Seisme atau Gempa Beserta Dampaknya

Gempa bumi menyebabkan bangunan roboh

Gambar. Gempa bumi menyebabkan bangunan roboh (Sumber: korantangerang.com)

Hampir selalu dalam proses dinamika bumi diikuti oleh gempa. Bahkan gempa selalu dijadikan tolak ukur dalam memprediksi atau mempelajari aktivitas vulkanis. Fenomena gempa merupakan gejala pelepasan energi berupa gelombang dari dalam bumi merambat ke permukaan bumi.

A. Macam-macam gempa bumi

Dalam upaya meminimalisir korban akibat bencana gempa bumi, maka perlu pemahaman terkait gejala alam gempa bumi itu sendiri sehingga ilmu terkait gempa bumi dapat diterapkan dalam membangun infrastruktur seperti rumah, jembatan, gedung dll agar tahan gempa.

Salah satu upaya dasar dalam memahami hal tersebut adalah dengan cara memahami berbagai jenis gempa. Nah, macam-macam gempa bumi dapat kita bedakan dalam lima macam yakni:

a. Gempa bumi berdasarkan jenisnya

Berdasarkan jenisnya, gempa bumi dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu;

1) Gempa bumi tektonik, yakni gempa bumi yang disebabkan oleh pergerakan lempeng-lempeng bumi dalam mencari titik keseimbangan. Dari semua gempa bumi yang terjadi, 93% termasuk gempa bumi tektonik. Gempa jenis ini dapat terjadi di tiga lokasi yakni di daerah lipatan, di daerah retakan dan di laut. Nah, jika gempa ini terjadi di laut, maka dapat berpotensi adanya gelombang tinggi atau yang disebut sebagai tsunami.

2) Gempa bumi vulkanis merupakan gempa bumi akibat akitivitas gunung api. Ada sekitar 7% gempa di bumi disebabkan oleh aktivitas vulkanis. Gempa jenis ini bisa terjadi sebelum letusan, saat letusan dan pasca letusan. Maka dengan menghitung kekuatan gempa adalah hal yang wajib apabila kita ingin memprediksi erupsi gunung api sehingga dapat meminimalisir korban.

3) Gempa bumi runtuhan atau gempa bumi terban diakibatkan karena terjadi reruntuhan di dalam rongga bumi misalnya, di gua, di daerah tambang dan di daerah kapur. Adapun tempat asal gempa disebut pusat gempa atau hiposentrum (hypo = bawah). Tempat di permukaan bumi yang tepat di atas hiposentrum disebut episentrum (epi = atas).

b. Gempa bumi berdasarkan kedalaman pusat gempa atau hiposentrum

Berdasarkan kedalaman pusat gempa, kita dapat membedakan gempa kedalam tiga jenis, yakni;

1) Gempa dalam yaitu jika hiposentrumnya terletak 300–700 km di bawah permukaan Bumi.

2) Gempa intermidier yaitu jika hiposentrumnya terletak 100–300 km di bawah permukaan Bumi.

3) Gempa dangkal yaitu jika hiposentrumnya kurang dari 100 km di bawah permukaan Bumi.

c. Gempa bumi berdasarkan bentuk episentrum

Berdasarkan betuk episentrum, kita dapat membedakan gempa menjadi 2 macam yaitu:

1) Gempa linier terjadi jika episentrum berbentuk garis. Misalnya Gempa tektonik karena patahan.

2) Gempa sentral terjadi jika episentrumnya berbentuk titik. Misalnya Gempa vulkanik dan gempa runtuhan.

d. Gempa bumi berdasarkan letak episentrum

Berdasarkan letak episentrum, gempa bumi dapat kita bedakan menjadi 2 macam, yaitu:

1) Gempa daratan yakni jika episentrumnya di daratan.

2) Gempa laut yakni jika episentrumnya di dasar laut.

e. Gempa bumi berdasarkan jarak episentrum

Berdasarkan jarak episentrum, gempa bumi dapat kita golongkan menjadi tiga macam, yaitu:

1) Gempa setempat, jika jarak episentrum dan tempat gempa terasa sejauh kurang dari 1.000 km.

2) Gempa jauh, jika jarak episentrumnya dan tempat gempa terasa sekitar 10.000 km.

3) Gempa sangat jauh, jika jarak episentrum dengan tempat terasa lebih dari 10.000 km.

B. Cara Merambat Getaran Gempa Bumi

Getaran yang disebabkan oleh gempa bumi dapat merambat dalam tiga cara, yakni:

a. Getaran longitudinal atau gelombang primer

Getaran longitudinal atau gelombang primer merupakan gelombang akibat gempa yang dirambatkan dari lokasi hiposentrum melalui litosfer secara menyebar dengan kecepatan antara 7 – 14 km per detik dan mempunyai periode 5 – 7 detik. Gelombang ini merupakan gelombang yang pertama kali dicatat oleh seismograf.

b. Getaran transversal atau gelombang sekunder

Getaran transversal merupakan gelombang gempa yang bersama-sama merambat dengan gelombang primer dari lokasi hiposentrum ke segala arah di dalam lapisan bumi dengan kecepatan 4 – 7 km per detik dan periode antara 11 – 13 detik. Oleh karena kecepatannya lebih lambat daripada gelombang primer, maka gelombang ini akan dicatat oleh seismograf setelah gelombang primer.

c. Getaran gelombang di lapisan kerak bumi atau gelombang panjang

Gelombang ini mempunyai kecepatan antara 3,5 – 3,9 km per detik yang merambat dari lokasi episentrum gempa melalui permukaan bumi atau melalui lapisan kulit bumi. Gelombang jenis ini merupakan gelombang perusak.

C. Dampak gempa bumi

Seperti yang telah kita bahas di atas bahwa gempa merupakan akibat dari pelepasan tenaga endogen sehingga mempengaruhi dinamika permukaan bumi. Maka secara langsung dampaknya dapat dirasakan oleh semua makhluk hidup yang tinggal di atas permukaan bumi.

Gempa di darat akan menyebakan reruntuhnya bagunan-bangunan, jempatan dll. Namun tidak hanya itu saja bilamana gempa terjadi di laut. Jika gempa bumi terjadi di laut, maka akan berpotensi adanya gelombang tinggi atau yang disebut sebagai tsunami.

Tsunami sangatlah berbahaya terutama bila terjadi di dekat pemukiman penduduk atau di wilayah yang daratannya cenderung datar seperti di daerah Aceh. Dengan demikian, air laut pasang akan lebih mudah mengalir dan menyapu daratan.

Anjayani,Eni.2009.Geografi: Untuk Kelas X SMA/MA.Jakarta:PT. Cempaka Putih.
Rahayu,Saptanti,dkk.2009.Nuansa Geografi 1: untuk SMA / MA Kelas X. Surakarta: PT. Widya Duta Grafika.

Tim Siswapedia

Tim Siswapedia

"Kami mendukung pendidikan gratis di Indonesia"

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *