Unsur – unsur cuaca dan iklim (bagian ke-2)

(Unsur – unsur cuaca dan iklim bagian ke-1 dapat Anda baca disini…)

c. Tekanan udara
Tekanan udara adalah berat massa udara pada suatu wilayah. Perbedaan pemanasan matahari mengakibatkan tekanan udara pada daerah satu dengan daerah yang lain berbeda. Hal ini karena pemanasan udara paling banyak terjadi pada atmosfer bagian bawah. Jadi, semakin ke atas atau tinggi suatu tempat semakin rendah tekanan udaranya (Rahayu Saptanti.2009. Nuansa Geografi).

Gambar: Barometer, alat untuk mengukur tekanan udara pada suatu daerah (Sumber: coleparmer.com)
Gambar: Barometer, alat untuk mengukur tekanan udara pada suatu daerah (Sumber: coleparmer.com)

Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan udara di suatu tempat dinamakan Barometer, yang menggunakan skala milimeter air raksa (mm Hg), milibar (mb), atau atmosfer (atm). Perbandingan ketiga skala tersebut adalah 1 atm = 760 mm Hg = 1013,25 mb. Ada 3 macam barometer yang biasa kita temui di stasiun-stasiun pengamat cuaca, yaitu sebagai berikut.

1) Barometer Air Raksa, yang menggunakan skala milimeter air raksa.
2) Barometer Aneroid, yang menggunakan skala milibar.
3) Barograf, yaitu barometer otomatis yang mencatat sendiri tekanan udara setiap waktu pada kertas barogram dengan skala milibar (Bambang Utoyo.2006.Geografi: Membuka Cakrawala Dunia).

Daerah yang banyak menerima panas matahari, udaranya akan mengembang dan naik. Oleh karena itu, daerah tersebut bertekanan udara rendah. Di tempat lain terdapat tekanan udara tinggi sehingga terjadilah gerakan udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan udara rendah. Gerakan udara tersebut dinamakan angin. (Hartono.2007.Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta).

d. Angin
Perbedaan tekanan udara di permukaan bumi mengakibatkan terjadinya perpindahan massa udara dari daerah yang bertekanan tinggi menuju ke daerah yang bertekanan rendah sehingga menimbulkan aliran udara. Nah, udara yang mengalir ini kita namakan angin.

Gambar. Anemometer merupakan alat untuk mengukur kecepatan angin (Sumber: bestinnovativesource.com)
Gambar. Anemometer merupakan alat untuk mengukur kecepatan angin (Sumber: bestinnovativesource.com)

Pola gerakan udara dapat kita bedakan menjadi tiga, yaitu;
1. Pola adveksi, yakni gerakan udara yang arahnya mendatar/horizontal.
2. Pola konveksi, yakni gerakan massa udara dengan arah vertikal.
3. Pola turbulensi, yakni perubahan arah dan kecepatan gerakan udara karena faktor-faktor tertentu.

Arah dan kecepatan angin diukur dengan alat yang disebut anemometer mangkok dan hasil catatannya disebut anemogram. Adapun satuan yang biasa digunakan dalam menentukan kecepatan angin adalah kilometer per jam atau knot (1 knot = 0,5148 m/det = 1,854 km/jam).

(Baca selengkapnya tentang Angin ?, klik disini…)

e. Kelembaban Udara
Kelembaban/kelengasan udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam sejumlah massa udara. Untuk mengukur kelembaban udara digunakan alat Higrometer atau Psycometer Asmann.

(Baca selengkapnya tentang kelembaban udara ?, klik disini…)

f. Awan
Awan merupakan kumpulan titik-titik air/kristal es di dalam udara yang terjadi karena adanya proses kondensasi/sublimasi dari uap air yang terdapat dalam udara. Nah, awan yang menempel di permukaan bumi lebih dikenal dengan sebutan kabut.

(Baca selengkapnya tentang Awan ?, klik disini…)

g. Curah hujan
Titik-titik air yang terkandung di dalam awan semakin banyak dan awan sudah tidak mampu lagi untuk menampung titik-titik air tersebut, maka akan dijatuhkan kembali ke permukaan Bumi dalam bentuk hujan atau presipitasi.

Untuk mengukur intensitas curah hujan digunakanlah alat yakni fluviograf atau rain gauge yang biasanya menggunakan skala milimeter.

(Baca selengkapnya tentang Curah hujan ?, klik disini…)

Daftar Pustaka

Anjayani, Eni.2009. Geografi: Untuk Kelas X SMA/MA. Klaten: PT Cempaka Putih.
Hartono.2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung: CV. Citra Praya.
Rahayu, Saptanti.2009. Nuansa Geografi. Solo: PT Widya Duta Grafika.
Utoyo, Bambang.2006.Geografi 1 Membuka Cakrawala Dunia. Bandung: PT. Pribumi Mekar.[/color-box]

Unsur – unsur cuaca dan iklim

Mungkin beberapa dari kita masih bingung tentang “apa itu cuaca?” dan “apa itu iklim ?” serta faktor-faktor alamiah apa saja yang mempengaruhi keduanya ?. Untuk menjawab itu semua, siswapedia akan membahasnya secara urut. Oke, mari kita mulai dari yang pertama;

1. Definisi Cuaca dan Iklim
Cuaca adalah keadaan udara pada suatu waktu di suatu tempat tertentu. Jadi kondisi cuaca akan senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 30 tahun) dan meliputi wilayah yang luas.

