Contoh Cerita Pengalaman Liburan

  • Whatsapp
Contoh Cerita Pengalaman Liburan
Contoh Cerita Pengalaman Liburan

Contoh cerita pengalaman liburan tanpa persiapan kami pun berlanjut. Setelah kami melakukan perjalanan dari Jogja ke Dieng, kami pun berhenti di masjid Al Fatah untuk sholat dzuhur.

Baca: Contoh cerita pendek liburan ke Dieng

Masjid Al Fatah letaknya tidak jauh dari loket pendaftaran pendakian Gunung Prau Patakbenteng. Di masjid ini, kami pun bingung sudah sampai Dieng terus mau menjelajah kemana? naik gunung? ya enggaklah, kita aja hanya bawa 1 baju di badan saja.

Saat itu, jam dinding menunjukkan pukul 14.30 siang alias sebentar lagi waktu sore hari akan tiba jadi tidak mungkin kami berkelana ke berbagai tempat wisata populer seperti candi arjuna, telaga merdada, kawah sikidang, dieng plateau, puncak sikunir, pendakian gunung prau, pendakian gunung pangonan atau telaga menjer.

Bekal uang yang kami bawa sangatlah sedikit. Saya hanya membawa uang Rp 80.000 dan teman saya hanya membawa Rp 130.000 itupun sudah terpotong beli bensin dan gado-gado di perjalanan. Kalau harus menginap, kita wajib menyewa homestay karena suhu di dieng pada saat malam hari akan sangat dingin.

Suhu yang ekstrim terlebih kami yang bukan orang Dieng akan menjadikan kami sulit beradaptasi. Jadi sama sekali kami gak berfikir akan tidur di serambi masjid karena ini berbahaya.

Akhir kata, saya pun lanjut berjalan ke barat menuju kota Dieng. Dari masjid Al Fatah kita perlu berjalan mengikuti tanjakan yang berkelok-kelok seperti punggung ular hingga menemukan pertigaan kecil yang terdapat banyak pertokoan dan warung makan.

Di pertigaan ada rambu penunjuk arah menuju Telaga warna, Sikunir bila belok ke kiri. Apabila kamu belok ke kanan akan sampai ke Candi Arjuna dan Telaga Merdada. Kami memutuskan untuk pergi ke Telaga Warna karena jaraknya yang lebih dekat.

Cerita Pengalaman Liburan Di Telaga Warna

Cerita Pengalaman Liburan Di Telaga Warna

Jalan Telaga Warna lebarnya seperti jalan kampung, kecil dan sudah beraspal, hanya saja ada bagian jalan yang berlubang dan bergelombang.

Setelah sampai di objek wisata Telaga Warna, saya pun memakirkan sepeda motor di depan seberang jalan dari loket retribusi. Di sini banyak sekali kios yang menjajakan makanan dan souvenir. Fasilitasnya diantaranya tempat parkir, toilet dan musholla.

Lalu kami bergegas menuju loket masuk Telaga Warna. Harga tiket telaga warna untuk hari biasa yaitu Rp 5.000/orang dan Rp 7.500/orang untuk hari libur. Untuk turis mancanegara, harga tiketnya lebih mahal yaitu Rp 100.000/orang untuk hari biasa dan Rp 150.000/orang untuk hari libur.

Baca juga: Cerita pendek atau cerpen

Begitu masuk ke telaga warna, kami memutuskan untuk langsung sholat ashar di musholla yang ada di dalam objek wisata. Setelah itu, kami menjelajahi beberapa objek wisata berikut:

Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Telaga warna Dieng dan Telaga Pengilon memang terlihat bewarna biru kehijauan. Dari dasarnya terlihat ada banyak gelembung udara yang naik muncul ke atas permukaan air.

Ada jalan setapak yang telah dibuat mengelilingi telaga. Dan sisi pinggirnya juga sudah diberi pagar tembok pendek sehingga aman bagi pengunjung yang membawa anak-anak.

Di antara telaga warna dan telaga pengilon terdapat empat gua yaitu gua semar, gua jaran, gua sumur dan gua pengantin.

Gua Semar

Gua Semar merupakan tempat pertapaan mantan presiden Soeharto pada tahun 1974. Gua ini konon dijaga oleh makhluk astral alias tak kasat mata yang berwujud semar.

Gua Jaran

Gua jaran merupakan gua yang ditemukan secara kebetulan oleh seekor kuda. Pada saat itu hujan deras, seekor kuda betina kebingungan mencari tempat berteduh dan akhirnya menemukan sebuah gua. Anehnya, setelah keluar dari gua sang kuda betina tersebut hamil.

Gua Sumur

Di dalam gua sumur terdapat kolam kecil yang airnya sangat jernih. Konon katanya, air ini mengandung berkah yang bisa digunakan sebagai obat. Air ini dikenal dengan sebutan Tirta Prawitasari. Gua ini dijaga pula oleh sesosok makhluk yang bernama Eyang Kumolosari.

Gua Pengantin

Gua pengantin merupakan tempat pertapaan bagi orang yang ingin menemukan jodohnya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 16.50 wib. Sudah terlalu sore,kabut mulai menebal dan hawa dingin pun semakin terasa menusuk di badan. Kami pun langsung beranjak pulang.

Jalan berbanding terbalik, kami menuruni jalanan yang ekstrim, kanan gunung-kiri jurang yang sangat dalam. Kondisi jalan dari pegunungan dieng menuju kota wonosobo keadaanya turun terus dan berkelok-kelok. Dan sesampainya di kota Wonosobo saya pun merasa aneh.

“Ternyata lampu jarak dekat motor saya mati !!!”

Tidak ada bengkel yang buka di sepanjang jalan dan lampu jauh pun tidak bisa diandalkan untuk menerangi kondisi jalan di malam hari. Apa boleh buat, lampu headlamp yang saya taruh di jok motor pun terpaksa saya gunakan untuk menerangi jalan.

Nah, demikian contoh cerita pengalaman liburan sederhana yang bisa saya tulis. Semoga bisa diambil pelajarannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *