Konstelasi (Rasi) dan Asterism

Konstelasi (Rasi) dan Asterism – Sejak jaman peradaban kuno, bintang-bintang yang terlihat berdekatan yang menyerupai bentuk tertentu dikelompokan dan diberi nama. Kelompok bintang ini disebut sebagai konstelasi atau rasi. Dan pada tahun 1928, para ilmuwan di International Astronomical Union telah mampu meresmikan 88 nama rasi bintang. Penamaan rasi mengikuti penamaan dari peradaban Yunani Kuno. Selain itu terdapat pula pengelompokan diluar 88 rasi resmi yang dinamakan sebagai Asterism.

Selain memberikan nama pada kelompok bintang, peradaban kuno juga memberi nama pada bintang yang paling terang di hampir setiap rasi. Mayoritas nama-nama bintang berasal dari bahasa Arab kuno. Misal: Betelgeuse di rasi Orion dinamakan juga Yad Al Jawza (Lengan Jawza/Orion), Deneb di rasi Cygnus dinamakan juga Danab (ekor).

Pada tahun 1903, J. Bayer mengusulkan nama penamaan bintang berdasarkan urutan terangnya di sebuah rasi dengan label abjad Yunani dan nama genetif (turubab) rasinya.

Gambar: Penamaan rasi bintang menurut J. Bayer

Gambar: Penamaan rasi bintang menurut J. Bayer

Menyatakan letak bintang (bola langit)

Ketika mengamati bintang di langit malam, kita dapat menganggap bintang tersebut menepel pada sebuah kubah langit. Akibat rotasi bomi, bintang ini akan terlihat bergerak. Jika kita melihat dari tempat di ekuator bumi, bintang akan terlihat bergerak muncul dari arah timur dan tenggelam di arah barat.

Gambar: Bagian-bagian koordinat bintang

Gambar: Bagian-bagian koordinat untuk menyatakan letak bintang

Keterangan gambar:

Zenith merupakan titik di atas kepala.
Nadir merupakan titik di bawah kaki.
Garis meridian merupakan garis penghubung titik utara-zenit-titik selatan.
Horizon merupakan batas melingkar antara langit dan bumi.

Untuk menyatakan posisi binting digunakanlah 3 tata koordinat langit, yaitu: tata koordinat horizontal, tata koordinat equatorial dan tata koordinat ekliptika.

A. Tata koordinat horizon (Altitude-Azimuth)

Tata koordinat horizon menunjukan koordinat arah pandang (Azimuth) dan tinggi bintang (Altitude). Sudut Azimuth diukur dari titik utara kemudian bergerak searah dengan jarum jam (utara-timur-selatan-barat) sehingga utara = 0°, timur = 90°, selatan = 180° dan barat = 270°. Sedangkan sudut Altitude (tinggi) diukur dari horizon ke arah zenith sehingga zenith = 90° dan nadir = -90°.

Keunggulan dengan metode ini adalah mudah digunakan dan dapat dengan cepat dibayangkan, akan tetapi metode ini juga memiliki kelemahan yakni tidak dapat digunakan untuk menggambarkan posisi bintang secara umum karena selalu berubah menurut waktu dan letak pengamatan.

B. Tata koordinat equatorial (Right Ascension-Declination)

Posisi bintang dengan metode ini menggunakan dua posisi sudut yakni Asensio Rekta (RA) dan Deklinasi (Dec). RA dan Dec menyatakan koordinat bola langit yang memiliki analogi dengan bujur (logitude) dan lintang (latitude) yang menyatakan koordinat bumi.

Gambar: Tata koordinat equatorial

Gambar: Tata koordinat equatorial

Keterangan gambar:

Ekuator langit merupakan perpotongan perpanjangan bidang ekuator bumi pada bola langit.
Kutub langit merupakan titik sentuh perpanjangan poros rotasi bumi pada bola langit.
Deklinasi sepanjang ekuator labgit bernilai 0°.
Kutub langit utara memiliki deklinasi bernilai 90°.
Kutub langit selatan memiliki deklinasi bernilai -90°.

RA diukur dari sebuah titik di langit yang disebut sebagai titik aries yang analog dengan kota Greenwich di Inggris yang dijadikan sebagai penentu garis bujur di bumi. RA diukur dari titik aries kearah timur.

Titik aries disebut juga sebagai titik Vernal Equinox, yaitu titik pada ekuator langit yang menunjukan posisi matahari pada tanggal 21 Maret.

Oleh karena adanya presesi poros bumi pada saat berotasi, maka letak kutub langit dan ekuator langit berubah-ubah sehingga koordinat ekuator suatu bintang selalu disertai dengan tahun pengamatannya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *