Pengertian, Contoh, Pengukuran, Faktor dan Jenis Inteligensi

Pengertian, Contoh, Pengukuran, Faktor dan Jenis Inteligensi

Pengertian, Contoh, Pengukuran, Faktor dan Jenis Inteligensi – Dalam masyarakat khususnya di dalam dunia pendidikan serta pembelajaran, kata Inteligensi sudah sangat akrab untuk didengar.

Hal tersebut dapat disebabkan karena pendidikan di tempuh oleh anak dengan beragam kemampuan Inteligensi. Untuk mencapai suatu tujuan maka diperlukan pemahaman yang tepat.

Karena mempunyai beberapa kemampuan, maka manusia dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan dapat mengembangkan diri. Kemampuan tersebut dapat dibagi lagi menjadi duda yaitu kemampuan potensial dan kecakapan nyata yang mana kedua kecakapan tersebut diwariskan dari kedua orang tua.

Baca juga: Disorganisasi keluarga

Pengertian, Contoh, Pengukuran, Faktor serta Jenis Inteligensi

Konsensus terkait arti dari Inteligensi hampir tidak mungkin, ini karena para ahli belum menyepakati mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan Inteligensi. Di dalam hal definisi, maka akan banyak bermunculan definisi yang dikemukakan oleh para ahli dengan berbagai macam perbedaan.

Menurut Thornburg dalam Purwanto (2010 : 478)

“Inteligensi adalah ukuran bagaimana individu berperilaku. Inteligensi diukur dengan perilaku individu, interaksi interpersonal dan prestasi. Inteligensi dapat di definisikan dangan beragam cara: (1) kemampuan berpikir abstrak, (2) kemampuan mempertimbangkan, memahami dan menalar, (3) kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, dan (4) kemampuan total individu untuk bertindak dengan sengaja dan secara rasional dalam lingkungan”.

Contoh Intelegensi

Contoh dari suatu Inteligensi yaitu apabila seorang anak mengamati suatu lingkungan misalnya sebuah kebun binatang, maka itu hanyalah sebuah persepsi.

Akan tetapi apabila anak tersebut mulai mengelompokkan jenis hewan yang ada, menghitung, serta membandingkan antar hewan yang ada pada kebun binatang tersebut, maka yang anak lakukan sudah termasuk perbuatan yang berInteligensi.

Untuk mengukur suatu tingkatan Inteligensi dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi, dengan melakukan evaluasi itu artinya menentukan nilai materi serta metode guna mencapai tujuan tertentu. Penilaian yang bersifat kualitataif maupun kuantitatif dimanfaatkan untuk mengetahui sejauh mana materi serta metode tertentu yang dikuasai.

Untuk melakukan penilaian harus berdasarkan bukti internal seperti evaluasi yang didasarkan atas logika, sedangkan penilaian berdasarkan bukti eksternal seperti mengevaluasi materi berdasarkan kriteria yang ditetapkan atau diingat.

Faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi

Inteligensi sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kognitif seperti:

1. Mengingat, proses mengingat yaitu mengambil pengetahuan dari memori jangka panjang.

2. Memahami, proses kognitif dalam tingkatan pemahaman seperti menafsirkan, mengkalsifikasikan, memberikan contoh, menyimpulkan, membandingkan, serta menjelaskan.

3. Mengaplikasikan, dalam hal ini melibatkan penggunaan prosedur tertentu untuk menyelesaikan masalah.

4. Menganalisis, meliputi proses kognitif membedakan, mengatribusikan, dan mengorganisi

5. Mengevaluasi, dapat diartikan dalam membuat keputusan harus berdasarkan standar dan kriteria tertentu.

6. Mencipta, dalam proses mencipta, melibatkan proses penyusunan elemen menjadi sebuah keseluruhan yang koheren.

Baca juga: Sistem saraf sadar

Jenis atau Macam – Macam Intelegnsi

Selain faktor-faktor yang dapat memengaruhi Inteligensi, terdapat pula beberapa jenis Inteligensi seperti:

1. Kecerdasan Intelektual (IQ), kecerdasan intelektual adalah suatu konsep yang sulit untuk di definisikan. Secara umum dirumuskan dalam tiga klasifikasi seperti kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, kemampuan belajar dan berpikir secara abstrak dan menggunakan simbol serta konsep.

2. Kecerdasan Emosi, kecerdasan emosional mengacu pada kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri. Kemampuan mengelola emosi didasarkan pada lima komponen seperti mengenali emosi, mengelola emosi, motivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan dapat membina hubungan.

3. Kecerdasan Bahasa, seiring bertambahnya usia seseorang, maka perkembangan bahasa terus berlanjut, perbendaharaan kosa kata terus meningkat, dan penggunaan kalimat semakin kompleks.

4. Kecerdasan Sosial, dalam perkembangannya sesorang akan memiliki relasi dengan teman sebaya atau keluarga bahkan masyarakat umum yang semakin banyak.

Daftar Pustaka:

Anderson, Lorin W dan David R. K. Translator (Agung Prihantoro). (2017). Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Desmita. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.

Purwanto. (2010). “Inteligensi: Konsep dan Pengukurannya”. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 16, Nomor 4. (Juli). Surakarta.

Sistem Saraf Sadar (Sistem Saraf Somatik)

Sistem Saraf Sadar (Sistem Saraf Somatik)

Sistem Saraf Sadar (Sistem Saraf Somatik)Sistem saraf manusia memainkan peranan yang sangat penting. Sistem sarat dibagi menjadi dua bagian utama yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi.

Untuk sistem saraf pusat terdiri dari otak serta sumsum tulang belakang. Sistem saraf pusat memiliki fungsi untuk menerima informasi dari seluruh bagian tubuh, menganalisis dan menyimpan informasi, dan mengirim perintah berdasarkan informasi yang diterima.

Untuk sistem saraf tepi terdiri atas serabut-serabut saraf yang dapat membawa informasi dari semua bagian tubuh ke sistem saraf pusat dan dari sistem saraf pusat ke berbagai bagian tubuh.

Untuk sistem saraf tepi ini terbagi atas sistem saraf sadar (sistem saraf somatik) dan sistem saraf tidak sadar (sistem saraf otonom). Dalam pembahasan kali ini akan terfokus pada sistem saraf sadar (sisitem saraf somatik).

Sistem Saraf Sadar (Sistem Saraf Somatik)

Sistem saraf sadar atau yang biasa disebut dengan sistem saraf somatik merupakan sistem saraf yang memiliki fungsi untuk mengatur aktivitas-aktivitas yang anda sadari.

Seperti kontraksi pada otot-otot kaki untuk berjalan. Sistem saraf somatik (sadar) ini berhubungan dengan otot rangka atau otot lurik. Untuk sistem saraf sadar tersusun atas sistem saraf kranial dan sistem saraf spinal.

Artikel terkait: terjadinya gerak refleks

Sistem saraf kranial tersusun oleh saraf otak yang terdiri atas 12 pasang saraf otak, dengan pembagian 3 pasang saraf sensori, yaitu olfaktori, optik, dan auditori. Saraf sensori berfungsi menghantarkan impuls atau membawa rangsang dari reseptor ke sistem saraf pusat.

5 pasang saraf motor yaitu saraf okulomotor, troklear, abdusens, aksesori, serta hipoglosal. Yang berfungsi untuk mengirimkan perintah dari sistem saraf pusat ke efektor (otot maupun kelenjar). Dan 4 pasang saraf gabungan antara sensori dan motor yaitu saraf trigeminal, fasial, glosofaringeal, dan vagus. Yang berfungsi untuk menghubungkan sel saraf sensori dengan sel saraf motor pada sistem saraf pusat.

Sedangkan sistem saraf spinal terdiri atas 31 pasang saraf dari sumsum tulang belakang dengan perincian seperti: 8 pasang saraf leher, 2 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, serta 1 pasang saraf ekor.

Sistem Saraf Sadar (Sistem Saraf Somatik)

Untuk penjelasan dari sistem saraf kranial serta struktur yang dirangsangnya dapat anda simak penjelasan berikut:

1. Saraf Olfaktori, merupakan saraf sensori dari hidung sebagai perangsang bau.

2. Saraf Optik, merupakan saraf sensori dari retina sebagai saraf penglihatan.

3. Saraf Okulomotor, merupakan saraf motor untuk menggerakkan bola mata, menuju otot-otot pada bola mata.

4. Saraf Troklear, merupakan saraf motor seperti saraf okulomotor untuk menggerakkan bola mata, menuju otot-otot pada bola mata.

5. Saraf Trigeminal, merupakan saraf campuran, saraf sensori dari wajah (sentuhan serta rasa nyeri), dan saraf motor yang menuju rahang (pergerakan).

6. Saraf Abdusens, merupakan saraf motor untuk pergerakan mata, menuju otot-otot bola mata.

7. Saraf Fasial, merupakan saraf campuran, saraf sensori, dari lidah sebagai pengecap. Dan saraf motor yang menuju otot-otot wajah (ekspresi).

8. Saraf Auditori/vestibulokoklea, merupakan saraf sensori untuk pendengaran dari koklea, dan untuk keseimbangan dari saluran setengah lingkaran.

9. Saraf Glososfaringeal, merupakan saraf campuran, saraf sensori berasal dari lidah untuk pengecap, saraf motor menuju organ-organ dalam.

10. Saraf Vagus, merupakan saraf campuran. Saraf sensori berasal dari organ-organ dalam. Saraf motor menuju organ-organ dalam yang sama.

11. Saraf Aksesori, merupakan saraf motor untuk pergerakan kepala menuju otot-otot leher.

12. Saraf Hipoglosal, merupakan saraf motor untuk pergerakan lidah, menuju otot-otot lidah.

Nah, bila ada pertanyaan terkait Sistem Saraf Sadar (Sistem Saraf Somatik) bisa ditulis di bawah ini.

Daftar Pustaka
Pujianto, Sri. (2014). Menjelajah Dunia Biologi. Surakarta: Tiga Serangkai.

Anatomi Hidung Manusia

Anatomi hidung bagian dalam tanpa membran mukosa (Ballenger, 1994)

Anatomi hidung manusia – Pada halaman sebelumnya kita telah mempelajari tentang struktur hidung dan fungsi hidung manusia sebagai alat pembau. Nah, pada halaman ini kita akan melanjutkan pembahasannya dengan topik yang sama yaitu masih terkait tentang hidung manusia namun lebih kearah anatominya. Anatomi berasal dari kata “anatomia” atau “anatemnein” yang berasal dari bahasa Yunani dengan arti memotong. Namun dalam ilmu biologi dapat diartikan sebagai susunan/struktur yang dapat kita lihat. Nah, dengan demikian kita akan mempelajari tentang struktur atau susunan hidung manusia yang dapat kita lihat.

Anatomi hidung manusia secara umum dapat kita bedakan menjadi dua bagian yaitu hidung bagian luar dan hidung bagian dalam.

A. Anatomi hidung bagian luar

Anatomi hidung bagian luar berupa piramid terbalik dimana bagian atas merupakan pangkalnya atau dasarnya sedangkan bagian bawah merupakan puncak. Hidung bagian luar ini 2/5 nya dibentuk oleh kerangka tulang dan 3/5 nya tulang rawan yang dilapisi oleh kulit serta jaringan ikat. Nah, sebelum kita membahas kerangka luar hidung ini, kita lihat dahulu bagian luar hidung di bawah ini.

Anatomi hidung bagian luar
Gambar. Anatomi hidung bagian luar

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa anatomi hidung bagian luar ini antara lain pangkal hidung (bridge), batang hidung (dorsum nasi), puncak hidung (hip), ala nasi(sayap hidung), kolumela (sekat tulang rawan dan kulit) dan lubang hidung (nares anterior).

Puncak hidung dinamakan juga sebagai apeks. Nah, apeks atau puncak hidung ini sampai sampai di bagian atas bibir tengah dinamakan sebagai kolumela. Sedangkan tempat bertemunya kolumela dengan bibir tengah bagian atas dinamakan sebagai dasar hidung.

Sedangkan kerangka luar yang membentuk hidung manusia dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Kerangka luar hidung (Ballenger, 1994)
Gambar. Kerangka luar hidung (Ballenger, 1994)

Keterngan gambar: 1) Kartilago lateralis superior 2) Septum 3) Kartilago lateralis inferior 4) Kartilago alar minor 5) Processus frontalis tulang maksila 6) Tulang hidung.

Sedangkan bila kita lihat dari bawah, maka anatomi hidung manusia terlihat seperti gambar di bawah ini.

Rongga hidung pandangan bawah (Ballenger, 1994)
Gambar. Rongga hidung pandangan bawah (Ballenger, 1994)

Berturut-turut, keterangan gambar di atas yaitu: 1) Kartilago alar (a. Medial crus b. Lateral crus), 2) Spins hidungis anterior 3) Fibro aleolar 4) Kartilago septal dan 5) Sutura intermaksilaris.

B. Anatomi hidung bagian dalam

Anatomi hidung bagian dalam dimulai dari pembahasan terkait lubang hidung atau rongga hidung dimana manusia normal memiliki dua rongga hidung (kavum kanan dan kavum kiri) yang dipisahkan oleh suatu dinding yang dinamakan sebagai “Septum nasi” (Septum nasi juga berfungsi untuk menopang batang hidung atau dorsum nasi). Rongga hidung sendiri dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu nares anterior (rongga depan), vestibulum (bagian tengah) dan nares posterior atau choana (bagian belakang). Di vestibulum terdapat kulit yang memiliki kalenjar keringat, rambut sillia/vibrase dan kalenjar sabasea.

Anatomi hidung bagian dalam (anatomytopics.wordpress.com)
Gambar. Anatomi hidung bagian dalam (Sumber: anatomytopics.wordpress.com)

Lubang hidung atau rongga hidung dilapisi oleh membran mukosa yaitu jaringan pelindung organ dalam yang berbentuk lapisan/membran. Membran mukosa ini sebagian besar memiliki pembuluh darah serta melekat pada tulang (periosteum) dan kartilago atau tulang rawan (perikondrium). Rongga hidung atau kavum nasi terdiri dari dasar hidung, atap hidung, dinding lateral, konka (berfungsi menghangatkan udara), meatus nasi (rongga sempit diantara dinding lateral dan konka) dan dinding medial.

Anatomi hidung bagian dalam tanpa adanya membran mukosa dapat kita lihat pada gambar di bawah ini.

Anatomi hidung bagian dalam tanpa membran mukosa (Ballenger, 1994)
Gambar. Anatomi hidung bagian dalam tanpa membran mukosa (Ballenger, 1994)

Nah, darisini dapat dilihat bagian-bagiannya berturut-turut sebagai berikut: 1) Tulang frontal, 2) Spina frontalis, 3) Tulang hidung, 4) Kartilago septalis, 5) Kartilago lateralis superior, 6) Kartilago alar, 7) Kartilago vomerohidung, 8) Spina hidungis anterior, 9) Incisura canal, 10) Lamina perpendikularis tulang ethmoid, 11) Sinus spenoid, 12) Tulang vomer, 13) Krista palatum dan 14) Krista maksila.

[color-box]Ferdinand, Fictor P dan Moekti Ariebowo.2009.Praktis Belajar Biologi 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Visindo Media Persada.
Sri, Lestari Endang.2009.Biologi 2 Makhluk Hidup Dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas XI. Solo: CV Putra Nugraha.
Rachmawati, Faidah dkk.2009.Biologi Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA. Jakarta: CV Ricardo.
Situs: seputar-anatomimanusia.tk dan repository.usu.ac.id yang diakses tanggal 7 April 2015[/color-box]

Struktur dan Fungsi Lidah Manusia

Anatomi lidah manusia

Struktur dan Fungsi Lidah Manusia

Lidah merupakan organ yang berfungsi sebagai reseptor kimia yang berada di dalam mulut sehingga kita bisa menikmati rasa sebuah makanan dan minuman. Reseptor yang ada pada lidah mampu menerima rangsangan kimia yang berupa larutan sehingga disebut sebagai kemoreseptor. Apa fungsi lidah hanya itu saja? tentu saja tidak. Lidah memiliki beberapa fungsi lainnya diantaranya membantu mengatur letak makanan saat kita mengunyah, membantu dalam berbicara da membantu saat menelan makanan.

Ada dua otot yang berperan aktif pada gerakan lidah yakni otot intrinsik dan otot ekstrinsik. Otot intrinsik berfungsi mengatur gerakan-gerakan halus lidah sedangkan otot ekstrinsik berfungsi mengaitkan lidah pada bagian sekitarnya serta membantu lidah dalam melakukan beberapa gerakan kasar seperti menekan gigi, menekan rongga mulut bagian atas dan mendorong lidah masuk ke faring.

Lalu, dibagian mana dari lidah yang dapat menerima rangsangan?

Bagian lidah yang dapat menerima rangsangan kimia berada di ujung permukaan luar lidah yang dinamakan sebagai ujung pengecap. Setiap ujung pengecap memiliki sensitivitas yang berbeda terkait sejumlah rasa terutama rasa umum yang sering kita rasakan meliputi rasa manis, pahit, asin dan asam. Rasa manis dirasakan oleh bagian pangkal lidah, rasa asam oleh bagian tepi depan kiri dan kanan serta rasa asin di bagian tepi belakang kiri dan kanan. Adapun rasa yang lainnya seperti rasa kopi, cokelat dan sebagainya merupakan kombinasi antara empat rasa umum di atas dengan bau dari makanan atau minuman yang kita makan sehingga timbul sesuatu yang dinamakan cita rasa. Oleh karena itulah, bila kita sedang terkana influenza (pilek), maka akan mengurangi cita rasa sebuah masakan.

Berikut beberapa zat yang menimbulkan beberapa rasa yakni alkaloid tumbuhan yang dapat menimbulkan rasa pahit, kation Na, K, Ca yang dapat menimbulkan rasa asin, gugus OH yang dapat menimbulkan rasa manis dan ion H yang dapat menimbulkan rasa amam.

Nah, untuk lebih memahami bagian-bagian lidah, bisa kita lihat pada gambar berikut ini.

Bagian lidah yang berfungsi mengecap rasa
Gambar. Bagian lidah yang berfungsi mengecap rasa (Sumber: Pustekkom Depdiknas, 2008)

Jumlah ujung pengecap pada manusia bisa mencapai 10.000 buah dimana letaknya tersebunyi secara rapi diantara tonjolan-tonjolan lidah yang dinamakan sebagai papila. Seperti apa bentuk dari papila? bisa kita lihat pada gambar di bawah ini.

Papila pada lidah manusia
Gambar. Papila pada lidah manusia (Sumber: www.cidpusa.org)

Papila terdiri dari beberapa lapisan yakni

a. Papila filiformis berada pada seluruh lapisan lidah yang berfungsi menerima rangsangan rasa sentuh dan pengecapan.

b. Papila sirkumvalata berada di dasar lidah dengan bentuk seperti huruf V. Pada lidah manusia jumlah papila sirkumvalata bisa mencapai 8 hingga 12 buah.

c. Papila fungiformis menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah dan berbentuk seperti jamur.

d. Papila foliata terletak pada bagian pinggir lidah.

Alur rangsangan dari lidah ke otak
Gambar. Alur rangsangan dari lidah ke otak (Sumber: antranik.org)

Nah, di setiap papila terdapat banyak ujung pengecap dimana disetiap ujung pengecap ini masing-masing terdapat tiga jenis sel yakni:

a. Sel penyokong/pendukung (sustentacular) yang berfungsi menopang.

b. Sel pengecap yang berupa tonjolan seperti rambut yang keluar dari lubang pengecap/reseptor.

c. Sel basal yang mampu menghasilkan sel penyokong (sustentacular) dan sel pengecap.

Bagaimana cara lidah menanggapi rangsangan?

Lidah dapat menerima rangsangan kimia yang terlarut dalam minuman yang kita minum. Pada kasus makanan, ada sebuah proses pengunyahan dimana sebuah makanan akan dihaluskan dan dicampur dengan ludah. Nah, pada proses ini maka bahan kimia (molekul rasa) yang ada di dalam makanan akan terlarut bercampur dengan ludah (air liur) yang kemudian masuk kedalam lubang pengecap. Di dalam lubang pengecap, bahan kimia akan dideteksi oleh rambut pengecap sehingga dapat menimbulkan perbedaan potensial di sensor sel (Sel gustatory) sehingga menghasilkan impuls saraf yang kemudian teruskan ke dalam sistem saraf pusat. Adapun bagian otak yang menerima rangsangan ini yakni saraf kranial VII (fasial) dan saraf kranial IX (glosofaringeal).

Anatomi lidah manusia
Gambar. Anatomi lidah manusia (Sumber: Pearlson Education, Inc. Publishing as Benjamin Curmings)

Ferdinand, Fictor P dan Moekti Ariebowo.2009.Praktis Belajar Biologi 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Visindo Media Persada.
Sri, Lestari Endang.2009.Biologi 2 Makhluk Hidup Dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas XI. Solo: CV Putra Nugraha.
Rachmawati, Faidah dkk.2009.Biologi Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA. Jakarta: CV Ricardo.

Struktur dan Fungsi Kulit Manusia

Jenis sel saraf sensoris yang berada di bawah kulit manusia

Jenis sel saraf sensoris yang berada di bawah kulit manusia
Gambar. Jenis sel saraf sensoris yang berada di bawah kulit manusia (Sumber: Pustekkom Depdiknas, 2008)

Struktur dan Fungsi Kulit Manusia

Kulit merupakan indra peraba pada manusia yang terdiri dari lapisan dermis dan epidermis. Kulit memiliki ruang reseptor yang sangat luas dan berada di lapisan terluar dari tubuh manusia. Terdapat banyak sekali reseptor mekanis (mechanoreceptor) di dalam kulit sehingga membuat manusia bisa merasakan rangsangan dari lingkungan seperti rasa sakit, panas, dingin dll. Di bawah kulit setidaknya terdapat lima jenis sel saraf reseptor yang mampu menerima informasi yang berbeda. Lima sel saraf reseptor tersebut antara lain:

a. Ruffini yang peka terhadap rangsang suhu panas,
b. Krause yang peka terhadap rangsang suhu dingin,
c. Paccini yang peka terhadap rangsang tekanan dan sentuhan,
d. Meissner yang peka terhadap rangsang tekanan dan sentuhan,
e. Ujung saraf bebas yang peka terhadap rangsang tekanan ringan serta rasa sakit.

Nah, dari kelima sel saraf tersebut dapat kita kelompokan menjadi tiga tipe reseptor yakni termoreseptor (Ruffini dan Krause), mekanoreseptor (Meisner dan Paccini) dan reseptor rasa sakit (ujung saraf bebas). Mekanoreseptor terdapat di bagian tubuh seperti ujung jari, telapak kaki, bibir dan alat kelamin.

Untuk lebih mengetahui bentuk reseptor pada kulit, bisa kita lihat di bawah ini.

Lima tipe reseptor pada kulit
Gambar. Lima tipe reseptor pada kulit (Sumber: Biologi 2 Depdikbud, 1994)

Pada kasus orang buta indra peraba sangat peka. Hal ini mengakibatkan, indra peraba ini dapat difungsikan dalam bekerja dan menjaga diri. Pada saat membaca menggunakan nurut Braile, saraf-saraf peraba bekerja dan meneruskan impuls ke pusat saraf di otak sehingga dapat ditafsirkan.

Ferdinand, Fictor P dan Moekti Ariebowo.2009.Praktis Belajar Biologi 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Visindo Media Persada.
Sri, Lestari Endang.2009.Biologi 2 Makhluk Hidup Dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas XI. Solo: CV Putra Nugraha.
Rachmawati, Faidah dkk.2009.Biologi Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA. Jakarta: CV Ricardo.