Jenis-Jenis Manusia Purba di Indonesia

Jenis-Jenis Manusia Purba di Indonesia Beserta Ciri-Cirinya dan Penemunya – Berdasarkan dari penemuan (hingga saat ini) jenis-jenis manusia purba di Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga jenis yakni Meganthropus, jenis Pithecanthropus dan jenis Homo. Kemudian pertanyaan awal bagi kita adalah -pada zaman apa mereka hidup?-. Ini merupakan pertanyaan awal yang sangat penting agar kita bisa membayangkan seberapa lama rentang waktu kehidupan kita dengan mereka, sebelum mengenal jauh tentang mereka.

Apabila kita melihat kembali pembagian zaman pra aksara atau pembabakan zaman pra sejarah berdasarkan arkeologi, maka kita ditunjukan dengan hasil penemuan bahwa manusia purba di Indonesia hidup pada zaman Palaeolitikum atau dikenal dengan zaman batu tua. Pada zaman ini, kehidupannya masih sangat primitif dimana alat-alat perkakas yang digunakan untuk keperluan sehari-hari masih sangat sederhana. Manusia purba yang hidup pada zaman ini membentuk sebuah kelompok kecil yang hidup di tepian sungai, di dalam goa atau di atas pohon. Mereka belum mengenal sistem pengolahan dan produksi makanan sehingga untuk mencukupi kehidupannya masih sangat tergantung dengan alam sekitar. Akibatnya? jika alam sekitar sudah tidak memungkinkan menyediakan sumber makanan dan minuman, mereka akan mencari daerah lain sebagai tempat tinggal. Di Indonesia, manusia purba yang hidup pada masa ini antara lain Pithecanthropus erectus, Pithecanthropus robustus, Meganthropus palaeojavanicus, Homo soloensis dan Homo wajakensis (Hendrayana, Hal.96). Adapun hasil penemuan yang menerangkan hal ini banyak terdapat di daerah jawa terutama daerah di Tulungangung, Wajak, lembah Sungai Benggawan Solo dan lembah Sungai Brantas.

Manusia purba sedang mencari makanan

Berdasarkan pembagian zaman pra sejarah yang didasarkan pada geologi, manusia purba baru ada pada Masa Kenozoikum atau Neozoikum (60 juta tahun yang lalu) dalam Zaman Kwarter yakni pada kurun waktu atau kala Plestosen, sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Pada masa itu keadaan bumi sangat dingin hingga lima kali mengalami keadaan sebagai zaman es. Sebagian besar belahan bumi utara seperti Eropa bagian utara, Amerika bagian Utara dan Asia bagian utara tertutupi es. Adapun kehidupan flora dan faunanya hampir mirip dengan yang ada sekarang dan binatang raksasa pun telah berangsur punah. Manusia purba Meganthropus Paleojavanicus dan Pithecanthropus erectus telah ada di masa ini yakni pada kala Plestosen awal (Hendrayana, Hal.94 dan Tarunasena, Hal.124).

Wardaya dalam Cakrawala Sejarah, hal. 71 menerangkan bahwa banyak teori telah dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan terkait perkembangan evolusi manusia pada zaman purba terutama secara biologis namun hal ini masih memiliki banyak kekurangan yang disebabkan karena belum ditemukannya bukti secara lengkap. Oleh karena itu, kita harus menyeleksi teori para ahli tersebut dengan bijaksana. Adapun yang dimaksud evolusi biologis disini yaitu perubahan satu takson menjadi takson yang lain atau takson lama berubah menjadi lebih sedikit sehingga yang dimaksud bukanlah perubahan dalam satu individu, tapi perubahan dalam suatu populasi. Misalnya, 1 juta tahun yang lalu telah dikubur manusia cacat berbadan 1, tapi berkepala dua (bayi dampet). Nah, selang 1 juta tahun kemudian, fosil manusia cacat tersebut ditemukan oleh seorang ilmuwan. Pertanyaannya adalah -Apa bisa kemudian kita simpulkan bahwa manusia berkepala satu saat ini berasal dari manusia berkepala dua?-. Tentu saja tidak, oleh karena itu evolusi disini yaitu perubahan gen dalam jangka waktu tertentu yang terjadi dalam suatu populasi, bukan individu. (Catatan: takson yakni suatu kelompok makhluk hidup yang memiliki banyak persamaan ciri).

Pada abad ke-19, Darwin dalam bukunya The Origin of Species mengemukakan bahwa spesies yang hidup saat ini berasal dari spesies yang berasal dari masa lalu yang telah melewati proses seleksi alam. Teori evolusi manusia ini mengungkapkan pendapat bahwa manusia berasal dari Australopithecus africanus (Kera Afrika Selatan) ke Australopithecus habilis (Homo habilis) yang berevolusi menjadi Homo erectus kemudian berevolusi lagi ke Homo neaderthalensis kemudian berevolusi lagi ke Homo sapiens yang merupakan nenek moyang manusia saat ini yang kemudian menyebar ke deluruh dunia. Namun, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendapat ini mulai ditinggalkan karena Australopithecus africanus dan Australopithecus habilis (Homo habilis) tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan manusia melainkan hanyalah sekumpulan spesies kera Afrika yang telah lama punah. Selain itu Australopithecus africanus diketahui hidup sejaman dengan Homo Habilis dan Homo Erectus jadi tak mungkin berada dalam urutan suatu rantai evolusi (Alan Walker, Science, Bd. 207, 1980, S. 1103). Holly Smith berpendapat bahwa Australopithecus africanus dan Australopithecus Habilis merupakan spesies kera sedangkan Homo neaderthalensis dan Homo sapiens dapat diklasifikasikan dengan manusia (Holly Smith, American Journal of Physical Antropology, Bd. 94, 1994, S. 307-325 ff.).

Nah, untuk memberikan gambaran perbedaan tengkoraknya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Perbandingan tengkorak manusia purba

Gambar. Perbandingan tengkorak manusia purba (Sumber: Pustaka Pengetahuan Modern, Planet Bumi)

Menurut Prof. Dr. T. Jacob, seorang pakar antropologi menuturkan bahwa manusia purba atau manusia fosil sudah lama punah. Saat ini, penemuan lebih banyak menemukan fosil-fosil dari hewan dan tumbuhan saja daripada penemuan fosil manusia purba. Adapun peneliti yang pernah melakukan penelitian di Indonesia antara lain Dokter Eugene Dubois yang meneliti di daerah Trinil dan Emil Lenore Selenka yang meneliti di daerah jawa tengah, serta peneliti lainnya seperti C. Ter Haar, Oppenoorth dan Von Koenigswald yang meneliti di daerah Sangiran, Ngawi, Sragen, Mojokerto dan Ngandong (Wardaya,hal.72).

Jenis-jenis manusia purba di Indonesia

Berikut ini adalah jenis-jenis manusia purba di Indonesia yang diperkirakan telah hidup pada Zaman Palaeolitikum (menurut pembabakan Arkeologi) atau Kala Plestosen awal (menurut pembabakan geologi):

1. Meganthropus

Tengkorak salah satu jenis Manusia purba di Indonesia yaitu Meganthropus Paleojavanicus

Gambar. Tengkorak salah satu jenis Manusia purba di Indonesia yaitu Meganthropus Paleojavanicus (Sumber: kucuba.com)

Meganthropus paleojavanicus merupakan manusia purba yang telah ditemukan di daerah Sangiran oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 dan tahun 1941. Meganthropus paleojavanicus memiliki arti manusia Jawa purba yang bertubuh besar (mega). Jenis manusia purba ini diperkirakan telah hidup sekitar 1-2 juta tahun yang lalu dengan makanan utamanya adalah tumbuh-tumbuhan. Adapun ciri-ciri manusia purba Meganthropus palaeojavanicus antara lain:

a. Tulang pipi tebal,
b. Otot rahang sangat kuat,
c. Tidak memiliki dagu,
d. Tonjolan belakang yang tajam,
e. Tulang kening menonjol ke depan,
f. Perawakan tegap,
g. Memakan tumbuh-tumbuhan,
H. Kehidupan sosialnya hidup dalam kelompok-kelompok dan berpindah-pindah.

2. Pithecanthropus

Pithecanthropus memiliki arti sebagai manusia kera yang banyak ditemukan di daerah Perning daerah Mojokerto, Trinil (Ngawi), Kedungbrubus (Madiun) dan Sangiran (Sragen). Tjokrohandojo bersama Duyfjes (ahli purbakala) telah menemukan fosil tengkorak anak pada lapisan Pleistosen Bawah di daerah Kepuhlagen, Mojokerto yang kemudian diberi nama Pithecanthropus mojokertensis. Manusia purba jenis Pithecanthropus memiliki ciri-ciri antara lain:

a. Rahang bawah kuat,
b. Tulang pipi tebal,
c. Kening menonjol,
d. Tulang belakang menonjol dan tajam,
e. Tidak berdagu,
f. Memakan tumbuh-tumbuhan,
g. Perawakan tegap serta memiliki perlekatan otot tengkuk besar dan kuat.

Adapun jenis manusia purba Pithecanthropus yang telah ditemukan di Indonesia antara lain:

a. Pithecanthropus erectus (manusia kera berjalan tegak)

Pithecanthropus erectus telah ditemukan di daerah Kedungbrubus (Madiun) dan Trinil (Ngawi) pada tahun 1890, 1891 dan 1892 oleh Dr. Eugene Dubois. Penemuan ini kemudian dianggap mampu menjadi penghubung (link) yang menghubungkan antara kera dengan manusia. Selain itu, bukti ini juga didukung dengan penemuan manusia Neanderthal di Jerman. Akan tetapi, pendapatnya ini mulai terbantahkan tatkala ditemukannya fosil-fosil manusia purba lainnya di Sangiran (Jawa Tengah), Mojokerto (Jawa Timur), Cina dan Tanzania yang memiliki usia lebih tua daripada Pithecanthropus, yakni sekitar 500.000 sampai 750.000 tahun.

Pithecanthropus erectus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a) Berjalan tegak,
b) Volume otaknya melebihi 900 cc,
c) Memiliki perawakan badan yang tegap disertai alat pengunyah yang kuat,
d) Tinggi badan sekitar 165 – 170 cm,
e) Berat badan sekitar 100 kg,
f) Makanan masih kasar karena hanya sedikit dikunyah,
g) Diperkirakan mereka telah hidup setengah sampai satu juta tahun yang lalu.

b. Pithecanthropus robustus (manusia kera berahang besar)

Fosil Pithecanthropus robustus ditemukan oleh Weidenreich pada tahun 1939 di daerah Sangiran, Sragen (Jawa Tengah). Selain itu ditemukan juga fosil tengkorak anak berumur sekitar 5 tahun di daerah Mojokerto oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 – 1941 yang kemudian dikenal dengan nama Pithecanthropus mojokertensis atau manusia kera dari Mojokerto. Fosil ini memiliki ciri hidung lebar, tubuhnya tinggi, tulang pipi kuat serta hidupnya mengumpulkan makanan (food gathering).

Di lembah Sungai Benggawan Solo banyak sekali ditemukan fosil-fosil manusia purba. Dr. Von Koenigswald kemudian membagi lapisan Diluvium sungai tersebut menjadi 3 bagian, yaitu:

1) Lapisan Jetis (Pleistosen Bawah) telah ditemukan Pithecanthropus robustus dengan ukuran yang lebih besar dan kuat,
2) Lapisan Trinil (Pleistosen Tengah) telah ditemukan Pithecanthropus erectus,
3) Lapisan Ngandong (Pleistosen Atas) telah ditemukan Homo soloensis.

c. Pithecanthropus dubuis (dubuis artinya meragukan)

Fosil Pithecanthropus dubuis telah berhasil ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1939 di daerah Sangiran pada lapisan Pleistosen Bawah.

d. Pithecanthropus soloensis (manusia kera dari Solo)

Pithecanthropus soloensis telah ditemukan pada tahun 1931 – 1933 oleh Von Koenigswald, Oppennoorth dan Ter Haar di daerah tepi Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah.

3. Homo

Homo (manusia) merupakan manusia purba yang dinilai paling modern daripada jenis manusia purba yang lainnya. Manusia purba jenis ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a) memiliki berat badan sekitar 30-150 kg,
b) volume otaknya lebih dari 1.350 cc,
c) alat-alat perkakasnya dibuat dari batu dan tulang,
d) berjalan dengan tegak,
e) muka dan hidung lebar,
f) mulut masih menonjol ke depan.

Manusia jenis homo itu sendiri dapat kita bedakan lagi menjadi 3 jenis yakni:

a. Homo wajakensis (manusia dari Wajak)

Homo wajakensis ditemukan pada tahun 1889 oleh Von Rietschoten di daerah Wajak (Tulungagung) yang berupa beberapa bagian tengkorak. Adapun fosil ini berhasil ditemukan pada Pleistosen Atas dimana termasuk dalam ras Australoid yang bernenek moyang Homo soloensis yang kemudian menjadi nenek moyang Australia. Manusia purba Homo wajakensis oleh Von Rietschoten kemudian dimasukan kejenis sebagai manusia purba cerdas (Homo Sapiens) yang hidup sekitar 25.000-40.000 tahun yang lalu.

Manusia purba jenis ini memiliki ciri sebagai berikut:

1) memiliki tinggi sekitar 130–210 cm,
2) berat badan sekitar 30 – 150 kg,
3) muka dan hidung lebar,
4) dahi dan mulut menonjul.

b. Homo soloensis (manusia dari Solo)

Pada tahun 1931 – 1932, ahli Geologi Belanda (C. Ter Haar dan Ir. Oppenoorth) menemukan 11 tengkorak Homo soloensis pada lapisan Pleistosen Atas di daerah Ngandong, Ngawi (Jawa Timur). Homo Soloensis artinya manusia dari Solo. Fosil ini kemudian diteliti oleh Von Koenigswald dan Weidenreich yang kemudian diketahui bahwa fosil tersebut merupakan fosil sudah manusia (bukan kera).

c. Homo sapiens

Homo sapiens merupakan manusia purba yang cerdas dan bentuk tubuhnya seperti manusia saat ini. Kehidupan manusia purba ini masih sering berpindah-pindah (mengembara) dan sangat sederhana. Ciri-ciri manusia purba ini adalah sebagai berikut:

1) volume otak sekitar 1.000 cc – 1.200 cc.
2) tinggi badannya antara 130 – 210 m.
3) otot tengkuk, alat kunyah dan gigi telah mengalami penyusutan.
4) muka sudah tidak menonjol ke depan.
5) berdiri dan berjalan dengan tegak.
6) memiliki dagu serta tulang rahangnya biasa dan tidak terlalu kuat.

Ada 3 jenis subspesies dari Homo sapiens yang dianggap telah menurunkan manusia saat ini, yakni:

1) Ras Mongoloid

Ras Mongoloid menyebar ke Asia Timur seperti Asia Tenggara, Jepang, Cina dan Korea. Jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri tipe rambut lurus, kulit kuning dan mata sipit.

2) Ras Kaukasoid

Ras Kaukasoid menyebar ke Eropa, India Utara (ras Arya), Yahudi (ras Semit) dan menyebar ke daerah Turki, Arab serta daerah Asia Barat lainnya. Adapun jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri kulit putih, rambut lurus, tinggi dan berhidung mancung.

3) Ras Negroid

Ras Negroid menyebar ke Australia (ras Aborigin), Papua dan ke daerah Afrika. Adapun jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri kulit hitam, bibir tebal serta rambut keriting.

Dikutib dari Tarunasena (hal. 210) dijelaskan bahwa setelah penjajahan Belanda usai, penelitian terkait jenis-jenis manusia purba di Indonesia banyak dilakukan oleh ilmuwan lokal (1952), salah satunya adalah Prof. Dr. Teuku Jacob. Beliau melakukan penelitian di daerah Sangiran kemudian meluas di daerah Benggawan Solo.

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menggolongkan bahwa penyebaran penemuan manusia purba di Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut.

a. Holosen terdapat Homo Sapiens,

b. Plestosen atas terdapat Homo Wajakensis dan Homo Soloensis,

c. Plestosen tengah terapat Pithecanthropus Erectus,

d. Plestosen bawah terdapat Pithecanthropus Erectus, Pithecanthropus Mojokertensis dan Meganthropus Paleojavanicus.

[color-box]Hendrayana.2009. Sejarah 1. Bandung:CV. Titian Ilmu.
Tarunasena.2009. Memahami Sejarah. Bandung:CV. Armico.
Wardaya.2009.Cakrawala Sejarah.Surakarta:PT. Widya Duta Grafika.[/color-box]

Tim Siswapedia

Tim Siswapedia

"Kami mendukung pendidikan gratis di Indonesia"

2 Respon

  1. Manusia Modern berkata:

    Gagasan Darwis mengenai manusia yang berasal dari kera tidak bisa diterima oleh sains modern. Contoh kecilnya saja yaitu perkembangan kecerdasan otak manusia dan kera. Kecerdasan manusia bisa berkembang dengan pesat sedangkan kera sangatlah lambat. :mrgreen:

  2. Sandiaga Rahmat Sandiaga Rahmat berkata:

    ada baiknya buku pengetahuan seperti geografi, sejarah yang dijadikan literatur di indonesia untuk dikaji ulang, maksudnya disesuaikan dengan penemuan terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *