Membedakan jenis kalimat atau macam-macam kalimat

Membedakan jenis kalimat atau macam-macam kalimat – Kalimat dapat diidentifikasi berdasarkan intonasi, kelas kata predikat, jumlah klausa, letak subjek dan predikat, serta jumlah kontur.

1. Berdasarkan intonasi, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah

a. Kalimat Berita

Kalimat berita adalah kalimat yang isinya mengungkapkan peristiwa atau kejadian. Anda dapat menggunakan intonasi untuk membedakan kalimat berita dengan kalimat lain. Intonasi kalimat berita bersifat netral. Isinya berupa pemberitahuan.

Contoh:

Andi gemar olahraga sepeda gunung.

Sita murid terpandai di kelasnya.

b. Kalimat Tanya

Kalimat tanya adalah kalimat yang berisi pertanyaan kepada pihak lain untuk memperoleh jawaban dari pihak yang ditanya. Ciri-ciri kalimat tanya yaitu menggunakan intonasi naik, menggunakan kata tanya, dapat menggunakan partikel tanya -kah. Fungsi partikel –kah untuk memperhalus pertanyaan. Kata tanya yang biasa digunakan dalam kalimat tanya adalah apa, siapa, mengapa, mana, bagaimana, bilamana, kapan, dan berapa.

Contoh:

Mengapa kamu tidak masuk sekolah kemarin?

Apakah ayah jadi berangkat ke Surabaya pada hari ini?

c. Kalimat Perintah

Kalimat perintah adalah kalimat yang isinya menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Ciri-ciri kalimat perintah yaitu berisi perintah, menggunakan intonasi naik di akhir kalimat, dapat mempergunakan partikel -lah.

Contoh:

Tolong matikan kran air itu!

Jangan membuat ribut, anak-anak!

2. Berdasarkan jenis kata pada predikat dalam kalimat dibagi menjadi kalimat verbal dan kalimat nominal

Coba perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini!

a. Tarisa menangis.

b. Ibu saya guru bahasa Indonesia.

c. Mobil itu biru tua.

d. Sapinya lima ekor.

e. Rumah saya itu.

f. Rumah saya di sana.

Berjenis kata apakah predikat pada kalimat-kalimat tersebut?

Predikat yang terdapat di dalam suatu kalimat dapat berjenis kata kerja, dapat juga berjenis kata benda, kata sifat, kata bilangan, kata ganti, atau kata keterangan. Kalimat yang berpredikat kata kerja disebut kalimat verbal.

Contohnya kalimat a.

Tarisa menangis. -> Tarisa sebagai Subjek dan menangis sebagai Predikat

Ada pula kalimat yang berpredikat bukan kata kerja, melainkan berjenis kata benda, kata sifat, kata bilangan, kata ganti, atau kata keterangan disebut kalimat nominal. Contohnya pada kalimat b, c, d, e, dan f.

3. Berdasarkan jumlah klausa kalimat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti dan boleh diperluas dengan satu atau lebih unsur-unsur tambahan, asal unsur-unsur tambahan itu tidak boleh membentuk pola baru. Kalimat tunggal, misalnya kalimat inti, kalimat luas, kalimat verbal, kalimat nominal, dan kalimat tidak lengkap.

Contoh:

Rista menggambar. -> Kalimat inti

Rista menggambar bunga teratai. -> Kalimat luas

Ayamnya lima ekor. -> Kalimat nominal

Kalimat majemuk adalah penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih, sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih klausa. Hubungan antarklausa tersebut ditandai dengan kata hubung (konjungsi). Kalimat majemuk dibedakan atas tiga macam.

a. Kalimat majemuk setara

Kalimat majemuk setara yaitu penggabungan dua kalimat tunggal dan tiap-tiap unsur-unsurnya mempunyai kedudukan setara.

Contoh:

Saya akan datang ke rumahmu sekarang atau nanti malam.

Dia sangat baik hati dan suka menolong.

b. Kalimat majemuk bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat memperlihatkan berbagai jenis hubungan semantis antara klausa yang membentuknya.

Contoh:

Saya mengerjakan pekerjaan itu sampai larut malam agar besok pagi dapat mengumpulkannya.

c. Kalimat majemuk campuran

Kalimat yang hubungan antara pola-pola kalimat itu ada yang sederajat dan ada yang bertingkat.

Contoh:

Setelah saya bangun tidur, saya mandi, berganti pakaian, sarapan, lalu berangkat ke sekolah.

4. Berdasarkan letak subjek dan predikatnya, kalimat dibagi atas kalimat normatif dan kalimat inversi

Kalimat normatif adalah urutan fungsi dalam kalimat bahasa Indonesia boleh dikatakan mengikuti pola Subjek–Predikat–Objek (jika ada)–dan Pelengkap (jika ada). Kalimat-kalimat yang berpola seperti tersebut merupakan kalimat yang sering.

Kalimat inversi adalah pola kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya selalu mendahului subjek (P–S). Pada umumnya kalimat inversi mensyaratkan subjek yang tidak tertentu atau tidak definit.

Coba, bandingkan pola kedua kalimat berikut ini!

a. Pak Kartono menanam bibit durian.

b. Ada seseorang yang mencari Anda.

Pada kalimat a dapat disimpulkan bahwa pola kalimat a adalah S–P–O, sedangkan pola kalimat b adalah P–S.

Verba ada dalam kalimat inversi dapat digantikan dengan verba terdapat dengan makna yang boleh dikatakan sama. Coba, bandingkan kalimat 1 dan 2 pada contoh berikut.

Ada perbedaan kenyamanan antara menonton film di ruangan ber- AC dan ruangan tidak ber-AC.
Terdapat perbedaan kenyamanan antara menonton film di ruangan ber-AC dan ruangan tidak ber-AC.

5. Berdasarkan jumlah konturnya, kalimat dibagi atas kalimat panjang dan kalimat pendek

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini!

a. Pergi!
b. Amat mahal!
c. Sudah siap!
d. Ia ada di kamar.

Kalimat a hanya terdiri atas satu patah kata dan diapit oleh kesenyapan awal dan kesenyapan final. Kalimat a hanya terdiri atas satu kontur. Kalimat b terdiri atas dua patah kata. Bagian-bagian dari kalimat b, yaitu amat dan mahal dapat menduduki posisi lepas, jadi dapat berdiri sendiri sebagai kalimat jika perlu, tetapi kata amat tidak dapat berdiri sendiri dalam posisi yang demikian.

Kata amat selalu mengikat kata-kata berikutnya untuk dapat bersama-sama muncul dalam suatu tutur. Ikatan itu dapat membentuk satu kontur. Lain halnya dengan kalimat c. Tiap-tiap bagian dari kalimat c dapat muncul dalam posisi lepas dan masing-masing dapat memasuki satu kalimat dengan satu kontur bila perlu. Jadi, pada prinsipnya bagian dari kalimat itu dapat pula membentuk satu kalimat lagi.

Inti dari uraian tersebut adalah ada kalimat yang dapat dipecahkan lagi atas kontur-kontur dan ada yang tidak. Pemecahan atas kontur-kontur itu secara potensial terdiri atas kata-kata yang dapat memasuki satu kalimat sendiri. Akan tetapi, ada kata yang tidak dapat memasuki satu kalimat.

Kalimat yang tidak dapat dipecahkan atas kontur-kontur yang lebih kecil lagi disebut kalimat minim, contohnya pada kalimat a dan b. Sebaliknya, kalimat yang secara potensial dapat dipecahkan lagi atas kontur-kontur yang lebih kecil disebut kalimat panjang, contohnya pada kalimat c dan d.

6. Menentukan Pola Kalimat Inti Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, dikenal pola pembentukan kalimat. Pola-pola kalimat tersebut adalah:

– KB, yaitu kata benda,

– KK, yaitu kata kerja,

– KS, yaitu kata sifat,

– KBl,yaitu kata bilangan,

– KDp, yaitu kata depan.

Pola kalimat inti dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

a. KB – KB : Ayah pedagang.

b. KB – KK : Ayah pergi

c. KB – KS : Ayah pandai

d. KB – KBL : Ayah seorang

e. KB – KDp : Ayah di sana

7. Menentukan Jabatan Kalimat

Subjek (S) adalah pokok atau inti pikiran, atau sesuatu yang berdiri sendiri dan tentangnya dijelaskan oleh yang lain.

Contoh: Ayah pedagang.

Ciri-ciri subjek adalah:

a. berjenis kata benda atau yang dibendakan,

b. menjadi inti atau pokok pikiran,

c. dijelaskan oleh bagian lainnya,

d. menjadi jawaban atas pertanyaan dengan kata tanya siapa atau apa.

Predikat (P) adalah bagian kalimat yang menjelaskan tentang sifat atau perbuatan subjek.

Contoh:

Ayah pandai.

Ibu memasak.

Ciri-ciri predikat adalah:

a. bertugas menjelaskan subjek,

b. berjenis kata kerja, kata benda, kata sifat, kata depan, kata bilangan, dan kata ganti,

c. menjadi jawaban pertanyaan mengapa dan bagaimana.

Aposisi subjek adalah keterangan subjek (bukan predikat) sebagai bagian dari subjek. Selain itu, dapat juga berfungsi menggantikan subjek jika subjek tersebut ditiadakan.

Contoh: – Ali, anak pak umar, pandai.

Keterangan:

Ali = anak Pak Umar = oposisi subjek.

Anak Pak Umar pandai.

Anak Pak Umar = Subjek = Ali

Objek (O) terdiri atas berikut ini.

a. Objek langsung atau objek penderita (OL).

Contoh: Ibu memasak air.

b. Objek tidak langsung atau objek penyerta/berkepentingan (OTL).

Contoh: Ibu memasak air untuk ayah.

c. Objek pelaku (OP).

Contoh: Buku dibeli oleh adik.

d. Objek berkata depan atau objek berpreposisi (Okdp).

Contoh : Kami cinta akan negara.

Kata Keterangan (KK) terdiri dari atas berikut ini.

a. Keterangan waktu, yaitu: sudah, telah, dahulu, nanti, lagi, ketika, dan lainlain.

b. Keterangan tempat, yaitu: di sawah, dari sawah, dan lain-lain.

c. Keterangan alat, contoh: dengan tongkat.

d. Keterangan sebab, contoh: sebab …, karena …

e. Keterangan akibat, contoh: sampai lelah, hingga selesai.

f. Keterangan tujuan, contoh: agar lekas masak.

g. Keterangan jumlah, contoh: lima buah.

h. Keterangan modalitas, contoh: betul-betul, pasti, sungguh, dan lain-lain.

Daftar Pustaka
Santoso, Gunawan Budi, dkk. 2008.Terampil Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Rohmadi, Muhammad. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia 3 untuk SMA/MA Kelas XII Program Bahasa. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Tim Siswapedia

Tim Siswapedia

"Kami mendukung pendidikan gratis di Indonesia"

Mungkin Anda juga menyukai