Yang patut kita ketahui bahwa cuaca dan iklim memiliki kesamaan unsur-unsur dasar yang membentuknya. Unsur-unsur cuaca dan iklim yang penting antara lain penyinaran Matahari, suhu udara, angin, awan, kelembapan dan curah hujan.

Disiplin ilmu yang mempelajari tentang iklim disebut Klimatologi, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang keadaan cuaca disebut Meteorologi.

2. Unsur – unsur cuaca dan iklim
a. Penyinaran Matahari
Matahari merupakan sumber energi yang penting bagi berlangsungnya kehidupan di bumi. Energi sinar Matahari sebagian digunakan untuk memanaskan atmosfer. Proses pemanasan ini dapat berlangsung secara langsung maupun tidak langsung.

a) Pemanasan langsung
Di dalam atmosfer terkandung berbagai zat seperti uap air, debu, asam arang, dan zat asam. Zat-zat tersebut mampu menyerap sebagian energi panas matahari sebelum jatuh ke bumi.

b) Pemanasan tidak langsung
Energi matahari yang tidak terserap oleh atmosfer akan diteruskan menuju ke permukaan bumi. Energi ini kemudian akan diserap oleh permukaan bumi sehingga menyebabkan permukaan bumi menjadi lebih panas. Hal ini tentu akan mempengaruhi keadaan lapisan atmosfer bagian bawah atau yang dekat dengan permukaan bumi.

Panas permukaan bumi oleh penyinaran matahari dapat memengaruhi kenaikan suhu udara. Suhu udara di permukaan Bumi sangatlah bervariasi, hal ini dikarenakan sinar Matahari menyebar tidak merata di permukaan Bumi.

b. Suhu udara
Akibat penyinaran matahari, permukaan bumi menerima panas. Udara akan menerima panas dari permukaan bumi yang dipancarkan kembali setelah diubah dalam bentuk gelombang panjang. Radiasi yang dipancarkan oleh matahari tidak seluruhnya diterima oleh bumi. Bumi akan menyerap radiasi sebesar 51%, selebihnya dipantulkan kembali oleh awan 20%, oleh bumi 4%, dan oleh atmosfer 6%, serta dibaurkan oleh molekul udara dan debu atmosfer sebesar 19% (Hartono, 2007, Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta).

Keadaan suhu suatu tempat di permukaan bumi sangatlah bervariasi, hal ini tergantung pada hal-hal seperti berikut.

1) Intensitas dan durasi harian dari energi matahari yang diterima di atmosfer di atas permukaan sebuah daerah.
2) Pelenyapan energi dalam atmosfer terjadi oleh pemantulan, pemancaran, dan penyerapan.
3) Kemampuan penyerapan di permukaan daerah.
4) Sifat-sifat fisik permukaan daerah dan daerah sekitarnya.
5) Pertukaran panas dalam penguapan (evaporasi), pengembunan (kondensasi), pembekuan (freezing), dan pencairan (melting) air.

Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi dapat melalui beberapa cara sebagai berikut ini;
1) Secara konveksi
Konveksi terjadi karena terjadi perpindahan udara.

Gambar. Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi melalui Konveksi (Sumber: Eni Anjayani, Geografi)
Gambar. Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi melalui Konveksi (Sumber: Eni Anjayani, Geografi)

2) Secara adveksi
Adveksi terjadi karena perpindahan udara ke arah horisontal atau mendatar.

Gambar. Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi melalui Adveksi (Sumber: Eni Anjayani, Geografi)
Gambar. Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi melalui Adveksi (Sumber: Eni Anjayani, Geografi)

3) Secara turbulensi
Turbulensi terjadi karena pergerakan udara yang tidak teratur, pada umumnya berputar-putar.

Gambar. Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi melalui Turbulensi (Sumber: Eni Anjayani, Geografi)
Gambar. Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi melalui Turbulensi (Sumber: Eni Anjayani, Geografi)

4) Secara konduksi
Konduksi terjadi karena molekul udara saling bersinggungan sehingga energi panas dari permukaan bumi dapat mengalir ke atas.

Gambar. Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi melalui Konduksi (Sumber: Eni Anjayani, Geografi)
Gambar. Pemanasan udara di dekat permukaan Bumi melalui Konduksi (Sumber: Eni Anjayani, Geografi)

Baca Selanjutnya…
(Unsur – unsur cuaca dan iklim, bagian ke-2)

[color-box]Anjayani, Eni.2009. Geografi: Untuk Kelas X SMA/MA. Klaten: PT Cempaka Putih.
Hartono.2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung: CV. Citra Praya.
Rahayu, Saptanti.2009. Nuansa Geografi. Solo: PT Widya Duta Grafika.
Utoyo, Bambang.2006.Geografi 1 Membuka Cakrawala Dunia. Bandung: PT. Pribumi Mekar.[/color-box]