Horton dan Hunt (1987) mencatat ada dua faktor yang memengaruhi tingkat mobilitas pada masyarakat modern, yaitu faktor struktural dan faktor individu.

1. Faktor Struktur
Faktor struktur ialah faktor yang menentukan jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang harus diisi dan kemudahan untuk memerolehnya. Faktor struktur meliputi hal-hal berikut.

a. Struktur Pekerjaan
Setiap individu dalam masyarakat akan memiliki kedudukan sosial yang tinggi dan kedudukan sosial yang rendah. Setiap masyarakat pasti mempunyai pola dan ciri tersendiri dalam menentukan kedudukan seseorang. Masyarakat yang kegiatan perekonomiannya bergantung pada bidang pertanian dan penyediaan bahan-bahan baku (pertam bangan dan kehutanan), biasanya memiliki banyak warga masyarakat yang menempati kedudukan pada lapisan rendah, dan sedikit warga masyarakatnya menempati kedudukan pada lapisan atas.

b. Perbedaan Fertilitas
Di masyarakat atau negara yang mempunyai tingkat kelahiran tinggi akan sulit terjadi mobilitas sosial vertikal naik, dibandingkan dengan masyarakat atau negara dengan tingkat kelahiran rendah. Oleh karena itu, rendahnya tingkat kelahiran akan member kesempatan pada masyarakat lapisan bawah untuk menempati kedudukan sosial pada lapisan menengah atau lapisan atas.

c. Ekonomi Ganda
Banyak negara berkembang memiliki dua tipe ekonomi yang berbeda, yaitu sebagai berikut.
1) Tipe ekonomi tradisional, terdapat banyak masyarakatnya sebagai petani yang mengonsumsi hasil produksi mereka dan sedikit menjual hasil produksinya ke pasar sehingga mobilitas sosial vertikal menaik mengalami kemandegan atau bahkan mengalami penurunan; dan
2) Tipe ekonomi modern atau pasar, masyarakat banyak bekerja di sektor industri yang memproduksi untuk pasar sehingga banyak kesempatan untuk terjadi mobilitas sosial vertikal naik bagi setiap warga masyarakat yang terlibat di dalamnya.

d. Penghambat dan Penunjang Mobilitas Sosial
Pada masyarakat yang memiliki sistem sosial terbuka, cenderung mengalami kesulitan mobilitas sosial vertikal naik karena kesempatan tersebut sulit untuk didapatkan. Contohnya adalah adanya diskriminasi untuk lapisan sosial tertentu yang melakukan jalan pintas untuk mendapatkan pekerjaan (koneksi, nepotisme, sogok). Walaupun demikian, bukan berarti kesempatan untuk maju sama sekali tidak ada karena di Indonesia terbuka kesempatan sebesar-besarnya untuk meraih keberhasilan dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 yang menyatakan:
1) Setiap warga negara sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dengan tidak ada kecualinya.
2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Dengan adanya jaminan dari undang-undang tersebut, setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan mobilitas sosial vertikal naik tanpa kecuali.

2. Faktor Individu
Walaupun faktor struktur dapat menentukan jumlah kedudukan tinggi dengan penghasilan yang besar di masyarakat, faktor individu juga banyak berpengaruh dalam menentukan siapa yang akan mencapai kedudukan tinggi. Faktor individu ini meliputi hal-hal berikut.

a. Perbedaan Kemampuan
Bakat yang dimiliki setiap orang akan berbeda-beda sehingga kesempatan untuk memperoleh kedudukan yang tinggi di masyarakat akan berbeda pula. Dengan demikian, kemampuan untuk memperoleh kedudukan bergantung pada usaha yang bersangkutan untuk memperolehnya, dan perbedaan kemampuan merupakan faktor yang penting untuk menentukan keberhasilan hidup dan mobilitas sosial.

b. Orientasi Sikap terhadap Mobilitas
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan masa depan mobilitas sosial, di antaranya sebagai berikut.
1) Pendidikan. Pendidikan merupakan jalan ke arah mobilitas sosial untuk mendapatkan kedudukan yang diinginkan seseorang. Jika bekerja di sebuah instansi, latar belakang pendidikan yang berbeda akan berpengaruh terhadap kedudukan dan pendapatan yang selayaknya diterima.

