Transkrip wawancara Tempo dengan Prof. Djohar
Rabu, 02 Mei 2012
Negara-negara lain sangat tahu, terutama perubahan sikap pengurus PSSI yang sekarang. Mereka menyatakan akan membantu Indonesia mengatasi persoalan yang membelit. Mereka tidak ingin Indonesia dijerat hukum oleh FIFA.
Kemungkinan hukuman FIFA itu seperti apa?
Berdasarkan surat tanggal 21 Desember 2011 yang ditandatangani oleh Sekjen FIFA -Jerome Valcke- dan Sekjen AFC -Alex Soosay-, mereka meminta kompetisi segera dikontrol oleh federasi (PSSI). Mereka juga meminta kami untuk mengajak teman-teman yang di luar kompetisi resmi untuk kembali ke federasi. Mereka ini segera dilaksanakan dengan memberi tenggat (waktu). Yang tidak mau akan diberi hukuman. Kami akan mengirim utusan ke sejumlah klub yang berada di luar kompetisi resmi dan mengimbau mereka melalui orang-orang yang bisa berbicara.
Imbauan itu tentu bukan cek kosong. Apa yang Anda tawarkan ke mereka?
Ada beberapa opsi. Pertama, kami akan mengakui LSI, tapi dengan syarat yang diminta FIFA,yaitu kompetisi itu harus dibawah kontrol PSSI. Melaksanakan kompetisi di luar federasi itu tidak boleh. Dengan demikian artinya ada dua kompetisi yang berjalan. Nama jadi dua LSI dan IPL. Kalau cara itu tidak disetujui, keduanya dilebur jadi satu. Entah nanti namanya Indonesian League, Merdeka League atau apapun itu atas kesepakatan bersama yang penting satu. Opeeratornya kalau tidak disetujui dua-duanya kita istirahatkan kita ganti dari luar negeri. Soal hak siar televisi ambil yang bersedia membeli dengan harga paling gedhe sebagai bantuan untuk klub. Ini semua mudah. Yang kita pentingkan merah putih.
Soal Kongres Palangkaraya, ada yang bilang pengurus yang Anda undang bukan orang yang punya hak suara. Mereka hanya caretaker setelah Anda membekukan pengurus lama..
PSSI kan dipimpin saya, tentu surat pengangkatan dan pemberhentian resmi dari kami. Kenapa pengurus lama tidak kami undang? karena mereka tidak mengakui kami. Ibaratnya mereka itu seperti Gubernur yang tidak mengakui presiden. Bagaimana kami melaksanakan program jika mereka tidak mengakui kami? padahal kompetisi harus berjalan. Kalau tidak jalan itu merugikan klub dan pemain.
KPSI membuat PSSI baru. Apakah sanksi FIFA dan AFC sudah didepan mata?
Sejak surat FIFA tanggal 21 Desember 2011 itu, kami berupaya terus agar Indonesia tidak disanksi FIFA. Mereka mengharapkan sebelum 23 Maret 2012 kita bisa memberi penjelasan karena ini bukan kesalahan kita, tapi oknum yang merusak Indonesia. Dan mereka (FIFA) tahu keributan ini ulah kami. Ada oknum yang senang Indonesia dihukum.
Anda mengatakan demi merah putih, demi Indonesia. tapi Anda sendiri melarang pemain inti Timnas yang bermain di LSI membela merah putih?
Ditanggal 21 Desember 2011, FIFA melarang pemain diluar federasi (PSSI) untuk bermain di Tim Nasional. Karena itu, kalau kami paksakan pemain yang bagus di luar kompetisi resmi kami yang akan dihukum.
Bukannya dulu Anda berjanji membolehkan semua pemain bisa turun?
Memang di PSSI tidak ada peraturan yang melarang. Saya katakan, semua pemain terbaik di bumi ini, yang punya klub atau yang tidak punya klub, kalau bagus menurut pelatih boleh direkrut menjadi pemain Tim Nasional. Tapi inikan FIFA yang melarang dan PSSI tidak diuntungkan dengan pelarangan ini. Jangan anggap kami senang.
Tak ada rakyat Indonesia senang menonton Timnas kita kalah 10-0
Ada sejumlah keberhasilan yang kerap tidak diperhitungkan. Kami masuk kantor PSSI tanggal 11 Juli 2011, dua hari setelah dipilih. Tahu-tahu dalam hitungan hari tanggal 24 Juli ada pertandingan melawan Turkmenistan. Saya tanya BTN (Badan Tim Nasional), mana timnya? Belum ada, para pemain sedang di rumah masing-masing karena kompetisi sedang istirahat. Ini artinya mereka dalam low conditions. Visa belum diurus, juga tiket dan hotel. Uang tidak ada. Tapi tim tetap berangkat dan bisa menahan 1-1. Dalam pertandingan di Jakarta kita menang 4-3. Kita lolos untuk pertama kalinya dalam 25 tahun lalu, ini prestasi yang luar biasa. Lalu ketika Sea Games, tim-nya belum ada padahal kita tuan rumah. Maka kami panggil pada tanggal 4 Juli, kumpul pemain di Batu dan hasilnya kita finalis (medali perak). Sudah belasan tahun Indonesia tidak mendapatkan medali di Sea Games, ini luar biasa.
Tapi tetap saja peringkatnya merosot 126 ke 147
Ini yang harus diperbaiki karena PSSI kan dalam keadaan tidak normal jadi masyarakat jangan menyangka membangun PSSI dengan normal.
Ketua KONI ingin mengambil alih PSSI jika konflik ini tidak kunjung usai
Ini masalah PSSI, harus mengikuti aturan PSSI. Menyelesaikan ini tidak harus melanggar statuta PSSI. Semestinya KONI mendengarkan anggotanya (PSSI) bukan malah mendengarkan kelompok yang bukan anggotanya. Ini justru melanggar AD/ART KONI karena tidak mementingkan anggotanya. Langkah KONI itu tidak bagus.
Foto: TribunSport
Rekomendasi untuk Anda:IPL
