Drama
Jaket 2in1 berfungsi Sebagai Jaket sekaligus Jas hujan, Nyaman & tidak rembes. Menerima reseller & agen. Buruan...! temukan koleksimu disini
Aneka produk Herbal,100 % berasal dari ekstraksi bahan-bahan alami. Berkhasiat ampuh untuk menyembuhkan segala macam jenis penyakit & tidak berbahaya bagi tubuh.

1. Pengertian Drama

    Kata ”drama” berasal dari kata dran. Kata dran merupakan bahasa Yunani yang berarti gerak. Beberapa pengertian drama sebagai berikut.
    a. Drama berarti kehidupan manusia yang diekspresikan secara langsung di muka kita.
    b. Drama merupakan suatu bentuk kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia melalui gerak.
    c. Drama dapat disebut juga suatu bentuk cerita yang berisi konflik, sikap, dan sifat manusia dalam bentuk dialog, yang diwujudkan melalui pentas dengan menggunakan percakapan dan gerak di hadapan pendengar atau penonton.

2. Unsur-Unsur Drama

    Drama terdiri atas komponen-komponen kesastraan. Komponenkomponen kesastraan sering disebut unsur-unsur struktur drama. Unsur-unsur struktur drama meliputi
    a. Plot
    Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir konflik antara tokoh-tokohnya. Jalinan konflik dalam plot meliputi:
    1) Eksposition atau pelukisan awal cerita
    Dalam tahap ini pembaca atau penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama dan wataknya masing-masing. Pembaca atau penonton mulai mendapat gambaran tentang lakon yang dibaca.
    Contoh:
    Tahap pelukisan awal drama Romeo dan Juliet yaitu saat perkenalan Romeo dan Juliet di pesta Juliet. Pembaca mulai mengenal siapa Romeo, siapa Juliet, dan bagaimana watak mereka
    2) Komplikasi atau pertikaian awal
    Pada tahap ini konflik mulai terlihat tetapi konflik belum sampai klimaks.
    Contoh:
    . . . .
    Romeo : Kalau kau tak suka aku seorang Montague, maka kukatakan tidak terhadap nama itu.
    Juliet : Bagaimana bisa kau sampai ke sini dan untuk keperluan apa? Pagar tembok itu tinggi dan susah sekali dipanjat. Dengarkan, kalau kau akan mati jika ada anggota keluargaku melihatmu di sini.
    Romeo : Sayap cinta menerbangkanku ke atas tembok ini. Dan tebing batu tak sangup menghambat gejolak cinta ini. Gejolaknya memungkinkan semuanya terjadi. Dengan cinta, aku tak takut dengan keluargamu.
    Juliet : Jika ketahuan, Romeo, kau akan dibunuh.
    Romeo : Pandangan matamu lebih berbahaya dari 20 mata pedang mereka. Asal kauterima aku dengan tulus hati, aku akan kebal dari tusukan pedang mereka.
    . . . .
    Dikutip dari: Romeo dan Juliet, William Shakespeare, Hyena, Jakarta, 2000
    Dari dialog tersebut diketahui konflik awal yaitu kisah cinta Romeo dan Juliet yang ditentang oleh keluarga mereka.
    3) Klimaks atau titik puncak cerita
    Konflik yang terjadi akan meningkat terus sampai mencapai klimaks atau titik puncak atau puncak kegawatan dalam cerita.
    Contoh:
    Pada drama Romeo dan Juliet konflik mulai memuncak ketika Pendeta Lorenso menikahkan Romeo dan Juliet. Kemudian, Romeo dibuang ke daerah pembuangan dan Juliet yang dibius agar terlihat seperti orang mati. Namun, Romeo mengira Juliet benar-benar mati dan Romeo bunuh diri dengan meminum racun di hadapan Juliet.
    b. Tokoh
    Tokoh cerita naratif adalah individu atau pelaku rekaan yang mengalami peristiwa-peristiwa cerita. Pada umumnya, tokoh tersebut berwujud manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
    1) Jenis tokoh
    Cerita naratif memiliki tokoh utama atau sentral dan tokoh bawahan atau sampingan. Tokoh utama terdiri atas protagonist (pembawa ide) dan antagonis (penentang ide). Kedua tokoh ini diutamakan penceritaannya, baik sebagai pelaku peristiwa maupun yang dikenainya. Tokoh bawahan adalah tokoh yang kehadirannya dalam cerita sekadar mendukung tokoh utama, tetapi pemunculannya diperlukan. Dalam beberapa cerita naratif terdapat tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh utama. Tokoh ini disebut tokoh andalan. Tokoh andalan memberi gambaran yang terperinci mengenai tokoh utama tersebut.
    Contoh:
    Tokoh-tokoh dalam kutipan cerita Sang Juara sebagai berikut.
    Tokoh utama : Muhdi dan Orang bertubuh kerdil
    Tokoh bawahan : Burha dan Aku
    c. Perwatakan
    Penokohan atau perwatakan merupakan penyajian watak dan penciptaan citra tokoh dengan penggambaran ciri-ciri lahir, sifat, serta sikap batin tokoh cerita. Dengan demikian, segala perbuatan tokoh cerita dapat dipertanggungjawabkan secara logis sesuai dengan penceritaan.
    Ada dua macam penokohan, yakni watak datar ‘flat character’ dan watak bulat ’round character’. Tokoh yang berwatak datar hanya mempunyai satu gambaran aspek watak saja dalam penceritaan. Penggambarannya pun tidak berkembang atau tidak berubah dari awal cerita hingga akhir cerita. Tokoh yang berwatak bulat memiliki gambaran watak yang bermacam-macam dalam penceritaan dan wataknya berkembang.
    Contoh:
    Sombong : Muhdi
    Rendah hati : Burham
    Rendah hati : Aku
    Rendah hati : Orang bertubuh kerdil
    d. Setting atau latar
    Latar dalam sebuah cerita naratif adalah lingkungan atau tempat terjadinya peristiwa-peristiwa cerita. Segala keterangan, petunjuk, dan pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, serta suasana lingkungan terjadinya peristiwa akan membangun latar cerita.
    1) Latar memiliki empat unsur pokok, yakni latar tempat, latar waktu, latar alat, dan latar sosial. Latar tempat berkaitan dengan lokasi geografis, dalam ruangan, ataupun di alam bebas. Latar waktu berkaitan dengan waktu terjadinya peristiwa yang dapat ditinjau dari jam, hari, tanggal, bulan, tahun, malam, musim, bahkan, zaman tertentu atau periode sejarah. Latar sosial menggambarkan status seorang atau beberapa orang tokoh cerita dalam masyarakat, termasuk pekerjaan dan cara hidup tokoh sehari-hari serta lingkungan religius, moral, intelektual, ataupun emosional tokoh-tokohnya. Latar alat mengacu pada segala benda atau barang yang dipakai oleh tokoh cerita dalam melakukan tindakan.
    2) Fungsi latar yakni memberikan informasi tentang ruang dan tempat. Latar juga berfungsi sebagai pencerminan keadaan batin para tokoh. Dengan demikian, latar menjadi metafor dari keadaan emosional dan spiritual tokoh.
    3) Suasana atau atmosfer dalam latar membayangkan suasana,keadaan gembira, murung, kecewa, misteri, ataupun kalut.
    Contoh:
    Pada kutipan cerita Sang Juara mengambil latar tempat sebuah gardu Hansip. Latar waktu pada siang hari. Latar suasana santai.
    e. Tema
    Tema merupakan gagasan pokok atau ide yang mendasari pembuatan sebuah drama. Tema drama digambarkan melalui rangkaian peristiwa. Rangkaian ini menjadi dasar alur cerita, tokoh-tokoh dengan perwatakannya, dan dialog yang diucapkannya. Tema dalam drama dikembangkan melalui alur, tokoh-tokoh dengan perwatakan yang memungkinkan konflik, dan dialog. Tema yang biasa diangkat dalam drama adalah masalah percintaan, kritik sosial, kemiskinan, kesenjangan sosial, penindasan, ketuhanan, keluarga yang retak, patriotisme, perikemanusiaan, dan renungan hidup.
    Ada empat kriteria penafsiran tema, yaitu:
    1) Penafsiran tema mempertimbangkan rincian-rincian peristiwa cerita yang menonjol (ini menjadi kriteria terpenting).
    2) Penafsiran tema tidak bertentangan dengan rincian peristiwa.
    3) Penafsiran tema didasari bukti-bukti peristiwa.
    4) Penafsiran tema dihubungkan dengan data atau rincian peristiwa yang ada rujukannya dalam cerita.
    Contoh:
    Tema pada kutipan cerita Sang Juara adalah kesombongan sang juara dalam pertandingan catur.
    f. Amanat
    Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton melalui karyanya. Amanat ditentukan atau dicari sendiri oleh pembaca atau penonton. Setiap pembaca atau penonton dapat berbeda-beda dalam menafsirkan amanat. Amanat bersifat subjektif dan umum. Tema bersifat lugas, objektif, dan khusus. Amanat sebuah drama akan lebih mudah ditafsirkan jika drama itu dipentaskan. Amanat bermanfaat dalam kehidupan seharihari. Amanat drama selalu berhubungan dengan tema.
    Contoh:
    Drama Romeo dan Juliet bertema masalah percintaan yang berakhir dengan kematian. Berdasarkan tema, drama Romeo dan Juliet memiliki amanat yaitu meskipun manusia begitu cermat dan teliti merencanakan sesuatu, Tuhan jugalah yang menentukan segala yang terjadi, manusia tidak kuasa melawan garis nasib yang ditetapkan oleh Tuhan. Amanat drama Romeo dan Juliet yang dipaparkan di atas adalah versi penulis. Amanat drama Romeo dan Juliet dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh penonton atau pembacanya.
    g. Konflik
    Konflik adalah pertentangan atau ketegangan dalam sebuah drama. Konflik dibedakan menjadi dua kategori.
    1) Konflik eksternal
    Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara tokoh dengan sesuatu di luar dirinya, baik dengan lingkungan alam ataupun lingkungan manusia. Konflik eksternal dibagi menjadi dua, yaitu:
    a) Konflik fisik adalah konflik yang disebabkan adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan. Misalnya, konflik yang dialami tokoh akibat banjir, kemarau panjang, gunung meletus, ataupun peristiwa alam lainnya.
    b) Konflik sosial adalah konflik atau masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia. Misalnya, masalah perburuhan, penindasan, percekcokan.
    2) Konflik internal/konflik batin
    Konflik batin adalah konflik antara tokoh dengan dirinya sendiri. Ada berbagai jenis drama yang dikenal masyarakat, antara lain teater rakyat, lenong, sandiwara, dan drama. Bentuk drama meliputi drama berbentuk prosa dan drama berbentuk puisi (balada).
    Setiap komponen kesastraan tersebut saling berhubungan dalam membentuk sebuah drama. Seluruh komponen kesastraan merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
    Contoh:
    Komponen tokoh dalam drama selalu berhubungan dengan perwatakan. Hubungan tersebut terjadi karena setiap tokoh yang ada dalam drama harus mempunyai watak atau karakter. Watak setiap tokoh dapat terlihat dari dialog-dialog yang ada. Dialog-dialog tersebut dinyatakan dalam bentuk tindakan atau perbuatan. Perbedaan watak antartokohnya dapat menimbulkan konflik.