2) Kebiasaan Kerja. Kerja keras merupakan salah satu usaha untuk memperbaiki kedudukan sebelumnya. Walaupun kerja keras tidak sepenuhnya menjamin mobilitas naik, tidak banyak orang dapat mengalami mobilitas naik tanpa bekerja keras. Oleh karena itu, kerja keras diperlukan untuk meningkat kan prestasi kerja, yang akhirnya akan meningkat kan kedudukan seseorang.

c. Pola Penundaan Kesenangan
Peribahasa mengatakan “berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, lebih baik jika kesenangan sesaat ditinggalkan agar kelak mendapat suatu kebahagiaan sehingga akan meningkatkan kedudukannya.

d. Pola Kesenjangan Nilai

Perilaku yang dapat menghambat terjadinya mobilitas sosial vertikal naik, terdapat dua hal, yaitu sebagai berikut.
1) Bahwa seseorang tidak sepenuhnya berupaya mencapai sasaran yang diidamkan;
2) Mereka tidak menyadari bahwa sejumlah perilaku tertentu tidak menunjang sasaran tersebut. Misalnya sebagai berikut.
a) Seorang siswa Kelas XI SMA tidak melaksanakan nasihat gurunya untuk belajar lebih giat, tetapi bermalas-malasan, akibatnya siswa yang bersangkutan tidak naik ke Kelas XII.
b) Seorang pekerja menghendaki kedudukan yang lebih baik, tetapi ia tidak mampu tiba di tempat kerja tepat pada waktunya atau selalu melalaikan pekerjaan yang ditugas kan kepadanya.

Pola kesenjangan nilai, memungkinkan seseorang memercayai nilai yang diakuinya, tetapi yang bersangkutan tidak melakukan usaha untuk mencapai sasaran tersebut atau mengakui segala kesalahan yang diperbuatnya sebagai penyebab dari kegagalan. Dengan kata lain, bahwa seseorang mungkin saja mengetahui yang baik dilakukan untuk memperoleh kedudukan, tetapi tidak dilaksanakan. Akibatnya, yang bersangkutan gagal memperoleh hasil yang dicita-citakan.

Faktor-faktor yang memengaruhi perubahan sosial
Faktor-faktor yang memengaruhi perubahan sosial adalah tingkat reproduksi, perbedaan tingkat migrasi, perubahan teknologi, perubahan kemampuan, dan perubahan sikap.

1. Tingkat Reproduksi
Hal yang mendorong tumbuhnya mobilitas karena adanya suatu lapisan yang tidak dapat memproduksi sesuai kebutuhannya. Contohnya, tenaga ahli dalam suatu daerah terbatas sehingga tidak dapat menangani semua pekerjaan. Akibatnya, orang-orang yang tidak ahli akan berpindah pekerjaan ke lapisan pekerja ahli tersebut.

2. Perbedaan Tingkat Migrasi
Seirama dengan perkembangan sosial serta ekonomi masyarakat, kondisi politik, keamanan, dan mobilitas penduduk di Indonesia semakin rumit (kompleks). Ragamnya meliputi mobilitas internasional, desa-desa termasuk mobilitas musiman, antarwilayah (antarprovinsi) termasuk transmigrasi, dan akhir-akhir ini pengungsi, seiring dengan bergejolaknya situasi politik dan terganggunya kondisi keamanan pada berbagai tempat di tanah air.

