam Semesta”.

B. Teori Terbentuknya Jagat Raya (the universe)

Salah satu misteri alam semesta yaitu terkait terbentuknya alam semesta itu sendiri. Banyak tokoh-tokoh yang mencoba menguak misteri alam semesta yang satu ini melalui sejumlah teori dan gagasan. Akan tetapi tetap saja, kebenaran yang pasti masih belum terungkap sepenuhnya.

1. Teori Ledakan Besar atau The Big Bang Theory

Salah satu teori pembentukan jagat raya adalah teori Ledakan Besar (The Big Bang Theory). Foto: d4nations.com

Salah satu teori pembentukan jagat raya adalah teori Ledakan Besar (The Big Bang Theory). Foto: d4nations.com

Teori bigbang dimulai dari adanya penemuan bahwa alam semesta itu mengembang yaitu pada tahun 1929. Adalah Edwin Hubble yang melakukan pengamatan berbagai galaksi di alam semesta relatif terhadap bumi. Darisini terungkap bahwa telah terjadi pergeseran merah dari spektrum galaksi yang diamati. Ini menandakan bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauhi bumi. Dan yang menariknya adalah ternyata setiap galaksi menjauhi bumi dengan kecepatan yang berbeda dimana semakin jauh dari bumi kecepatannya justru semakin bertambah.

Apa bumi merupakan pusat pengembangan alam semesta? bukan, bumi bukanlah pusat pengembangan alam semesta melainkan hanya sebagai acuan pengamatan saja, alam semesta mengembang tanpa pusat. Ini bisa dibayangkan seperti balon yang kita beri bintik-bintik kemudian kita tiup balon tersebut hingga mengembang. Jika dilihat secara 2 dimensi, maka akan terlihat bahwa bintik-bintik tersebut akan semakin menjauh satu dengan yang lainnya. Ini dikarenakan bintik-bintik tersebut bergeser ketika kita meniup balon tersebut dimana bintik yang terjauh akan lebih banyak bergeser daripada bintik yang dekat. Hal ini dikarenakan permukaan balon sama-sama meregang.

Nah, dari pengamatan Hubble ini kemudian disimpulkan bahwa bagian alam semesta atau jagat raya (the universe) semuanya mengembang secara bersamaan. Dan bila alam semesta mengembang tentunya akan ada saat dimana semua berada di titik yang sama. Sepuluh tahun yang lalu, tentu saja alam semesta tidak sebesar saat ini. Dan bila dirunut terus kebelakang, maka alam semesta akan berukuran sangat kecil karena termampatkan.

Bila alam semesta termampatkan dalam ukuran yang sangat kecil, tentu saja hal ini menyebabkan temperatur meningkat drastis bahkan bisa mencapai triliunan derajat. Ini berarti bahwa alam semesta atau jagat raya (the universe) awal mulanya memiliki suhu yang super panas dimana kemudian suhunya menurun atau semakin dingin seiring melakukan pengembangan. Lalu, pertanyaan muncul, dengan apa kemudian materi alam semesta mampu mengembang?.

Kita tahu bahwa gaya gravitasi hanya memiliki sifat menarik materi menuju pusat, bukan menolaknya sehingga yang membuat alam semesta ini mengembang bukanlah gaya gravitasi. Bagaimana dengan gaya tolak listrik?, gaya tolak listrik memang ada namun besarnya sangat kecil sehingga tidak mampu membuat alam semesta ini mengembang. Nah, untuk menjawab pertanyaan ini kemudian Abbe Georges Lemaitre pada tahun 1927 mengemukakan gagasan bahwa yang menyebabkan alam semesta ini mengembang adalah sebuah ledakan besar yang membuat materi terpental ke segala arah yang kemudian mengalami penurunan suhu. Inilah yang kemudian kita namakan Big Bang.

Kebenaran teori big bang juga mendapat dukungan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh George Gamov, Arno Penzias dan Robert Wilson (tahun 1964) yang menemukan bahwa suhu pada gelombang mikro di segala arah sebesar 2,7 K. Inilah suhu alam semesta saat ini yang merupakan sisa dari ledakan 13,7 milyar tahun yang lalu.

2. Teori Mengembang dan Memampat atau The Oscillating Theory

Model Teori Mengembang dan Memampat (The Oscillating Theory). Foto: ufaperioddspaceunit.wikispaces.com

Model Teori Mengembang dan Memampat (The Oscillating Theory). Foto: ufaperioddspaceunit. wikispaces.com

Teori osilasi mengemukakan pemikiran bahwa alam semesta mengalami dua siklus yaitu keadaan mengembang dan memampat. Satu siklusnya diperkirakan akan berlangsung selama 30 milyar tahun. Ketika siklus mengembang yang disebabkan oleh adanya reaksi inti hidrogen, terciptalah galaksi-galaksi. Keadaan ini akan terjadi terus menerus hingga akhirnya bintang-bintang akan mati dan memampat kemudian terjadi pengembangan lagi dan seterusnya. Teori ini sempat populer di tahun 70-an namun sudah ditinggalkan karena bertolak belakang dengan hukum kedua termodinamika.

Pengertian Jagat raya (the universe) ini merupakan pemahaman awal sebelum kita membahas lebih jauh tentang alam semesta seperti galaksi dan tata surya.

[color-box]Hartono.2007.Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta untuk Kelas X SMA/MA halaman 28-29. Jakarta: CV.Citra Praya.[/color-box]

Tim Siswapedia

Tim Siswapedia

"Kami mendukung pendidikan gratis di Indonesia"

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Syafi'ih berkata:

    Mantab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *