Fasilitas Tiket Masuk Waduk Sermo dan Bukit Jangkang

Apa saja sih fasilitas tiket masuk waduk sermo dan bukit jangkang itu? berapa jauh dari kota Jogja? bagaimana rute perjalanan ke waduk sermo? itu pertanyaan yang sering diajukan bagi pecinta traveling.

Nah, di halaman ini kita akan membahas lengkap dua objek wisata yang letaknya ada di satu wilayah berdekatan. Apa sajakah itu? yaitu waduk sermo dan bukit jangkang.

A. Objek Wisata Waduk sermo

Waduk sermo berada di kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta yang pada tanggal 20 November 1996 telah diresmikan oleh Presiden Soeharto setelah memakan waktu sekitar dua tahun pembangunan.

Artikel terkait: Desa wisata kalibiru kulon progo

Waduk ini dibuat untuk keperluan irigasi untuk area seluas 7.152 Ha yang terletak di Kalibawang dengan anggaran Rp 22 Miliar. Dengan membendung sungai Ngrancah dan memindahkan 107 kepala keluarga waduk ini berhasil dibangun.

Fasilitas tiket masuk waduk sermo dan bukit jangkang

Pada saat itu, 100 kepala keluarga ditransmigrasikan di daerah Tak Toi, Bengkulu dan sebanyak 7 kepala keluarga ditransmigrasikan ke perkebunan kelapa sawit, Riau. Sisanya memilih tetap tinggal di sekitaran waduk sermo.

Selain sebagai penampung air untuk irigasi, waduk sermo juga digunakan sebagai penyedia air oleh PDAM, sebagai tempat penelitian universitas, tempat berlatihnya para atlit dayung, perikanan penduduk lokal serta sebagai objek wisata.

Bagi pecinta wisata alam, waduk sermo memberikan nuansa kesejukan karena berada di tengah hutan yang masih lestari. Selain itu, waduk sermo juga menyediakan spot wisata menarik.

Artikel terkait: Puncak Suroloyo

Berikut beberapa informasi penting terkait waduk sermo:

Harga tiket masuk waduk sermo

  • Sepeda motor Rp 2.000,-
  • Mobil Rp 3.000,-
  • Bus Rp 10.000,-
  • Dewasa Rp 5.000,- per-orang

Harga sewa perahu di waduk sermo

  • Biaya sewa perahu Rp 30.000,- per-perahu
  • Wisata keliling waduk sermo Rp 6.000,- per-orang

Fasilitas Waduk Sermo

  • Masjid
  • Toilet
  • Loket masuk
  • Gazebo
  • Penyewaan perlengkapan mancing
  • Bengkel
  • Kios
  • Warung makan atau rumah makan
  • Penyewaan perahu
  • Tempat perkemahan
  • Wisata jelajah alam

Selain itu di pinggir waduk sermo juga ada beberapa objek wisata air seperti taman pring bambu, taman pring kuning dsb yang rata-rata menyediakan tempat berfoto dan berkumpulnya keluarga yang sangat menarik dengan latar belakang waduk sermo.

Taman Pring Kuning di area Waduk Sermo Kulon Progo

Rute Dari Kota Jogja ke Waduk Sermo

Jarak waduk sermo dari kota Jogja sekitar 50 kilometer ke arah barat. Kita bisa melewatinya melalui jalan raya Wates dengan durasi sekitar 90 menit perjalanan.

Artikel terkait: Goa Kiskendo

Jalanan menuju waduk sermo sudah beraspal halus dan teradapat rambu-rambu yang jelas. Nanti akan ada alun-alun Wates yang terdapat patung kuda. Di sana akan akan petunjuk arah menuju waduk sermo.

B. Objek Wisata Bukit Jangkang

Ketika kita menyusuri tepi waduk sermo yang sudah beraspal halus, kita akan menemukan masjid di utara jalan dan ada papan reklame besar bertulisan Bukit Jangkang.