Mobilitas adalah suatu hal yang wajar sebagai reaksi pada perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan keamanan, serta tidak mungkin dicegah. Yang perlu dicermati adalah dampaknya baik yang positif maupun negatif, baik bagi daerah yang ditinggalkan maupun didatangi, dan untuk para migran sendiri, keluarganya, serta keseimbangan dalam pola dan laju gerak masyarakat.

a. Mobilitas Internasional
Mobilitas penduduk dari Indonesia ke luar negeri sebenarnya sudah berlangsung berabad-abad lamanya, namun mulai mencuat sejak pertengahan dasawarsa
1970-an. Karena besarannya yang semakin meningkat, baik yang resmi maupun tidak resmi (ilegal), termasuk migran wanita. Negara-negara tujuan utama pada dewasa ini adalah Malaysia dan Timur Tengah seiring dengan terbukanya kesempatan lapangan kerja di negara-negara tersebut.

b. Mobilitas Internal
Data hasil sensus serta survei penduduk antarsensus (SUPAS) memperlihatkan bahwa mobilitas penduduk antarpropinsi dan mobilitas desa-kota memperlihatkan pola yang sangat sentris ke Pulau Jawa. Pada akhirnya akan menimbulkan masalah-masalah di perkotaan. Seperti: perumahan kumuh, lapangan kerja yang tidak mencukupi, serta semakin menurunnya tingkat pelayanan prasarana perkotaan. Pola ini mencerminkan suatu disparitas wilayah, yang merupakan perwujudan kebijaksanaan pembangunan dengan orientasi yang sarat pada pertumbuhan ekonomi, khususnya industri dan jasa yang kebanyakan berlokasi di kota-kota besar dan di Pulau Jawa. Dengan kondisi seperti itu aliran penduduk ke kota-kota besar tidak akan dapat dihambat, sekalipun dengan tindakan menjadikan ‘Kota Tertutup’ bagi para pendatang.

3. Perubahan Teknologi
Dahulu transportasi menggunakan delman dan becak, kini telah berubah dengan taksi/angkutan. Begitu juga dulu seorang kusir kini berubah menjadi sopir. Di beberapa daerah juga terjadi alih pekerjaan. Masyarakat yang dulu bekerja sebagai penggarap sawah setelah dibangunnya pabrik-pabrik berubah sebagai buruh pabrik. Akan tetapi, dengan adanya sistem ekonomi masyarakat, kemajuan teknologi tidak berarti secara drastis meningkatkan status sosial seseorang dalam masyarakat.

4. Perubahan Kemampuan
Pendidikan dan keterampilan akan memengaruhi perubahan kemampuan seseorang. Secara otomatis akan berpengaruh terhadap mobilitas sosial. Misalnya, seorang tukang ojek setelah mengikuti kursus stir mobil maka ia mampu menjadi sopir. Selain itu, seseorang yang mulanya hanya bisa berbahasa lokal setelah mengikuti kursus bahasa asing akan mampu menguasai bahasa yang dikehendaki. Dengan begitu ia akan bisa berkomunikasi menggunakan bahasa asing.

5. Perubahan Sikap
Perubahan sikap dapat mendukung dan menghambat terjadinya mobilitas sosial. Contoh sikap yang mendukung mobilitas adalah keinginan untuk maju maupun menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sementara itu, sikap yang menghambat mobilitas antara lain bersikap masa bodoh, tidak peduli dengan lingkungannya, dan pasrah dengan keadaan tanpa mau berusaha.

