Sesuatu yang sangat penting dalam melakukan penelitian sosial adalah menentukan masalah yang hendak diteliti. Masalah tersebut harus benar-benar nyata terjadi di masyarakat dan membutuhkan suatu penyelesaian, serta menarik minat peneliti. Memilih permasalahan yang akan diteliti memang merupakan salah satu langkah yang sulit dalam perencanaan penelitian. Forcese dan Richter membuat semacam bagan untuk menunjukkan hal apa saja yang dapat memengaruhi pemilihan permasalahan.

Bagan 1. Pemilihan permasalahan penelitian.

Bagan 1. Pemilihan permasalahan penelitian.

Bagan tersebut mengilustrasikan bahwa seorang peneliti harus mempertimbangkan dan memadukan kepentingan pihak ketiga yang mungkin bertindak sebagai sponsor atau mungkin merupakan pihak yang sangat berkepentingan dengan hasil penelitian yang akan dilakukan, dengan minat pribadi sendiri sebagai peneliti. Peneliti juga harus memiliki kepekaan sosial sehingga dapat berhati-hati dalam memilih permasalahan yang mungkin dapat menimbulkan kerawanan dan guncangan sosial karena menyangkut nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Kadang-kadang pertimbangan kepentingan politik juga ikut membatasi keleluasaan peneliti dalam memilih permasalahan yang hendak diteliti.

Penguraian latar belakang permasalahan dimaksudkan untuk mengantarkan dan menjelaskan mengenai latar belakang mengapa sesuatu dianggap sebagai permasalahan, fenomena apakah yang tampak di mata peneliti atau yang terjadi di lapangan sehingga perlu diteliti. Pada dasarnya, permasalahan diuraikan sebagai suatu kondisi kesenjangan atau ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya terjadi (what should be) dan apa yang sesungguhnya terjadi (what is happening).

Penguraian permasalahan harus berangkat dari latar belakang yang bersifat umum, yaitu berada dalam kerangka pemikiran yang luas dengan mengaitkan topik penelitian pada banyak hal yang relevan menuju ke permasalahan yang lebih spesifik dan terpusat pada pokok persoalannya. Apabila latar belakang permasalahan telah diuraikan dengan saksama, maka pokok-pokok permasalahan yang hendak diteliti perlu dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya yang hendak dicari jawabannya dalam penelitian. Perumusan permasalahan ini seringkali langsung menjadi pertanyaan-pertanyaan dasar dalam penelitian dan seringkali juga jawaban sementara terhadap pertanyaan ini diformulasikan dalam bentuk hipotesis penelitian.

Suatu rumusan permasalahan harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Menanyakan mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih.
  2. Dinyatakan secara jelas dalam bentuk kalimat tanya.
  3. Harus dapat diuji oleh metode empirik, yaitu data yang digunakan untuk menjawabnya harus dapat diperoleh.
  4. Tidak boleh berisi pertanyaan mengenai moral atau etika.

Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 3 untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.