3. Menulis Drama

    Menulis naskah drama berbeda dengan menulis naskah cerita narasi. Drama terdiri atas adegan dengan yang didalamnya meliputi dialog-dialog, sedangkan cerita terdiri atas paragraf-paragraf. Dalam drama, perilaku tokoh dapat dideskripsikan dalam bentuk dialog.Ditinjau dari cara penyajiannya, drama dapat dibedakan menjadi : opera, operet, pantomim, tablo, lawak, sendratari, sandiwara radio atau drama mini kata. Tiap jenisnya memiliki perbedaan.

4. Mengenal Unsur-unsur Drama

    Drama memeliki dua aspek, yaitu aspek cerita dan aspek pementasan.
    a. Aspek cerita
    Aspek cerita mengungkapkan peristiwa atau kejadian yang dialami pelaku. Kadang kadang pada kesan itu tersirat pesan tertentu. Keterpaduan kesan dan pesan ini terangkum dalam cerita yang dilukiskan dalam drama.
    b. Aspek pementasan
    Aspek pementasan drama dalam arti sesungguhnya ialah pertunjukan di atas panggung berupa pementasan cerita tertentu oleh para pelaku. Pementasan ini didukung oleh dekorasi panggung, tata lampu, tata musik dsb. Kekhasan naskah drama dari karya sastra yang lain ialah adanya dialog, alur, dan episode. Dialog drama biasanya disusun dalam bentuk skenario (rencana lakon sandiwara secara terperinci).
    Drama memiliki bentuk yang bermacam-macam, yaitu:
    a. Tragedi ialah drama duka yang menampilkan pelakunya terlibat dalam pertikaian serius yang menimpanya sehingga menimbulkan takut, ngeri, menyedihkan sehingga menimbulkan tumpuan rasa kasihan penonton.
    b. Melodrama ialah lakon yang sangat sentimental dengan pementasan yang mendebarkan dan mengharukan penggarapan alur dan lakon yang berlebihan sehingga sering penokohan kurang diperhatikan.
    c. Komedi ialah lakon ringan untuk menghibur namun berisikan sindiran halus. Para pelaku berusaha menciptakan situasi yang menggelikan.
    d. Force ialah pertunjukan jenaka yang mengutamakan kelucuan. Namun di dalamnya tidak terdapat unsur sindiran. Para pelakunya berusaha berbuat kejenakaan tentang diri mereka masing-masing.
    e. Satire, kelucuan dalam hidup yang ditanggapi dengan kesungguhan biasanya digunakan untuk melakukan kecaman/kritik terselubung.

5. Mendeskripsikan Perilaku dalam Bentuk Dialog Naskah Drama

    Telah disebutkan di atas bahwa kekhasan naskah drama adalah adanya dialog dalam naskah drama. Perilaku tokoh dalam naskah drama dapat tercermin dari dialog yang diucapkan. Selain dalam dialog, perilaku drama dapat disertakan dalam bentuk keterangan lakuan.

6. Menyadur Cerpen Menjadi Drama

    Menyadur adalah menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita. Cerpen terdiri atas paragraf-paragraf, sedangkan drama terdiri atas adegan-adegan dan dialog.
    Langkah-langkah menyadur drama adalah
    a. Membaca cerpen tersebut dengan teliti
    b. Mengenali unsur-unsur cerpen, kemudian mencatat unsur-unsur tersebut.
    c. Menyempurnakan catatan dari awal sampai akhir.
    Menyadur cerpen dapat dilakukan juga dengan cara memperluas unsur intrinsik dan unsur-unsur lain yang mendukung cerpen misalnya:
    - menambah tokoh
    - mengembangkan penokohan
    - menghidupkan konflik
    - menghadirkan latar yang mendukung
    - memunculkan penampilan (performance)
    Bagian-bagian drama berikut ini:
      a. pengenalan
      b. pemunculan peristiwa atau masalah
      c. situasi menjadi rumit atau masalah menjadi kompleks
      d. masalah/persoalan mencapai klimaks/titik kritis
      e. situasi surut dan penyelesaiannya

7. Memerankan Drama

    Teknik peran (acting) adalah cara mendayagunakan peralatan ekspresi (baik jasmani maupun rohani) serta keterampilan dalam menggunakan unsur penunjang. Yang termasuk keterampilan menggunakan alat ekspresi jasmani adalah keterampilan menggunakan tubuh, kelenturan tubuh, kewajaran bertingkah laku, kemahiran dalam vokal, dan kekayaan imajinasi yang diwujudkan dalam tingkah laku.
    Adapun peralatan ekspresi yang bersifat kejiwaan ialah imajinasi, emosi, kemauan, daya ingat, inteligensi, perasaan, dan pikiran. Oleh seorang pemeran drama, watak tokoh akan digambarkan dengan:
    • penampilan fisik (gagah, bongkok, kurus, dan sebagainya);
    • penampilan laku fisik (lamban, keras, dinamis, dan sebagainya);
    • penampilan vokal (lafal kata-kata, dialog, nyanyian, dan sebagainya); dan
    • penampilan emosi dan IQ (pemarah, cengeng, licik, dan sebagainya).
    Hal tersebut dapat dipelajari dan dilatih dengan olah vokal/suara dan olah sukma. Seorang pemain drama yang baik adalah seorang yang memiliki kemampuan:
    • berakting dengan wajar;
    • menjiwai atau menghayati peran;
    • terampil dan kreatif;
    • berdaya imajinasi kuat; dan
    • mengesankan (meyakinkan penonton).
    Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan naskah drama, yaitu:
    a. Ekspresi wajah
    1) Ekspresi mata
    Mata merupakan pusat ekspresi sehingga harus diolah, dilatih, dan disesuaikan terlebih dahulu sesuai dengan berbagai emosi.
    2) Ekspresi mulut
    Sesudah ekspresi mata dilatih/disesuaikan, baru ekspresi mulut, karena perasaan yang terpancar dari mata merambat ke mulut dengan cara yang sama. Usahakan ekspresi mata sejalan/sesuai dengan ekspresi mulut sehingga keduanya saling mendukung dan mempertegas emosi yang akan ditonjolkan melalui ekspresi seluruh wajah.
    b. Keterampilan kaki
    Pemain pemula banyak yang berpenampilan kaku karena kaki seperti tertancap paku. Kaki harus membuat pemain lebih hidup. Maka harus diusahakan posisi kaki mengikuti arah muka. Jika muka bergerak ke kiri, ikutilah dengan mengubah posisi kaki dan tubuh ke kiri juga.
    c. Suara dan ucapan
    Jika kita bermain tanpa pengeras suara, maka dituntut suara yang lantang agar dapat meraih sejauh mungkin pendengar. Yang penting di sini adalah bagaimana agar suara kita dapat jelas terdengar tapi tidak memekik. Banyak orang berbicara dengan rahang dan bibir hampir-hampir tertutup dan tidak digunakan semestinya. Turunkan rahang dan lidah. Buka bibir dan letupkan suara.
    d. Penafsiran/Interpretasi
    Dalam penafsiran seorang pemain harus memahami keseluruhan cerita yang dijalin dalam plot tertentu serta mengenal watak tokoh yang diperankannya. Kegiatan ini dapat menjadi kerjasama antara sutradara dan pemain/aktor dalam memahami naskah.