Dalam proses mobilitas diperlukan usaha untuk berjalan lebih cepat sehingga tujuan dari mobilitas sosial cepat terwujud. Sebenarnya sarana yang paling tepat digunakan adalah di bidang pendidikan. Akan tetapi, masih ada bidangbidang yang lain yang berpengaruh terhadap proses mobilitas. Bidang-bidang tersebut, antara lain: bidang ekonomi, sosial, dan hukum.

a. Bidang Ekonomi
Bidang ekonomi dapat dilaksanakan dengan peningkatan sarana-sarana ekonomi, seperti pembangunan pasar, perhubungan, dan pembangunan gedung-gedung sekolah yang memadai. Selain itu, peningkatan mutu dan kualitas siswa maupun mutu dan kualitas sekolah juga dibutuhkan sehingga akan terjadi pemerataan. Peningkatan anggaran pendidikan juga akan memengaruhi kemajuan di bidang pendidikan yang secara tidak langsung berpengaruh pada bidang ekonomi.

b. Bidang Sosial
Bidang sosial dapat dilaksanakan dengan pengentasan kemiskinan dan melaksanakan program anak angkat/anak asuh. Perbaikan sarana sosial juga berpengaruh terhadap kemajuan bidang sosial.

c. Bidang Hukum
Bidang hukum dapat dilaksanakan dengan penanggulangan KKN. Dengan adanya undang-undang yang ada maka diharapkan KKN bisa hilang dari bumi Indonesia.

Mobilitas membawa dampak positif maupun negatif. Mobilitas sosial juga memungkinkan seseorang menduduki jabatan yang sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi, seseorang terkadang merasa tidak puas dan tidak bahagia karena impian yang diidamkan tidak semuanya tercapai dengan mudah. Menurut Horton dan Hunt, konsekuensi negatif dari mobilitas adalah kecemasan dari jabatan yang meningkat dan keretakan antaranggota kelompok.

Akibat dari mobilitas sosial akan membawa dampak tumbuhnya konflik dan penyesuaian pasca konflik.
1. Timbulnya Konflik
Mobilitas sosial merupakan pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Kelompok sosial dalam suatu masyarakat memungkinkan terjadi konflik, seperti konflik antarkelas sosial, kelompok sosial, dan kemungkinan terjadinya penyesuaian. Konflik adalah suatu proses sosial yang terjadi karena orang perorangan atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuan hidup dengan jalan menentang pihak lawan disertai ancaman/kekerasan. Penyebab terjadinya pertentangan, antara lain perbedaan pendirian atau perasaan, kebudayaan, kepentingan, dan sosial.

a. Konflik Antarsosial
Perbedaan ciri-ciri fisik dan kebudayaan memicu terjadinya konflik antarsosial. Dalam konflik ini masing-masing saling menjatuhkan.

b. Konflik Kelompok Sosial
Konflik kelompok sosial tergantung pada struktur sosial yang menyangkut tujuan dan nilai-nilai kepentingan. Pertentangan akan bersifat positif jika kelompok sosial tersebut tidak berlawanan dalam pola-pola struktur sosialnya. Sebaliknya, akan bersifat negatif jika tidak ada toleransi antara kedua pihak.

Konflik dalam kelompok sosial membantu menghidupkan norma sosial. Di samping itu, konflik dalam kelompok sosial juga dapat menjadi sarana mencapai keseimbangan dan kekuatan dalam masyarakat.

c. Konflik Antargenerasi
Contoh konflik antargenerasi, antara lain hubungan antara orang tua dengan anak yang tidak sama jenjang pendidikannya. Misalnya, anak yang mempunyai pendidikan
lebih tinggi cenderung akan merasa benar jika berdiskusi dengan orang tuanya. Akibatnya, timbul pertentangan antara ayah dengan anak.

2. Penyesuaian Pasca Konflik
Konflik yang ditimbulkan karena mobilitas sosial mendorong masyarakat untuk menyesuaikan terhadap perubahan-perubahan yang ada. Penyesuaian terhadap perubahan akibat mobilitas sosial, antara lain sebagai berikut.
a. Perlakuan baru masyarakat terhadap kelas sosial dan kelompok sosial atau generasi tertentu.
b. Penerimaan individu atas kelompok warga akan kedudukannya yang baru.
c. Pergantian dominasi dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat.

Budiyono. 2009. Sosiologi 2 untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Waluya, Bagja. 2009. Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.