Sejarah Nasionalisme

Sejarah hak asasi manusia di Indonesia bermula dari adanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para penjajah

Sejarah nasionalisme dimulai pada abad ke-18 dimana saat itu suasana liberalisme merebak di bangsa eropa. Ada kecenderungan/ dorongan di bangsa-bangsa lain untuk melakukan adanya kesamaan derajat dengan bangsa Inggris dan Perancis yang memang pada saat itu merupakan bangsa paling maju pada zamannya. Bangsa lain, misalnya seperti Italia, mereka merasa sama dalam hal budaya namun secara politik mereka tidak begitu berarti karena terpecah-belah. Darisinilah (pada abad 19) rasa nasionalisme dikobarkan dalam jiwa masyarakatnya untuk menunjukan identitas bangsa sebagai negara yang bersatu dan merdeka (Baca juga: Pengertian Nasionalisme).

Sejarah nasionalisme Indonesia ditulis dengan tinta darah perjuangan para pahlawan
Gambar. Sejarah nasionalisme Indonesia ditulis dengan tinta darah perjuangan para pahlawan (Foto: Sidomi.com)

Pada abad ke-20 sejarah nasionalisme berlanjut, rasa nasionalisme menyebar hingga ke dataran Eropa timur, Afrika dan Asia dimana masyarakatnya bersatu dan berjuang penuh kegigihan untuk menunjukan identitas nasional sebagai pemahaman yang baru. Berangsur secara pasti, pemahaman lama yang menekankan kebudayaan suku mulai ditinggalkan. Pemahaman lama ini, seringkali tak berdaya untuk membangun sebuah negara nasional bahkan bisa menjadi faktor penghalang padahal dibanyak bangsa yang terjajah perlu adanya kesatuan yang dibangun dari rasa nasionalisme agar bangsa menjadi kuat, gigih sehingga mampu mengusir segala bentuk penjajahan kolonial.

Untuk menanamkan ideologi nasional (misalnya bahasa nasional dll) banyak sekali mencontoh atau mengambil ide-ide dari bangsa-bangsa yang lebih dulu sudah membentuk negara nasional, terutama bangsa Barat. Akan tetapi dalam prakteknya, ide-ide dari barat tidak selalu sejalan dengan para nasionalis sehingga perlu adanya penyaringan lebih lanjut sehingga memunculkan pemahaman baru lagi. Banyak negara setuju sekaligus menolak dengan apa yang dicontohkan oleh bangsa barat pada zaman itu. Untuk itu mengambil pemahaman yang baik dan membuang yang buruk (tidak sesuai) adalah keputusan terbaik dari kaum nasionalis seperti Soekarno, Nasser dll.

Meski nasionalisme berkembang cepat sebagai pemahaman universal, tetapi kata “nasionalisme” hanya memiliki arti positif (dipandang baik) oleh negara amerika latin, afrika, timur tengah dan asia karena kata “nasionalisme” menyarankan rakyat untuk melakukan pembebasan dari penjajahan kolonial yang justru penjajahan banyak dilakukan oleh bangsa barat. Oleh karena itu di barat, mereka memilih untuk menggunakan kata “patriotist” daripada kata “nasionalist” karena rasa nasionalisme dipandang sebagai sesuatu yang buruk sedangkan patriotisme dipandang sebagai sesuatu yang baik. Hal ini wajar dan bisa kita pahami karena bagi negara-negara penjajah (barat), rasa nasionalisme dianggap sebagai gangguan terbesar saat mereka ingin menjajah suatu negara. Lalu bagaimana sejarah nasionalisme di Indonesia? (Baca juga: Nasionalisme Indonesia).

Pengertian Nasionalisme

Rasa nasionalisme merupakan semangat dasar yang membentuk negara

Pengertian nasionalisme bisa kita pahami dengan baik apabila kita mengenal lebih dulu tentang kebangsaan (Baca juga: Pengertian Bangsa). Nasionalisme adalah sikap nasional untuk menjaga harga diri dan kemerdekaan bangsa serta sekaligus menghormati dan menghargai bangsa lain.

Rasa nasionalisme merupakan semangat dasar yang membentuk negara
Gambar. Rasa nasionalisme merupakan semangat dasar yang membentuk negara (Sumber: Pustakasekolah.com)

Dalam bukunya Rima Yuliastuti (2011) dijelaskan Adolf Henken (1988) berpendapat bahwa pengertian nasionalisme merupakan pandangan yang berpusat pada bangsanya. Nah, darisini kita jadi mengetahui bahwa jika bangsa ini diibaratkan sebagai “raga”, maka nasionalisme itu semacam “roh atau jiwanya”. Jadi keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.

Pada dasarnya sikap nasionalisme ini merupakan sebuah ekspresi yang tercipta karena adanya hubungan antara darah dengan tanah sebagai tempat hidup. Ekspresi ini akan terus mengalami perkembangan berdasarkan situasi zaman. Dahulu masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke mengekspresikan rasa nasionalismenya dengan cara melawan dan mengusir penjajah. Saat Indonesia telah merdeka, ekspresi nasionalisme bisa ditunjukan dengan melawan cengkraman ekonomi kolonial (penjajahan ekonomi) maupun melawan cengkraman politik asing (penjajahan politik) yang senantiasa ingin mengatur-atur rumah tangga Indonesia.

Sebuah negara hanya bisa terbentuk dengan baik jika warganya memiliki semangat nasionalisme tinggi yang ditunjukan dengan ekpresi positif. Faham ini mengajarkan kepada manusia bahwa sebuah negara bisa dibangun meski berasal dari masyarakat majemuk. Darisini, semua masyarakat bisa membangun masa depan bersama, melaksanakan tujuan bersama, menjaga keamanan dan menegakkan keadilan.

Rasa nasionalisme dapat menjadi sebuah wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah menjadikan manusia hidup dan berkembang di sebuah tempat di muka bumi ini. Dari rasa nasionalisme inilah kemudian manusia akan mampu memiliki rasa dan semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan di atas keanekaragaman penduduk yang ada di wilayah yang sama.

Apabila sebuah kelompok masyarakat memiliki rasa nasionalisme, maka loyalitas dan pengabdian masyarakatnya akan diarahkan untuk kepentingan sosial yang lebih besar (negara). Selain itu, nasionalisme juga sangat berguna untuk membina rasa bersatu antar penduduk negara yang heterogen karena adanya perbedaan suku, agama dan asal usul.

Nasionalisme yang ada pada diri seseorang tidak datang dengan sendirinya. Akan tetapi dapat dipengaruhi oleh unsur-unsur diantaranya yakni perasaan nasional, watak nasional, batas nasional, bahasa nasional, peralatan nasional dan agama. Lalu bagaimana bagaimana nasionalisme di Indonesia?.

Nah, setelah mengetahui tentang pengertian nasionalisme ini, Anda bisa menjawab pertanyaan di atas di artikel berjudul nasionalisme di negara Indonesia. Selain itu, Anda juga bisa membaca artikel tentang sejarah nasionalisme.

[color-box]Cahyati AW dan Warsito Adnan, Dwi.2010. Kewarganegaraan 1. Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional.
Yuliastuti, Rima dkk. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan. Diterbitkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional dari PT. Penerbit Percada.[/color-box]