Karakteristik Lapisan-Lapisan Bumi

Lapisan-lapisan bumi

Pemahaman tentang karakteristik lapisan-lapisan bumi harus kita pelajari karena bumi merupakan tempat hidup kita sebagai manusia. Tempat hidup memiliki makna yang sangat luas, bukan hanya sebatas sebagai tempat tinggal saja melainkan juga sebagai tempat penyedia bahan-bahan pemenuh kebutuhan hidup.

Lalu, bagaimana karakteristik lapisan-lapisan bumi kita ini?

Nah, secara umum lapisan bumi kita ini terbagi menjadi dua bagian yaitu lapisan udara bumi dan lapisan di dalam bumi.

A. Lapisan Udara Bumi

Bumi kita ini dikelilingi oleh lapisan udara yang tebalnya sekitar 1000 km yang kita beri nama atmosfer. Nah, lapisan udara ini terdiri dari berbagai macam gas yakni gas nitrogen, karbondioksida, oksigen dan sebagainya. Semua kandungan gas ini memiliki peran yang sangat penting untuk kehidupan makhluk hidup, dengan kata lain sangatlah bermanfaat.

Lapisan atmosfer bumi memiliki struktur yang berlapis-lapis, ada lapisan troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer dan eksosfer. Setiap lapisan memiliki fungsi masing-masing, tapi pada umunya semuanya berfungsi melindungi bumi dari radiasi bintang-bintang (misalnya: matahari) serta benda-benda luar angkasa yang sewaktu-waktu bisa menabrak bumi (baca selengkapnya: lapisan-lapisan atmosfer bumi).

B. Lapisan Dalam Bumi

Lapisan yang kedua yakni lapisan dalam bumi. Lapisan ini dimulai dari tanah yang kita injak ini sampai ke bawah menuju pusat bumi. Nah, secara umum dapat kita bagi menjadi tiga bagian yaitu litosfer, astenosfer dan barisfer.

1. Litosfer (Lapisan Batuan Pembentuk Kulit Bumi atau Crust)

Litosfer karakteristiknya sangat keras karena terdiri dari bebatuan. Itulah sebabnya sebagian dari kita menamakannya sebagai “lapisan kerak bumi atau lapisan batuan”. Lapisan litosfer memiliki ketebalan sekitar 30–70 km dimana komposisi batuannya terdiri dari batuan-batuan basa dan masam yang memiliki berat jenis kira-kira 2,7 gram/cm3. Klarke dan Washington berpendapat bahwa, batuan-batuan yang ada di permukaan bumi ini hampir 75% nya terdiri atas Silikon Oksida dan Aluminium oksida.

Litosfer juga dapat kita bagi menjadi dua bagian. Pada bagian atas dinamakan sebagai “lapisan sial” dimana terdiri dari zat-zat silisium dan aluminium. Sedangkan pada bagian bawahnya dinamakan sebagai “lapisan sima” dimana terdiri dari zat-zat silisium dan magnesium.

Litosfer atau kerak bumi ini berdasarkan letaknya ada dua macam. Kerak bumi yang ada di daratan dinamakan sebagai “kerak benua” sedangkan kerak bumi yang terdapat di dalam laut samudra dinamakan sebagai “kerak samudra”. Pembahasan lebih lengkapnya tentang litosfer bisa dilihat pada artikel berjudul Litosfer dan Batuan Pembentuk Litosfer.

2. Astenosfer (Lapisan Selubung atau Mantle)

Di bawah lapisan litosfer terdapat lapisan yang bernama astenosfer atau yang dinamakan sebagai lapisan selubung dengan ketebalan sekitar 1.900 km. Lapisan astenosfer berisi cairan kental dan berpijar dengan suhu yang sangat tinggi yaitu sekitar 3.000° C.

Lapisan astenosfer dapat kita bagi menjadi dua bagian yaitu lapisan selubung bumi (Sisik Silikat) dan lapisan antara (Chalkosfera). Lapisan selubung bumi memiliki ketebalan kurang lebih 1.200 km dengan berat jenis sekitar 3,4–4 gram/cm3. Nah, sedangkan untuk lapisan antara memiliki ketebalan kurang lebih 1.700 km dengan berat jenis kira-kira sekitar 6,4 gram/cm3.