Jalan akan menanjak tajam, bagi yang menggunakan motor bisa membawa kendaraanya hingga ke loket masuk bukit jangkang namun untuk kendaraan mobil apalagi bus bisa parkir di halaman masjid.

Pemandangan di bukit Jangkang Waduk Sermo Yogyakarta

Harga tiket bukit jangkang

  • Harga tiket Rp 3.000,- perorang
  • Harga foto spot Rp 10.000,- perorang

Fasilitas yang tersedia di bukit jangkang

  • Lokasi spot foto waduk sermo dari ketinggian
  • Gazebo
  • Masjid
  • Toilet
  • Loket masuk
  • Penyewaan jasa kamera
  • Warung

Nah, bila ada pertanyaan bagi temen-temen terkait fasilitas tiket masuk waduk sermo dan bukit jangkang bisa ditulis di bawah ini.

Goa Kiskendo

Goa Kiskendo Jogja

Secara administrasi Goa Kiskendo terletak di desa Jatimulyo, kecamatan Girimulyo, kabupaten Kulon Progo, Provinsi Yogyakarta. Secara geologis, tempat wisata ini terletak di atas pegunungan Menoreh yang berada di wilayah paling barat Yogyakarta sekaligus berbatasan dengan wilayah Purworejo, Jawa Tengah.

Gambar. Goa Kiskendo Jogja (Foto: Merlin Julian)

Goa Kiskendo berada di ketinggian 1200 meter dari permukaan laut (dpl) dan berada di tengah-tengah hutan namun saat ini sudah terdapat perkampungan dan sudah menjadi jalan alternatif Jogja-Purworejo. Keadaan udara disini sangat sejuk dan dingin. Untuk jam-jam tertentu terutama di musim penghujan akan terlihat berkabut.

Penemuan Goa Kiskendo terjadi pada tahun 1820. Kemudian pada tahun 1964 tempat ini dijadikan sebagai wisata religi. Sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 1974-1975, Dinas Pariwisata Provinsi Yogyakarta tertarik untuk mengembangkan Goa Kiskendo sebagai tempat wisata yang dikelola secara resmi. Peresmian Goa Kiskendo dilakukan pada tahun 1979.

Pembangunan area sekitar goa dilakukan dengan membeli 17 kapling tanah milik masyarakat sekitar. Pembelian dilakukan oleh Dinas DIY. Sekarang, wilayah sekitar goa dijadikan sebagai taman, loket, kios dan tempat parkir.

Saat ini kompleks wisata Goa Kiskendo dikelola oleh Dinas Pariwisata Kulon Progo. Dan pada tahun 2005 pengelolaannya melibatkan masyarakat sekitar yaitu dengan membuat kelompok sadar wisata Goa Kiskendo. Pada tahun 2007, kelompok masyarakat desa wisata Jatimulyo ditunjuk sebagai penggerak tempat wisata ini (Bca juga: Puncak Suroloyo).

Legenda Goa Kiskendo Yogyakarta
Goa Kiskendo berhubungan erat dengan kisah dua tokoh raksasa (dari bangsa Jin) yang bernama Mahesasura (berkepala sapi) dan Lembu Sura (berkepala kerbau). Keduanya bersaudara dimana Mahesasura merupakan kakak dari Lembu Sura. Kedua kakak-beradik yang dikenal sangat sakti ini membuat kerajaan Kiskendo di Goa Kiskendo.

Suatu ketika, Sang Mahesasura naksir dengan seorang dewi cantik dari negeri kahyangan (negeri bangsa jin yang ada di langit) yang bernama Dewi Tara atau Dewi Tarakasih. Kemudian, sang kakak pun menyuruh sang adik –Lembu Sura- untuk meminta restu kepada Dewa.

Oleh karena sang dewi sangat cantik, Lembu Sura pun menyarankan agar Kakaknya mengurungkan niatnya untuk melamar sang dewi. Namun Mahesasura tetap bersikukuh ingin melamar Dewi Tara. Dengan berat hati, Lembu Sura pun pergi ke Negeri Kahyangan menemui para Dewa untuk menyampaikan maksud kakaknya itu.

Sesuai dengan dugaan Lembu Sura bahwa lamaran kakaknya pun ternyata benar ditolak oleh Dewa. Mendengar berita itu kemudian dengan dibantu oleh Lembu Sura, Mahesasura mengamuk dan meluluh-lantahkan negeri Kahyangan. Ia pun menculik Dewi Tara dan dibawa ke kerajaan Keskendo (Kerajaan Jin di Goa Kiskendo).

Para Dewa yang menghuni kerajaan Kahyangan tidak mampu menandingi kekuatan Mahesasura dan Lembusura. Kemudian mereka rapat untuk mencari solusi guna mengalahkan dua raksasa penculik dewi Tara. Akhirnya disepakati bahwa untuk mengalahkan dua raksasa tersebut perlu menggunakan ajian sakti yaitu Aji Pancasona. Ajian sakti ini tidak boleh sembarangan digunakan karena bisa menjadi “boomerang” bila diberikan kepada orang yang salah, bisa-bisa disalahgunakan. Para dewa ini kemudian turun ke bumi, mencari sosok yang tepat untuk diberikan ajian pancasona ini bahkan mereka juga melakukan sayembara penyelamatan Dewi Tara.

Diputuskan bahwa ajian Pancasona ini akan diberikan kepada petapa dari bangsa manusia yang bernama Subali. Subali merupakan putra dari Resi Gautama dan merupakan kakak dari Sugriwa. Ia bertapa selama puluhan tahun untuk membersihkan hatinya dari keinginan duniawi.

Bathara Guru, Bathara Narada dan para dewa lainnya mendatangi Subali kemudian menyampaikan maksud kedatangannya. Subali pun diberikan Aji Pancasona yang digunakan untuk mengalahkan angakara murka di bumi dan tentu untuk mengalahkan dua raksasa yang telah menculik Dewi Tara.

Setelah setuju, Subali dan adiknya yang bernama Sugriwa kemudian melakukan perjalanan menuju Kerajaan Kiskendo. Dengan diam-diam, Subali mampu mengeluarkan Dewi Tara dari dalam Goa tanpa kesulitan yang berarti. Namun apalah jadi, berkuatan sangat besar membuat hati Subali menjadi sombong. Ia pun menyuruh Sugriwa untuk menjaga Dewi Tara di luar goa.

“Kamu jaga di luar saja. Dewi Tara aku titipkan padamu. Tetaplah berhati-hati. Jika nanti di sungai ini (sungai di sekitar goa kiskendo) airnya menjadi merah berarti aku telah membunuh raksasa itu. Tapi bila airnya bewarna putih itu artinya aku yang mati. Jika aku mati, segera kamu tutup pintu masuk goa ini dengan batu dan ilmumu” Pesan Subali kepada adiknya dengan nada sombong (NB: mana ada darah manusia bewarna putih?).

Kemudian Subali masuk ke dalam Goa dan bertarung melawan Mahesasura dan Lembu Sura. Meskipun berbadan kecil, kekuatan Subali sangat besar hingga mampu membunuh Mahesasura. Akan tetapi ketika Mahesasura telah mati ia akan hidup kembali sesaat ketika adiknya melangkahi mayatnya. Begitupun sebaliknya.

Melihat keanehan ini, Subali pun sempat dibuat kualahan. Kemudian ia berfikir untuk segera menggunakan ajiannya. Tak butuh waktu lama, badan Subali berubah menjadi besar hingga mampu meladeni duel dua lawan satu.

“Dueerrrr…..!!” Bunyi suara dari dalam Goa. Subali memegang kepala Mahesasura dan Lembusura lalu membenturkannya hingga kepala dua raksasa itu pecah. Merahnya darah dua raksasa itu dan putihnya otak kepala raksasa mencemari sungai yang mengalir menuju keluar goa.