8. Mementaskan Drama

    Pementasan drama yang perlu diidentifikasi adalah konflik, dialog, peristiwa, tokoh, dan watak tokoh. Unsur dalam drama seperti dalam cerpen, novel, maupun roman adalah dialog yang menjadi ciri formal drama yang membedakannya dengan bentuk prosa yang lain. Selain dialog, juga ada plot/alur, karakter/tokoh, dan latar/setting. Naskah drama apabila dipentaskan harus dilengkapi dengan unsur gerakan, tata busana, tata rias, tata panggung, tata bunyi, dan tata sinar.
    Fungsi dialog dalam drama adalah melukiskan watak tokoh-tokohnya, mengembangkan plot dan menjelaskan isi cerita kepada penonton, memberikan isyarat peristiwa yang mendahului maupun yang akan datang, dan memberikan komentar terhadap peristiwa yang sedang terjadi dalam drama tersebut. Pemilihan pemain harus didasarkan pada kemampuan calon pemain untuk memerankan tokoh tertentu, kesesuaian postur tubuh, tipe gerak, dan suara calon pemain dengan tokoh yang akan diperankannya.
    Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam pementasan drama adalah
    1. sutradara sebagai pemimpin pementasan;
    2. penulis naskah/cerita; penata artistik yang mengatur setting, lighting maupun properti;
    3. pinata musik yang mengatur musik, pengiring, dan efek-efek suara; penata kostum yang merancang pakaian sesuai dengan peran;
    4. penata rias, yang merancang rias sesuai dengan peran; penata tari/koreografer yang menata gerak dalam pementasan, pemain, yang akan memerankan tokoh-tokohnya.
    Dalam menanggapi pementasan drama ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu unsur drama dan unsur pendukung pementasan drama. Unsur drama meliputi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur pendukung pementasan meliputi pemain, panggung, kostum, dan lain-lain.

Euis Sulastri, dkk. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia 2untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Gunawan Budi Santoso, dkk. 2008. Terampil Berbahasa Indonesia 2 Program Bahasa untuk Kelas XI SMA/MA. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Ingin Wajah anda bersih bebas jerawat,bekas jerawat,flek hitam dan memutihkan secara alami. Best Seller 100%. Menerima Seller, dropship & Agen. 08561161155
Buat iklan menarik dengan berbagai kemudahan agar orang tahu produk Anda dan mengunjungi situs web Anda.

Sampaikan kritik & saranmu di bawah ini:


Al Khwarizmi, Algoarismi, Al Gorism atau Al Goritma

Al Khwarizmi, Algoarismi, Al Gorism atau Al Goritma

Al Khwarizmi dikenal sebagai bapak matematika dengan nama lengkap Abu Ja'far Muhammad bin Musa[...]
Tahukah Anda?
  • Siapkanlah mental Anda untuk melihat ini, seperti inilah posisi bumi di alam semesta
  • Tanpa matahari, bumi akan mengalami penurunan suhu
  • Ilmuwan memperkirakan bahwa 50% oksigen di bumi dihasilkan oleh bakteri yang hidup di laut
Bersponsor
MBC Clothing maker in Solo
Terima pembuatan : Order kaos Desain Pribadi- Kaos Polos- Kaos angkatan -Jersey Futsal- kemeja pdh- Partai Besar, menerima reseller, buktikan dan order barang kami !!
Kaos Bola Distro Artis Murah
Kaos Bola Artis Brand Distro Termurah se-Indonesia. Kualitas ekspor, Terpercaya 100% harga Mulai 40rb ( Grosir - Eceran ) Menerima Reseller / Dropship | 085251142235 | Pin:7CB9A02F Order Sekarang !

Kritik & Saran | Buat Iklan

Temukan kami di Facebook
Siswapedia. 2014