3. Barisfer (Lapisan Inti Bumi atau Core)

Nah, lapisan paling dalam dinamakan sebagai lapisan barisfer atau lapisan inti bumi yang komposisinya terdiri dari besi dan nikel. Lapisan ini memiliki ketebalan kurang lebih 3.500 km dimana terdiri dari inti luar dan inti dalam.

a) Inti Luar (Outer Core)

Inti luar atau outer core merupakan lapisan inti bumi paling luar dengan ketebalan sekitar 2.200 km serta suhu sebesar 3.900°C. Komposisi lapisan ini terdiri dari besi dan nikel yang kental.

b) Inti Dalam (Inner Core)

Inti dalam atau inner core merupakan bagian terdalam dari inti bumi yang memiliki ketebalan sekitar 2.500 km serta suhu sebesar 4.800°C. Lapisan ini terdiri dari besi dan nikel dengan keadaan padat sekitar 10 gram/cm3.

Gambaran tentang lapisan-lapisan bumi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Lapisan-lapisan bumi
Gambar. Lapisan-lapisan bumi (bmkg.go.id)

Penelitian untuk memahami lebih detail tentang karakteristik lapisan-lapisan bumi ini dilakukan terus menerus oleh para ahli hingga saat ini. Salah satu hasil penemuannya yaitu adanya daerah yang tidak tersambung atau yang dinamakan sebagai bidang diskontinu yaitu diantara lapisan litosfer dan lapisan selubung atas, ketebalannya sekitar 60 km dari permukaan tanah.

Adalah Mohorovicic seorang yang telah menemukan adanya bidang diskontinu di kedalaman 60 km ini. Selain itu ditemukan pula bidang diskontinu lainnya yakni di kedalaman 1.200 km dan 2.900 km dari permukaan bumi oleh Beno Gutenberg, seorang ahli gempa dari Jerman.

Nah, selain memahami karakteristik lapisan-lapisan bumi di halaman ini, Anda juga dapat membaca artikel tentang bumi di artikel berjudul Planet Bumi (Earth) atau bisa melihat di daftar isi yang ada di situs ini.

Daftar Pustaka

Anjayani,Eni.2009.Geografi: Untuk Kelas X SMA/MA.Jakarta:PT. Cempaka Putih. Hartono.2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung: CV. Citra Praya.

Planet Bumi (Earth)

Planet Bumi (Earth) merupakan planet ketiga terdekat dari matahari dan termasuk urutan kelima terbesar di tata surya kita dengan massa sebesar 5.9722 x 1024 kg dan diameter sebesar 12.756,3 km. Ukuran bumi lebih kecil dari -planet gas- Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus namun lebih besar dari -planet batu- Merkurius, Mars dan Venus.

Gambar: Bumi (earth) merupakan planet ketiga terdekat dari matahari. Foto: Nasa/JPL
Gambar: Bumi (earth) merupakan planet ketiga terdekat dari matahari. Foto: Nasa/JPL

Bumi memiliki bentuk bulat (meski tidak bulat sempura), tekanan gravitasi yang menyebabkan hal ini terjadi. Gerak rotasi bumi menyebabkan bagian kutub tergencet dan bagian khatulistiwa membengkak.

Sekitar 71% dipermukaan bumi mengandung air, sebagian besar berada di lautan. Sedangkan seperlima di atmosfer bumi mengandung oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan.

A. Gerak Orbital
Bumi berputar mengelilingi garis imajiner yang membentang dari kutub utara ke kutub selatan, garis ini dinamakan sebagai sumbu rotasi bumi. Selain itu bumi juga melakukan gerakan mengelilingi matahari yang dinamakan sebagai gerak revolusi matahari. Dibutuhkan waktu 24 jam untuk melakukan satu gerakan rotasi dan waktu 365 hari untuk melakukan gerak mengelilingi matahari.

1. Rotasi
Rotasi adalah perputaran suatu benda mengitari porosnya (sumbunya). Bukti bumi berotasi sebagai berikut. Selain itu, atmosfer yang menyelubungi bumi juga ikut berotasi. Hal ini tentunya mengakibatkan beberapa akibat, diantaranya:
a. peredaran semu,
b. pergantian siang dan malam,
c. perbedaan waktu,
d. perbedaan percepatan gravitasi di permukaan bumi,
e. pembelokan arah angin, dan
f. pembelokan arus laut.

2. Revolusi
Revolusi adalah perputaran suatu benda mengitari benda lainnya. Bukti bumi berevolusi adalah
a. terjadinya paralaks bintang (beda lihat bintang),
b. terjadinya aberasi cahaya bintang.

Adapun akibat-akibat revolusi bumi, antara lain;
a. gerak semu matahari,
b. perubahan lamanya siang dan malam,
c. pergantian musim, dan
d. terlihatnya rasi bintang yang berbeda dari bulan ke bulan.

B. Sejarah Pembentukan Bumi

Menurut hasil penelitian para ahli astronomi dan geologi, Bumi terbentuk atau terlepas dari tubuh Matahari sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Perkiraan kelahiran Bumi ini didasarkan atas penelaahan Paleontologi -ilmu yang mempelajari fosil-fosil sisa makhluk hidup purba di masa lampau- dan stratigrafi -ilmu yang mempelajari struktur lapisan-lapisan batuan pembentuk muka Bumi (Bambang Utoyo, 2009, Membuka Cakrawala Dunia).

Bumi terbentuk bersama dengan peristiwa Big Bang. Pada fase terakhir terbentuklah gumpalan kabut materi yang di dalamnya terjadi proses konsentrasi, artinya partikel-partikel saling bergabung pada pusat-pusat terdekat sesuai dengan gaya gravitasi. Ketika bumi masih dalam keadaan cair (panas), sambil terjadi proses pemuaian suhu karena makin jauh dari pusat ledakan terjadilah diferensiasi batuan secara gravitasional. Unsur-unsur berat tenggelam ke pusat bumi, sedangkan yang dingin menyembul ke atas. Dengan demikian, terbentuklah planet bumi yang berlapis-lapis dan padat (Saptanti Rahayu, 2009, Nuansa Geografi).

Ed Suess (1831 – 1914), berpendapat bahwa India, Amerika Serikat, Antartika, dan Australia dahulu menjadi satu sehingga memiliki corak geologis yang sama. Kesatuan tersebut membentuk suatu benua yang disebut Gondwana.

Alfred Lothar Wegener (1880 – 1930) -seorang ahli cuaca dari Jerman- memiliki pendapat yang serupa dengan Ed Suess, Ia mengemukakan Teori Pengapungan Benua (Continental Drift Theory). Teori tersebut mengemukakan bahwa sampai sekitar 200 juta tahun yang lalu, di Bumi baru ada satu benua dan samudra yang maha luas. Benua raksasa ini dinamakan Pangea, sedangkan kawasan samudra yang mengapitnya dinamakan Panthalasa. Kemudian Sekitar 180 juta tahun yang lalu, benua raksasa tersebut pecah menjadi dua, yaitu pecahan benua di sebelah utara dinamakan Laurasia dan di bagian selatan dinamakan Gondwana. Kedua benua itu dipisahkan oleh jalur laut sempit yang dinamakan Laut Tethys. Sisa Laut Tethys pada saat ini merupakan jalur cebakan minyak Bumi di sekitar laut-laut di kawasan Timur Tengah.

Gambar:Teori Pengapungan Benua oleh Alfred Wegener mengenai terbentuknya massa daratan Bumi (www.wisegeek.org).
Gambar:Teori Pengapungan Benua oleh Alfred Wegener mengenai terbentuknya massa
daratan Bumi (www.wisegeek.org).

[color-box]Rahayu, Saptanti.2009. Nuansa Geografi. Solo: PT Widya Duta Grafika.
Utoyo, Bambang. 2009.Geografi: Membuka Cakrawala Dunia. Bandung: PT. Pribumi Mekar.[/color-box]