Melihat hal ini, Sugriwa berkesimpulan bahwa Kakaknya dan dua raksasa yang menjadi musuhnya sama-sama tewas. Kemudian ia menutup Goa dengan batu besar dan menyegelnya dengan ilmu.

Sugriwa kemudian bergegas membawa sang Dewi Tara ke negeri Kahyangan. Di sana ia disambut dengan meriah dan kemudian dinikahkan dengan Dewi Tara. Merasa tidak berjasa, ia menolak pernikahan ini namun setelah berfikir bahwa kakaknya telah mati. Ia pun kemudian menyaguhinya.

Subali yang berhasil mengalahkan dua raksasa ini kaget ketika tahu bahwa goa sudah ditutup dengan batu besar dan disegel dengan ilmu Sugriwa. Ia pun marah besar dan mengutuk adiknya. Dengan menggunakan Ajian Pancasona, Subali mendobrak batu tersebut hingga pecahannya terlempar beberapa ratus meter ke atas langit.

Dengan marah akhirnya Subali mendatangi negeri Kahyangan dan bertengkar hebat dengan adiknya, Sugriwa. Namun perkelahian kakak beradik ini tidak berlangsung lama setelah sang ayah yang bernama Resi Gautama menjadi penengah terkait masalah ini. Pada akhirnya Sang ayah merestui Sugriwa menikah dengan Dewi Tara dan menyatakan bersalah bagi Subali karena sombong dan memberikan informasi yang salah kepada adiknya, “tidak mungkin manusia mempunyai darah bewarna putih”.

Perilaku Subali ini membuat keluarga Resi Gautama malu dihadapan para dewa. Kemudian sang ayah pun mengutuk Subali dengan sabdanya bahwa kelak Subali akan mati ditangan seorang manusia titisan Bathara Wisnu yang bernama Prabu Rama Wijaya.

Subali yang tidak terima atas keputusan ini akhirnya lepas kendali dan mengumumkan perang dengan Sugriwa. Pada peperangan kakak beradik ini, Sugriwa meminta bantuan Prabu Rama Wijaya untuk memanah Subali. Dan pada akhirnya Subali mati dipanah oleh Prabu Rama Wijaya. Namun sebelum kematiannya, Subali mengucapkan terima kasih pada ayahnya dan mengakui bahwa ia telah bersalah.

Fasilitas di Goa Kiskendo
Fasilitas yang telah dibangun antara lain tempat parkir, loket karcis, kios, tempat informasi, papan informasi, taman bermain anak, taman bermain keluarga, panggung kesenian, toilet, gazebo dll.

Jalan menuju tempat wisata Goa Kiskendo sudah diaspal secara halus dengan kualitas baik sehingga bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Akan tetapi kondisi jalurnya naik-turun dan berkelok khas jalan pegunungan.

Dari Kota Yogyakarta kita bisa menuju ke lokasi ini melewati Jalan Godean, melewati sungai Progo, terus ke arah barat sampai ke kecamatan Jatimulyo Kulon Progo. Jaraknya sekitar 38 km dari Kota Jogja (Baca juga: Taman Lampion Jogja).

Daftar Pustaka:
Pusat informasi wisata alam Goa Kiskendo, Kulon Progo.
Dari situs teamtouring.net dan travel.tribunnews.com diakses tanggal 21 September 2017.

Puncak Suroloyo

Secara administrasi Puncak Suroloyo terletak di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Puncak tertinggi di Yogyakarta ini terletak di barisan pegunungan Menoreh yang memanjang di sisi paling barat dari Yogyakarta hingga ke Jawa Tengah.

Tempat wisata alam ini meskipun bernama Puncak Suroloyo pada dasarnya terdapat tiga puncak yaitu puncak suroloyo, puncak sariloyo dan puncak kaedran. Ketiganya saat ini sudah ditandai dengan bangunan gardu pandang yang dibuat menggunakan cor-coran semen. Letaknya masih dalam satu lokasi wisata.

