Embun, Kabut dan Awan

Embun, Kabut dan Awan

Awan ialah kumpulan titik-titik air/kristal es di dalam udara yang terjadi karena adanya kondensasi/sublimasi dari uap air yang terdapat dalam udara. Awan yang menempel di permukaan bumi disebut kabut. Sedangkan embun adalah uap air yang mengalami proses pengembunan (proses berubahnya gas menjadi cairan). Nah, foto untuk embun, kabut dan awan bisa dilihat pada gambar di bawah ini;

Gambar: a) Awan, b) Embun dan c) Kabut
Gambar: a) Awan, b) Embun dan c) Kabut

Berdasarkan ketinggiannya, awan dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Awan rendah (ketinggian kurang dari 2 km).
Contoh: nimbostratus, stratus, dan stratocumulus.
b. Awan menengah, mempunyai ketinggian dasar awan antara 2–6 km.
Contoh: altostratus dan altocumulus.
c. Awan tinggi (ketinggian di atas 6 km).
Contoh: cirrostratus, cirrocumulus, dan cirrus.
d. Awan menjulang vertikal (ketinggian 0,5–18 km).
Contoh: cumulonimbus dan cumulus.

Berdasarkan morfologinya (Bentuknya), awan dapat dibedakan menjadi 3 macam, yakni:
a) Awan Commulus, yaitu awan yang bentuknya bergumpal-gumpal (bundar-bundar) dan bagian dasarnya horizontal.
b) Awan Stratus, yaitu awan yang tipis dan tersebar luas sehingga dapat menutupi langit secara merata. Dalam arti khusus awan stratus adalah kelompok awan yang rendah dan luas.
c) Awan Cirrus, yaitu awan yang berdiri sendiri halus dan berserat, berbentuk seperti bulu burung. Sering terdapat kristal es tetapi tidak menyebabkan turunnya hujan.

Gambar: Jenis-jenis awan
Gambar: Jenis-jenis awan

[color-box]Anjayani, Eni.2009. Geografi: Untuk Kelas X SMA/MA. Klaten: PT Cempaka Putih.
Hartono.2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung: CV. Citra Praya.[/color-box]

Unsur – unsur cuaca dan iklim (bagian ke-2)

(Unsur – unsur cuaca dan iklim bagian ke-1 dapat Anda baca disini…)

c. Tekanan udara
Tekanan udara adalah berat massa udara pada suatu wilayah. Perbedaan pemanasan matahari mengakibatkan tekanan udara pada daerah satu dengan daerah yang lain berbeda. Hal ini karena pemanasan udara paling banyak terjadi pada atmosfer bagian bawah. Jadi, semakin ke atas atau tinggi suatu tempat semakin rendah tekanan udaranya (Rahayu Saptanti.2009. Nuansa Geografi).

Gambar: Barometer, alat untuk mengukur tekanan udara pada suatu daerah (Sumber: coleparmer.com)
Gambar: Barometer, alat untuk mengukur tekanan udara pada suatu daerah (Sumber: coleparmer.com)

Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan udara di suatu tempat dinamakan Barometer, yang menggunakan skala milimeter air raksa (mm Hg), milibar (mb), atau atmosfer (atm). Perbandingan ketiga skala tersebut adalah 1 atm = 760 mm Hg = 1013,25 mb. Ada 3 macam barometer yang biasa kita temui di stasiun-stasiun pengamat cuaca, yaitu sebagai berikut.

1) Barometer Air Raksa, yang menggunakan skala milimeter air raksa.
2) Barometer Aneroid, yang menggunakan skala milibar.
3) Barograf, yaitu barometer otomatis yang mencatat sendiri tekanan udara setiap waktu pada kertas barogram dengan skala milibar (Bambang Utoyo.2006.Geografi: Membuka Cakrawala Dunia).

Daerah yang banyak menerima panas matahari, udaranya akan mengembang dan naik. Oleh karena itu, daerah tersebut bertekanan udara rendah. Di tempat lain terdapat tekanan udara tinggi sehingga terjadilah gerakan udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan udara rendah. Gerakan udara tersebut dinamakan angin. (Hartono.2007.Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta).

d. Angin
Perbedaan tekanan udara di permukaan bumi mengakibatkan terjadinya perpindahan massa udara dari daerah yang bertekanan tinggi menuju ke daerah yang bertekanan rendah sehingga menimbulkan aliran udara. Nah, udara yang mengalir ini kita namakan angin.

Gambar. Anemometer merupakan alat untuk mengukur kecepatan angin (Sumber: bestinnovativesource.com)
Gambar. Anemometer merupakan alat untuk mengukur kecepatan angin (Sumber: bestinnovativesource.com)

Pola gerakan udara dapat kita bedakan menjadi tiga, yaitu;
1. Pola adveksi, yakni gerakan udara yang arahnya mendatar/horizontal.
2. Pola konveksi, yakni gerakan massa udara dengan arah vertikal.
3. Pola turbulensi, yakni perubahan arah dan kecepatan gerakan udara karena faktor-faktor tertentu.

Arah dan kecepatan angin diukur dengan alat yang disebut anemometer mangkok dan hasil catatannya disebut anemogram. Adapun satuan yang biasa digunakan dalam menentukan kecepatan angin adalah kilometer per jam atau knot (1 knot = 0,5148 m/det = 1,854 km/jam).

(Baca selengkapnya tentang Angin ?, klik disini…)

e. Kelembaban Udara
Kelembaban/kelengasan udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam sejumlah massa udara. Untuk mengukur kelembaban udara digunakan alat Higrometer atau Psycometer Asmann.

(Baca selengkapnya tentang kelembaban udara ?, klik disini…)

f. Awan
Awan merupakan kumpulan titik-titik air/kristal es di dalam udara yang terjadi karena adanya proses kondensasi/sublimasi dari uap air yang terdapat dalam udara. Nah, awan yang menempel di permukaan bumi lebih dikenal dengan sebutan kabut.

(Baca selengkapnya tentang Awan ?, klik disini…)

g. Curah hujan
Titik-titik air yang terkandung di dalam awan semakin banyak dan awan sudah tidak mampu lagi untuk menampung titik-titik air tersebut, maka akan dijatuhkan kembali ke permukaan Bumi dalam bentuk hujan atau presipitasi.

Untuk mengukur intensitas curah hujan digunakanlah alat yakni fluviograf atau rain gauge yang biasanya menggunakan skala milimeter.

(Baca selengkapnya tentang Curah hujan ?, klik disini…)

Daftar Pustaka

Anjayani, Eni.2009. Geografi: Untuk Kelas X SMA/MA. Klaten: PT Cempaka Putih.
Hartono.2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung: CV. Citra Praya.
Rahayu, Saptanti.2009. Nuansa Geografi. Solo: PT Widya Duta Grafika.
Utoyo, Bambang.2006.Geografi 1 Membuka Cakrawala Dunia. Bandung: PT. Pribumi Mekar.[/color-box]