Untuk mencapai puncak suroloyo dari jalan kita harus menaiki tangga sebanyak 285 anak tangga yang terbuat dari cor semen. Udara di Puncak Soroloyo sangat tipis, lembab dan sejuk karena tempat ini berada di ketinggian sekitar 1017 meter dari permukaan laut. Begitupun untuk puncak Sariloyo dan Kaedran, kita juga harus menaiki tangga namun hanya sekitar 50 anak tangga.

Pada musim kemarau, sekitar pukul 15.00 wib wilayah ini sudah berkabut dengan hawa yang sangat dingin. Sedangkan pada musim penghujan, kabut akan datang lebih cepat sekitar pukul 12.00 wib. Hal inilah yang membuat puncak Suroloyo dikenal dengan sebutan negeri di atas awan.

Dari puncak suroloyo bila tidak berkabut kita akan dapat melihat empat gunung yaitu gunung merapi dan merbabu disebelah utara, gunung sumbing dan sindoro di sebelah barat. Selain itu pula, kita juga bisa melihat Stupa Candi Borobudur. Idealnya untuk dapat melihat jelas di tempat ini sekitar pukul 10.00 wib (baca juga: Taman Lampion Jogjakarta).

Berbicara tentang ketiga puncak tertinggi di Jogja ini tidak bisa terlepas dari kisah sejarah di jaman Kerajaan Mataram Islam, sekitar abad ke-18 Masehi. Ketiga puncak tersebut pada jaman dahulu digunakan sebagai pertapaan. Ritual pertapaan digunakan seseorang yang ingin membersihkan hati, menjauhi diri dari gemerlap kehidupan dunia dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam kitab Cabolek karya Ngabehi Yasadipura dari Keraton Surakarta mengisahkan bahwa jaman dahulu Putra Mahkota Kerajaan Mataram Islam yang bernama Raden Mas Rangsang mendapatkan wangsit untuk menjadi penguasa tanah jawa ia harus melakukan perjalanan ke arah barat. Ia kemudian berjalan melalui Kota gedhe lalu ke Godean terus ke arah barat hingga ke puncak Suroloyo. Disini ia jatuh pingsan karena kelelahan dan dalam keadaan itu, ia menerima wangsit kedua yaitu melakukan pertapaan di tempat ini. Dan Raden Mas Rangsang pun memiliki gelar Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Selain tiga puncak itu, juga terdapat mata air yang disakralkan yang bernama Sendang Kawidodaren. Mata air ini tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau. Kita bisa melihatnya di bawah ini.

Setiap tanggal 1 Suro kalau dalam kalender Islam yaitu 1 Muharram akan dilaksanakan acara bernama jamasan atau ritual tolak bala. Ritual tolak bala bermaksud agar Tuhan memberikan keselamatan bagi penduduk Suroloyo sekaligus sebagai ucapan syukur kepada Tuhan atas rizki, karunia dan anugerahnya.

Ritual ini berisi dzikir tahlil dan doa bersama sekaligus shodaqoh makanan dari hasil bumi yang dibentuk seperti gunungan. Gunungan ini nantinya dibagikan secara umum sehingga masyarakat akan berebut. Bagi umat Islam, makanan halal apalagi yang telah diberi do’a dipercaya akan mengandung berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selain acara tolak bala di tanggal 1 Suro ini dilakukan pula acara kesenian tradisional khas Yogyakarta yaitu kirab dua pusaka atau benda bersejarah. Dua pusaka (Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Manggolo Dewo) akan dibawa menuju Sendang Kawidodaren. Disini keduanya akan dibersihkan.

Acara kesenian ini memiliki makna filosofinya. Tombak Kyai Manggolo Murti merupakan simbol yang menasehatkan kepada kita bahwa seorang pemimpin itu dalam melayani rakyatnya harus senantiasa berdiri di jalan yang lurus seperti lurusnya tombak, jangan seperti keris yang berkelok-kelok. Sedangkan Songsong Kyai Manggolo Dewo yang merupakan payung bermakna bahwa seorang pemimpin harus dapat memayungi rakyatnya dalam bingkai kesatuan dalam keadaan tentram, aman dan damai (Baca juga: Desa Wisata Kalibiru).

Informasi Tiket:
Tiket masuk Rp 2.000/orang
Parkir Rp 2.000/motor dan Rp 5.000/mobil

Fasilitas:
Pendopo, toilet, musholla, tempat parkir, kios makanan, gardu pandang, taman.

Daftar Pustaka:
Informasi tempat pariwisata Puncak Suroloyo, dikunjungi pada hari Rabu, 5 Juli 2017.
Website www.buruan.co yang berjudul “Suroloyo: Antara Mitos dan Tradisi”. Diakses tanggal 20 September 2017.
Wbsite www.njogja.co.id yang berjudul “Puncak Suroloyo”. Diakses tanggal 20 September 2017.

Desa Wisata Kalibiru Kulon Progo

Desa wisata Kalibiru Kulon Progo secara administrasi terletak di jalan Sermo, Kalibiru, Hargowilis, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat wisata ini bertema wisata alam dan budaya. Secara geografis, desa wisata Kalibiru berada diketinggian sekitar 450 meter dari permukaan laut dan berada di atas perbukitan Menoreh, sebelah barat kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.

Di sekitar lokasi wisata kita akan melewati hutan pinus dan hutan biasa yang ditumbuhi berbagaimacam jenis pepohonan. Sedangkan di lokasi wisata kita bisa melihat waduk sermo dan bila cuaca tidak berkabut kita bisa melihat laut samudera Indonesia dari kejauhan.

Oleh karena ini merupakan wisata alam, maka dibuatlah jalan untuk pejalan kaki sepanjang 300 meter. Kondisi jalan setapak di lokasi wisata sudah sangat bagus dan layak karena sudah berupa cor semen. Namun meski begitu ada baiknya jika kita tetap waspada terutama di musim penghujan. Lokasi wisata yang berada di lereng pegunungan yang sangat curam membuat wilayah ini termasuk daerah rawan bencana tanah longsor.

Jika dilihat dari denah yang ada, desa wisata Kalibiru ini dibuat memanjang menuruni tebing melalui jalan setapak. Di perjalanan terdapat beberapa titik spot foto, permainan alam seperti flying fox, high rope, gardu pandang dan aneka permainan untuk menunjang aktivitas outbond atau jelajah medan. Selain itu juga ada jalur trecking, mulai dari jalur ringan 3 km sampai jalur panjang sekitar 5 km.

Informasi harga spot foto di Kalibiru
• Spot hight rope Rp 35.000/orang
• Spot Panggung Rp 15.000/orang
• Spot 1 Rp 15.000/orang
• Spot Bundar Rp 15.000/orang
• Spot dua Rp 10.000/orang
• Spot tiga Rp 10.000/orang
• Spot oval Rp 10.000/orang

Harga di atas bisa saja berubah sewaktu-waktu. Tiket masuk Rp 10.000/orang, biaya parkir Rp 3.000/motor dan Rp 5.000/mobil.

Beberapa fasilitas yang ada di desa wisata Kalibiru ini antara lain:
• Musholla
• Toilet
• Warung makan
• Tempat parkir
• Loket retribusi
• Joglo
• Kantor resmi
• Penginapan/pondok
• Papan informasi

Dulunya desa wisata ini masih sangat sederhana, belum ada pembangunan yang lengkap sebagai tempat wisata profesional. Namun kemudian mendapat suntikan dana dari Bank Mandiri yang kemudian digunakan untuk membangun fasilitas-fasilitas yang cukup komplit (baca juga: pantai baru jogja).

Kapan waktu yang tepat untuk mengunjungi wisata alam Kalibiru Jogjakarta ini?

Kita bisa mengunjungi desa wisata ini setiap hari. Paling bagus diwaktu pagi hari atau di siang hari. Musim yang cocok untuk berkunjung yaitu dimusim kemarau. Adapun jam operasionalnya dimulai pukul 06.00 wib hingga 17.00 wib.

Daftar Pustaka:
Pusta informasi wisata alam Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta, dikunjungi hari Kami, tanggal 6 Juli 2017.

Taman Tebing Breksi

Tebing Breksi Jogjakarta

Taman Tebing Breksi secara administrasi terletak di desa Nglengkong, Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut penelitian yang dilakukan oleh sejumlah peneliti dari mahasiswa dan dosen, tebing ini merupakan endapan dari letusan gunung api di zaman purba.

Diperkirakan endapan tersebut berasal dari Gunung api purba Nglanggeran yang memang lokasinya tidak begitu jauh dengan tebing breksi. Oleh karenaya dugaan kuat merujuk pada gunung api purba Nglanggeran. Proses ini diperkirakan sekitar 20 juta tahun yang lalu.

Tebing breksi jogja pada awalnya hanyalah berupa bukit yang masih alami hingga akhirnya oleh masyarakat sekitar prambanan maupun di luar prambanan melakukan penambangan batu. Tidak diketahui secara pasti kapan mulainya kegiatan penambangan dilakukan.

Dulu, kami (penulis) sering sekali melihat truk mengangkut batu dari perbukitan ini ketika hendak menuju ke lokasi wisata candi ijo yang lokasinya sekitar 2 km dari tebing breksi. Batu-batu tersebut digunakan sebagai bahan bagunan yang diijual di dalam dan hingga ke luar daerah. Faktor ekonomi merupakan alasan utama masyarakat melakukan penambangan.

Ada informasi dari masyarakat bahwa penambangan dilakukan sejak tahun 1980-an, namun info inipun belum valid. Akan tetapi yang jelas pada tahun 2014 penambangan sudah mulai dihentikan karena berdasarkan peneltian bahwa bukit tersebut menyimpan peristiwa sejarah di masa lampau yang masih terikat dengan pegunungan sewu (pegunungan yang membentang daerah parangtritis hingga ke area prambanan), gunung api purba dan lava bantal berbah.

Pada bulan Mei 2015, Sri Sultan Hamengkubuwono X melakukan persemian taman tebing breksi sekaligus sebagai awal dari dijadikannya tebing breksi sebagai objek wisata alam dan budaya Yogyakarta. Dana pembangunan awal didanai oleh pemerintah daerah dan Sri Sultan sebagai gubernur DIY sejumlah sekitar Rp 100 juta pada tahap awal dan Rp 740 juta pada tahap kedua.

Meski sudah diresmikan, hingga saat ini tebing breksi masih jauh dari kata sempurna. Akan tetapi sejumlah perbaikan telah terlihat di berbagai sudut lokasi wisata. Fasilitas umum telah dibuat seperti parkir, toilet, warung makan, berbagai atraksi di tlatar seneng, gardu pandang, sirkuit motorcros dll.

Saat ini jalan menuju ke lokasi tebing breksi sudah beraspal halus dengan kondisi baik sehingga nyaman untuk dilewati kendaraan roda empat. Hanya saja, jalan untuk menuju lokasi ini akan menanjak terus sekitar 30-40 derajat.

Tiket masuk hanya Rp 2.000/orang dan biaya parkir Rp 2.000/motor dan Rp 5.000/mobil. Kita bisa berkunjung mulai dari jam 07.00 – 18.00 wib. Di tebing breksi kita bisa melihat panorama kota jogja dan sekitarnya. Pada malam hari, lampu kota jogja akan terlihat seperti bintang. Kita juga bisa melihat gunung merapi dan merbabu dari kejauhan pada pagi, siang atau sore hari (baca juga: gunung api purba nglanggeran).

Daftar Pustaka:
Situs www.jalanjogja.com diakses tanggal 24 Agustus 2017.
Informasi di tempat wisata Tebing Breksi Sleman Yogyakarta.